Sama-sama memiliki kekasih saat dijodohkan, Danar dan Wulan membuat kesepakatan agar tetap pada kehidupan mereka masing-masing meski terikat dalam hubungan pernikahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#23. MENUNGGU JEMPUTAN
Setelah menempuh penerbangan selama satu jam empat belas menit, Danar dan Wulan pun telah sampai di bandara.
Danar mengaktifkan ponselnya yang beberapa saat lalu ia matikan sebelum penerbangan. Satu pesan balasan masuk di situ tertulis,
'Aku akan menjemput kalian di bandara. Pemilik rumah tempatku tinggal sudah bersedia kalian menginap di sini.'
Danar mengembangkan senyum setelah membaca pesan itu. Ia menoleh melirik Wulan yang duduk di sampingnya, entah bagaimana nanti reaksi istrinya ini jika bertemu seseorang yang pernah bertahta di hatinya.
Ingatan Danar berkelana pada dua bulan lalu. Saat itu Danar baru saja sampai di cafe, karena sedang menerima telepon dan tidak memperhatikan jalan ia bertabrakan dengan salah satu pegawainya yang sedang membawa setumpuk lembaran kertas tak terpakai lagi untuk dibuang.
Lembaran-lembaran kertas itupun berserakan di lantai.
Saat pegawai itu hendak memunguti kertas-kertas yang tercecer itu, mata hitam Danar menangkap selembar kertas yang bertuliskan nama Erick. Yah kertas itu adalah lampiran saat Erick melamar pekerjaan di cafe itu. Danar pun mengambil lembaran itu. Di situ tertulis data diri dan juga nomor telepon Erick, tiba-tiba saja Danar terpikirkan untuk menghubungi Erick menanyakan bagaimana kabarnya di kota rantau.
Yang awalnya hanya menanyakan kabar, baik Danar maupun Erick sendiri tidak tahu bagaimana mereka bisa menjadi teman online saling berbalas pesan hingga saat ini.
Selama dua bulan itu mereka bercerita banyak hal melalui tulisan yang saling berbalas.
Erick menceritakan bagaimana awal keberangkatannya ke Jogja yang saat itu juga ada Dinda yang memiliki tujuan yang sama. Namun, bedanya ia ingin mencari pekerjaan di sana dan Dinda sendiri akan pergi ke tempat pamannya.
Erick juga menceritakan bagaimana ia berkelana di kota itu namun tak mendapatkan pekerjaan, dan pada akhirnya iapun mendatangi alamat paman Dinda dari kartu nama yang sebelumnya diberikan Dinda saat di stasiun.
Dan Danar pun juga menceritakan bagaimana hubungannya dengan Wulan yang sudah banyak mengalami perubahan, hal itu tentu membuat Erick turut senang karena itulah yang di harapkan nya, karena jika Wulan tidak bahagia maka ia akan kembali untuk merebut kekasihnya.
Ini konyol menurut Danar, menjadi teman, saling berbalas pesan dengan laki-laki yang pernah menjalin hubungan dengan istrinya. Namun, tidak ada salahnya juga berteman selagi sebatas sewajarnya saja.
.....
Danar terhenyak kala Wulan menggoyangkan lengannya.
"Masa kita duduk di aja, gak mau cari penginapan dulu gitu?"
"Ya ini juga lagi nunggu jemputan. Kalau ada yang gratis ngapain bayar." Danar mengulas senyum diakhir kalimatnya.
"Maksudnya gimana sih? Nunggu siapa? Memangnya Kamu ada kenalan disini?" Tanya Wulan beruntun.
"Bukan cuma Aku, tapi Kamu juga kenal. Bahkan lebih kenal dari Aku." Ujar Danar.
"Jangan bercanda deh, jangankan punya kenalan ini saja Aku pertama kalinya datang kesini."
"Tunggu saja nanti juga Kamu tahu siapa orangnya, tapi jangan kaget aja ya."
Wulan tak lagi menanggapi, ia menyandarkan kepalanya di pundak Danar sehingga tangan kekar sang suami terulur mengusap rambutnya.
"Dari pagi Kamu belum makan apa-apa loh."
"Nanti aja, beneran deh Aku belum lapar. Yang mau jemput siapa sih? Masih lama nggak? Aku ngantuk ini."
"Tidur aja kalau ngantuk, nanti Aku bangunkan kalau yang jemput sudah datang." Ujar Danar dengan masih terus mengusap rambut panjang istrinya.
Perlahan mata Wulan pun terpejam, entah kenapa beberapa hari ini ia sering mengantuk apalagi saat pagi hari.
Beberapa saat menunggu, ponselnya Danar pun berdering. Ia melirik istrinya yang sudah benar-benar tertidur lalu mengangkat panggilan itu.
"Kalian dimana, Aku sudah sampai di Bandara."
Danar tak menjawab, ia mengedarkan pandangannya karena jika mendengar dari suara sekitar Erick tak jauh dari tempat berada saat ini.
Tak lama kemudian Danar pun melambaikan tangannya pada Erick yang berdiri hanya beberapa meter dari tempat duduk.
Erick pun memutus sambungan telepon lalu bergegas menghampiri Danar dan Wulan.
Sejenak, Erick terpaku melihat Wulan yang tertidur dengan bersandar di pundak Danar. Ia jadi teringat dulu Wulan juga pernah tertidur di pundaknya. Namun, dengan segera Erick menepis ingatannya akan masa lalu, baginya melihat Wulan bahagia saja itu sudah lebih dari cukup.
Danar pun membangunkan istrinya, melihat Wulan yang perlahan membuka mata Erick langsung mengenakan kembali maskernya.