Leon dan Valeri bertemu saat gadis kecil itu baru terlahir ke dunia. Ibu mereka yang bersahabat sejak remaja, membuat kedua orang tua itu sepakat untuk menjodohkan Leon Orlando dengan Valeri Elmira.
Rentang usia empat tahun, seolah tak jadi soal bagi kedua sahabat itu untuk menjodohkan anak-anak mereka.
Dan, di sinilah Leon dan Valeri berada.
Leon yang kini berusia tujuh tahun, tengah memangku seorang gadi kecil berusia tiga tahun. Mereka tengah duduk di pelaminan dengan memakai baju pengantin.
Ya, kedua anak kecil itu akan segera melangsungkan pernikahan mereka. Kawin gantung. Itulah istilah yang orang-orang gunakan untuk menamai pernikahan kedua anak di bawah umur itu.
Setelah dewasa, akankah kedua anak itu menerima takdir yang sudah digariskan oleh kedua orang tua mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Asviana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KG23
Valerie yang tengah tertidur lelap, seketika tersadar saat merasa ada seseorang yang menyingkap rambut di wajahnya. Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya terjaga, Valerie membuka tipis sudut matanya. Gadis itu sedikit terkejut saat mendapati Leon tengah fokus menatap bibirnya. Valerie bahkan dapat merasakan hembusan napas Leon yang memburu tepat di depan wajahnya.
Valerie benar-benar menanti Leon untuk mengambil ci*man pertamanya. Gadis itu juga menanti agar sang suami memberikan nafkah batin yang sudah di nantinya selama 6 bulan pernikahan mereka.
Valerie sudah siap. Bahkan, gadis itu sudah bersiap dari beberapa bulan lalu.
Namun, tampaknya Valerie harus menelan rasa kecewa karena alarm ponsel milik pria itu berbunyi dan menyebabkan Leon menarik mundur wajahnya.
Pria itu bahkan menegakkan tubuh dan berlalu dari hadapannya.
Namun, Valerie yang tak mau momen langka ini hilang begitu saja, ikut menegakkan tubuhnya dan mencengkeram erat lengan pria itu.
“Jangan pergi, Bang,” ucapnya sembari menggenggam erat lengan Leon. Gadis itu bahkan menghalangi langkah Leon dengan menjegal kaki pria itu.
Tangannya yang ditarik serta kakinya yang tertahan, mau tidak mau membuat Leon yang bimbang itu, duduk kembali di pinggir ranjang.
Mengacuhkan rasa malunya, dengan wajah memerah, Valerie menggeser tubuhnya hingga tak ada jarak lagi antara dirinya dan Leon.
Untuk pertama kalinya kedua netra mereka saling terkunci.
Menatap lekat netra kecoklatan milik Valerie, Leon pun terbayang bagaimana untuk pertama kali dia mulai terpesona oleh gadis itu.
Valerie dengan apron berwarna peach dan rambut yang digelung ke atas, benar-benar menghipnotis Leon. Hingga tiap akhir pekan, Leon rela bangun lebih awal hanya untuk menyaksikan secara diam-diam kegiatan Valerie di dapur.
Kini, Leon mulai membelai rambut Valerie dan kembali menatap bibir gadis yang begitu membuatnya tertarik. Leon kembali terbayang lekuk tubuh Valerie yang disaksikannya beberapa detik yang lalu.
Hasrat pria itu kembali naik, dan semilir udara pagi membuat hasratnya semakin membuncah.
Hingga beberapa saat kemudian, bibir Leon dan Valerie sudah saling bertaut.
Pagi itu, Valerie akhirnya mendapatkan nafkah batin yang telah dinantinya selama 6 bulan.
Namun, walau adegan itu telah dinantinya selama 6 bulan, nyatanya Valerie terus merengek dan meminta Leon untuk memperlambat tempo gerakan karena dirinya merasakan nyeri di bawah sana.
Sementara Leon, tak dapat menguasai diri karena untuk pertama kalinya dia membutuhkan usaha lebih keras untuk bisa menyatukan diri dengan seorang gadis. Dan cengkeraman begitu erat yang dirasakan olehnya di bawah sana, membuat Leon sibuk dengan kepuasannya sendiri hingga rengekan Valerie tak terdengar olehnya.
“Kenapa orang-orang begitu suka melakukannya? Padahal hanya sakit yang terasa?” keluh Valerie beberapa saat setelah sepasang suami istri itu selesai dengan ritual mereka.
Leon yang tengah memakai kembali pakaiannya, merasa tersinggung dengan ucapan Valerie. Egonya sebagai seorang pria terinjak-injak dengan komentar sang istri.
Ego pria itu membuatnya kembali menghampiri Valerie yang masih duduk di pinggir ranjang. Tanpa aba-aba, Leon menghampiri Valerie, lalu berlutut dan seketika membenamkan wajahnya di daerah paling sensitif milik gadis itu.
Awalnya, Valerie terperanjat dan merasa sungkan saat kepala sang suami terbenam di bawah sana.
Namun, belaian demi belaian yang dilakukan Leon di bawah sana membuat Valerie melenguh panjang hingga menegang.
“Bagaimana? Apa tidak terasa nikmat sama sekali?” sindir Leon.
Valerie sama sekali tak mendengar pertanyaan yang diucapkan oleh sang suami. Dirinya yang kini sudah terkulai ke atas ranjang, tengah sibuk meresapi kenikmatan yang masih terasa di sekujur tubuhnya dengan mata terpejam.
Dan pemandangan itu berhasil membuat Leon kembali menginginkan Valerie.
Tapi kali ini, Leon berusaha sekuat tenaga agar Valerie juga merasakan nikmat yang sama dengannya. Dia tak mau gadis itu kembali menghina kemampuannya.
Walau Leon hampir saja terkalahkan karena begitu gemas melihat ekspresi Valerie dengan mulutnya yang terus menganga, tapi, akhirnya Leon berhasil membuat istrinya itu mencapai puncak.
Namun, walau dirinya telah menikmati Valerie sebanyak dua kali, nyatanya tak membuat Leon menghentikan niat untuk meninggalkan Valerie dan menemui Alexa
“Memangnya Erie tidak boleh ikut, Bang?” rengek gadis itu. Leon hanya diam dan tak menjawab. Pria itu kembali merapikan pakaiannya dan berjalan keluar kamar diiringi wajah cemberut Valerie.
Valerie berjalan tepat di belakang Leon dengan kaki yang dihentak-hendak sembari ngedumel pelan,
“Bisa-bisanya Bang Leon meninggalkan gue sendirian di kamar hotel setelah mengambil keper*wanan gue!” gumam gadis itu.
Gumaman Valerie tentu saja terdengar oleh Leon walau gadis itu menghadap ke arah berlawanan. Leon hanya bisa menghela napas panjang. Sejujurnya, pria itu juga bingung dengan apa yang harus dilakukannya saat ini.
Haruskah dia melanjutkan rencana yang sudah dia susun sejak beberapa minggu lalu?
Bisakah dia mengenalkan Alexa pada Valerie setelah apa yang mereka lakukan beberapa saat lalu?
Leon merasa bersalah karena telah mengkhianati Alexa. Pria itu juga merasa bersalah karena telah memanfaatkan tubuh Valerie demi memuaskan rasa penasarannya pada gadis yang telah hidup bersamanya selama 6 bulan itu.
“Kita bertemu saat jam makan siang. Jangan lupa ganti pakaian, takutnya petugas room service datang untuk membereskan kamar, sebentar lagi,” ucap Leon sebelum pria itu membuka pintu dan keluar dari kamar mewah itu.
Valerie tak menjawabnya, gadis itu hanya mengangguk pelan dengan wajahnya yang terus ditekuk sedari tadi.
Kembali Leon menghela napas panjang. Entah mengapa dia merasa tak tega meninggalkan Valerie seorang diri di kamar hotel? Tapi, bukankah semua ini demi masa depannya bersama Alexa? Gadis yang sudah dipujanya sejak bertahun-tahun lalu.
Leon mengulurkan tangannya. Valerie yang sedari tadi cemberut, seketika menatap Leon dengan wajah bingung.
“Ayo salim,” ucap pria itu.
Masih dengan wajah bingung, Valerie menuruti perintah Leon untuk mencium telapak tangan pria itu. Namun beberapa saat kemudian, Valerie tersenyum tipis. Pria yang sudah enam bulan menjadi suaminya itu, bahkan selalu merasa risih setiap kali dia menarik paksa tangan pria itu untuk diciumnya.
Bukankah itu artinya sang suami sudah benar-benar menganggap dirinya sebagai seorang istri?
“Jangan pergi terlalu lama ya, Bang,” lirih gadis itu sesaat sebelum Leon benar-benar keluar dari kamar hotel yang mewah itu.
Leon hanya terdiam. Bahkan, saat Valerie sudah menutup rapat pintu ruangan itu, Leon masih berdiri tegak di balik pintu. Kakinya terasa sangat berat untuk melangkah. Hingga sebuah pesan singkat dari Alexa membuatnya menjauh dari kamar mewah itu.
Leon berjalan kaki menyusuri jalan setapak hingga tiba di tempat pemberhentian Sydney light rail yang berada tak jauh dari hotel tempatnya menginap bersama Valerie.
Satu, bahkan dua kereta berhenti tepat di depannya dan Leon membiarkannya berlalu begitu saja.
Setelah apa yang dia lalui pagi tadi bersama Valerie, pria itu tampaknya masih memiliki sedikit hati nurani. Dia memutuskan untuk tak mengenalkan Alexa dengan Valerie.
Leon berjalan menyusuri pelabuhan yang berjarak cukup dekat dari sana. Pelabuhan yang dapat terlihat dari balik jendela kamar hotel tempatnya menginap.
Dan setiba di sana, Leon duduk menatap kapal-kapal pesiar yang melintas di pelabuhan itu. Menikmati setiap tiupan angin yang menerpa wajahnya, Leon berharap keputusan yang dia buat adalah keputusan yang benar.
Leon menoleh ke sebelah kiri, menatap gedung mewah yang menjulang. Gedung di mana Valerie berada saat ini. Jika saja gadis itu sedang memegang teropong dan menatap ke bawah sini, Valerie pasti dapat melihat dirinya yang tengah bimbang.
Apa kamu bisa melihatku dari sana, Rie? Aku tidak menyangka bocah penganggu sepertimu bisa mengusik pikiranku. Andai aku tidak mengajakmu berlibur berdua, tentu aku tak perlu bimbang seperti ini.
lalu lanjut d mana Mak
kasihan bgt Erie yg di bohongi Leon
awas Leon kamu bakalan nyesel 🤔🤭
awas ntar ada penyesalan 🤔🤭
perjodohan,,, awal ngelak ujung bucin. diri ku mampir Thor 🙏🥰