WARNING!!! Harap bijak membaca ya karena bikin panas dingin juga, hehehe
Hans seorang pria biasa yang masih memiliki seorang istri, terpaksa menerima tawaran seorang CEO cantik untuk menjadi suami kontraknya. Ia membutuhkan banyak biaya untuk pengobatan putri kecilnya yang menderita penyakit kanker, sekaligus untuk memenuhi gaya hidup istrinya yang hedon.
Lantas, bagaimana Hans akan menjalani semua ini? Lalu kenapa sang Nona Ceo memilih Hans sebagai suami kontraknya? Padahal di luar sana banyak pria yang lebih hebat dari Hans.
Yukkkkk ikuti kisahnya yang nano-nano, hehehehe
IG @dydyailee536
FB Dydy Ailee
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dydy_ailee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 Dan terjadi lagi
"Anda bahagia sekali, Nona." Ucap Gita yang melihat rona bahagia diwajah Raina dari pantulan cermin sunvisor.
"Menurutmu?"
"Madam serius ingin menikahi Pak Hans?" Reno yang duduk memegang kemudi ikut menyahut.
"Kalau tidak serius, untuk apa aku meminta kalian mempersiapkan pernikahanku." Ucap Raina.
"Nona, saya khawatir anda akan terluka. Apalagi dengan status Pak Hans."
"Kamu tenang saja. Kamu juga tahu kenapa aku melakukan ini? Justru Hans akan semakin terluka dengan pernikahannya bersama Citra. Dari awal bertemu dia sudah membuatku bergetar."
"Sepertinya anda benar-benar sudah jatuh cinta pada Pak Hans," ucap Gita.
"Sepertinya begitu. Dia pria yang baik. Istrinya bodoh sekali. Pernikahan kontrak ini menjadi rahasia kita bertiga. Ini caraku untuk mendapatkannya. Dengan memanfaatkan kelemahannya. Memang agak kejam tapi aku begitu menginginkannya."
"Apapun itu yang penting Madam bahagia." Timpal Reno.
"Terima kasih, Ren."
"Yes, saya juga mendukung Nona. Sudah lama saya tidak melihat wajah anda secerah ini." Sahut Gita.
"Oh ya Git, sudah kamu dapatkan siapa pria yang bersama istri Hans?"
"Astaga, saya sampai lupa mau memberi tahu Nona. Pria itu namanya Andra, mantan kekasihnya Bu Citra."
"Oh lupanya cinta lama belum kelar." Kesal Raina.
"Kasihan Pak Hans juga ya. Saya juga melihat kalau Pak Hans ini pekerja keras dan jujur." Timpal Reno.
"Ya, begiutlah, Ren. Nasibnya sangat malang."
"Nona mau mengadakan pernikahan dimana? Biar saya siapkan."
"Madam, saran saya menikah di luar kota solusi terbaik." Reno menyahut.
"Mmmm idemu bagus juga, Ren. Lagi pula ini hanya pernikahan siri. Baiklah, suruh saja Hans menyusul kita ke Bali. Tidak akan ada yang mengenalinya juga. Dan juga carikan dokter terbaik serta berikan layanan terbaik untuk putri Hans. Aku ingin sekali menjenguknya namun belum bisa."
"Baik Nona."
"Baik Madam." Jawab Gita dan Reno dengan kompak.
Sesampainya di Bali, Raina memilih untuk istirahat terlebih dahulu. Semalaman bercinta, membuat tubuhnya baru merasakan lelah.
"Oh ya Git, minta tolong panggilkan layanan pijat ke kamar ku ya. Aku lelah sekali."
"Iya Nona." Gita kemudian berlalu meninggalkan kamar Raina. Raina merebahkan tubunya diatas tempat tidur. Ia memejamkan mata sejenak. Membuatnya teringat akan kejadian semalam. Raina memeluk sendiri tubuhnya, membayangkan lengan berotot Hans memeluknya dengan erat.
"Oh, aku benar-benar di buat gila oleh Hans. Oh ya, aku belum memberinya kabar." Raina beranjak dari tempat tidur, menyambar tasnya dan mengambil ponsel di dalamnya.
<Hans, aku sudah sampai. Kamu masih di kantor?>~ Raina.
<Aku baru saja mau makan siang. Syukurlah kamu sampai dengan selamat.>~ Hans.
<Kamu makan siang dengan apa? Tahu dan tempe lagi?>~ Raina.
<Tidak. Istriku tidak membawakan bekal makanan. Jadi aku akan makan di kantin>~ Hans.
<Tumben istrimu tidak membawakan bekal?>~ Raina. Ya, Raina penasaran.
<Dia ada pekerjaan mendadak. Diminta temannya untuk membantunya mengurus catering.>~ Hans.
<Oh begitu. Lalu siapa yang menemani putrimu?>~ Raina.
<Ayah dan Ibu mertuaku, Raina.>~ Hans.
<Hans, sudah dulu ya. Nanti aku telepon. Bye>~ Raina.
<Iya, jaga dirimu baik-baik>~ Hans. Raina buru-buru menyudahi karena layanan pijat di resortnya sudah datang. Raina menikmati pijatan yang membuat tubuh dan pikirannya menjadi rileks kembali. Saking menikmatinya, Raina sampai tertidur.
Selesai membantu temannya, Citra lalu menuju hotel. Ia memutuskan menghubungi Andra ingin mengadu pada Andra. Sebenarnya pekerjaan yang dilakukan oleh Citra bukanlah pekerjaan yang sulit apalagi memakan waktu. Semua itu hanya alasan saja bagi Citra karena ia merasa lelah dan kesal melihat Hans.
"Sayang, aku merindukanmu." Andra menyambut Citra dengan pelukan penuh cinta.
"Aku juga merindukan kamu, Andra."
"Apa yang membuatmu menghubungiku?"
"Aku butuh kamu. Aku lelah." Citra melepaskan pelukannya lalu membanting tubuhnya diatas kasur. Andra tersenyum lalu menyusul menuju tempat tidur. Keduanya berbaring sambil menatap langit-langit kamar.
"Lelah kenapa?"
"Aku semalaman berjaga. Dan tadi aku habis kerja."
"Kerja? Kerja apa? Aku sudah memberimu uang, Citra. Kenapa harus kerja?"
"Aku membantu temanku menyiapkan catering tadi karena dia kekurangan tenaga. Hans pasti berpikir aku pulang malam jadi aku lebih baik bersama kamu saja. Maafkan aku ya Ndra, bukannya suamiku yang menafkahi ku tapi malah kamu. Bahkan aku memakai uangmu untuk belanja dan makannya Hans juga."
"Tidak apa-apa Citra. Aku ikhlas. Semua itu aku lakukan demi kamu."
"Andra, aku rasanya sudah tidak sanggup hidup dengan Hans. Aku lelah dengan semua ini." Citra mulai memasang wajah sendunya. Andra tentu saja senang mendengar kabar gembira ini.
"Aku siap menunggu jandamu, Cit." Andra terkekeh.
"Ihh kamu. Tapi aku berpisah bukan karena kamu, Ndra. Aku sudah lama ingin berpisah tapi.....,"
"Tapi apa? Kamu masih mencintainya ya?" goda Andra.
"Munafik sih kalau aku bilang tidak cinta. Keadaan yang memaksaku bertahan. Dia melarangku bekerja tapi tidak memberikan nafkah yang layak. Untung saja aku tidak stres. Bukan aku tidak bersyukur tapi bayangkan saja."
"Iya-iya aku mengerti, Citra. Aku juga tidak pernah berpikiran buruk tentangmu. Sudahlah jangan membahas itu, apapun keputusan kamu akan aku dukung. Aku siap menerima mu kapan saja."
"Terima kasih ya Ndra." Citra lalu memeluk Andra yang berbaring disampingnya.
"Sama-sama. Oh ya lalu siapa yang menjaga putrimu?"
"Ada Ayah dan Ibu."
"Bagaimana kabar Ayah dan Ibu? Aku sampai lupa menanyakan kabarnya. Pikiranku hanya dipenuhi oleh kamu."
"Bisa saja kamu gombalnya. Mereka sehat, Ndra. Kalau tidak ada mereka, aku tidak tahu seperti apa nasibku. Ayah dan Ibu masih punya hasil panen dan setiap panen selalu mengirim aku beras dan juga uang. Karena mereka mengerti kondisi keuanganku dan Mas Hans bagaimana."
"Sabar ya. Kalau kamu jadi istriku, aku akan membahagiakanmu lahir batin, Citra. Sejak bertemu lagi denganmu, aku tidak bisa melupakanmu. Ingin rasanya segera memilikimu."
"Seandainya dulu kita berdua saling sabar. Pasti kita akan bahagia, Ndra."
"Ya, mungkin jalannya kita seperti ini Citra. Daripada kamu bete mending kita happy. Setelah ini aku harus kembali ke kantor. Jadi mumpung ada waktu kita manfaatkan sebaik mungkin. Nanti pulang, kamu makin fresh."
"Hmmm maunya kamu itu kan?"
"Tapi kamu juga suka kan?" goda Andra. Andra lalu memiringkan tubuhnya menghadap Citra. Ia lalu memberikan kecupan pada bibir Citra.
"Kamu memang yang terbaik," ucap Citra. Dan keduanya pun mulai saling berciuman. Tangan Andra mulai bergerak masuk ke dalam t-shirt ketat milik Citra. Dan mereka pun kembali melakukan hubungan yang semestinya tidak boleh dilakukan. Hasrat dan gairah telah membelenggu keduanya. Membuat Citra lupa akan statusnya yang masih menjadi istri Hans. Begitupun juga Andra yang seoalh tidak peduli lagi dengan status pernikahan Citra.