Terbangun di kamar hotel, Fela syok setengah mati saat membaca KTP yang terjatuh dari dompet pria di sampingnya. Dia masih anak SMA!
Fela langsung kabur ketakutan demi menyelamatkan reputasinya.
Namun dunia Fela berantakan saat Kenzo, si anak SMA itu tiba-tiba masuk ke kantor periklanannya sebagai anak magang baru.
Di depan rekan kerja, Kenzo adalah asisten yang sopan. Tapi di balik pintu ruang rapat, dia adalah berondong posesif yang siap menjerat Fela kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 35 Tangisan Fela
Napas Fela tersengal. Setiap tarikan napas terasa menyakitkan di dadanya yang sesak. Hinaan Dion dan kenyataan pahit tentang ibunya terus berputar-putar di kepalanya.
Pikirannya benar-benar kacau. Fela melangkah keluar dari lobi hotel dengan pandangan kosong. Kakinya hanya terus melangkah secara impulsif. Keluar melewati gerbang megah gedung dan berjalan asal menyusuri jalanan kota yang mulai sepi.
Di belakang, tidak jauh darinya, Kenzo terus mengawasi. Bola matanya tidak lepas dari tubuh Fela yang berjalan tanpa arah di atas trotoar.
Kenzo cemas. Itu yang membuatnya terus membuntuti wanita itu tanpa bicara.
Dalam kondisi linglung dan pandangan yang kabur, Fela melangkah turun begitu saja dari trotoar. Ia berjalan asal, berniat menyeberang jalan tanpa sedikit pun menoleh ke kanan atau kiri.
Diinnn!
Suara klakson memekakkan telinga terdengar bersamaan dengan lampu mobil yang menyambar wajah Fela.
"Fela!" pekik Kenzo.
Kenzo melompat maju dan menarik tubuh Fela dengan kuat dalam satu gerakan cepat.
"Hei! Jangan Meleng! Bikin bahaya orang saja!" ujar pengemudi marah karena Fela yang tidak hati-hati.
"Maaf," ujar Kenzo mengangguk minta maaf sambil mendekap Fela erat-erat di tepi jalan.
"Bikin orang jantungan!" Setelah mengomel pria tua itu melaju jauh.
Napas Kenzo masih memburu karena panik yang luar biasa. Jantungnya berdegup sangat kencang.
Fela juga merasa degup jantungnya kencang. Rasa syok karena nyaris tertabrak menyatu dengan rasa sakit hati yang sejak tadi ditahannya. Di pinggir jalanan yang sepi itu, Fela menangis sejadi-jadinya.
Kenzo tertegun. Ia hanya diam sambil mempererat pelukannya. Membiarkan Fela menumpahkan segala sesak dan rasa marah yang ia tahan sejak tadi.
****
Setelah agak lama menangis, isak tangis Fela perlahan mulai mereda. Kesadarannya yang sempat hilang karena emosi kini perlahan kembali. Detak jantung yang stabil dan aroma parfum maskulin yang familiar membuat Fela tersentak.
Ia baru sadar bahwa dirinya sedang berada dalam pelukan hangat seseorang. Fela perlahan mendongakkan kepalanya yang terasa berat.
"Kenzo?" bisiknya. Suaranya parau karena habis menangis.
"Sudah baikan?" tanya Kenzo lembut. Perlahan bocah ini melonggarkan pelukannya untuk memberikan jarak.
Fela terpaku, dilanda kebingungan yang luar biasa. Ia mengangguk pelan. Mencoba mengumpulkan ingatan. Ia ingat Kenzo menahannya di koridor dari Dion. Dan ... barusan Kenzo lagi-lagi menyelamatkannya dari maut.
"Terima kasih," ucap Fela lirih.
"Ya," sahut Kenzo singkat, kembali tenang.
Perhatian Fela kini sepenuhnya teralih. Dengan sisa kesadaran yang sudah pulih, matanya mulai mengamati penampilan anak di hadapannya ini dari bawah hingga atas.
Di bawah cahaya lampu jalan Kenzo berdiri tegap. Postur tubuh yang tinggi menjulang dan bahu tegap yang bidang. Pun balutan setelan jas mewah yang melekat sempurna di tubuhnya, Kenzo sama sekali tidak terlihat seperti anak yang baru lulus SMA. Aura yang dipancarkannya begitu kuat, mahal, dan penuh wibawa.
Fela mundur satu langkah, menatap Kenzo dengan kening berkerut dalam. Rasa penasaran dan curiga kini mengalahkan rasa sedihnya.
"Apa ini?" tanya Fela, suaranya menuntut penjelasan. "Kenapa kamu berpenampilan seperti ini?"
Bola mata Kenzo mengerjap sesaat begitu mendengar pertanyaan Fela yang bertubi-tubi. Kerlingan panik sempat melintas di matanya sebelum ia berhasil menguasai diri kembali.
"Sebentar. Kenapa kamu bisa ada di acara yang sama denganku, dengan penampilan seperti ini?" Fela kini benar-benar sudah sadar penuh. Rasa penasarannya yang besar mulai mengikis sisa-sisa kesedihan di wajahnya.
Kenzo mendadak bingung harus menjawab apa. Otaknya berputar cepat mencari alasan yang masuk akal agar identitas aslinya tidak terbongkar malam ini juga.
"Kamu... tamu undangan?" tanya Fela lagi saat Kenzo hanya diam. Fela sendiri sebenarnya tidak tahu-menahu soal makna pin emas VIP yang tersemat di jas Kenzo, jadi ia hanya menebak-nebak.
"Ikut saja," jawab Kenzo akhirnya, mencoba mencari jawaban paling aman.
"Jadi benar kamu yang ada di dalam ballroom tadi, ya? Pertama di sekitar bosku, lalu kedua ... suara kamu juga ada di sekitarku," ujar Fela menyipitkan mata. Dia mencoba menghubungkan semua kejanggalan yang ia rasakan sejak tadi.
"Ya... kan aku ikut. Tentu saja aku ada di dalam ballroom," jawab Kenzo dengan nada santai yang dibuat-buat.
"Ikut siapa?" kejar Fela tidak mau kalah.
"Saudara."
"Siapa?"
Melihat Fela yang terus mendesaknya Kenzo terkekeh pelan demi mengalihkan ketegangan. Ia menatap Fela dengan alis yang terangkat sebelah. "Kenapa? Kamu terlihat ingin sekali menginterogasi ku. Penasaran sekali denganku ya?" goda Kenzo.
Fela seketika tersentak. Ia baru sadar kalau dirinya sudah bersikap terlalu ingin tahu tentang privasi anak magangnya ini.
Sial, umpat Fela dalam hati, merutuki kegesitannya sendiri. "Bukan begitu ..." Fela meralat sikapnya.
Kenzo tersenyum tipis melihat respons itu. "Tidak apa-apa. Kalau sudah bisa mengomel begini, kamu terlihat seperti Fela yang biasanya. Aku cemas sekali tadi."
Fela tertegun. Kalimat sederhana itu entah mengapa terasa begitu hangat di dalam relung hatinya.
"Aku sungguh marah mendengar Dion bicara seperti itu padamu," lanjut Kenzo. Suaranya kini merendah berubah menjadi sangat serius dan dalam. "Kamu bukan wanita seperti yang dia katakan. Dia hanya tidak membuka matanya lebih lebar untuk menemukan kalau kamu adalah wanita yang sangat berharga."
Bola mata Fela mengerjap pelan. Sedetik kemudian pandangannya mendadak turun ke arah sepatu mereka. Jantungnya berdegup dengan ketukan yang aneh. Ia mendadak kehilangan keberanian untuk menatap sepasang mata Kenzo hanya karena kalimat tulus yang baru saja diucapkan oleh bocah di hadapannya itu.
Kenapa aku gugup? Batin Fela heran.
"Kemana?" tanya Kenzo saat Fela mulai melangkah menjauh dari trotoar tempat mereka berdiri barusan.
"Pulang," jawab Fela singkat tanpa menoleh.
Kenzo langsung paham. Tanpa banyak bicara, ia segera melangkah mengikuti Fela, menjaga jaraknya agar tetap berada di sisi wanita itu. Tidak ada obrolan apa pun di antara mereka selama kaki mereka melangkah kembali menuju area hotel. Keheningan malam itu hanya diisi oleh suara derap langkah kaki mereka yang bersahutan di atas trotoar.
Setelah mereka tiba di depan gedung hotel, Fela menghentikan langkahnya. Ia berbalik menghadap Kenzo.
"Kamu kembali ke dalam saja. Pesta belum usai. Aku mau pulang," ucap Fela sembari menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat dan terima kasih yang tulus. Setelah itu, ia langsung berbalik untuk menuju ke area parkir tempat mobilnya berada.
"Kamu bisa menyetir sendiri?" tanya Kenzo, menahan langkah wanita itu.
Fela sempat berhenti sejenak, namun ia tidak berbalik. "Ya."
Kenzo tidak bicara lagi. Dia terus menatap punggung Fela yang perlahan menjauh dan menghilang di kegelapan area parkir. Hatinya dipenuhi rasa cemas.
semangat Fel....