NovelToon NovelToon
Ta'Aruf Cinta

Ta'Aruf Cinta

Status: tamat
Genre:Spiritual / Tamat
Popularitas:958.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: Khinanti Nomi

JANGAN DI BACA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khinanti Nomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

*Came back to me, or take me with you* •Kembali padaku, Atau bawa aku bersamamu•

{ Tinta}

Pagi ini Arum seperti biasa setelah membantu Ibunya bergulat di dapur, Arum menyirami tanaman serta Bunga-bunganya yang setiap hari tumbuh subur dan mekar cantik.

"Mungkinkah bunga-bunga ini juga merasakan bahagia yang kurasa dalam hatiku. Semoga Allah meridhoi pernikahan ku nanti dengan Dimas." batin Arum

Alif keluar dari dalam rumah dan mendapati Arum sedang menyirami tanaman sambil senyum-senyum sendiri.

"Mbak, niku saiki mboten dongeng kaleh kembang, Tapi senyum-senyum wae. ("Mbak, itu sekarang nggak bicara lagi sama bunga, Tapi senyum-senyum aja.")

Arum hanya menoleh sekilas kearah Alif, dan kembali fokus memberi pupuk organik ke tanaman.

"Walah, aku di cueki ngene loh, ("Walah, aku dicueki gini loh.") Alif nglengos pergi, karena hari minggu seperti biasa Alif akan di ajak Bapak ke peternakan yang berada di Ngawi.

Arum kembali fokus ke tanaman setelah melihat kepergian Alif, Arum bersyukur mempunyai Adik yang menyayangi dan berbakti kepada Bapak dan Ibu. Setiap libur Alif akan selalu membantu Bapaknya kepeternakan dan mau terjun langsung memberi makan serta menggembalakan sapi-sapinya di padang rumput.

🍂

Sementara di rumah Dimas.

Dimas sedang menikmati kopi hitamnya dengan membaca koran yang dia pegang ditangannya.

"Den Dimas ada paket untuk Den Dimas," Wanita Paruhbaya memberikan kotak seukuran sepatu pada Dimas. Dimas pun melipat koran.

"Makasih Bi Inem." jawab Dimas sambil menerima paket.

Bi Inem pun berlalu pergi ke belakang, Dimas melihat-lihat bentuk kotak itu. "Kenapa nggak ada nama pengirimnya." gumamnya.

Dimas pun membuka kotak itu, Dimas hanya mendapati secarik kertas.

"AKU AKAN MENGAMBIL APA YANG MENJADI HAKKU." isi tulisan di atas kertas itu, Dimas pun di buat bingung dengan apa maksud isi pesan itu.

Dimas tidak mau ambil pusing dengan isi dari kotak itu. Mungkin hanya orang iseng saja. Dirasa sudah sangat bosan dengan aktivitas paginya. Dimas pun berdiri dan menaiki anak tangga.

Tetapi ponselnya berdering menandakan sebuah panggilan masuk. Dimas pun berhenti dari langkahnya dan mengeluarkan smartphone dari dalam saku celana pendek ala rumahan yang dikenakannya. Melihat nama Hasan tertera di layar ponselnya.

"Assalamualaikum Dim." sapa Hasan dari sebrang sana.

"Waalaikumsalam, ada apa?" jawab Dimas.

"Xian Guo sudah bebas, ada seseorang yang menjaminnya." Suara Hasan dari sebrang sana.

"Apa.! siapa yang menjaminnya?."

"Mantan kekasihmu."

"siapa yang Kau maksud?"

"Eliana! dia yang menjaminnya."

"Kau sudah tahu kenapa Eliana mau menjaminnya?."

"Entahlah Dim, Aku juga tidak tahu pasti apa motifnya".

"Aku tidak punya hubungan khusus dengannya dulu."

"Mungkin dia patah hati dengan mu ?"

"Sudahlah San jangan bahas itu."

Hasan terkekeh dari sebrang sana.

Eliana salah satunya teman kuliah wanita yang cintanya bertepuk sebelah tangan pada Dimas.

Eliana termasuk wanita yang berani menyatakan cinta di hadapan para mahasiswa lain di salah satu fakultas China.

Mereka pun mengakhiri bercakapan, Dimas pun kembali melanjutkan langkah menuju kamarnya.

Dimas membuka pintu kamar berdiri diambang pintu mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kamar yang di dominasi warna putih. "Kenapa kamar ini terlihat sangat besar dan luas, padahal sebelumnya aku tidak pernah memperhatikan nya." gumam Dimas.

"Aku merindukannya." Dimas pun berjalan kearah tempat tidur, menjatuhkan tubuhnya di atas kasur empuk.

Dimas mengambil smartphone dari dalam sakunya. Menekan tombol menyala. Mencari kontak dan memanggil Satu, dua panggilan tidak terjawab. Entah sedang apa seseorang yang akan ia telepon.

Dimas pun memandang plafond yang bermotif awan. Ponselnya berdering Dimas pun melihat nama yang tertera di layar ponselnya. 'Cintaku'

"Assalamu'alaikum Dim ." sapa Arum

"Waalaikumsalam, sayang." Dimas membuat Arum malu-malu dan bersemu merah dipipinya.

"Kenapa tadi kamu telfon ?" tanya Arum.

"Hanya ingin mendengar suaramu.!" jawab Dimas sambil menyunggingkan senyum membayangkan rona merah di pipi Arum.

Tak terasa sudah satu jam Mereka pun mengakhiri bercakapan. Dimas merasa hidupnya akan terasa sangat lengkap jika sudah membawa Arum kerumahnya.

Terdengar suara ketukan pintu. Dimas pun baranjak dari tempat tidur nya berjalan kearah pintu dan membuka pintu. ternyata Bi inem "Den Dimas sarapan sudah siap."

"Terimakasih Bi, nanti saya turun setelah mandi." Bi Inem pun menjawab dengan anggukan. Dimas kembali menutup pintu dan berjalan kearah kamar mandi.

Setelah selesai dengan ritual mandinya, dan berganti pakaian Dimas pun kembali ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan setelah itu Dimas pun melaksanakan sholat Dhuha.

Dimas keluar dari kamar dan berjalan ke anak tangga setelah sampai di bawah. Tiba-tiba bel rumahnya berbunyi. Bibi yang mendengar nya pun keluar dari arah belakang dan membuka pintu.

"Siapa Anda?" tanya Bi Inem saat melihat seorang wanita di depan pintu.

Mendengar suara Bi inem yang tidak mengenali tamu yang datang, Dimas yang sudah duduk di meja makan hendak sarapan pun berdiri dan berjalan kearah pintu.

tanpa Dimas duga. " Bi Chan!" teriak Dimas senang.

"Kejutan.!!" Bi Chan lebih heboh dan memeluk Dimas. Dimas dan Bi Chan memang sudah seperti Anak dan Ibu.

Bi Inem yang melihatnya bingung, Dimas pun mengurai pelukannya dan menatap Bi Inem. "Bi Inem, Ini Bi Chan dia datang dari China."

Bi Inem nampak mengerti dengan penjelasan Dimas. "Bi Inem tolong buatkan minum,"

"Tidak perlu Dimas, biar nanti Bibi yang buat sendiri." jawab Bi Chan.

"Tidak Bi, Bibi kan baru datang pasti capek. Ayo kita sarapan." ajak Dimas ke meja makan.

"Bagaimana dengan konsep pernikahan mu?" tanya Bi Chan yang sudah duduk di kursi.

"Aku bingung Bi, mau menyusun tema apa?" jawab Dimas tidak tahu menahu tentang konsep pernikahan.

Bi Chan pun menghela napas pelan. Bi Chan merasa kasihan dengan Dimas sudah begitu banyak masalah yang dihadapi nya dulu. sekarang waktunya Dimas bahagia pun harus di hadapankan dengan masalah konsep pernikahannya. "Biar Bibi yang atur, Bibik mengenal berbagai macam WO di Jogja."

"Benarkah Bi." jawab Dimas sumringah.

"Kau tahu Dimas, Aku menikah selama 10 tahun dan aku tidak bisa memiliki anak, suamiku menginginkannya. Dia pun berselingkuh untuk mendapatkan keturunan. Aku menceraikannya, bukan karena dia berkhianat atau Aku tidak mencintai nya, Tapi aku ingin dia bahagia dan tidak terbelenggu dengan ku. Aku sudah mengangapmu sebagai putraku, saat dulu Aku ikut Tuan Erwin ke China. Jadi jangan sungkan untuk meminta bantuan padaku." ucap Bi Chan mengingat masa lalunya.

"Kau sungguh luar biasa Bi.!" Dimas menyanjung Bibinya.

Bi Chan dan Dimas pun melanjutkan obrolan ringan mereka mengenai konsep pernikahan.

"Aku sangat penasaran seperti apa calon istrimu itu?" Tanya Bi Chan.

"Nanti kita kerumahnya sembari memberi konsep pernikahan, dan Bi Chan bisa menilainya sendiri." jawab Dimas.

"Bukankah Kau sedang dipingit Dimas?"

Dimas pun menggaruk tengkuknya. "Ahh.., Aku lupa Bi. Kalau begitu biar Bi Chan saja yang kerumahnya dengan Pak Kardi. Paman akan kesini sebelum hari H nya." jelas Dimas.

"Dari dulu memang pekerjaan selalu nomer satu bagi Egan." jawab Bi Chan.

🍂🍂🍂

Di rumah Arum.

"Assalamualaikum."

Arum yang sedang duduk di kursi kayu jati yang tengah membaca Novel di smartphonenya yang berjudul 'selalu ada tempat bersandar' karya Cahyanti. terkesiap mendengar suara yang tak asing di telinganya. Arum pun meletakkan smartphonenya. Berdiri lalu berjalan kearah pintu.

"Waalaikumsalam. Pak, Bapak sama Alif tumben sudah pulang?' tanya Arum yang berjalan kearah Bapak dan menyalami tangannya.

"Loh memangnya ndak boleh Bapak pulang cepat?" jawab Bapak sembari duduk di kursi kayu jatinya.

"Nduk tolong bikinkan teh hangat untuk Bapak."

"Nggeh Pak. (iya Pak)." jawab Arum berjalan kearah dapur tidak memedulikan Alif yang akan bersuara.

"Iya Mbak, Mbak itu ya..," ucapan Alif terhenti kala mendengar seseorang dari arah luar mengucap salam.

"Assalamualaikum." salam seseorang itu.

"Waalaikumsalam salam." Jawab Alif.

"Sopo Lif ? ('siapa Lif ?") tanya Bapak.

"Ndak tau ini Pak?" Jawab Alif.

"Cari siapa ya Bu?" tanya Alif yang melihat Wanita paruhbaya seusia Ibunya.

"Saya sedang mencari Arum," jawab wanita itu

"Kalau boleh saya tahu Ibu ini siapa?" tanya Alif lagi seperti polisi sedang mengintrogasi terdakwa.

••

1
Nurfanya Rudie Ajalah
baru mampir kak
salam kenal🙏
Marchel
Aku mampir kak...
🧭 Wong Deso: terimakasih
total 1 replies
Jaya Jaya
luar biasa
Maulana ya_Rohman
ahirnya selesai juga.....😌
walaupun jarang coend🤭
Maulana ya_Rohman
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Maulana ya_Rohman
masih nyimak thor
🧭 Wong Deso: terimakasih
total 1 replies
Maulana ya_Rohman
masih nyimak
Maulana ya_Rohman
masih nyimak thor
Maulana ya_Rohman
jadi oenasaran nih🤔🤔🤔siapaya🤔🤔🤔
Maulana ya_Rohman
masih nyimak thor
Maulana ya_Rohman
kalau di daerahku namanya MENDUT thor🤭
Maulana ya_Rohman
nyimak masih thor
Maulana ya_Rohman
masih nyimak thor
Maulana ya_Rohman
di part ini kenapa ada bawang😭😭😭😭😭😭😭
Maulana ya_Rohman
masih nyimak thor
Maulana ya_Rohman
aku kok gak ketemu ya sama Meiying😔
padahal aku di daerah BOROBUDUR😌
Maulana ya_Rohman
hatiku kok ikutan sakit ya🤧
Maulana ya_Rohman
myimak masih....
no cimend🤐🤐🤐😐😐
Maulana ya_Rohman
mampir lagi thor
🧭 Wong Deso: terimakasih 🙏🏼
total 1 replies
Selvy Anton
Biasa
Sadrina Oyeh: 9rrtt
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!