NovelToon NovelToon
Alea & Adrian

Alea & Adrian

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Percintaan Konglomerat / Pernikahan rahasia
Popularitas:366
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

"Alea & Adrian" mengisahkan dua pewaris tunggal imperium bisnis terbesar di Kota Valerika, Alea Corisand dan Adrian Hutama. Terikat wasiat mutlak sang kakek, mereka dipaksa menikah demi penyatuan korporasi. Padahal, keduanya telah memiliki kekasih masing-masing dari kalangan elit.

Enggan mengorbankan cinta, Alea mengusulkan ide nekat: pernikahan kontrak di atas kertas selama enam bulan. Setelah meyakinkan pasangan masing-masing, mereka pindah ke sebuah penthouse mewah dan hidup dalam batasan kamar terpisah yang ketat.

Namun, sandiwara profesional ini perlahan retak. Intensitas kebersamaan memicu getaran aneh yang tak terduga di antara keduanya. Di saat garis batas hati mulai kabur, sebuah ancaman misterius dari masa lalu mengintai, memaksa mereka saling bersandar demi bertahan hidup. Siapakah yang akan bertahan hingga akhir kontrak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Bayang di Balik Sempurna

Lampu-lampu kota Valerika malam itu tampak seperti hamparan berlian yang berserakan di atas beludru hitam yang membentang tak terbatas.

Kilauan dari menara-menara pencakar langit memantulkan ambisi, kekuasaan, dan rahasia yang disimpan rapat oleh para penghuninya.

Namun bagi Alea Corisand, pemandangan memukau dari balik kaca jendela mobil operasional yang membawanya pulang tidak lebih dari sekadar dekorasi mati yang dingin.

Tidak ada kemenangan yang ia rasakan, meski lembar saham dan takhta perusahaan telah kembali ke genggaman tangannya.

Dunia di luar sana bergerak cepat, namun di dalam dadanya, waktu seolah berhenti pada detik di mana genggaman tangan Adrian terlepas dengan begitu efisien di bawah meja rapat pleno tadi siang.

Unit penthouse mewah yang biasanya terasa seperti benteng pertahanan bersama tempat mereka menyusun taktik, menganalisis pergerakan musuh, dan sesekali berbagi keheningan yang intens kini telah kembali ke fungsi aslinya.

Tempat itu hanyalah sebuah ruang kosong yang sangat luas, berdesain modern minimalis, namun terasa asing dan tidak ramah.

Begitu tumit sepatu hak tingginya melangkah melewati pintu masuk yang dilengkapi pemindai biometrik, keheningan tebal menyambutnya seperti sebuah pelukan yang sarat akan ironi.

Alea menanggalkan blazer hitamnya dengan gerakan lambat, membiarkan kain mahal itu terlempar begitu saja ke atas sofa kulit buatan Italia.

Dia berjalan dengan langkah berat menuju area bar dapur yang bersih, menghentikan gerakannya tepat di depan deretan botol alkohol.

Tatapannya terpaku pada satu botol wiski yang tadi sore sempat disentuh dan ditatap oleh Adrian sebelum pria itu pergi.

Adrian benar-benar tidak pulang malam ini. Pria itu menepati ucapannya dengan tingkat presisi yang mengerikan tidak ada ruang untuk kompromi pasca-kerja, tidak ada kepedulian yang tersisa, dan tidak ada basa-basi domestik untuk menenangkan hatinya yang terluka.

Bagi Adrian, ketika urusan korporasi selesai, keberadaan Alea di dalam hidupnya langsung tereduksi menjadi nol.

Di belahan kota Valerika yang sangat berbeda, jauh dari gemerlap distrik finansial dan desau bursa saham, sebuah taksi lokal berhenti perlahan di depan sebuah rumah berarsitektur kolonial yang asri.

Rumah itu terletak di pinggiran distrik lama, dikelilingi oleh pagar tanaman yang terawat dan pencahayaan yang hangat.

Jauh dari kemewahan menara kaca berlantai lima puluh, tempat ini menawarkan jenis keheningan yang sepenuhnya berbeda bukan keheningan yang mencekam dan mengisolasi seperti di penthouse, melainkan keheningan yang menenangkan, teduh, dan memulihkan jiwa yang lelah.

Adrian Hutama melangkah keluar dari dalam taksi setelah membayar ongkosnya dengan tunai sebuah tindakan yang sengaja ia lakukan agar perjalanannya malam ini tidak meninggalkan jejak digital di sistem pelacakan korporasi.

Dia berjalan menyusuri jalan setapak berbatu yang dinaungi oleh pohon-pohon kamboja tua yang harum.

Mantel hitam panjang yang dikenakannya bergerak perlahan tertiup angin malam yang sejuk, namun ekspresi wajahnya yang biasanya kaku, waspada, dan tajam, perlahan-lahan mulai mengendur dengan sangat kentara.

Ketegangan hebat yang ia bawa dari ruang rapat pleno Corisand Media Group seolah-olah luruh satu demi satu bersama guguran daun kering di bawah ketukan sol sepatunya.

Pintu kayu jati rumah tersebut terbuka bahkan sebelum Adrian sempat mengangkat tangan untuk mengetuknya.

Sesosok wanita dengan gaun rajut sederhana berwarna krem berdiri di ambang pintu, bermandikan cahaya lampu kuning yang hangat dari dalam rumah.

Rambutnya yang hitam legam diikat longgar ke belakang, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya yang teduh tanpa riasan tebal.

Sepasang matanya memancarkan kehangatan murni, sebuah ketulusan tanpa syarat yang tidak pernah dan tidak akan pernah Adrian temukan di dunia korporasinya yang penuh dengan intrik.

Wanita itu adalah Kirana.

Dia adalah mentari di balik badai besar yang selama ini sengaja Adrian sembunyikan dari radar publik, dari kejaran media, dan yang paling penting, dari intaian musuh-musuh bisnisnya.

Kirana adalah rahasia terbesarnya, sekaligus satu-satunya alasan mengapa dia bersedia mengenakan topeng monster di dunia luar.

"Kau terlambat dari waktu yang kau janjikan, Adrian," ucap Kirana dengan nada suara yang sangat lembut, sebuah senyuman tulus terbit di wajahnya yang menenangkan.

Adrian tidak menjawab kalimat itu dengan kata-kata.

Dia mengambil satu langkah besar ke depan, memperkecil jarak di antara mereka, lalu langsung menarik tubuh Kirana ke dalam dekapannya yang erat.

Pelukan ini terasa sangat berbeda dengan caranya merengkuh tubuh Alea di dermaga tua tempo hari atau saat berada di depan sorot kamera media siang tadi.

Di dalam pelukan ini, tidak ada manajemen risiko, tidak ada kalkulasi keuntungan, dan sama sekali tidak ada kepura-puraan demi sebuah skenario public relations.

Ini adalah pelukan dari seorang pria biasa yang akhirnya menemukan jangkarnya setelah lelah terombang-ambing di tengah laut lepas yang penuh dengan hiu korporasi.

"Maafkan aku, Kirana," bisik Adrian di sela-sela rambut wanita itu, suaranya terdengar begitu rendah dan untuk pertama kalinya terdengar rapuh.

Ini adalah sebuah sisi kemanusiaan yang amat sangat rahasia, sisi yang akan membuat seluruh dewan direksi Hutama Industries gemetar ketakutan jika mereka sampai melihatnya.

"Perang di pusat kota hari ini sedikit menyita waktu dan energi."

Kirana menuntun Adrian masuk ke dalam rumah yang harum oleh perpaduan aroma teh melati dan kue panggang yang baru matang dari oven.

Di dalam ruangan keluarga yang sederhana ini, tidak ada televisi layar lebar yang menyiarkan pergerakan grafik saham harian, tidak ada tumpukan dokumen legalitas yang membosankan, dan yang paling krusial, tidak ada sedikit pun ruang bagi bayang-bayang seorang Alea Corisand.

"Aku sempat melihatmu di siaran berita siang tadi," ujar Kirana dengan nada pelan sambil menuangkan teh hangat ke dalam cangkir keramik untuk Adrian di atas meja makan kayu yang tampak kuno namun kokoh.

"Kau... terlihat sangat serasi dan luar biasa bersanding dengannya di atas panggung itu. Media-media nasional bahkan mulai menyebut kalian sebagai pasangan dinasti baru yang paling berpengaruh tahun ini."

Adrian menatap uap yang mengepul dari cangkir tehnya selama beberapa detik, sebelum akhirnya mengulurkan tangan untuk meraih jemari Kirana, menggenggamnya dengan sangat erat di atas permukaan meja.

"Itu semua hanya murni urusan bisnis, Kirana. Kau tahu persis setiap detail yang tertulis di dalam klausul kontrak pernikahan itu karena aku sendiri yang menunjukkannya padamu sebelum aku menandatanganinya," sahut Adrian dengan nada suara yang tegas, berusaha meyakinkan Kirana sekaligus menegaskan kembali batas di dalam hatinya sendiri.

"Apa yang kau lihat di layar kaca tadi siang hanyalah sebuah performa akting dari seorang profesional yang dibayar dengan harga sangat mahal. Perempuan itu... Alea, dia hanyalah sebuah mitra taktis yang kebetulan kubutuhkan untuk menghancurkan kekuatan Arthur Corisand di bursa saham. Tidak lebih dan tidak akan pernah kurang dari itu."

Kirana menatap jauh ke dalam sepasang mata Adrian, mencoba mencari apakah ada celah keraguan atau kebohongan yang tersembunyi di balik ketegasan pria itu.

Sebagai wanita yang telah mendampingi Adrian sejak pria itu masih merangkak dari bawah dan belum menjadi siapa-siapa di industri ini, Kirana tahu seberapa keras dan kejam Adrian bisa mematikan emosinya demi mencapai sebuah target.

Namun, entah mengapa, Kirana merasakan ada sesuatu yang sedikit berbeda dari sorot mata Adrian malam ini sebuah kilat kelelahan psikologis yang tidak biasa, yang belum pernah ia lihat sebelumnya selama suksesi bisnis Hutama berjalan.

"Apakah perempuan itu tahu tentang keberadaanku di hidupmu?" tanya Kirana dengan suara yang sangat lirih, hampir berupa bisikan.

"Tidak, dia tidak tahu apa pun, dan dia sama sekali tidak perlu tahu," jawab Adrian dengan cepat dan lugas, suaranya kembali mengeras dengan barikade profesionalnya yang khas.

"Hubunganku dengan Alea Corisand memiliki tanggal kedaluwarsa yang mutlak. Hubungan itu akan berakhir dan dibubarkan secara hukum begitu seluruh proses restrukturisasi selesai dan nilai saham Hutama Industries mencapai target valuasi yang kita inginkan. Aku tidak akan pernah membiarkan sebutir bidak bisnis mencampuri atau merusak kehidupan nyataku di sini. Kau adalah masa depanku, Kirana. Pernikahan di gedung mewah itu hanyalah selembar kertas kontrak operasional yang pada waktunya nanti akan segera dihancurkan tanpa sisa."

Adrian menarik tangan Kirana mendekat ke bibirnya, mengecup punggung tangan wanita itu dengan penuh takzim dan rasa hormat yang mendalam, seolah-olah dia sedang mengucapkan kembali janji sakral yang mengikat jiwa dan raganya.

Di dalam rumah kecil yang hangat ini, Adrian merasa dirinya utuh kembali sebagai seorang manusia.

Dia terus meyakinkan hatinya sendiri yang sempat terusik bahwa keputusannya untuk tetap bersikap dingin, menjaga jarak, dan menolak semua ungkapan perasaan dari Alea adalah satu-satunya tindakan yang benar dan rasional untuk dilakukan.

Sementara itu, di dalam penthouse mewah yang sunyi di pusat kota, Alea Corisand memilih untuk duduk diam di atas lantai marmer balkon luar dengan kedua lutut yang ditekuk erat ke arah dadanya.

Angin malam Valerika bertiup semakin kencang, menerbangkan beberapa helai rambut marunnya yang kini tampak acak-acakan tanpa tatanan formal.

Di atas pangkuannya, terdapat draf salinan kontrak pernikahan mereka yang kini tampak seperti sebuah lelucon besar yang tertulis di atas kertas putih.

Dia kembali teringat dengan sangat jelas kata-kata yang diucapkan Adrian sore tadi di ruang rapat setelah para pemegang saham bubar Jangan pernah membiarkan peran sesaat di atas panggung tadi mengaburkan garis batas nyata.

Alea memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan setitik air mata yang sejak siang tadi ia tahan dengan sekuat tenaga akhirnya jatuh melewati pipinya yang pucat.

Dia tahu betul bahwa dirinya adalah wanita yang kuat; dia telah menghadapi pengkhianatan paman kandungnya, menghadapi sabotase yang mengancam nyawa, dan menghadapi tatapan meremehkan dari dewan direksi tanpa sekali pun mengedipkan mata atau memperlihatkan rasa takut.

Namun, harus menghadapi penolakan yang begitu mutlak, dingin, dan kalkulatif dari pria yang setiap malam berbagi atap dengannya adalah jenis rasa sakit yang tidak pernah diajarkan di dalam manual bisnis mana pun di dunia.

"Kau benar, Adrian," gumam Alea pada kegelapan malam yang dingin, suaranya terdengar serak dan parau oleh emosi yang tertahan.

"Ini semua sejak awal memang hanyalah urusan bisnis. Aku mendapatkan kembali perusahaan peninggalan ayahku, dan kau mendapatkan keuntungan finansial serta ekspansi pasar yang kau inginkan untuk imperiummu. Kita adalah mitra, dan kita tidak saling berutang perasaan apa pun."

Alea berdiri dari posisi duduknya, menghapus sisa air mata di wajahnya dengan kasar menggunakan punggung tangannya.

Dia melangkah masuk kembali ke dalam ruang tengah, menggeser pintu kaca balkon dengan hentakan keras hingga menimbulkan suara dentuman yang memecah kesunyian, lalu mengunci rapat-rapat pintu hatinya yang sempat terbuka secara ceroboh untuk pria itu.

Jika Adrian menginginkan permainan ini berjalan di atas jalur murni profesional tanpa melibatkan emosi, maka Alea akan memastikan bahwa mulai besok pagi, Adrian Hutama tidak akan pernah lagi bisa melihat celah kerapuhan atau kelemahan sedikit pun di dalam dirinya.

Topeng besi Corisand telah dilas mati pada wajahnya.

Di tempat lain, di bawah atap rumah kolonial yang dipenuhi kehangatan teh melati, Adrian tengah menatap Kirana yang kini telah tertidur pulas di atas pundaknya saat mereka duduk bersama di sofa ruang tengah.

Kamar itu begitu tenang, dan wanita di pelukannya adalah semua hal yang ia perjuangkan.

Namun, entah mengapa, di tengah-tengah kedamaian murni yang seharusnya ia rasakan malam ini, sebuah kilasan ingatan mengenai ekspresi wajah Alea yang terluka, kecewa, namun berusaha tetap tegap di ruang rapat tadi siang mendadak melintas begitu saja di dalam benaknya tanpa izin.

Adrian mengerutkan keningnya dalam-dalam, merasa sangat terganggu oleh anomali pikiran yang tiba-tiba muncul itu.

Dengan cepat, dia menepis bayangan tersebut dari kepalanya dan mempererat dekapannya pada tubuh Kirana.

Pria itu kembali membisikkan mantra penenang pada hatinya sendiri yang mulai dirayapi keraguan samar, meyakinkan dirinya sendiri bahwa seluruh keputusannya tidak salah, dan bahwa segalanya masih berjalan dengan sangat sempurna sesuai dengan rencana awal yang tertulis di atas kertas kontrak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!