"Status kita sudah menikah." Ucap Jade tiba - tiba pada Dustin.
"Apa - apaan kau!!" Dustin tidak terima.
Tapi Jade benar - benar masa bodo dengan suara keberatan Dustin dan justru langsung memberikan buku nikah yang entah bagaimana caranya sudah ada di sana.
"Dua bulan, hanya dua bulan. Setelah dua bulan, kita akan berpisah." Jade berucap dengan tegas.
Demi menjaga kedamaian keluarga, Jade si gadis dingin dan Dustin si pria anti wanita terpaksa terikat dengan kerjasama konyol dan membawa nama pernikahan di dalamnya. Jade terpaksa menyetujui bujukan bosnya yang mengatakan bahwa pernikahan itu hanya akan bertahan dua bulan saja, dan Jade menyetujui itu.
Nyatanya lebih dari dua bulan mereka masih terikat dalam kerja sama itu, dan justru tumbuh perasaan pada salah satu dari mereka. Bisakah dua orang keras kepala itu saling jatuh cinta nantinya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jumillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS. 23. Mari Berteman.
Jade kembali ke penthousenya setelah dia memastikan Liam di jemput oleh supirnya, Jade merebahkan diri di sofa dan menghembuskan nafasnya. Baru saja Jade menutup mata, ponselnya berdering dan itu dari Cio. Jade pun menatap layar itu dengan wajah bingung.
"Dia pasti sudah tahu berita tentang identitasku, apa aku akan di penalti?" Gumam Jade, dia merasa risau.
"Sudahlah, toh aku sudah terjun. Jikapun aku di penalti lalu di keluarkan dari tim, itu memang salahku." Gumam Jade lagi, lalu mengangkat panggilan dari Cio.
"Halo." Ujar Jade.
"Kamu sudah merasa hebat menyembunyikan pergerakanmu di sana tanpa memberitahuku, Jade?" Ujar Cio, Jade menggigit bibirnya dan memejamkan mata.
"Itu.."
"Apa aku sebegitu kejamnya sebagai ketuamu sampai kamu tidak memberitahuku sama sekali bahwa kamu sedang dalam kesulitan?" Ujar Cio lagi, Jade membuka matanya mendengar itu.
"Peraturan tim adalah tidak boleh membawa urusan pribadi kedalam pekerjaan, bukan?" Ujar Jade.
"Lalu apa yang kamu lakukan? Kamu mencampur aduknya." Ujar Cio.
"Aku akui aku salah, tapi aku melakukannya juga di luar jam kerjaku. Dustin juga sudah tahu tentang hal ini." Ujar Jade.
"Lalu aku adalah satu - satunya orang yang tidak tahu bahwa kamu sedang dalam kesulitan, iya?!" Ujar Cio dengan nada sedikit tinggi.
"Jade, apa susahnya mengatakan kepadaku bahwa kamu sedang dalam kesusahan?! Tanpa harus kamu bersusah payah aku bisa membantumu menyelesaikan masalah pribadimu." Ujar Cio.
"Kamu tidak akan tahu, dan tidak akan mengerti. Ini juga dendam pribadiku, aku ingin aku sendiri yang membalasnya dengan caraku." Ujar Jade.
"Tapi kamu melibatkan Dustin pada akhirnya!" Ujar Cio.
"Dia yang menawariku bantuan, bukan aku yang meminta, okay!" Sahut Jade dengan suara yang di tekankan.
"Lalu apa susahnya kamu minta bantuan padaku?!" Ucap Cio.
"Sebagai apa??" Tanya Jade. Jade sampai bangun dari duduknya karena dia terpancing emosi.
"Sebagai atasan dan bawahan!? Kamu tahu sendiri bahwa atasan dan bawahan tidak mungkin meminta hal itu, bukan!? Menyelesaikan maslah pribadiku sendiri, aku harus meminta pada atasanku, begitu!?" Ujar Jade.
"Stop bersikap seolah kamu peduli padaku, Lucio! Kamu melakukan apapun semaumu, kamu mau mengorbankan diri dalam pertempuran saat hendak menyelamatkan Qilin padahal aku sudah bilang jangan tapi kamu tetap melakukannya. Apa kamu pernah mempertimbangkan suaraku?!" Ujar Jade.
"Kamu bertindak ini dan itu, apa kamu tahu bagaimana perasaanku!?" Ujar Jade akhirnya meluapkan emosinya.
Lucio tampak terdiam mendengar itu, dia tidak bersuara.
"Stop bertindak seolah kamu peduli padaku, karena aku tidak mau lagi berharap. Bertahun - tahun aku menahan perasaan ini, tapi semakin aku tahan semakin sakit. Jadi bertindaklah selayaknya atasan dan bawahan, jangan tunjukan sisi seolah kamu peduli padaku." Ujar Jade lalu panggilan itu di akhiri.
Jade kemudian kembali merebahkan dirinya di sofa dan kembali menghembuskan nafasnya kasar.
'Lupakan dia Jade..' Batin Jade.
Sementara itu di belahan negara lain, Lucio yang tadi terkejut menjadi tersenyum seketika setelah mendengar ucapan Jade.
"Jade menyukaiku??" Gumam Lucio.
Lucio yang masih berada di bawah selimut itu tersenyum cerah. Rupanya, dia juga memiliki rasa pada Jade. Tapi Lucio tidak sadar tindakannya semakin menyakiti Jade dan kini Jade semakin menjauhinya, bahkan tanpa sadar Jade kini sudah semakin nyaman dengan Dustin.
"Saat aku datang ke sana, aku akan mengatakannya langsung padamu, bahwa aku juga mencintaimu." Gumam Cio.
Tapi siapa yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan? Sementara Jade sendiri sudah yakin ingin melupakan Lucio, dan Dustin sudah mulai mengisi sisi lain hatinya tanpa Jade sadari.
Di Penthouse Dustin Jade sedang mempersiapkan bahan makanan, dia berencana akan memasak sendiri makanan untuk makan malamnya dengan Dustin secara khusus. Dari pada dia terus emosi memikirkan Lucio lebih baik dia menyiapkan makan malam sebagai tanda terimakasih.
"Nona, biar saya bantu." Ujar satu - satunya pelayan wanita di sana. Pelayan itu hanya muncul jika tidak ada Dustin atau pas Dustin sedang berada di kantor untuk menemani Jade jika Jade di rumah.
"Okay, kebetulan aku sedikit kesulitan. Ini pertama kalinya aku masak besar." Ujar Jade.
Pelayan itu sangat suka dengan Jade yang menurutnya sangat asik, tidak seperti kebanyakan majikan yang bertingkah semena - mena, Jade adalah majikan yang baik.
"Berapa banyak sekiranya aku harus memasukan ini? Kenapa rasanya ada yang salah." Tanya Jade pada pelayannya, karena adonannya tidak teruleni seperti di video.
"Nona salah memasukan tepung." Ujar pelayannya, dan Jade menepuk keningnya.
"Tidak heran." Ujar Jade, pelayan itu pun terkekeh.
Mereka membuat ulang adonan, Jade sangat antusias saat memasak kali ini, dia paling hanya bisa memasak mi instan, merebus telur, menggoreng telur ceplok dan hal - hal yang mudah di buat.
"Nona, saya merasa akhir - akhir ini nona dan tuan menjadi lebih romantis, saya sangat senang melihatnya." Ujar pelayan.
"Oh, benarkah? Bukannya biasanya kami juga romantis?" Ujar Jade.
"Ya, tapi akhir - akhir ini tuan lebih sering pulang kerumah dan menemani nona. Waktu nona sakit, tuan sangat khawatir sampai mendobrak masuk begitu saja kedalam kamar nona." Ujar pelayan itu.
"Haha, kamu bisa saja. Dia hanya khawatir jika aku mati maka tidak ada yang bisa dia ajak bertengkar nanti." Ujar Jade.
"Nona, bukannya saya ikut campur dengan hubungan nona dan tuan. Tapi terlepas apakah pernikahan kalian kontrak atau bukan, saya sangat menantikan cinta diantara kalian tumbuh dan.." Ujar pelayan itu menggantung.
"Dan apa?" Tanya Jade.
"Penthouse ini akan lebih hangat dan menyenangkan jika ada kehadiran tuan kecil atau nona kecil." Ujar pelayannya, dan Jade hanya bisa tersenyum saja mendengarnya.
"Pikiranmu terlalu jauh.." Celetuk Jade sambil menempelkan tepung ke pipi pelayannya.
Pelayan itu hanya tahu bahwa pernikahan Jade dan Dustin adalah pernikahan kontrak, yang mana keduanya sungguhan menikah tapi di waktu yang di tentukan mereka akan berpisah.
Pelayan itu tidak tahu bahwa Jade dan Dustin sama sekali tidak menikah atau terikat pernikahan. Mereka hanya menjalankan pernikahan palsu saja selama ini, tanpa ada orang yang tahu kecuali Ben dan Lucio.
Malam harinya, Dustin pulang. Dia terkejut ketika memasuki penthouse karena Jade sudah duduk manis di meja makan menggunakan gaun berwarna kuning pastel dengan motif bunga - bunga, seperti gaun musim gugur.
"Kamu sudah pulang." Sambut Jade dengan senyum manisnya, Jade pun bangun dan menghampiri Dustin.
"Aku sudah menyiapkan makan malam ini, aku sendiri yang memasaknya, ayo." Ajak Jade, lalu menarik Dustin untuk duduk di kursi meja makan.
"Ada rangka apa sampai kamu menyiapkan makanan seperti ini?" Tanya Dustin dengan senyumnya.
"Aku ingin berterimakasih padamu, karena kamu sudah membantuku." Ujar Jade.
"Hhmmm.. sepertinya aku harus sering membantumu, jadi aku bisa sering di sambut begini." Ujar Dustin, Jade pun terkekeh.
"Minta ku hajar, kau?" Ujar Jade dan Dustin terkekeh mendengarnya.
"Bar - barnya muncul." Celetuk Dustin dan Jade hanya bisa manyun.
Mereka pun akhirnya makan malam bersama, Dustin menyukai rasa makanan buatan Jade dan memuji Jade.Tiba - tiba Jade mengulurkan tangannya setelah menyelesaikan makan malamnya dan membuat Dustin kebingungan.
"Mari berteman, teman yang sesungguhnya. Selama ini kita hanya terikat dengan pernikahan palsu ini saja, rasanya terlalu monoton." Ujar Jade.
"Kamu mau berteman denganku?" Tanya Dustin dan Jade mengangguk.
"Baiklah, kita partner sekaligus teman." Ujar Dustin dan menjabat tangan Jade dengan mantap.
Tanpa mereka sadari, hubungan diantara mereka semakin maju dan semakin jauh. Yang sebelumnya hanya rekan kerja berkedok pernikahan, kini mereka memutuskan untuk menjadi teman. Tapi mereka tidak tahu bahwa.. Kata cinta akan tumbuh seiring mereka berteman, karena tidak ada rasa yang murni pertemanan antara pria dan wanita.
Jade dan Dustin ssaling berjabat dengan senyum manis di masing masing pihak.
...TO BE CONTINUED.....