Karena keadaan keluarganya, Arimbi ingin membawa ibu dan neneknya pindah ke tempat baru yang di mana tidak ada orang yang tahu asal mereka. Tentu semua itu membutuhkan biaya yang cukup besar. Sampai suatu saat tawaran datang dari seorang gadis kaya yang menjanjikan uang yang menggiurkan, membuat Arimbi pergi ke kota dan nekat menerima tawaran itu. Apa yang selanjutnya terjadi dengan Arimbi gadis cantik dan polos yang berasal dari desa itu?
Hati-hati ya, ceritanya bikin sakit perut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anny Djumadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harus berjanji
"Apa yang dibicarakan kak Hugo pada mu, bi?" tanya Clara akhirnya bisa berbicara, ketika Arimbi sudah masuk ke kamar.
"Maaf Ra, kesabaran ku sudah habis diuji kak Hugo! Aku tadi marah pada kak Hugo," sahut Arimbi.
"Memang Kak Hugo ngapain kamu hingga kamu marah? Dan apa yang kau lakukan saat marah?" tanya Clara semakin penasaran.
"Kak Hugo menyalahkan ku terus, sepertinya dia ingin membatalkan pernikahan dengan ku!"'sahut Arimbi.
"Terus apa yang kau lakukan?" tanya Clara langsung tegang. Kalau Arimbi menyerah, berarti usahanya sia-sia untuk mengalahkan Fani.
"Aku..aku terlanjur emosi Ra, maafkan aku!" sahut Arimbi menunduk karena merasa bersalah.
"Tapi kau tetap akan membayar ku ya, Ra?" tanya Arimbi kemudian.
"Memang apa yang kau lakukan ketika kau emosi?" tanya Clara dengan tidak sabar dan tidak menjawab pertanyaan Arimbi.
"Aku bilang pada kak Hugo kalau aku tidak mau tahu, dia harus menikahi ku! Setelah nya kalau dia mau menceraikan aku, aku tidak masalah." ujar Arimbi.
"Kau bagaimana sih? Nikah saja belum, kok sudah mikir cerai. Kalau begitu dari awal ngapain kau minta tanggung jawab kak Hugo? Kalau begitu bukankah dari awal lebih baik kau minta ganti rugi saja!" omel Clara merasa kesal.
"Andai nenek ku belum tahu, aku lebih memilih tidak jadi menikah, Ra! Ku pikir pada akhirnya Kak Hugo akan ikhlas menikahi ku, tapi dia sama sekali tidak punya itikad baik Ra! Dia terus menyalahkan ku dan mengatai aku perempuan penggoda. Bagaimana aku bisa sabar?" ujar Arimbi membela diri.
"Atau jangan-jangan kau suka sama si Bastian ya? Mengapa kalian berdua dari tadi saling berpandangan terus?" tuduh Clara.
"Bukan seperti yang kau pikirkan Ra! Masak pikiranmu dan kak Hugo sama saja?" tanya Arimbi.
"Tapi aku tadi melihat sepertinya kau mendekati Bastian terus?"
"Iya, tapi aku tidak bermaksud macam-macam Ra! Bastian mendengar pembicaraan ku dan kak Hugo. Aku hanya ingin dia merahasiakan hal itu dari ibu dan ayah mu," jawab Arimbi.
'Kau kok begitu ceroboh, Bi?" sesal Clara.
"Maafkan aku, Ra. Tapi Bastian berjanji akan merahasiakan," sahut Arimbi menenangkan Clara.
"Kau sungguh polos, bi! Berdasarkan apa, kau bisa percaya dengan apa yang dikatakan Bastian? Sedangkan kau saja baru pertama kali bertemu dengannya?" ujar Clara yang merasa tidak suka pada Bastian.
"Dia berkata suka berteman dengan ku, Ra! Dan kelihatannya dia benar-benar tulus," ujar Arimbi.
"Kau sebaiknya berhati-hati bi, jangan terlalu mudah percaya dengan orang!" nasehat Clara.
Kau saja gak sadar kalau aku sudah menjebak mu! Tapi setidaknya aku masih bertanggung jawab setelah menjebak mu, ujar Clara tentu hanya dalam hati saja.
"Ya sudah, kak Hugo sudah meminta aku mengatur pernikahan kalian, mulai besok kita mulai mencari gaunnya dan lain-lain. Kau jangan berpikir habis menikah lalu bercerai, percayalah pada ku, kak Hugo itu pria yang baik. Kau harus mempertahankannya," sambung Clara lagi.
"Akan ku usahakan, Ra," sahut Arimbi tidak semangat.
"Aku gak mau tahu, kau harus berjanji mempertahankan apa yang sudah ku perjuangkan!" paksa Clara.
"Baiklah, Ra! Aku janji," sahut Arimbi sambil menghela nafas.
"Awas kalau kau bohong! Aku pasti akan marah!" ujar Clara menegaskan lagi, sedangkan Arimbi mau tidak mau mengangguk setuju
*********
Hari ini adalah hari pernikahan Hugo Fernandez dan Arimbi Natasya.
Clara mempersiapkannya hanya dalam waktu singkat, tetapi pernikahan itu terlihat begitu megah. Dengan konsep modern dan dilangsungkan di sebuah Gedung besar. Dengan uang semua terselesaikan. Pernikahan yang harusnya disiapkan jauh hari sebelumnya, buat Clara cukup dua Minggu saja.
Arimbi tidak menyangka kalau pernikahannya akan dirayakan semegah itu, apalagi Hugo kelihatannya terpaksa menikahinya saja.Nenek Arimbi yang datang sehari sebelum acara merasa bersyukur ketika melihat pernikahan yang diadakan begitu meriah. Bahkan kedua calon mertua Arimbi sama sekali tidak memandang hina asal Arimbi yang hanya orang desa itu.Hugo sendiri walau tidak suka dengan Arimbi, tapi dia cukup menghormati nenek Arimbi.
Selama persiapan pernikahan, Hugo hanya keluar uang dan ikut partisipasi saat pemotretan saja, itu pun sesudah dipaksa Clara.
"Kau suruh saja Arimbi foto sendiri!" ujar Hugo.
"Kak Hugo jangan macam-macam, sejak kapan ada foto menikah hanya penganten wanitanya foto sendirian?" tanya Clara dengan kesal. Saat itu mereka sedang bertiga duduk di ruang keluarga untuk membicarakan persiapan pernikahan.
"Kalau begitu sibuk, biar aku yang wakili saja saat foto!" ujar Bastian yang tiba-tiba ikutan juga, entah sudah sejak kapan dia masuk ke ruang itu. Sejak diakui anak, Fernandez meminta Bastian untuk tinggal di Mansion mereka.
"Kau gak usah ikutan! Jangan macam-macam!" omel Clara yang tidak suka pada Bastian.
"Aku cuman satu macam kak Rara! Aku kan cuman kasih solusi," ujar Bastian tersenyum.
"Biarkan saja Ra, foto sama siapa juga gak masalah! Toh fotonya cuman buat pajangan doang," sahut Arimbi melerai Clara dan Bastian.
"Kapan dan di mana pemotretannya?" tanya Hugo akhirnya.
**********
Tampak wajah kedua penganten yang tidak terlalu banyak senyum, padahal penganten pria terlihat tampan dan gagah sedang penganten wanitanya terlihat begitu cantik.
Dari jauh Bastian mengakui kalau Arimbi benar-benar cantik, hati Bastian langsung merasa irri dengan saudara barunya yang beda ibu itu.
Sungguh beruntung Kak Hugo, sejak kecil sudah hidup berkelimpahan! Dengan apa yang dia miliki, tentu mudah baginya mendapatkan perempuan seperti apapun! pikir Bastian yang merasa tidak adil.
Fani yang mau tidak mau hadir ke pernikahan Hugo ketika diundang Clara. Fani tidak pernah mau kalah itu ingin menunjukkan pada Clara, kalau dia sama sekali tidak terpengaruh dengan pernikahan Hugo. Lagipula Fani menjadi penasaran, bagaimana rupa istri Hugo, yang jelas Fani berharap dia melebihi segalanya dari istri Hugo. Ketika melihat Arimbi yang memakai baju penganten modern yang terlihat begitu cantik, Fani langsung merasa nafasnya memburu karena rasa iri dan kecewa.
Hugo yang tidak mengundang Fani, tentu menjadi kaget dan salah tingkah ketika melihat kehadiran Fani. Fani memutuskan berjalan ke arah Hugo dan Arimbi untuk menyalami sepasang penganten itu. Tiba saat menyalami Arimbi, Fani menempelkan pipinya ke Arimbi.
"Sungguh sifat yang tidak bagus! Memaksa pria yang sudah memiliki kekasih menikahi mu! Kau tunggulah balasan atas perbuatan busuk mu itu tiba!" bisik Fani di telinga Arimbi yang membuat Arimbi kaget dan langsung menatap Fani yang berada di depannya.
Jangan-jangan ini kekasih kak Hugo!
Bersambung..........
aduh othor sayang, ku candu dengan cerita mu, sehat sehat biar up teratur 🫰❤️
semangat othor kesayangan