Giovanni El Nino adalah seorang pemuda yang berprofesi sebagai pekerja seni di dunia hiburan, namun karena kepribadiannya yang angkuh dan tak acuh terhadap sesamanya membuat sang ayah terpaksa menjadikannya seorang guru di SMA Harapan Bangsa dengan harapan anaknya mengalami perubahan sikap yang lebih baik.
Akan tetapi tetap saja, kepribadian Nino tidak juga berubah, justru ia menjadi guru yang dibenci oleh murid-muridnya.
*****
Rhodophyta Algavian seorang pemuda yang lugu namun cerdas, selalu menjadi bahan perundungan teman-temannya di SMA Harapan Bangsa.
****
Suatu ketika hal besar menimpa Nino, ia mengalami kecelakaan hebat dan diberikan kesempatan oleh malaikat untuk memperbaiki hidupnya dan berbuat baik dengan masuk ke dalam tubuh Vian dan mengubah hidup pemuda tersebut.
Apakah Nino akan berhasil membantu Vian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Claudia Diaz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membesuk Nino
Vian hanya mampu meringis mendengar pekikan Nino yang terdengar olehnya.
“Ya ampun kasihan sekali jika hidup sebagai roh. Pak Nino pasti tidak bisa makan enak, mungkin hanya kemarin saja dia bisa makan enak. Ya, walaupun harus menikung diriku," gumam Vian dengan sedikit nada sindiran.
“Bocah kurang ajar. Siapa juga yang menikungmu. Bukankah aku sudah meninggalkan catatan di komputermu, kau ini bisa membaca dengan benar tidak?!" sentak Nino.
“Tidak perlu marah-marah. Bapak sudah tua, bisa gawat kalau terkena hipertensi. Orang yang sudah lanjut usianya, biasanya sering mengidap sakit itu," ujar Vian.
“Aku belum lanjut usia, dasar murid durhaka! Seenaknya saja kau bilang seperti itu, umurku saja akan menginjak kepala tiga sebentar lagi," gerutu Nino.
“Serius, kebohongan apalagi ini?!" ujar Vian sok terkejut, “jangan terlalu sering membual, Pak. Pasalnya wajah Anda terlihat sangat tua."
“Sudah berani, ya! ... hmm muridku ini, mentang-mentang aku sebuah roh yang menumpang di tubuhmu, lalu kau seenaknya bicara padaku?" ucap Nino tajam, membuat Vian bergidik ngeri.
“A-ampun, Pak. Aku hanya bercanda, tidak perlu serius begitu, orang sabar disayang Song Hye Kyo dan Jun Ji Hyun, Pak," Vian mulai merayu Nino, agar amarah Nino mereda.
“Kau merayuku. Ha-ha-ha.. tidak mempan, tidak mempan. Aku tetap marah padamu dan jangan panggil aku?!" ujar Nino mulai merajuk. Astaga, sebenarnya berapa umur Nino?
“Sabar Vian, kau tidak boleh durhaka dengan orang tua. Tidak boleh! Karena Papa dan Mama tidak pernah mengajarkan itu, bisa dipecat aku nanti, dan aku akan hidup sebagai yatim piatu. Oh, itu mengerikan," ujar Vian dengan pemikiran dramanya.
Karena jam pelajaran mata keterampilan sudah selesai semuanya kembali ke kelas dengan membawa hasil karya masing-masing kelompok.
“Sedari tadi aku melihatmu, kau hanya terdiam, ada apa?" tanya Anna.
“Aku tidak apa-apa, hanya ...." Vian menghentikan ucapannya, terlihat seperti ragu?
“Hanya?" tanya Anna lagi.
“Nanti saja, aku akan memberitahumu, tapi nanti," ujar Vian.
Anna hanya mengangkat bahunya tak peduli. Ia mulai terbiasa dengan sikap aneh Vian. Mungkin saja Vian sedang bicara dengan jiwanya yang lain.
“Bisakah kau ikut aku nanti sore?" tanya Vian.
“Mungkin bisa, hari ini aku memang sengaja kabur dari Mama," jawab Anna.
“Kenapa lagi kali ini?"
“Aku akan dikenalkan pada anak teman Mama, tetapi aku tidak mau, seperti tidak laku saja," gerutu Anna.
“Lagi?" beo Vian, Anna hanya mengangguk.
“Mengapa kau tidak katakan pada mamamu bahwa kau sudah punya kekasih?" usul Vian.
“Memang siapa kekasihku?" jawab Anna dengan pertanyaan.
“Tentu saja aku," jawab Vian yang sepertinya sedang sedikit mengalami overdosis percaya diri itu.
Anna hanya melongo mendengar jawaban Vian yang super percaya diri itu, ia hanya berdecak, “Dasar pembual!"
Kemudian Anna berlalu meninggalkan Vian, melihat Anna yang berlalu, Vian segera berlari mengejar sembari berteriak. “Anna, loh kok aku ditinggal. Hei, tunggu!?"
Melihat dua anak-cucu Adam dan Hawa yang sedang bertengkar itu ... mungkin, membuat Nino menggelengkan kepalanya. “Dasar bodoh!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu di rumah sakit seorang wanita paruh baya masih duduk dan menunggu seseorang yang masih terbaring di ranjang rumah sakit, dan menatap dengan sendu.
“Kapan kau bangun, Nak?" gumam wanita itu.
Pintu ruang rawat terbuka. Seorang gadis masuk ke dalam ruang rawat inap dan menepuk pelan pundak mamanya itu.
“Mom, aku datang dan membawa makanan untuk Mommy, sebaiknya Mommy makan terlebih dahulu, aku yakin Mommy belum mengisi perut sejak tadi," ucap gadis itu.
“Bagaimana Mommy bisa makan jika kakakmu saja belum sadarkan diri hingga saat ini?"
“Mom, Kak Nino pasti juga sedih jika melihat keadaan Mommy seperti ini, lihat, Mommy semakin hari semakin kurus saja, pipi Mommy juga mulai sedikit tirus. Aku tahu jika Mommy mengkhawatirkan kak Nino, tapi Mommy juga harus memperhatikan kesehatan Mommy juga," ucap gadis itu panjang lebar.
Wanita paruh baya itu hanya terdiam. Benar, karena sibuk memperhatikan anak sulungnya, ia jadi abai dengan kondisinya sendiri.
“Sekarang Mommy istirahat saja, biar aku yang menggantikan Mommy menjaga Kak Nino," ujar gadis itu lagi.
“Terima kasih, karena kau selalu menyayangi kakakmu, Nina, meskipun kakakmu mungkin terlihat buruk selama ini," ucap ibunya tulus.
“Walau aku terlihat tidak acuh, tapi aku tak pernah membencinya Mommy. Dia adalah Kakak terhebat yang pernah kumiliki, meski aku tak pernah mengatakannya secara langsung, tetapi aku sangat menyayanginya," jelas Nina sambil memandang sang kakak yang tengah terbaring dengan tatapan kosongnya.
“Mommy tahu jika kalian menyayangi satu sama lain, tetaplah seperti itu," nasehat sang mommy.
Nina hanya mengangguk sambil menggenggam tangan kakaknya. Ia berharap kakaknya segera bangun atau dokter akan melepas alat-alatnya karena sudah menyerah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kembali di SMA Harapan Bangsa. Selepas praktek membuat kue tadi, pada jam berikutnya ternyata ada ulangan dadakan Seni Budaya. Hal tersebut tentu saja membuat para siswa bersungut-sungut karena merasa belum siap.
“Pak, apa kau bisa bermain musik?" tanya Vian.
“Level pertanyaanmu rendah sekali. Kaupikir saat aku menampilkan pertunjukan untuk ulang tahun sekolah tahun lalu. Aku menampilkan apa, sulap?!" jawab Nino sinis.
“Ah, iya juga. Maaf aku lupa. Jangan marah-marah, nanti cepat tua!" peringat Vian, Nino hanya mendengus tak suka.
Mereka mengerjakan ujian dengan bersungut-sungut, bagi yang bisa bermain musik, ujian ini bukanlah masalah untuk mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jam pelajaran telah berakhir. Hari ini sesuai janjinya Vian akan mengajak Anna ke suatu tempat.
“Sudah siap?" tanya Vian.
“Hmm ... sebetulnya kau akan mengajakku ke mana?" tanya Anna penasaran.
“Suatu tempat. Kau belum pernah ke sana," jawab Vian.
Mereka meninggalkan area sekolah, “Kita singgah dulu di toko kue."
Anna hanya bergumam tidak jelas, menuruti Vian.
Jalanan sedikit macet, banyak orang yang memadati jalan raya karena pulang dari bekerja.
“Aku benci kemacetan!" keluh Anna.
“Lebih baik menikmati macet daripada ikut mamamu, bukan?" ujar Vian.
“Sayangnya itu benar," jawab Anna lesu.
Mereka bergerak sedikit demi sedikit sampai akhirnya terbebas dari kemacetan. Vian segera melajukan motornya ke toko kue.
Sesampainya di toko, Vian dan Anna segera masuk, mereka disambut ramah oleh pelayan toko.
“Kau ingin yang mana?" tanya Anna.
“Aku bingung, biasanya kue apa yang disukai wanita?" tanya Vian balik.
“Kue untuk wanita?" beo Anna, pandangan matanya masih menelusuri berbagai macam kue yang terpajang di etalase. ”Biasanya mereka menyukai sesuatu yang manis, tapi tidak selalu manis. Terkadang mereka juga menyukai rasa yang sedikit asam, tergantung selera."
“Bagaimana jika kita membeli kue strawberry cake atau lemon meringue tart?" usul Vian.
“Strawberry?" beo Anna, entah mengapa pikirannya tiba-tiba terlempar pada kejadian kencan dadakan itu.
“Ah, tidak-tidak. Yang menyukai strawberry ada banyak. Bukan hanya dia!" gerutu Anna dalam hati.
“Anna, ada apa denganmu?" tanya Vian sembari menepuk pundaknya.
“Ah, tidak. Maaf aku hanya sedikit tidak fokus," jawab Anna beralasan.
“Jadi pilih yang mana?" tanya Vian.
“Lemon meringue tart saja, lebih enak lemon meringue tart daripada strawberry cake," jawab Anna cepat.
“Oke," putus Vian. Dia langsung memesan sesuai pilihan Anna dan membayarnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kini mereka berdua sudah berada di rumah sakit. Vian mengetuk pintu kamar rawat inapnya. Vian dan Anna disambut oleh wanita paruh baya dengan senyuman. Namun, masih terlihat sendu itu.
“Bibi, maaf kami baru bisa berkunjung lagi," ucap Vian.
“Tidak apa-apa, terima kasih, kau masih mengingat Nino," jawab wanita paruh baya tersebut.
“Apa ini Anna? Bibi pernah melihatmu saat berkunjung ke sekolah."
Anna hanya mengangguk sambil tersenyum canggung.
Mereka terlibat obrolan ringan dan bercerita tentang kehidupan sekolah mereka. Sesekali Anna melirik ke arah Nino yang sedang terbaring.
“Wajahnya benar-benar tampan," ujar Anna dalam hati. Entah mengapa pipinya bersemu merah hanya melihat Nino yang sedang terbaring dengan alat-alat rumah sakit tersebut.
dah ga kuat hdup di dunia makanya buat ulah dulu sebelum ke alam lain
agak lain nih anak