Aku terbangun setelah pingsansaat bekerja lembur di kantor. saat aku membuka mata aku lagi, aku sudah tidak lagi berada di kantor “dimana ini?” belum sempat memahami situasi seseorang berteriak dari arah pintu “Permaisuri!!”.
Permaisuri? Siapa? Aku?
“syukurlah anda telah sadar permaisuri” ujarnya sambil menangis. “ dimana permaisuri?” semua terlihat sangat terkejut. “anda permaisuri, permaisuri Alena. Alena de Mois”
Alena de Mois? Sepertinya aku pernah mendengar nama ini, jangan bilang permaisuri jahat yang menyiksa anak tirinya? Dan di bunuh akibat pemberontakan?
Tidakkk...! jangan bilang aku merasuki novel dan menjadi penjahat ! kenapa aku di hidupkan kembali jika pada akhirnya aku akan mati lagi? Bahkan lebih mengenaskan? Aku akan memutuskan kali ini aku akan mati dengan cara yang baik, setidaknya bisa mati dengan nyaman?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mois, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Setelah kejadian itu kami tidak pernah bertemu lagi, entah dia menghindariku atau memang keadaan yang membuat kami tidak bisa bertemu. Aku sibuk dengan pekerjaanku, begitupun dengannya. Yah walaupun bisa di katakan aku sedikit merindukan sosoknya? Dia yang dingin dan kasar walau kadang memberikan perhatian halus.
Setelah persiapan pesta yang memiliki makna untukku, aku sering memimirkannya. Hanya karena 1 bulan kami melakukan aktifitas bersama aku menjadi tidak tau diri.
Aku masih termenung dengan semua pemikiran yang berkumpul, duduk diam di depan meja dengan semua tumpukan kertas pekerjaan. Sinar mentari yang menembus jendela memberi warna ruangan yang tenang ini.
“Ibu!!”
Teriakan kecil membangunkanku dari lamunanku, menyadarkan dari kerinduan fana yang semu. Mengapa rasa rindu ini muncul? Aku harus menghilangkannya segera!
Pintu terbuka, langkah kaki kecil berlari mendekatiku. Aku mengikuti langkah itu dan tiba-tiba pria kecil ini memelukku.
“ibu apa kabar? Aku merindukanmu” Ujarnya
Bayiku yang hangat, selalu tau waktu yg tepat. pelukannya selalu menenangkanku.
“Begitupun denganku, aku sangat merindukanmu” ujarku sembari mengelus kepalanya
“Aku sangattttt rindu dengan bayiku yang manis ini, sebulan lalu aku sangat sibuk, maafkan ibu nak” jawabku
“Tidak apa-apa, aku mengerti ayah dan ibu memerlukan waktu mengurus tamu kehormatan. Lagi pula ada Serina yang menemaniku bu, pengasuh juga!” Ujarnya
“Oh iya, di mana putri?” tanyaku
“dia sedang ada jelas bu” Jawabnya
“Ah begitu” jawabku.
Padahal aku merindukan putri yang menggemaskan itu, dia masih sulit berbicara tapi itu yang membuatnya semakin menggemaskan.
“mau cemilan? Kita sudah lama tidak menghabiskan waktu berdua” tanyaku
“Ya!!!!” Ujarnya semangat.
Beberapa waktu berlalu, selalu ada saja topik yang ku bahas bersama putraku. Masalah kesehariannya, permainannya, pencapaiannya sampai masalah kekaisaran. Putraku memang luar biasa!
Cara dia merespon sangat baik. Ia mampu memisahkan kapan saatnya ia manja, kapan saat dia harus serius dan ramah dalam satu waktu. Mengagumkan
Tak terasa waktu telah lama berlalu, karena keasyikan mengobrol, putra ku sampai tertidur. haha menggemaskan sekali.
Aku mendekapnya lalu menggendongnya, aku akan tidur denganya malam ini, sudah lama sekali. Waktuku sibuk mengurus tamu kehormatan, dan waktuku lebih banyak dengan kaisar dalam satu bulan ini. Ini menyenangkan akhirnya aku bisa tidur bersama malaikatku.
Aku meninggalkan ruang kerja bersama putra kecilku, beberapa pengawal menawarkan diri untuk menggendong Rudine tapi aku menolaknya, kapan lagi aku bisa menggendongnya seperti ini? Saat siang atau di depan orang banyak kami harus menjaga tata krama kami sebagai anggota kekaisaran.
Kadang aku sibuk diapun demikian, di saat seperti inilah aku bisa menjadi ibu seutuhnya.
Aku berjalan di lorong istana menuju kamarku, saat dalam perjalanan sosok tidak terduga berpapasan dengan kami.
“salam kepada baginda kaisar” ujarku memberi hormat.
“Apakah kau tidak kesulitan? Biar aku bantu” ujarnya
“tidak apa-apa yang mu...” belum sempat aku menyelesaikan perkataanku kaisar dengan cepat memindahkan Rudine dari pelukanku menuju pelukannya, ia terlihat telaten menggendong lelaki kecil ini.
“Terimakasih yang mulia” ujarku
Kami berjalan bersama menuju kamarku. Dalam perjalanan, sunyi.. tidak ada sepatahkatapun yang keluar, hanya ada suara telapak kaki dan suara nafas. Aku tidak tau harus memulai pembicaraan seperti apa, hanya mampu diam dan menunggu.
“Sepertinya Rudine sering tidur denganmu” ujar kaisar memulai pembicaraan
“Ya? Ah benar yang mulia” jawabku
“apa dia yg memaksamu?” Ujarnya
“apa? Tidak! tidak yang mulia, bahkan saya yang memaksanya terlebih dahulu” jawabku cepat
“dan dia menerimanya?” tanyanya
“yah ada banyak hal yang terjadi lalu beginilah akhirnya” ujarku
Sejenak hanya sunyi, entah apa yang ia fikirkan lalu tak lama pada akhirnya ia menjawab dengan jawaban singkat
“begitu ya”
Kamipun sampai di depan pintu kamarku. Aku bingung, apa aku mempersilahkan kaisar masuk atau tidak?
Aduh sebaiknya bagaimana? Ah sudahlah, suruh dia masuk saja!
Aku membuka pintu kamar memberi isyarat untuk kaisar masuk ke kamarku. Ia mengikutiku dan meletakkan Rudine di atas tempat tidurku.
“Baiklah, kalau begitu ak.. “
“Ayah..”
Belum sempat kaisar berbicara, Rudine memotong pembicaraan serta menarik lengan baju kaisar.
“tidak bisakah ayah tidur di sini juga? Kita sudah lama tidak bertemu, tidakkah ayah merindukanku? Tidurlah di sini malam ini, ya?” Ujarnya Rudine memohon.
Sejenak kami berdua saling bertatapan, sama-sama kebingungan
“em, Rudine.. malam ini Rudine bersama ibu saja ya “ ujarku
“Baiklah” potong kaisar
“ya?” tanyaku tak percaya dengan apa yang aku dengar sekarang
“ayah akan tidur di sini malam ini bersamamu dan ibu” Ujarnya lembut
Apa? Hah? Tunggu! Apa yang terjadi di sini?
...****************...
Pada akhirnya aku Rudine dan kaisar tidur di ruangan yang sama di tempat tidur yang sama. Ini canggung, Aku tidak bisa tidur sama sekali. Aku hanya melihat ke langit-langit, Rudine sepertinya sudah tidur pulas, sedangkan kaisar.. entahlah aku tidak tau, aku tidak berani menoleh.
“Kau sudah tidur?” tanya kaisar
“Belum yang mulia” jawabku
“Karena kau merasa tidak nyaman karena ada aku di sini kan? Maafkan aku hal ini benar-benar di luar dugaan” Ujarnya
“tidak yang mulia, ini bukan salah anda atau siapapun, Rudine menginginkan ini tentu saja kira harus menurutinya sebagai orang tua” jawabku
“jadi jangan merasa bersalah yang mulia” lanjutku
“Orang Tua ya, yah.. kau benar” Ujarnya
Apa aku salah bicara? Entahlah aku tidak bisa berfikir
“baginda sendiri, kenapa belum tidur? Apakah anda merasa tidak nyaman dengan adanya saya?” tanyaku
“Tidak, bukan begitu.. hanya saja.. ini terasa.. asing” Jawabnya
Benar, ini benar-benar asing. Kami tidak pernah tidur bersama bahkan saat malam pertama kami. Begitu yang aku tau dari karya aslinya. Mengingat lagi di karya aslinya, Rudine lahir akibat sihir bukan seperti manusia normal.
Berbeda dengan Serina yang lahir karna cinta. Mengingat itu hatiku tiba-tiba terasa sakit, aku tidak tau ini hanya perasaanku atau Alena yang asli juga merasakan hal yang sama? Entahlah..
Seketika aku menoleh ke arah Rudine, menatap wajahnya, mengusap wajahnya dengan lembut. Wajahnya sangat mirip dengan kaisar, seperti di copy paste.. tidaka ada sedikitpun wajahku yang tersedia di sini, di wajahnya. Apa itu karna sihir? Tapi yah setidaknya aku mengandungnya, walaupun prosesnya menggunakan sihir. Apa ini seperti bayi tabung di dunia modern? Entahlah.. tapi jika di fikir-fikir lucu juga haha yah namanya juga dunia fantasi.
“Apa yang membuatmu tersenyum begitu?” Tanya kaisar
Ah, tanpa sadar karna memikirkan betapa luar biasa sistem dunia fantasi ini aku tersenyum sendiri.
“tidak apa-apa yang mulia, hanya saja saya merasa Rudine sangat mirip dengan anda seperti yang mulia versi kecil, tidak ada sosokku sedikitpun di dirinya” ujarku
“Begitukah?” ujar kaisar
Lalu dia menoleh ke arah Rudine
“sepertinya kau benar” ujar kaisar
“Tapi dia akan menjadi yang luar biasa jauh lebih hebat di masa depan di banding diriku” ujarnya sambil tersenyum melihat Rudine.
Di sini aku bisa melihat kasih sayangnya tulus untuk Rudine, dia ayah yang baik. Ah aku jadi teringat mengapa Alena membuat masalah dengan nya di karya aslinya? Dia memiliki semuanya..
ah benar aku lupa, kaisar tidak mencintainya.. benar! Aku sudah bertekat untuk hidup nyaman tanpa cinta dengan sendok berlian. Makan enak, tidur enak, banyak uang! Jangan sampai aku jatuh cinta pada pria tampan di depanku ini, jangan terbuai dengan ketampanannya!