Kehidupan Leon begitu monoton dan membosankan. Namun itu semua berubah ketika dia terlempar ke dunia lain. Sebuah dunia yang penuh dengan fantasi, sebuah dunia yang bertolak belakang dengan bumi, sebuah dunia yang hanya ada dalam imajinasi. KLEMANTAN, dunia baru tempat Leon menjadi 43.
Bersama Yuna, si peri hutan pelangi. 43 mengarungi dunia KLEMANTAN. Menjalankan misi yang diberikan. Walaupun tidak memiliki energi cakra, mana dan roh. 43 tetap bisa bertahan dengan mengandalkan setiap strategi tempur miliknya, serta jerih payah pelatihan.
Usaha dan jerih payah membuat dia mendapatkan kemampuan yang unik. Berbekal pengetahuan dari bumi. Membawa semua informasi itu. Membangun ciri khasnya sendiri.
Melewati semua rintangan, menyelesaikan semua teka teki, menjadi ninja, penjahat, bahkan pahlawan sekalipun. Semua demi misi yang diberikan dewa atau dewi kepadanya.
Namun dari semua itu, ada misteri terbesar yang hampir tidak terpecahkan oleh 43. Apakah itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mappan 43, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Untung Apa Rugi?
Whuzzzz!
Sesuatu dari balik semak menerjang ke arah belakang 43. Seperti yang diharapkan, segera 43 mengambil langkah maju, kemudian berbalik arah menghadapi serangan harimau. Namun tidak ada siapa siapa disana, mata 43 mulai menyipit.
Ini udah lebih dari bunglon!
Indera miliknya tidak mungkin berbohong, sesuatu memang ada disana hanya saja tidak terlihat. 43 menduga pola serangan harimau harusnya sama, jika dibandingkan dengan harimau bumi. Berarti posisi dia harus lagi menerkam kearah dirinya, karena itu 43 melancarkan tendangan ke atas dari bawah. Berharap mengenai dagu lalu mengarah kekepala singa. Namun itu juga meleset, tidak ada tanda tanda serangan itu mengenai sesuatu. Seketika ekor mata 43 melihat ada cetakan jejak disisi. Menghadapi serangan dari sisi dengan sigap 43 mengangkat tangan kanan sebagai perisai.
BAMM!
43 merasakan sesuatu menggigit tangan kanannya, bahkan ada cekungan dikulit tanda taring maupun gigi harimau. Jangankan luka, goresan pun tidak terlihat akibat terkaman harimau. Senyum manis terukir dibibir 43, tendanganpun dilepaskan.
Bang!
Suara rintihan harimau terdengar, rasa sakit yang tidak terkira membuat harimau melepaskan cengkraman. Rasa sakit itu juga membuat kamuflase harimau terlihat berbayang sedikit. Kesempatan yang tidak akan dilepaskan oleh 43 begitu saja. Sigap tangan kanan menangkap mulut harimau dan membantingnya ketanah.
Bang!
Rintihan semakin keras terdengar, walaupun setelah itu semua harimau masih tidak terlihat jelas. Hanya bayangan buram terlihat sedikit seperti kabur akan wujud harimau.
Hooo, kw bahkan lebih tangguh dari ****!
Bang! Bang! Bang!
Melihat harimau masih mempertahankan kamuflase, 43 dengan tidak segan membantingnya ketanah berkali kali. Hanya ketika wujud singa mulai terlihat baru kemudian 43 berhenti. Terbanting berkali kali dengan kepala menghantam tanah membuat harimau berada diujung tanduk kehidupan. Tergeletak tidak berdaya ditanah, 43 mulai merangkul leher harimau dan berniat memberikan pukulan terakhir.
ROAAAARRRRRR!
Sebuah raungan terdengar dari balik semak. Sebuah sosok terliaht muncul dari semak itu. Singa putih berumbai merah terlihat tajam menatap 43 dengan niat membunuh. Memamerkan taringnya yang tajam dan panjang, singa terus mengerang tanpa henti.Namun belum ada tanda tanda menyerang. Sejak harimau putih ada ditangan 43 dia tidak berani bertindak gegabah. 43 menoleh ke harimau putih dan menepuk kepalanya.
ROAAAARRRRRR!
Tindakan provokasi 43 itu, membuat singa ini menjadi naik pitam. Sekali lagi dia mengaum marah.
hooo, begitu!
Baiklah, kita liat siapa yang boleh memilikinya!
Oinkk! Oinkk!
43 termenung mendengar suara **** disemak semak, terasa sedikit tidak asing. Ketika kepalanya tanpa sengaja nongol dari balik semak, 43 mengkerutkan kening. **** kecil ini mirip dengan yang pernah ia temui dulu, sekilas pandang tanpa perduli tatapan 43 kembali ke singa. 43 tidak begitu yakin, bagaimanapun juga semua **** sama saja.
Ada rasa kagum saat memandang singa didepan mata. Rumbai yang merah pekat, bulu badan dan kepala putih, memiliki mata hitam pekat tapi yang paling terkesan adalah ukuran tubuh sebesar banteng.
Menyingkirkan ransel kesisi 43 mulai melangkah kedepan mendekati singa. Sampai pada jarak cukup jauh dari harimau putih, singa dengan ganas menerjang kedepan. Jarak singa mendekati selangkah dari dirinya, 43 segera melompat keatas mengarah kebelakang singa. Akibatnya serangan singa hanya menghantam tanah. Dari situ ekor ditangkap, membuat kaget si singa.
ORRAAAAAAA!
43 menarik ekor dan memutar singa, baru kemudian melemparkannya kesamping. Untuk melakukan itu saja 43 sudah mengerahkan banyak tenaga, itu semua karena beban yang dipakai saat ini. Itu tidak akan sesusah ini, pada akhirnya singa hanya terlempar 5 meter. Memutar badan diudara berpijak pada badan pohon singa mulai menerkam lagi.
Menghadapi terkaman singa lagi, kali ini 43 tidak melompat melainkan meluncur kedepan dan tiba dibawah singa. Tendangan kearah perut bawahpun dilancarkan 43.
BAAMMMM!
Terpental ketanah singa tampak sedikit melengkung dan meringis kesakitan. Namun niat membunuh belum pudar dari matanya, bangkit berdiri serangan demi serangan terus dilancarkan. Sejujurnya dengan beban yang dipakai 43 saat ini kecepatan singa harus lebih cepat sedikit dari dia.
Akibat emosi yang kuat melihat harimau putih sekarat, singa telah lepas kendali dan termakan emosi yang meluap luap. Pada akhirnya serangan singa hanya membabi buta mengandalkan kekuatan fisik semata. Tentu saja walaupun 43 terkekang beban bukan berarti kekuatan dan pertahanannya menurun.
Melihat gelagat singa yang membabi buta, 43 mulai kehilangan minat. Dia berharap bisa mendapat sedikit pengalaman dari monster liar ini. Harapan itu hanya sia sia belaka, oleh karena itu 43 berniat menghakhiri pertempuran sepihak ini.
Majulah!
Kuberi kau satu kesempatan!
Memandangi singa, 43 hanya terdiam didepan sambil merentangkan tangan.Termakan emosi singa bahkan tidak berfikir dua kali dan langsung menerkam 43. Dengan kedua cakar yang tajam singa mulai mencoba menekan 43 kebawah, namun sayang 43 berdiri teguh bagai batu. Tidak termakan provokasi apapun melainkan diam membisu sambil terpejam.
Gagal dengan cakar, singa mulai membuka mulut lebar lebar dan menerkam bahu 43 dengan taring. Mengerahkan semua yang dia miliki singa berniat merobek bahu 43 dan mencabik cabik tubuhnya. Tekanan yang dirasakan dibahu membuat 43 memahami betapa marahnya singa ini, tapi taring singa cukup sampai disitu. Jangankan luka, goresan saja tidak ada di kulit 43. Membuka mata, tangan terentang mulai memeluk leher singa. Merasakan sesuatu yang berbahaya singa meronta ronta berusaha melepaskan diri, apa daya semua usaha sia sia.
Sayonara kawan!
Kulit bagus untuk alas tidur!
CRACK!
Sebuah retakan tulang terdengar. Tidak berdaya menghadapi mahluk yang lebih kuat darinya, singa hanya bisa
pasrah menerima ajal. Penyesalan tidak terlukiskan diraut muka singa, dia sudah melakukan apa yang dia bisa. Kini saatnya bergabung dengan harimau putih. Bahkan disaat saat terakhir pandangan singa tidak lepas dari harimau putih. Keteguhan hati singa sampai kepada harimau putih, merasakan itu harimau mulai menutupkan
mata juga.
"Kisah yang benar benar romantis." Ucap 43.
"Kamu seperti perusak hubungan orang!" Celoteh Yuna.
"Uiii, kamu mau terus tidur diransel apa dikulit empuk singa ini?" 43 melirik ke arah Yuna dengan sinis.
Yuna mulai ragu, "itu... ehm, memang yang lemah harus dimakan yang kuat, hehehe..."
43 melotot melihat perubahan Yuna, "ngomong ngomong dimana **** kecil itu?"
"Sepertinya dia lari duluan." Jawab Yuna.
"Eh? laju lalu...ya sudahlah..." Pungkas 43.
Sebuah tangkapan besar dengan apa yang diperoleh hari ini. Paling tidak sekarang dia memiliki kulit harimau putih sebagai alas tidur. Sedikit kreatif merangkai ranting dan daun ditambah kulit harimau, kasur empuk alami siap dipakai. Ucapan selamat tinggal kayu keras dan tanah dingin. Namun sebelum itu 43 harus mulai menguliti kedua binatang ini, berbekal pisau curian dan air sungai. Tidak terlalu sulit sekarang untuk mendapatkan apa yang dinginkan.
Yuna dan 43 mulai menikmati daging singa panggang. Rasa daging cukup kenyal dan renyah. Namun hanya memanggang yang bisa dilakukan oleh 43. Bagaimanapun juga mereka tidak memiliki peralatan memasak yang cukup. Bahkan bumbu juga tidak ada, hanya berbekal lemak **** sebagai pengganti mentega.
Saat memotong dan menguliti harimau putih. 43 tidak menemukan apapun yang menarik disana, tapi sampai kepada singa 43 menemukan sebuah kristal batu merah muda. Kristal sebesar genggaman kepalan tangan ini memancarkan warna merah yang pudar, namun kalau diabaikan kristal ini cukup terbilang bening. Bagaimanapun juga warna merah itu seperti kobaran api kecil yang terletak ditengah kristal.
Mungkin bisa menghasilkan cukup banyak uang dengan kristal ini. Tapi itu harus menunggu sampai tiba di kota. Walaupun saat ini 43 sedang menuju ke desa, tapi apa yang bisa didapat dari desa kecil dan terpencil itu. Jangankan harga mahal mungkin saja mereka bahkan belum pernah melihat satu. Mengemasi semua
barang 43 kembali kejalan semula keluar dari hutan menuju desa.
Whuzzzz!
Sebuah anak panah tertancap dipohon. 43 sedikit mengkerutkan kening, jika saja dia tidak menghindar sudah pasti panah itu nempel dikeningnya saat ini.
Aku rasa itu tidak sopan menyerang sesorang yang bahkan tidak mau kenal!
Kata 43 yang melirik ke arah tertentu.Mengambil anak panah yang tertancap dipohon 43 terus bergerak kearah mana datangnya anak panah. Pemanah tentu saja terkejut saat mendengar seseorang berbicara. Kecewa juga tampak terukir diraut wajahnya bahwa malam ini tidak jadi makan daging **** panggang. Walaupun begitu dia tetap turun dari dahan pohon dan segera menemui 43 untuk meminta maaf.
"Apa kamu dari desa terdekat?" tanya 43.
"Tidak, aku berasal dari Kota Ram. Namaku Ramos, jadi om antah berantah ini siapa?" Jawab Ramos sambil bertanya balik.
43 sedikit mengkerut, "aku orang antah berantah yang kebetulan lewat."
"Hahahaha, jangan begitu om... santai aja" Ramos tersenyum sambil tertawa.
43 terus menyindir Ramos tentang panahnya. Semakin lama Ramos semakin merasa tidak nyaman. Dia sadar itu memang salah dia, tapi jika terusan disindir, lama lama emosi juga. Melihat raut wajah Ramos, 43 mengalihkan pembicaraan. Mengingat Ramos sedang berburu, 43 mulai menawarkan daging yang didapatnya.
Ramos berfikir kalau 43 mungkin saja mengais daging hewan yang telah mati dihutan. Namun segera terhapuskan ketika 43 mulai mengeluarkan daging buruannya. Setelah mencium dan merasakan aroma daging, Ramos menyadari kalau daging ini masih baru dan segar, tentu saja ditahu ini daging apa. Sudah bersih bebas dari darah serta terbungkus rapi oleh daun dalam beberapa kelompok potongan.
Ramos menaruh curiga, siapa gerangan orang ini yang bisa berburu dan menangkap monster ini. Jelas bahwa kejadian tadi, panah yang ditembakan oleh dia tidaklah meleset, melainkan dihindari. Terbukti om pengelana ini bukanlah orang biasa melainkan seorang pemburu penyendiri. Rasa waspada kini malah kian tumbuh, bagaimanapun juga dia berada pada sisi yang berbeda dengan om pengelana yang kini dia sadari sebagai pemburu penyendiri.
Sepengetahuan Ramos, pemburu penyendiri sangat kecil jumlahnya. Namun mereka ada dimana mana, yang kebanyakan berada didaerah terpencil. Jika pemburu resmi mendapatkan bayaran dari hasil buruan yang merupakan permintaan seseorang dalam suatu misi, sedangkan pemburu penyendiri mendapatkan hasil dari menjual barang buruannya.
Kesulitan menjadi pemburu resmi adalah terikat dengan berbagai aturan yang berlaku. Diluar bayaran, hasil buruan tidak serta merta 100% dimiliki oleh pemburu, melainkan harus 20% masuk ke kas kantor pemburu setempat dimana misi diambil. Terkadang 100% buruan harus dikembalikan ke pemilik misi tapi tentu saja bayaran misi biasanya jauh lebih tinggi dari normal.
Aturan yang mengikat tidak selamanya menyulitkan, itu juga terkadang membantu menjaga keamana pemburu resmi. Terutama soal hasil buruan dari misi yang diambil. Selama pemburu tidak terdaftar sebagai pengambil misi maka hasil buruan tidak memiliki nilai sama sekali. Kecuali mereka menjualnya dipasar gelap yang memiliki resiko harga jatuh jauh dari normal, jika sue bisa bocor dan tertangkap petugas keamanan. Dari situ sanksi bisa menjadi sangat berat baik dari dewan pemburu maupun pemegang kekuasan setempat. Paling parah adalah diusir dari kota dan masuk dalam daftar buku hitam, bisa dipastikan karir akan hancur jika sampai pada kondisi ini.
Untuk pemburu penyendiri mereka memiliki kebebasan dalam hal buruan, tidak terikat aturan juga tidak terikat masa tempo buruan. Walaupun tidak terdaftar dalam pemburu resmi mereka masih dapat menjual hasil buruan dipasar normal, untuk masuk kamar dagang pemburu tentu tidak bisa. Menjual dipasar tidak kalah buruk juga, jika pandai bernegoisasi harga bisa menjadi lebih tinggi. Namun mereka harus pandai pandai menilai barang dipasar, tentang apa yang menjadi kebutuhan konsumen. Akan menjadi sia sia jika harus berburu sesuatu yang tidak dibutuhkan atau barang terlampau banyak yang menyebabkan nilai barang jatuh.
Tidak memiliki aturan bukan berarti mereka tidak beretika. Ada etika moral yang tidak tertulis tertanam disana selama puluhan tahun sesama pemburu penyendiri. Siapa yang pertama berburu maka itu menjadi hak milik dia sampai disaat dia tidak mampu atau harus meminta pertolongan. Maka negoisasi bisa dilakukan sesama mereka, dengan imbal balik kesepakatan bersama. Pada akhirnya jika seseorang harus mencuri atau merampok, itu bukan lagi disebut pemburu melainkan bandit. Tidak terdaftar dalam buku hitam bukan berarti menutup informasi dari mulut kemulut.
"Bisa dikatakan begitu, jadi mau apa tidak?" tanya 43.
"Ehmm, berapa?" Ramos mencoba membuka negoisasi.
Mata uang dan tingkatannya tidak sulit, bagaimanapun juga dia telah mempelajarinya sekilas. Hanya saja dia tidak memahami nilai barang dipasar. 43 mulai memutar otak bagaimana mencoba menekan harga tinggi dengan batas nilai yang dia tidak ketahui.
"Hoho, apa aku harus bilang sepotong bernilai 1 keping Be!?" 43 mematok harga sambil menggoda Ramos.
"Ehhhmmm...." Ramos mulai terdiam dalam lamunan.
43 terus memandangi Ramos dengan sedikit senyum kecut berlagak untuk mencobai dia. Ramos sedikit terkejut sepertinya dia sedang dicobai. Jika dia tidak mengetahui harga barang dipasar, besar kemungkinan dia akan ketipu. Sepertinya dia harus menunjukan kalau dia memiliki pengetahuan itu dan berharap pemburu penyendiri ini mundur dari niat untuk menipu dia.
"Hahah, om bercanda. Daging ini memang masih segar dan bagus. 1 kilo biasanya 10 W, jadi aku ambil ini 10 potong dengan 1 Ti?" kata Ramos mulai bernego.
Ada saat dimana mata Ramos sedikit bergeser tidak sepandang mata 43. Menangkap hal itu bisa dipastikan kalau gelagat Ramos sedang berbohong. Mendapati demikian 43 mulai merangkai rencana untuk menekan Ramos.
43 menggelengkan kepala, "ckckckckck, anak muda zaman sekarang."
"Huh?" Ramos sedikit bingung.
43 mulai mengemasi potongan daging yang dikeluarkannya dari ransel, satu demi satu dimasukan kembali kedalam. Tidak bergerak cepat juga tidak bergerak lambat, namun 43 menunjukan ketidak tarikan terhadap nego ini. Ramos sedikit berkedut melihat gelagat 43, tentu saja itu merupakan harga termurah yang ada dipasar. Namun Ramos masih ragu dengan apakah dia ketahuan atau tidak?
Ramos mulai mengalah, "baiklah om, itukan biasanya... gini saja 10 potong 1Ti 25 W?"
"Biasanya?" pungkas 43 tidak percaya.
43 sedikit menekan kata dengan alis terangkat satu dan mulai beranjak pergi dari tempat. Gelagat 43 terlihat nyata dimata Ramos bahwa dia telah ketahuan, padahal 43 hanya menarik ulur dengan dia. Kalau tidak dibeli 43 masih bisa menjualnya didesa dengan kisaran harga itu. Menimbang hari telah sore Ramos segera menarik lengan 43.
"Ok om Ok om, 2 Ti? terakhir mau atau tidak?" Ramos pasrah.
Senyum manis melengkung dibibir 43 mendengar harga bahkan naik 2 kali dari semula, selain itu juga dia menyadari kalau Ramos cukup kurang ajar untuk menipu dia dengan harga 50%.
Tapi 43 tidak mau kalah, "2 Ti harga daging, 10 W untuk harga tipuan!"
"Huh........" Ramos terdiam tidak tahu harus berkata apa.
"Apanya huh! kau mencoba membunuh ku tadi, belum lagi kau berniat menipuku!" tegas 43.
"Sabar om, jangan marah marah... kan tidak sengaja, sudah lah 2 Ti daging dengan 30 W uang damai, bagaimana?" Ramos mencoba berdamai dengan 43.
".... ok" jawab 43 setelah terdiam sejenak.
Sambil tersenyum dan menakupkan tangan Ramos berkata, "tapi... jangan cerita cerita dengan orang soal panah tadi, apalagi dengan petugas keamanan. Beres ya om?"
"Nuan tenang, ada uang bibir rapat." pungkas 43 dengan tegas dan bangga.
Ramos menunjuk kearah tertentu, "ngomong ngomong itu apa om?"
43 melirik ke arah Yuna, "Peri, namanya Yuna."
"Peri? Yuna?" Ramos bingung.
"HiHi..." Yuna hanya bisa terkikih.
ternyata Ramos tidak mengerti apa yang diucapkan Yuna, 43 juga tidak mengerti kenapa dia tidak memahaminya. kalau memang bahasa Yuna berbeda, tidakah setiap ras memiliki bahasa sendiri, namun waktu di pulau pelangi mereka sepertinya memiliki satu bahasa. Karena 43 dan Caesar sepertinya dibantu oleh Dewi Sri jadi tidak masuk hitungan, bila bahkan Ramos tidak mengerti juga? bisa jadi Ramos terbelakang atau Yuna termasuk langka. Memikirkan terlampau jauh pun 43 tidak mengerti, karena itu dia menganggapnya angin lalu saja, toh 43 masih bisa mengerti Yuna dan Yuna bisa mengerti dia. Itu sudah lebih dari cukup. Untuk orang lain ya masa bodoh.
Setelah basa basi sedikit djalan akhirnya 43 dan Ramos harus mengambil jalan berbeda. Sesuai petunjuk yang diberikan 43 mengambil jalan ke arah utara, sedangkan Ramos terus kearah Timur dimana kelompoknya berkemah.
Yuna tidak habis pikir melihat senyum 43 sepanjang jalan sambil menimang nimang beberapa keping logam ditangan. Namu 43 tidak perduli tatapan Yuna, paling tidak dia bisang tenang selama ada uang ditangan. Merogok kocek 43 mengambil 12 Os, ubun ubun 43 terasa mendidih. Ini merupakan uang yang didapat dari kawan kawan dipulau pelangi. 43 tidak pernah lupa kalau katanya dengan 1 Os bisa untuk hidup selama sebulan. Menimbang 2 Ti ditangan satu yang merupakan hasil jual daging mentah, lalu apa guna juga 12 Os ini? beli permen bekas juga tidak cukup.
43 merasa panas tidak berlawan, bagaimana mungkin 12 orang itu bisa bersekongkol, padahal sudah curiga kalau uang dengan nilai terendah tidak mungkin banyak berguna. Hanya saja karena ini dunia lain, mungkin saja berbeda dengan bumi. Pantas saja senyum mereka waktu itu terlihat tidak menyenangkan
namun 43 tidak tahu kenapa.
Tingkatan nilai uang :
1. Osmiun (Os) putih
2. Tungsten (W) 10 Os = 1 W kuning
3. Titanium (Ti) 100 W = 1 Ti hijau
4. Berlian (Be) 1000 Ti = 1 Be biru
5. Boron (Bo) 10.000 Be = 1 Bo merah
6. Lonsdaleite (Lon) 100.000 Bo = 1 Lon ungu
Dari Os - Be memiliki bentuk berupa koin, sedangkan Bo dan Lon berupa batangan segi empat seukuran kartu kredit, dengan ketebalan selebar kelingking pria dewasa.
:::::::::: Kemah Pemburu ::::::::::
Ramka melirik ke arah Ramos yang baru tiba, "tidak biasanya kamu gagal pulang dengan hasil buruan mos?"
"hahaha, jadilah..." ucap Ramos sambil tersenyum dan tertawa.
Ramos dengan santai mengeluarkan daging yang telah dibelinya. Mereka yang lain tidak bisa tidak tersenyum melihat itu. Ramei yang bertugas memasak sedang sibuk dengan pengolahan bahan, sedangkan Ramid sedang sibuk dengan urusan tungku api. Hanya Ramka dan Ramos yang terlihat santai menunggu makan malam. Mendengar celoteh Ramka dan Ramos segera Ramei menyambung pembicaraan.
"Lumayan? ini sangat dermawan malah!" ucap Ramei setelah memastikan daging ini.
"Maksudnya?" tanya Ramos yang tidak mengerti.
"Daging ini memang terlihat sama, tapi ada 4 potong yang berbeda." Jawab Ramei.
"Bukannya itu daging harimau semua?" balas Ramos.
Alasan dibalik Ramos tidak repot repot merogok kocek untuk membeli daging, bukan semata mata karena hari sudah mulai senja. Lebih tepatnya Ramos menyadari kalau itu merupakan daging harimau. Dikalangan pemburu harimau terkenal cukup licik, mereka sangat penakut. Menemui mahluk yang lebih kuat dari dirinya atau bahkan sama kuatnya, menghindar adalah pilihan pasti mereka. Karena itu jika bukan oleh perangkap atau umpan akan cukup sulit untuk diburu, kecuali ada diantara mereka yang memiliki kecepatan tinggi dengan indera yang peka.
Ramei menunjuk kearah tumpukan daging, "4 potong ini daging singa merah!"
"Mantap!" ujar Ramka mendengar itu sambil mengacungkan jempol.
Ramos sedikit tidak percaya, "Itu aku sendiri yang memilih, apa mata aku salah?"
"Tidak, kalau itu singa merah dewasa pasti semua bisa, namun ini baru beranjak menjadi singa merah. Ada banyak kesamaan tapi ada sedikit berbeda dari tekstur, nanti setelah dimasak kamu pasti mengerti." Tegas Ramei sambil menjelaskan.
Ramid berkata, "kalian juga tahu Ramei berpengalaman kerja direstoran Teratai."
Restoran teratai merupakan salah satu restoran papan atas yang terkenal karena hidangan daging. Dari masak kering sampai masak kuah, hampir semua menu merupakan olahan daging dari berbagai jenis binatang maupun monster. Salah satu cabangnya buka di kota Ram sudah cukup lama.
Ramka tersenyum, "hahaha, ini benar benar rejeki nombok, kau tahu kan harganya dipasaran berapa? bagaimana kalau kita jual saja Mos?"
"Kita tidak punya waktu buat itu, bagus dimasak saja sekarang mumpung masih segar. Kalau menunggu sampai kita menyelesaikan ular itu, rasa sudah pasti menurun." Potong Ramid.
"Benar itu!" dukung Ramei.
Ramos terdiam sesaat, teman temannya tidak mengetahui kalau itu daging dibeli oleh dia. Apa yang mereka tahu adalah itu pemberian penduduk desa sekitar. Tapi apa yang paling penting adalah harga daging singa muda ini. Untuk yang dewasa saja harganya terkadang 30%-40% lebih mahal dari harga daging harimau. Sedangkan yang masih muda ini bisa mencapai 3x lipat. Jika sudah dalam olahan dan masuk menu dalam restoran itu bahkan mencapai 6x lipat. Belum lagi akan kelangkaan daging ini, kebanyakan tidak beredar dipasar namun lari
langsung ke restoran. Pihak restoran berani membayar mahal akan daging ini. Jika sudah demikian maka kenikmatan daging ini sudah pasti diatas rata rata.
"Aku beruntung!" Teriak Ramos.
"Haahahahahah...." semuanya tertawa bahagia.
Keberuntungan yang dimaksud Ramos berbeda dengan pemikiran kawan kawannya. Tentu saja itu menjadi rahasia kecil Ramos dan 43. Akan tiba masanya kening 43 mengkerut dikala dia mengetahui ini semua.
Karena karyanya bagus, alu langsung klik favorit.
*hujan dibalik punggung
*suamiku ceo ganas