Arsen Ketua mafia yang sangat dingin dan arogant, sifat yang terbentuk akibat kejadian kelam dimasa lalu
Arsen tidak sengaja bertemu dengan dokter sepesialis bedah dia adalah valey sigadis cantik dan ramah saat dirumah sakit dan mengharuskan mengoperasinya karena sebuah insiden.
Semenjak pertemuan pertama gadis tersebut memang sedikit mencuri perhatiannya dan kali kedua dia melihat sisi lain gadis itu yang membuatnya semakin penasaran.
Bagaimana kisah manis mereka berdua?
Dibumbui oleh lawakan dan tingkah absurd para sahabat, mewarnai kisah cinta mereka berdua.
Tidak ada konflik serius disini dan kisah ini hanya menceritakan kisah manis si pemeran utama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nona manies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
marah
Arsen" teriak seorang gadis dari arah pintu masuk.
Gadis tersebut mendekat dengan perasaan bahagia karna bertemu dengan pria idamannya dia adalah Jihan wijaya.
"arsen kamu ngapain disini? sedang belanja?"
tanya jihan lalu duduk dihadapan arsen dan valey.
"hmm" jawab arsen malas
"diakan gadis yang waktu itu bertemu dicafe" batin valey
"arsen kamu beneran pacaran sama dia?" tanya jihan dengan menunjuk kearah valey dengan dagunya.
"iya"
" kok kamu mau sih sen sama gadis yang rata kaya triplek gini?" cibir jihan
"apa yang anda katakan nona? walaupun saya rata tapi saya tidak pernah mengumbar dan menjajakannya, saya akan menjaganya untuk kupersembahkan kepada suamiku kelak, bukankah terlihat sangat murahan jika diumbar begitu?" tanya valey dengan tatapan mata yang meremehkan tertuju pada belahan dada jihan arsen menarik sudut bibirnya sedikit mendengar jawaban yang keluar dari bibir mungil valey.
Jihan sekarang memang menggunakan dress terbuka yang memperlihatkan belahan dadanya.
"kau!!" jihan marah karna kalah telak,
"hehh merepotkan sekali" gumam valey tapi masih dapat didengar oleh arsen dan jihan.
Tante mira datang menyerahkan baju pesanan valey, setelah membayarnya valey mengajak arsen pergi dari butik
"ayo sayang kita pulang" ucap valey dengan menekankan kata sayang karna sedari tadi jihan masih mengikutinya bahkan sampai dimeja kasir.
"ayo" ucap arsen lalu menggandeng valey.
"tunggu arsen" mencekal tangan arsen
"apa lagi" ucap arsen yang sudah jengah dengan jihan.
"minta nomor ponselmu boleh? kamu sudah ganti nomor kan?" ucap jihan dengan gaya centilnya
"rasannya pengen banget gue jambak ni nenek sihir awas saja kalo dia berani memberinya nomor ponsel" batin valey
Arsen yang melihat air muka valey yang berubah semenjak kedatangan jihan pun menyeringai.
"sini ponselnya" ucap arsen
"dia benar benar memberinya? padahal gue yang mau tunangan saja tak mempunyai nomor ponselnya dasar playboy cap buaya darat!! dasar arsen brengse*" valey berteriak didalam hatinya dan sesekali memaki pria yang sedang menggandengnya.
Valey melepaskan genggaman arsen dengan kasar lalu berlalu keluar dari dalam butik berjalan dengan menggerutu kearah parkiran.
"dia benar benar cemburu" batin arsen menyeringai.
Sebenarnya arsen tidak betul betul memberikan nomor ponselnya, dia mencatat nomor asal karna dia melihat gelagat valey sedang marah sedang menunjukan rasa tidak sukanya melihat arsen dekat dengan wanita lain.
Arsen berjalan keluar dari butik dengan perasaan yang sangat senang tapi air mukanya berubah ketika melihat valey sedang asik ngobrol dengan seorang pria, dia melihat sesekali valey tertawa dan tersenyum kearah pria tersebut darah dalam tubuh arsen seketika mendidih.
Setelah sampai disamping valey tanpa aba aba arsen menarik pergelangan tangannya
"apa yang kau lakukan kak, sakit,!!" teriak valey
Arsen tidak mengindahkan teriakan valey dia membawa valey kearah mobilnya terparkir, mendorong tubuh valey untuk masuk dan menutup pintu dengan kasar valey sampai terkejut. Setelah arsen masuk dia mulai menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"ada apa dengannya? sepertinya dia sangat marah, seharusnya kan gie yang marah karna wanita tadi" batin valey
Wajahnya sudah sangat pucat karna ketakutan.
"kak pelan pelan kak" teriak valey tapi sama sekali tidak didengarkan oleh arsen.
"kak arsen kenapa sih? kenapa tiba tiba marah?"
Arsen belum mau menjawab pertanyaan valey,
"kak hati hati , kak besok kita tunangan loh kak, aku ngga mau masuk rumah sakit kak aaaaa" teriak valey sembari menutup matanya dengan tangan karna arsen menyalip mobil didepannya dan hampir saja tertabrak mobil dari arah berlawanan.
Setelah ketegangan yang baru saja terjadi mobil berhenti di depan danau arsen masih diam dan menyandarkan kepalanya diatas stir mobil sedang valey masih shok dan belum bisa berkata apa apa. Setelah agak tenang valey memberanikan diri untuk memulai percakapan
"kak" ucap valey lirih tapi arsen masih belum bergerak dari atas setir
"kakak kenapa tiba tiba begini?" tanya valey lirih
"kak jawab!!"
arsen menegakan badannya tapi tidak melihat kearah valey "aku nggak suka kamu dekat dengan laki laki lain, aku nggak suka kamu tertawa didepan lakilaki lain" arsen menjawab dengan suara yang tegas
"apa dia cemburu? seharusnyakan gue yang cemburu" batin valey
valey menghela nafas"kak dia hanya rekan kerjaku, dia dokter toni tadi kami tidak sengaja bertemu saat dia akan masuk kedalam butuk tante mira"
"jangan membahasnya!!" teriak arsen, valey sampai tersentak
"guekan cuma mau menjelaskan supaya tidak ada kesalahpahaman diantara kita, tapi bagaimana ini cara meredam emosinya" valey masih berfikir
"kak aku tegaskan lagi ya, dia bukan siapa siapanya aku dia hanya rekan kerjaku dan kami tadi tidak sengaja bertemu!!" valey bicara dengan suara yang tegas
"cuma teman dia bilang, mungkin kamu hanya menganggapnya teman, tapi aku dapat melihat dari tatapan mata pria itu lain" gerutu arsen lalu berdecih
"kenapa diaa berdecih sih, apa dia tidak percaya?"
"kaakk" suara valey melembut lalu dipeluknya lengan arsen dari samping tidak ada penolakan.
"lupakan harga diri valey, buat pria possesiv ini tidak marah lagi padamu"
valey masih memeluk arsen dari samping dan ia elus dada bidang arsen yang sedang naik turun karna masih kesal.
"jangan marah" ucap valey lalu dielusnya pipi arsen
"jangan marah, maafkan aku sayang" suara valey terdengar sangat manja ditelinga arsen, arsen menarik sudut bibirnya sedikit sekali bahkan valey tidak melihatnya saat mendengar kata sayang.
Arsen mengelus pucuk kepala valey dengan lembut lalu dikecupnya pipi valey.
"sepertinya dia sudah tak marah lagi" batin valey sambil tersenyum manis.
"sudah tidak marah?" tanya valey
"masih" Valey mengerucutkan bibirnya, arsen yang melihat merasa gemas lalu dicubitnya bibir pelan
"au sakit kak" ucap valey merengek padahal sebenarnya tidak sakit sama sekali.
cup arsen mengecup bibir valey singkat
"biar sembuh"
valey terlihat mencebikan bibirnya"kakak suka sekali mencuri cium dariku"
" kan biar sembuh sayang, katanya sakit" arsen lalu mendekat kearah valey lalu ia peluk tubuh valey sampai sandaran mobil menjadi terlentang karna arsen menindih tubuh valey.
"kak berat" ucap valey terbata
"diam.!! aku masih belum memaafkanmu ya karna berani beraninya kamu berdua duaan dengan laki laki lain"
"tapi kakak juga berdua duaan dengan nona jihan tadi bahkan kau juga memberi nomor ponselmu padanya, padahal aku juga atidak memiliki nomor ponselmu" suara valey terdengar sangat kesal sekarang
"apa kau cemburu?" tanya arsen lalu ia duduk kembali dengan benar.
"tidak!!" bentak valey
" hahaha" arsen tertawa lalu ia peluk tubuh ramping valey.
" bilang saja cemburu" ucap arsen di dekat leher valey ia hirup dalam dalam aromo vanila, aroma yang begitu memabukan dan arsoma yang sangat menenangkan.
"ti tidak" ucap valey terbata
Arsen melepas pelukannya dan dipandangnya mata indah valey
deg deg deg
Suara jantung keduanya masih berdebar jika bertatap mata.
"jantung tolong jangan seperti ini"jerit valey didalam hati
Arsen mendekatkan wajahnya valey spontan memundurkan wajahnya.
"ma mau a apa kamu?" tanya valey terbata
"tentu mau menciummu lalu apa lagi?" ucap arsen santai valey hanya memutar bola matanya malas
"bisa bisanya dia mengatakan hal seperti itu dengan santainya" batin valey
diraihnya rahang valey karna dia memalingkan mukanya, arsen mulai mendaratkan ciuman lalu mel*matnya, valey mulai terbawa suasana mulai mengimbangi arsen. Saat ciuman mereka mulai panas valey melepaskan secara paksa karna tangan arsen mulai mengelus punggungnya ia takut arsen tidak bisa menahan diri jika ia biarkan.
"kenapa?" tanya arsen
"tidak papa, aku capek pengen pulang" jawab valey memalingkan wajahnya yang sudah merona
" baiklah"
Mereka berdua pergi meninggalkan danau dengan perasaan yang lebih baik dibanding dengan saat mereka baru datang.