Edgardo Rafel Torres siswa tingkat akhir Senior High School, terpaksa menikahi Emilia Anette Putri. Wanita yang berprofesi sebagai guru di sekolahnya. Padahal dia sangat membenci guru tersebut, karena memiliki nama yang mirip dengan mantan kekasihnya.
Semua terjadi atas kesalahpahaman. Dari kesalahan yang tidak pernah dia lakukan. Dituduh menghamili Emilia, bahkan berencana melenyapkan Emilia dan bayinya oleh penduduk setempat.
Hingga suatu hari kehidupan keduanya berubah karena interaksi yang tercipta setiap harinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maciba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 Makan Malam
“Selamat datang Nyonya Emilia di Mansion Torres. Saya menjaga Nyonya dari jauh, jangan sungkan bila memerlukan bantuan.” Alonso menghentikan kendaraan di pelataran luas.
Air mancur serta taman bunga indah memanjakan mata. Meskipun malam, cahaya lampu tidak pelit menerangi tanaman tersebut.
“Tapi aku tidak punya nomor Tuan.” Jawab Emilia mengeluarkan ponsel.
“Sudah ada Nyonya, nama saya Alonso. Mari Nyonya, silakan bergabung bersama rekan-rekan Anda.” Alonso turun dan membuka pintu penumpang, sedikit membungkuk mempersilakan Emilia masuk ke dalam.
GLEK
Emilia menghela napas, paru-parunya saat ini membutuhkan pasokan oksigen sebanyak-banyaknya. Namun hidung begitu sulit menghirup udara, rasanya tersumbat.
“Huh … tidak apa ini hanya undangan makan malam bagi semua staf pengajar, tidak akan ada yang mencurigai aku dan Ed.” Lirihnya sembari membelai perut.
Menatap bangunan luas, megah dan indah. Dari hunian pun sudah tampak perbedaan jauh antara dirinya dan Edgardo Torres.
Kalimat pernyataan Camilia terngiang-ngiang, ketakutan membelenggu sekujur tubuh Emilia.
Ya dia takut dipisahkan dari suami kecilnya. Walaupun diantara mereka belum terungkap kata ‘sayang’ atau ‘cinta’, namun Emilia tidak ingin kehilangan Edgardo.
‘Emilia? Ayo masuk.’ Guru kesenian meraih jemari lentik Emilia, membawanya masuk.
“Bisa tolong dilepas?” sungguh Emilia tidak ingin suami kecilnya memergoki keadaan tak terduga ini.
‘Oh iya maaf. Aku selalu lupa kalau kamu sudah menikah. Suami kamu di mana? Tidak ke sini? Sayang sekali ya.’
“Di-dia sibuk, banyak pekerjaan.” Jawab Emilia terbata, mengedarkan pandangan mencari remaja yaang meninggalkannya di pinggir jalan.
Memasuki mansion yang sangat luas, disuguhi lampu-lampu mewah tergantung pada langit-langit, hiasan bernilai puluhan hingga ratusan ribu euro terpajang apik pada tempatnya.
Sejak dalam kandungan, Edgardo terbalut kemewahan, dan namanya menjadi incaran kuat sebagai kandidat calon menantu di kalangan pengusaha.
Emilia tersenyum lebar mendapati tidak hanya guru, kepala sekolah, bagian keuangan serta administrasi yang diundang. Melainkan petugas kebersihan dan keamanan pun turut menikmati jamuan besar ini.
‘Wah, Tuan dan Nyonya Torres memang sangat baik, menerima siapapun. Kira-kira murid kita dijodohkan dengan siapa ya?’ kata-kata guru keseniannya ini menusuk gendang telinga Emilia.
“Apa? Edgardo masih terlalu kecil untuk dijodohkan.” Sanggah Emilia tak suka.
‘Ya kamu memang benar, tapi perjodohan dikalangan anak pengusaha tidak asing lagi Emilia. Mereka dituntut memiliki pasangan yang sempurna.’ Jawab guru tersebut.
Oh Tuhan, mental Emilia seketika terhempas ke dasar bumi paling dalam.
“Sempurna?” gumamnya, lalu tersenyum penuh arti. Ya ia memang bukanlah sosok wanita sempurna. Banyak sekali kekurangan, dengan keadaan seperti ini Emilia bukanlah istri yang sepadan bagi Edgardo.
‘Ayo Bu Emilia kita bergabung. Mereka juga punya kolam berenang di taman belakang mansion.’
Emilia mengikuti arah jari telunjuk guru kesenian. Kemudian mengekor di belakangnya, mengangkat sedikit gaun yang menyapu lantai serta rerumputan.
Wanita cantik itu tidak menyadari remaja yang dicarinya mengamati dari lantai tiga, Ed menatap jengah kepada guru kesenian karena berani menyentuh miliknya.
Di taman belakang, Emilia bergabung bersama beberapa guru junior, seraya menikmati segelas jus buah segar dan cemilan.
Pandangan semua tamu tertuju pada pemilik mansion. Tuan Aleandro Leonard Torres didampingi sang istri –Nyonya Pamela, berjalan menuruni anak tangga menuju taman. Di belakangnya berjalan dua putra tampan yang mirip sekali dengan Tuan Torres.
Emilia yakin, pria yang berjalan di sisi suami kecilnya adalah putra sulung di keluarga Torres, Donatelo Xavier Torres. Serta sepasangan anak kecil di belakang keduanya, ,adik kembar Edgardo.
Pandangan Emilia dan Edgardo terkunci satu sama lain. Di saat semua orang mendengar sambutan dan menatap kagum pada Tuan rumah. Hati Emilia berdetak tak karuan menerima sorot mata tidak biasa suaminya.
Usai menyambut para tamu. Tuan Torres beserta keluarga bercengkerama dengan seluruh guru, satu per satu dihampiri.
Degup jantung Emilia bertambah cepat, keringat dingin menjalar ke telapak tangan. Manakala keluarga suami kecilnya semakin mendekat, menyapa dan mengucap banyak terima kasih karena sabar menghadapi putra kedua mereka.
Ketegangan tidak berhenti di sini, mendadak pergelangan tangan Emilia ditarik seseorang cukup kuat, hingga keluar dari kerumunan.
“Ed?” panggil Emilia sebab sosok ini tak mengeluarkan sepatah katapun, terus berjalan melewati meja dan kursi yang terpasang.
“Ed pelan-pelan, aku tidak bisa mengikuti jalan kamu yang cepat.” Tegas Emilia, berusaha melepaskan tangannya.
Bukannya melambat atau menjawab, Edgardo menggendong istri kecilnya menuju paviliun.
Melangkah mantap naik ke bagian atas. Pemandangan indah langsung menyapa, area terbuka tempat ini dapat mengamati puluhan manusia yang menikmati pesta.
“Katakan! Kenapa kamu tidak menghindar, hah? Berani sekali mengizinkan pria lain menyentuhmu.” Geram Edgardo, mengguncang kedua bahu Emilia.
Emilia tersentak lantaran suami kecilnya mengetahui hal tersebut. “Aku … aku tidak tahu Ed, itu terjadi tiba-tiba, dan tanpa di ...” kata-kata berikutnya tertahan.
Tindakan berani Edgardo menyentuh bibir Emilia, mengecap setiap rasa, bergerak cepat menelusuri bagian terdalam. Hingga tubuh keduanya seakan diserang aliran listrik.
“Seharusnya kamu menolak.” Ucap Ed, kembali menautkan miliknya.
“Ini terkahir kalinya aku melihat pria lain menyentuhmu.” Tukas Edgardo, menghembuskan napas dengan hidung saling menempel satu sama lain.
“Ed i-ini di mansion. Bagaimana kalau Tuan Torres dan semua yang hadir mengetahui hubungan kita?” mendorong dada bidang terbalut kemeja putih dan tuksedo hitam.
“Cepat atau lambat mereka pasti mengetahuinya. Jangan pikirkan itu, sekarang makanlah. Aku tahu, kamu pasti lapar.” Menggiring Emilia ke meja kecil.
Emilia bergeming, menutup mulut dengan tangan, tersentuh akan sikap manis suami kecilnya. “Kapan kamu menyiapkan ini?”
“Tadi. Setelah sampai mansion, aku minta kepala pelayan merapikan area ini. Untuk tamu spesial.” Bisik Edgardo di telinga Emilia, lalu meletakkan serbet di atas paha istrinya.
Sepasang suami istri itu menikmati makan malam berdua, tidak memedulikan keriuhan di bawah sana. Rasanya dunia hanya milik berdua.
Usai makan malam pun, Ed membawa Emilia berkeliling mansion. Mulai dari bangunan utama hingga paviliun khusus maid.
Emilia setia mendengarkan setiap penjelasan suami kecilnya, termasuk ketika menunjukkan satu per satu anggota keluarga. Mulai dari Abuela (Nenek), El ( Kaka pertama), Ar dan Es.
Tour keliling mansion selesai dalam waktu 30 menit. Emilia kembali ke taman belakang, sementara Edgardo menemui ayahnya di ruang kerja.
Senyum mengembang dari bibir guru cantik ini, kala mendengarkan suara merdu seorang petugas kebersihan dari atas panggung kecil.
Namun fokusnya terganggu getaran kecil dari ponsel. Satu nomor tak dikenal mengirim pesan.
“Enak sekali, kamu dengan mudahnya masuk ke keluarga itu.”
“Jangan lupa posisi mu.”
Seketika Emilia menelan saliva, sembari melirik ke sana kemari, seseorang yang mengirim pesan teror membuat fokusnya menghilang.
Kedua kaki Emilia tidak menyadari berada di tepi kolam berenang, dirinya pun terjatuh.
Tidak bisa berenang serta menggunakan gaun panjang, tangannya kesulitan menggapai sisi kolam, hingga gerakan Emilia perlahan melemah.
TBC
ditunggu jempolnya kaka plus komen juga ga apa apa 😉🙏
****
Visual
Emilia Anette Putri
Edgardo Rafael Torres
dasar teloooo donat
tapi kali gak akan bisa em
salam dari aku yg galau
☺️☺️☺️
ta kemarin libut
up lagi
kelamaan nunggu pada tidur
si ed bocah malah merusak hidup
rasakan itu kau