Terjebak di dalam buku novel hiatus lantas apa yang akan kalian lakukan?
Kejadian tidak mengenakan Arletta alami begitu saja, menjadi permaisuri yang tidak diinginkan bahkan dianggap mata-mata oleh suaminya sendiri, iya... Pangeran ke 8 yang sering disebut-sebut sebagai Raja kematian.
Lantas bagaimana Arletta dapat bertahan? apakah baru datang langsung mati di tangan suami? Atau... Kedatangannya memang memiliki makna lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ping Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Keluarga Sampah
Jiang memang selalu membenci Arletta dan juga ibunya. Dia sebenarnya sudah sejak dulu melakukan hal buruk pada Arletta. Selalu membedakan dirinya dan menjadikan anak itu selalu rendah dihadapannya.
Tidak mau disaingi oleh siapapun, merasa dia dan keluarganya serta anak-anaknya jauh lebih pantas mendapatkan kebahagiaan dibandingkan siapapun.
Arletta memahami karakter dari Jiang yang memang ditulis di dalamnya memiliki watak buruk. Suasana di dalam kediaman Perdana Menteri saat itu terasa panas dan sesak, karena begitu banyak hal kotor yang selalu dilakukan oleh keluarga Perdana Menteri.
Sejujurnya saja Arletta muak mendengar segala omong kosong apalagi kembali berhubungan dengan kediaman mereka, sudah cukup menjengkelkan bagi dirinya.
"Silakan pergi dari tempat ini! Kau tidak pantas menginjakkan kaki di sini!" cela Jiang dengan perasaan angkuh. Kilat dari sepasang matanya menyimpan benih kebencian.
"Itu benar! Tidak seharusnya kau berada di sini, kau sudah menikah dengan Pangeran ke 8 tapi selalu saja melakukan hal sembrono, kau sangat tidak patuh dan tidak memiliki tatakrama sebagai seorang wanita! Sekarang kau kemari dengan cara seperti ini, seharusnya kau berterima kasih pada ibuku karena dia sudah mau merawatmu hingga sampai sekarang, bahkan kau menikah dengan Pangeran, hidupmu tidak akan sebaik ini tanpa keluarga Perdana Menteri!" sambut Zei Dong dengan angkuhnya, dia bicara kembali karena sudah merasa cukup berani.
Arletta segera memalingkan wajahnya dan melirik Zei Dong. Hingga wanita itu tertusuk dan kembali takut.
"Iya, keluarga Perdana Menteri memang memiliki kontribusi yang mendukung, kalian telah menunjukkan padaku bahwa aku memang selalu 100 tingkat lebih tinggi daripada kalian! Jika tidak bagaimana mungkin aku mendapatkan hidup seperti ini!" sindir Arletta dengan pedas. "Aku masih tidak tahu wajah kalian ini tercipta dari apa? Masih begitu bangga dan terlalu memandang diri begitu tinggi, tapi tidak sadar akan posisi sekarang ini!" tambah Arletta dengan tatapan jijik.
Jiang begitu kesal ingin rasanya dia langsung mencakar dan menangkap Arletta, tapi entah kenapa dia takut untuk melakukannya. Arletta segera tersenyum. "Duh, senangnya melihat tampang benci dari kalian, tapi tidak mampu melakukan apapun padaku, sungguh tidak berguna." Arletta begitu berani karena dia memang ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh Jiang setelah ini.
"Pengawal... Pengawal! Tangkap pencuri di sini!" kata Jiang yang segera berteriak seperti ayam.
Arletta mencengkram rahang Jiang dengan keras, membuat Jiang terkejut dan takut. "Le.. Pas... Kan!" lanjut Jiang dengan kesal.
"Sudah ingin memanggil orang ya, tapi biarkan aku sedikit saja memberitahukanmu sesuatu, aku memiliki bukti pembunuhan yang kau rencanakan padaku, kau boleh tidak takut tapi mari kita lihat bagaimana reaksi para penduduk saat mendengarnya, dan bagaimana jika Perdana Menteri mengetahuinya? Kau pasti akan langsung dihukum mati, bukan?" Arletta tersenyum dengan tatapan liciknya.
Sementara itu Jiang terkejut mendengar segala perkataan dari Arletta. "Hah? Bukti apa? Bukti apa yang dia sembunyikan dariku!?" dalam benak Jiang terlihat bingung.
"Apa maksud dari ucapanmu, Arletta! Jangan mencoba bermain-main denganku!" balas Jiang mencoba untuk menarik kerah baju Arletta.
Akan tetapi dengan segera Arletta menampar wajah Jiang lagi dan berjalan mundur menjauh dari wanita itu. "Kau tidak mengerti juga? Sungguh bodoh, pantas dipukul berapa kali lagi agar lebih pintar? Jiang... Kau adalah istri yang tidak dicintai Perdana Menteri, kehadiranmu juga karena keterpaksaan hingga terjadilah pernikahan tanpa cinta, sementara ibuku... Aku yakin Perdana Menteri mencintainya, jika tidak bagaimana bisa kau membunuhnya? Hal itu saja sudah memperlihatkan bagaimana kualitasmu, sementara bukti yang aku bawa... Tunggulah baik-baik, nanti kau juga akan mengetahuinya, dan setelah hari itu... TAMATLAH KAU!" Arletta menekankan dua kata dengan sepasang mata membunuh pada diri Jiang.
Jiang an langsung bergetar tubuhnya. "Tidak... Aku tidak akan membiarkan anak ini melakukan apapun, aku akan mencegahnya sebelum aku hancur kau sudah ikut bersama dengan ibumu ke neraka!" balas Jiang yang mencoba tenang.
Arletta tersenyum dengan licik. "Iya... Lakukan seperti apa yang ada di otak kecilmu itu, karena saat nanti seluruh warga mengetahuinya, maka keluarga ini akan di cap begitu rendah dan kau pasti akan mengetahui bagaimana sikap Perdana Menteri padamu akhirnya! Kita tidak akan membicarakan siapa yang akan mati di tangan siapa, tapi... Aku akan membuat kalian semua menderita seumur hidup, kematian terlalu mudah untuk kalian, bukan?" timpal Arletta dengan suaranya yang berani. Dia tidak takut mengatakan segala bentuk pemberontakan, karena memang itulah yang dia inginkan.
Jiang langsung tersudut saat itu juga, apalagi dia tidak tahu sebenarnya Arletta memiliki bukti semacam apa. "Aku tidak akan membiarkannya! Aku akan mengutus beberapa orang untuk segera melenyapkanmu!" dalam benak Jiang yang terlihat sangat tidak terima.
Arletta langsung pergi tanpa bicara lagi, dia meninggalkan kediaman Perdana Menteri dengan perasaan kebencian. "Arletta... Tunggu saja pembalasanku," dalam benak Jiang lagi, segera wanita itu mengepalkan tangannya.
Zei Meilin dan Zei Dong langsung mendekati ibu mereka. "Ibu... Apakah kau baik-baik saja?" tanya mereka dengan perasaan takut.
Akan tetapi Jiang langsung menatap tajam kedua putrinya itu. "Kalian sungguh tidak berguna! Hanya Arletta saja tapi sudah membuat kalian ketakutan setengah mati! Tidak ada gunanya aku melahirkan kalian, dan kau Zei Meilin... Seharusnya kau tidak aku lahirkan, kau sungguh merepotkan! Anak penyakitan sepertimu... Haaaaah! Kau Zei Dong bahkan sampai hari ini kau belum menikahi dengan Putra Mahkota! Aku benci kalian!" Jiang segera mendorong tubuh kedua putrinya hingga mereka terjatuh di atas lantai.
"Ibu... Apa maksud dari perkataanmu? Aku sebentar lagi akan menjadi permaisuri Putra Mahkota, jangan marah lagi...," balas Zei Dong takut.
Sementara Zei Meilin hanya terdiam, dia tertunduk dalam kebencian. "Seharusnya aku lah yang menjadi istri Putra Mahkota! Aku tidak akan membiarkanmu merebut posisi utamaku! Semua karena penyakit sialan ini!" dalam benak Zei Meilin terlihat tidak dapat menerimanya.
Akan tetapi saat itu Permaisuri Jiang hanya terdiam dengan perasaan marah, dia langsung pergi meninggalkan kedua putrinya. "Arletta... Ini semua karena dirimu!" dalam benak Zei Dong kesal.
Zei Dong segera bangkit dari tempatnya dengan cepat, sementara Zei Meilin terlihat tengah bersusah-payah untuk dapat berdiri tegap karena kondisinya.
Dari kejauhan terlihat Lucas yang sedang memperhatikan, dia segera pergi meninggalkan kediaman Perdana Menteri.
**
"Benar seperti itu?" tanya Song Chen dengan penasaran.
"Iya, Pangeran, Permaisuri Jiang hendak membunuh Arletta," balas Lucas debat tegas.
Song Chen terdiam sejenak dan langsung tersenyum dengan begitu benci. "Perdana Menteri ternyata menghidupi beberapa manusia yang sangat menjijikkan," dalam benak Pangeran.
"Tapi apakah kau sudah memastikan Arletta baik-baik saja saat itu?" tanya Pangeran lagi.
"Iya, dia tidak terluka sedikitpun," sambut Lucas jujur.
"Kau sudah boleh pergi," perintah Pangeran lagi.
Lucas meninggalkan ruangan yang gelap itu, tinggallah kini Pangeran Song Chen yang seorang diri.