[BUDAYAKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA! BUDAYAKAN PULA TINGGALKAN JEJAK!]
[FOLLOW AKUN IG; SUGIATIDAHLAN]
[NO PLAGIAT! SANKSI BERLAKU!]
Kisah tentang;
"Aku akan terus bersabar, bahkan sampai kesabaran itu sendiri mulai lelah dengan kesabaran ku."
@Annisa Az-Zahra
Bagaimana jika seandainya kalian adalah siswi berhijab satu-satunya di sekolah kalian? bagaimana jika seandainya kalian tidak sengaja melakukan tingkah konyol yang menjerumuskan kalian ke dalam masalah?
Hidup Zahra yang mulai di tumbuhi bunga-bunga berwarna-warni kini kembali terlihat hampa saat sebuah RAHASIA BESAR berhasil merubah segalanya.
®picturebypinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sugiatiidhln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 23. Mall
Kini Zahra dan Verrel tengah berada di atas taxi, Verrel yang duduk di sudut kanan dan Zahra yang duduk di sudut kiri. Tak ada perbincangan apapun selama perjalanan mereka, semua diam membisu. Bahkan deruhan nafas pun terdengar jelas di kendaraan itu. Hingga kendaraan tersebut berhenti di depan bangunan mewah dengan nuansa putih --Mall.
Verrel turun terlebih dahulu setelah membayar ongkos taxi, yang diikuti oleh Zahra di belakangnya.
Mata Zahra langsung membulat sempurna, kedua tangannya menutupi mulutnya yang sedikit terbuka takjub. Verrel hanya melirik sekilas dan melangkah meninggalkan Zahra yang masih menatap berbinar bangunan menjulang tinggi di depannya.
"Wahhh ...," beo Zahra dengan tatapan berbinar, menatap bangunan mewah di depannya. Ia bahkan tengah menjadi pusat perhatian orang-orang yang berlalu lalang di tempat itu. Melempar tatapan heran ke arah Zahra yang masih tak bergeming di tempatnya setelah turun dari taxi.
Verrel berbalik, ia sempat diam mengamati ekspresi lucu itu. Hingga ia menggeleng dan kembali dengan ekspresi datar yang seakan-akan tak mau meninggalkannya.
Sifat angkuh Verrel semakin menjadi-jadi saat dekat dengan babunya itu, seakan-akan ia ingin menunjukkan pada babunya bahwa ia adalah tuan yang harus di turuti kemauannya. Sedangkan sifat dingin Verrel berkurang drastis entah apa yang membuat dirinya merasa senang hanya karena membuat Zahra tak bisa berkutik saat berdebat dengannya. Verrel benar-benar tidak seperti dirinya, dan Verrel tidak menyukai itu.
"PEN!" seru Verrel.
Zahra melihat ke arah Verrel dan berlari menghampiri pemuda itu, ia sempat bingung dengan perubahan ekspresi Verrel yang kembali datar.
Verrel memutar tubuhnya, pemuda itu memasuki bangunan ini dengan langkah cepat, menghiraukan Zahra yang susah payah mensejajarkan langkahnya.
"Tungguin ...," Zahra berengggut kesal, ia sampai tak dapat mengalihkan pandangannya dari Verrel, ia tak dapat melihat ke sekeliling ruangan itu. Sesuatu yang ingin di lihatnya ia lewati begitu saja, takut jika kehilangan jejak pemuda di depannya.
"Misi ... Misi ...," ujar Zahra sopan saat segerombolan orang menghalangi jalannya. Zahra menjinjit susah payah agar penglihatannya tak luput dari Verrel sambil berusaha keluar dari gerombolan itu.
Zahra berhasil lolos, tapi keringat dingin mengucur deras di keningnya, ia celingak-celinguk, menatap ke kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang, bahkan ke bawah dan keatas ia sampai tak dapat berfikir jernih, ia kehilangan jejak pemuda itu.
Zahra berlari, gadis itu tersesat di bangunan mewah ini.
"VERREL!" teriak Zahra, entah sudah keberapa kalinya, dan panggilannya itu hanya di balas tatapan aneh, bingung, dan sinis dari pengunjung lain.
"Heh, jangan teriak-teriak di tempat ini karena tidak ada yang mau mendengar suaramu itu!" bentak salah seorang wanita yang terganggu oleh teriakan Zahra.
Zahra hanya menunduk dan minta maaf. Kemudian Zahra kembali berlari, Zahra benar-benar di buat bingung oleh tempat ini. Ia tak menemukan Verrel dan ia juga sudah jauh tersesat, ia tak tahu jalan keluar dari tempat ini. Ia bahkan sampai menaiki lift untuk mencari keberadaan Verrel, Zahra berfikir mungkin Verrel menaiki tangga berjalan itu juga.
Zahra berhenti di tengah keramaian menatap kosong ke depan, ia benar-benar merasa takut kali ini, ia ingin segera keluar dari tempat ini. SANGAT!
"Hikss ... Verrel ...." Zahra menangis dan masih tetap memanggil Verrel di sela tangisnya, ia benar-benar seperti gadis bodoh sekarang berlari kesana-kemari dengan keadaan menangis.
"Verrel kamu jahat! Kamu keterlaluan ...," cicit Zahra kedua telapak tangannya menutupi wajahnya yang sudah basah itu.
Zahra membuka kedua telapak tangannya dan mengusap wajahnya, menghapus air mata yang mengalir bebas di wajahnya. Matanya jatuh pada seorang pemuda yang tengah berdiri memunggunginya, ia berlari menghampiri pemuda berseragam SMA itu.
"Verrel!" panggil Zahra pelan, ia hanya ingin memastikan bahwa pemuda itu benar-benar Verrel.
Pemuda itu menoleh dan nampaklah raut wajah datar dari pemuda itu.
####
Di tempat lain, di lantai pertama bangunan itu. Verrel juga sama, celingak-celinguk mencari keberadaan gadis yang bersamanya.
Verrel tidak tahu jika Zahra susah mensejajarkan langkahnya, Verrel tidak tahu kapan dan terakhir kali Zahra mengikutinya. Verrel hanya berjalan dan sibuk dengan fikirannya, ia ingin segera keluar dari tempat ini tapi bukannya cepat malah semakin lama karena gadis yang bersamanya hilang di tempat ini.
"Shit! Lo kemana sih bocah!!" desis Verrel, ia sudah lelah mengelilingi tempat itu berkali-kali. Hampir 1 jam lamanya ia mencari Zahra, apalagi setelah mengingat ekspresi antusias Zahra saat pertama kali memasuki ruangan itu, dan itu semakin membuat Verrel yakin jika ini pertama kalinya Zahra memasuki ruangan seramai ini.
Verrel kembali berjalan, bahkan ia tak segan-segan menabrak orang yang berani menghalangi jalannya. Ia harus segera menemukan gadis itu, sebelum gadis itu menangis dan tidak sadarkan diri di tempat seramai ini.
"Pen! Lo kemana sih? Nyusahin tau nggak!" Verrel tak henti-hentinya mengumpat kesal. Pemuda berjalan mendekat ke arah lift.
Verrel tersenyum, ia melihat Zahra. Tapi, ia juga bingung apa yang Zahra lakukan dengan pria berseragam SMA di depannya.
"Maaf saya salah orang ...," cicit Zahra, ia berniat pergi dan pemuda itu mencekal tangannya. Zahra menepis keras tangan itu membuat pemuda itu menyeringai.
"Boleh juga!" batinnya.
"Oh yah lo lagi cari Verrel kan? Tadi gue liat di sana," ujar pemuda itu sambil menunjuk, Zahra yang berniat pergi pun ia urungkan setelah mendengar ucapan pemuda itu.
"Dimana? Kamu kenal sama Verrel?" tanya Zahra, ia terlihat sangat polos di depan pemuda itu dan pemuda itu tersenyum.
"Dia ...,"
"Gue di sini, Pen!" sergah Verrel memotong ucapan pemuda itu, dan berjalan dengan kedua tangan berada di saku celananya.
Zahra berbalik, ia kesal, marah, ia ingin meluapkan itu sekarang, tapi percuma Verrel pasti hanya menganggap angin lalu ucapannya.
Dan orang itu sudah pergi sejak kedatangan Verrel, Verrel sendiri bingung dengan kedekatan Zahra dan orang yang tak di kenalnya itu.
"Kamu dari mana? Aku seperti orang bodoh di tempat ini!"
"Nggak perlu banyak tanya dan ikut gue sekarang!" titah Verrel dan mulai berjalan. Tetapi dengan langkah yang santai, agar Zahra yang langkahnya pendek itu dapat mensejajarkannya.
Zahra memasang wajah masam, merasa ingin keluar dari tempat ini. Tapi kali ini Zahra merasa lega, karena langkah Verrel yang seolah-olah menyamakan langkah dengannya.
Zahra mendongak, ia menemukan wajah Verrel yang berkeringat sama seperti dirinya.
Verrel berhenti melangkah, ia menoleh dan menunduk ke arah Zahra membuat Zahra mendongak menatap wajah Verrel yang menoleh ke arahnya. "Cepat pilih sepatu yang lo mau," titah Verrel, Zahra mengangguk antusias seperti anak kecil.
"Ia cuman 10 menit kok!" ujarnya semangat.
Verrel mengangguk, membuat Zahra segera berjalan beberapa langkah kedepan.
Ia melupakan lelah dan letihnya berlari kesana-kemari kemari di tempat ini. Kini Zahra menatap takjub sepatu yang berjejer rapi di depannya.
Zahra mengetuk-ngetuk dagunya dan mulai berfikir. "Hm, yang mana yah ...," lirihnya pelan dengan senyum mengembang.
1 jam kemudian ...
"Woyy!! Pen!" kesal Verrel. Pemuda itu melempar tatapan tajam ke arah gadis yang masih sibuk mondar-mandir mempertimbangkan apa yang akan di belinya.
Zahra tak menghiraukan teriakan pemuda itu dan tatapan-tatapan aneh dari pengunjung lainnya. Gadis itu hanya sibuk memilih-milih sepatu apa yang akan di belinya, sepatu yang akan menjadi saksi perjalanannya di masa SMA, ralat mumpung di beliin.
Verrel menghampiri gadis itu dan berdiri tepat di sampingnya, Verrel sudah muak sudah 1 jam pemuda itu menunggu, tapi gadis yang di tunggunya tidak tau diri.
"Apa?" sahut Zahra santai, sambil terus melihat-lihat berbagai macam sepatu di depannya.