Hana Yasmin adalah lambang dari ketegaran wanita yang luar biasa. Enam tahun yang lalu terpaksa diusir dari rumah orang tuanya sendiri karena telah mengandung benih pria yang tidak dia kenal. Sebuah tragedi kelam merenggut paksa kesucianya. Trauma mendalam itu sempat meruntuhkan dunia Yasmin. Namun, takdir berkata lain. Bayi yang dititipkan dalam tahimnya lahir sepasang malaikat kecil laki-laki dan perempuan yang ia beri nama Fatir dan Fathia.
Yasmin berjuang sendiri membesarkan anak kembarnya itu hingga tumbuh menjadi anak yang cerdas, padahal masih usia 5 tahun dan sekolah TK. Yasmin yang bekerja di restoran bertemu Marco Bellini. Pria itu jatuh cinta kepadanya bahkan mengajak menikah dan berjanji untuk membesarkan si kembar, tapi rasa trauma membuat Yasmin tidak mudah untuk menerima.
"Yasmin, menikahlah denganku demi kamu dan anak-anak."
Apakah Yasmin akhirnya menerima Marco? Bagaimana kisah selanjutnya? Kita ikuti kelanjutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Tepat pukul sebelas pagi, ketukan halus terdengar di pintu depan. Yasmin membukanya, dan mendapati Marco berdiri di sana. Yasmin meneliti raut wajah pria itu tampak berseri-seri. Namun, bukan membalas senyum Marco, ibu muda 24 tahun itu berdiri di tengah pintu wajahnya tampak masam.
"Oh, jadi rumah ini milik kamu?" Yasmin seketika menebak bahwa Marco yang memberikan tempat tinggal ini secara diam-diam. Pasalnya Marco masuk begitu saja seolah-olah sudah paham situasi.
Marco tampak kaget mendengar pertanyaan Yasmin, padahal ia sudah merencanakan serapi mungkin, tapi rupanya Yasmin masih bisa menebak.
"Jika memang benar begitu saya tidak mau tinggal di rumah ini, saudara bukan, kerabat bukan, terus apa tujuan kamu?!" Lanjut Yasmin menatap Marco curiga. Dia tidak mau jika kebaikan pria itu pada akhirnya ada maksud tertentu.
"Maksud kamu apa Yasmin?" Marco mengerutkan kening, seolah tidak mengerti padahal memang dia yang minta anak buahnya untuk mencarikan tempat tinggal Yasmin dan anak-anaknya agar mereka tinggal di tempat yang aman dan nyaman. Namun, ia tetap akan merahasiakan hal ini khawatir Yasmin curiga bahwa dulu yang telah menghancurkan masa depannya. Marco menarik napas sesak, seandainya Yasmin tahu lebih cepat pasti tidak akan membiarkan dia dekat dengan anak-anak, bahkan mungkin menghilang entah kemana.
"Jika ini bukan rumahmu, terus dari mana kamu tahu alamat ini?" Yasmin menatap Marco curiga.
"Kamu yang tinggal di sini kenapa malah mengira ini rumahku? Memang siapa yang menyuruh kamu pindah ke rumah ini Yas?" Marco berbicara tenang, tidak ingin kecurigaan Yasmin bertambah.
"Bisa saja kan, kamu menyuruh orang untuk pura-pura menawarkan rumah ini," Yasmin masih tidak percaya.
"Kamu salah paham, aku tahu alamat ini karena tanya tetangga kamu dikontrakkan. Yas, anak-anakmu mana aku ingin bertemu mereka," Marco mengalihkan.
"Mereka tidur!" Ketus Yasmin.
"Maaf, karena ada urusan mendadak terpaksa aku tidak menepati janji," sesal Marco, karena tidak bisa mengantar pindahan.
Yasmin tidak menjawab, ia sudah tidak ingat tentang Marco yang tidak jadi mengantar pindahan, tentu saja ia tidak mau lagi membahas. Lagi pula siapa Marco? Tidak ada hubungan apapun dengannya dan anak-anak, Yasmin justru tidak mau berhutang budi, toh anak-anaknya sudah lupa.
"Yas, boleh aku masuk bertemu anak-anak?" ulang Marco tida yakin jika anak-anaknya benar tidur, Marco tahu jika Fatir dan Fathia tidak mau bobo jika belum shalat.
"Tunggu di sini saja, saya panggilkan Fatir, karena Fathia memang lagi bobo," Yasmin balik badan hendak ke dalam tanpa menunggu jawaban Marco, tentu tidak mengizinkan pria itu masuk rumah walau di hati Yasmin masih yakin jika rumah itu milik Marco.
"Tunggu Yas," ucap Marco, menghentikan langkah Yasmin. Dia mengeluarkan sesuatu dari saku jaket menyerahkan kepada Yasmin.
"Yas, tolong terima ini."
Yasmin tertegun di tempatnya berdiri, matanya membelalak tak percaya, beralih dari kotak berbentuk hati itu ke wajah Marco. Ia sama sekali tak menyangka pria itu akan melakukan hal sedemikian besar.
Yasmin memang belum pernah pacaran, tapi hal semacam itu hanya dilakukan oleh seorang kekasih yang sedang melamar.
Suasana di teras menjadi hening. Marco menunggu dengan tangan terulur. Namun, jangankan menerima, Yasmin tetap diam membisu, dan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Hanya tatapan tajam campur bingung dan keberatan.
"Yas, tolong terima," ulang Marco, akhirnya bersuara dengan tatapan penuh harap.
"Apa tujuan kamu memberikan benda ini? Kita tidak punya jalinan, mana mungkin saya menerima."
...~Bersambung~...
sbar dong Marco dia itu GK mudah percaya ma orang tau yass itu orang nya hati2 percaya ma orang..
hadeh siapa tuh cewe jangan jangan yang nyari marco lagi😌
entah lah hanya emak yg tau