NovelToon NovelToon
Istri Pengantin Untuk CEO Lumpu

Istri Pengantin Untuk CEO Lumpu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Karena kakaknya kabur tepat hari pernikahan demi bersanding dengan musuh bisnis tunangannya, Aruna terpaksa mengambil alih posisi yang bukan miliknya. Ia menikah dengan Argan, seorang pengusaha muda yang tampan, kaya raya, namun lumpuh dan duduk di kursi roda akibat kecelakaan. Dianggap sebagai pengganti sekaligus pelampiasan, Aruna tetap bertahan dengan kesabaran dan ketulusan. Ia tak hanya menuntun langkah kaki Argan yang perlahan pulih, namun juga menyembuhkan luka hatinya yang sempat membeku akibat pengkhianatan. Di antara kebohongan yang memulainya, tumbuh kasih sayang yang perlahan menyatukan dua jiwa yang saling melengkapi — hingga akhirnya mereka menyadari, pernikahan yang dipaksakan itu justru adalah takdir terindah yang pernah Tuhan berikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Hati yang Beku

Matahari pagi baru saja mengintip malu-malu dari balik cakrawala, menyelinap masuk lewat celah tirai sutra tebal yang menggantung di jendela kamar Aruna. Cahayanya yang keemasan menyentuh permukaan lantai marmer yang dingin, namun tak mampu menghangatkan suasana di dalam ruangan itu. Aruna terbangun bukan karena suara burung berkicau atau sinar matahari yang menyapa wajahnya, melainkan karena rasa pegal yang menjalar di sekujur tubuh—sisa ketegangan yang ia rasakan sepanjang malam sebelumnya.

Ia duduk perlahan di tepi tempat tidur yang begitu empuk namun terasa asing baginya. Matanya menyisir setiap sudut ruangan yang luas itu: perabotan kayu jati ukiran halus, lukisan bernilai tinggi yang tergantung rapi di dinding, hingga pernak-pernik kristal yang berkilau terkena cahaya. Semuanya tampak begitu sempurna, begitu mewah, namun tak ada sedikit pun jejak kehangatan atau kesan tempat tinggal yang penuh tawa. Ruangan itu terasa seperti sebuah museum—indah dipandang, namun dingin dan sunyi.

Aruna menghela napas panjang, lalu beranjak berdiri. Ia merapikan tempat tidur dengan cermat, melipat selimut dengan rapi persis seperti yang biasa ia lakukan di rumahnya yang sederhana. Ia sadar, mulai hari ini ia bukan lagi gadis biasa yang bebas melakukan apa saja. Ia adalah Nyonya Adhyaksa, istri sah dari pria yang hatinya tertutup rapat seperti benteng yang tak bisa ditembus siapa pun.

Setelah selesai merapikan diri dengan pakaian sederhana yang disiapkan pelayan—sebuah gaun katun berwarna krem yang longgar namun tetap sopan—Aruna melangkah keluar kamar. Lorong yang panjang itu seolah tak berujung, dilapisi karpet tebal yang meredam setiap langkah kakinya. Sesampainya di ruang makan yang luas, ia melihat Argan sudah duduk di ujung meja yang panjangnya hampir sepuluh meter itu.

Pria itu mengenakan kemeja putih polos yang diselipkan rapi ke dalam celana bahan berwarna gelap. Wajahnya yang tampan terlihat lebih tenang dibandingkan semalam, namun sorot matanya tetap tajam dan dingin. Di hadapannya sudah tersaji aneka hidangan lengkap—buah-buahan segar, roti panggang, sereal, hingga berbagai macam selai dan madu. Namun Argan hanya menyentuh secangkir kopi hitam yang mengepulkan asap tipis, tak menyentuh makanan lain sedikit pun.

Saat Aruna masuk, ia hanya melirik sekilas tanpa mengucapkan salam atau menyuruhnya duduk. Aruna pun berjalan pelan menuju kursi yang agak jauh dari posisi Argan, lalu duduk dengan sopan. Pelayan yang berjaga di sampingnya segera menuangkan teh hangat dan menyodorkan piring berisi makanan.

“Duduklah di posisi yang seharusnya,” suara Argan tiba-tiba terdengar datar, memecah keheningan ruangan. “Kau istriku. Jangan duduk seperti tamu tak diundang.”

Aruna terperanjat sedikit, lalu mengangguk pelan. Ia menggeser kursinya perlahan mendekati sisi kanan Argan, tempat yang memang disiapkan untuk pemimpin rumah tangga kedua. Tangannya sedikit gemetar saat mengambil sendok, takut salah bergerak atau melanggar batas yang telah ditetapkan pria itu semalam.

“Makanlah,” ucap Argan lagi, kali ini nadanya sedikit lebih lembut namun tetap tegas. “Kau harus terlihat sehat dan bugar. Dalam tiga hari kita akan menghadiri jamuan makan malam bisnis yang sangat penting. Kau harus mampu berdiri tegak di sampingku, menjawab pertanyaan dengan tenang, dan tak boleh menunjukkan sedikit pun bahwa pernikahan ini tidak berjalan seperti yang mereka kira.”

“Saya mengerti, Tuan,” jawab Aruna pelan, lalu mulai menyantap sarapannya dengan hati-hati.

Sepanjang sarapan itu tak ada percakapan lain yang terjadi. Hanya suara denting sendok dan garpu yang sesekali berbenturan dengan piring porselen halus. Aruna berusaha menahan diri untuk tidak bertanya atau sekadar menyapa lebih jauh. Ia ingat betul aturan kedua yang disampaikan Argan: jangan pernah mencoba masuk ke ruang pribadinya sebelum ia sendiri yang membukanya.

Setelah selesai makan, Argan menekan tombol di sandaran kursi rodanya. “Ikut aku ke ruang kerja. Aku akan menjelaskan apa saja yang harus kau ketahui tentang keluarga ini, tentang perusahaanku, dan bagaimana kau harus bersikap di depan orang luar.”

Aruna mengangguk dan segera berdiri mengikuti kursi roda itu bergerak perlahan menyusuri lorong kembali. Ruang kerja Argan berada di sayap timur rumah itu, sebuah ruangan yang jauh lebih dingin dan tertutup. Dindingnya penuh dengan rak buku yang memenuhi ruangan dari lantai hingga langit-langit, sebagian besar berisi laporan keuangan, dokumen hukum, dan buku-buku sejarah bisnis. Di tengah ruangan berdiri sebuah meja kerja besar dari kayu jati tua yang tampak sangat kokoh, penuh dengan tumpukan berkas dan komputer canggih yang menyala.

Argan memosisikan kursi rodanya di belakang meja, lalu menatap Aruna yang berdiri ragu di hadapan pintu.

“Masuklah. Berdirilah di sini,” tunjuknya pada sisi samping mejanya. “Mulai sekarang, setiap ada urusan penting yang melibatkan kita berdua, kau harus berdiri di posisi ini. Kau adalah perpanjangan tanganku saat aku tak bisa bergerak ke sana kemari seperti dulu.”

Ia mengambil sebuah map tebal berwarna cokelat tua dari sudut mejanya, lalu menyodorkannya pada Aruna. “Di dalamnya ada daftar nama rekan bisnis, kerabat dekat, aturan tata krama keluarga Adhyaksa, hingga hal-hal yang tidak boleh kau lakukan atau katakan kepada siapa pun. Pelajari semuanya dalam dua hari. Aku tidak mentoleransi kesalahan yang bisa merugikan nama baik keluarga.”

Aruna menerima map itu dengan kedua tangan, merasakan beratnya bukan hanya pada fisik, melainkan pada tanggung jawab yang tersimpan di dalamnya. “Baik, Tuan. Saya akan berusaha sebaik mungkin.”

“Jangan berusaha,” potong Argan cepat. “Lakukan. Orang-orang di luar sana hanya melihat hasil, bukan seberapa keras kau berusaha. Mereka akan mencarikan celah untuk merendahkan kita, meremehkanku karena duduk di kursi roda, dan meremehkanmu karena kau hanya adik pengantin yang menggantikan kakaknya yang lari. Jangan beri mereka kesempatan itu.”

Ada nada getir dalam kalimat itu. Aruna bisa merasakan betapa dalamnya luka yang tertanam di hati pria itu—bukan hanya karena kakinya yang tak bisa berjalan, melainkan karena rasa sakit akibat dikhianati, diabaikan, dan dipandang sebelah mata oleh orang-orang yang dulu tunduk padanya.

“Tuan Argan,” ucap Aruna pelan, memberanikan diri sedikit. “Saya berjanji tidak akan membiarkan siapa pun meremehkan Anda. Dan saya juga tidak akan membiarkan Anda meremehkan diri sendiri.”

Argan terdiam. Matanya menatap tajam ke manik mata gadis itu, mencari jejak kebohongan atau sekadar kata-kata manis yang diucapkan demi menyenangkan hati. Namun yang ia temukan hanyalah ketulusan yang polos namun teguh. Selama setahun ini, semua orang hanya mengasihaninya, memaafkannya, atau malah menjauhinya. Tak ada satu pun yang berani menatap matanya dan berkata bahwa ia tak boleh meremehkan dirinya sendiri.

“Kau tidak tahu apa yang kau katakan, Aruna,” ucapnya akhirnya, suaranya sedikit melemah namun masih berusaha tegas. “Dunia ini kejam pada orang yang lemah. Dan aku sudah dianggap lemah sejak hari itu.”

“Kelemahan bukan karena tidak bisa berjalan, Tuan,” jawab Aruna mantap. “Kelemahan itu saat kita berhenti berjuang hanya karena orang lain berkata kita tak mampu.”

Argan terdiam lama. Ia mengalihkan pandangannya ke jendela yang menghadap ke taman luas di halaman belakang. Di sana terlihat bunga-bunga yang tumbuh rapi, namun sebagian besar masih tertutup embun pagi yang dingin, seolah enggan mekar sebelum matahari benar-benar hangat menyentuhnya.

“Keluar,” ucapnya tiba-tiba tanpa menatap Aruna. “Pelajari berkas itu. Dan ingat—jangan mencoba menjadi pahlawan bagiku. Aku tidak butuh diselamatkan. Aku hanya butuh seseorang yang mampu berdiri tegak di sampingku sampai badai ini berlalu.”

Aruna mengangguk pelan, menahan rasa perih yang tiba-tiba menyeruak di dadanya. “Baik, Tuan. Maaf jika saya berlebihan.”

Ia berbalik perlahan, berjalan menuju pintu sambil memeluk map itu erat di dadanya. Saat tangannya menyentuh gagang pintu, suara Argan kembali terdengar samar dari belakangnya:

“Jangan panggil aku Tuan. Panggil aku Argan. Kita suami istri, walau hanya di atas kertas.”

Kalimat itu terucap begitu pelan, seolah terbang bersama angin yang masuk lewat celah jendela yang sedikit terbuka. Aruna menahan napas, menoleh sekilas, dan melihat punggung pria itu yang masih tegap namun terlihat begitu rapuh jika diperhatikan saksama.

“Baik... Argan,” jawabnya pelan, lalu melangkah keluar menutup pintu perlahan.

Di luar ruangan itu, Aruna bersandar sejenak pada dinding, memejamkan mata. Ia tahu perjalanan ini tak akan mudah. Menghadapi dunia luar yang penuh kecurigaan masih lebih ringan dibandingkan menghadapi hati pria yang kini menjadi suaminya—sebuah hati yang sudah lama membeku, tertutup oleh luka, dan seolah tak ingin lagi dihangatkan oleh siapa pun. Namun entah mengapa, tekad di dalam dirinya semakin kuat. Ia tak hanya datang untuk menyelamatkan nama baik keluarga. Ia datang perlahan, mencoba menjadi sinar kecil yang tak akan berhenti bersinar meski diterpa angin paling dingin sekalipun, sampai es di hati pria itu perlahan meleleh dengan sendirinya.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!