Hanya kenyataan yang sangat cepat membuat ku merasakan hidup bersama orang baru yang sama sekali tidak aku kenal terlebih di usiaku yang baru menginjak 18 tahun.
Dan kejadian kejadian yang terjadi seperti proses kehidupan terkhusus untukku.
Angelina Clarzie.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Grace Putry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Xavier POV
Aku terbangun pukul setengah 6 pagi dan mendapati Angelina masih tertidur nyaman di dadaku dan memeluk pinggangku erat.
"Oh baby. Morning and i love you."Kataku berbisik di telinganya sambil mengecup keningnya lama. Aku memandanginya lama sambil terus memeluk nya erat.
Bunyi dering telepon menghancurkan suasana yang tercipta sekarang. Sialan.. siapa yang berani menelpon ku di pagi hari ini?. Aku mengambil handphone di meja nakas samping ranjang. Melihat nama penelpon nya, Adreas.
Aku langsung saja mengangkat telepon nya.
"Ada apa Adreas?."Tanya ku langsung.
"Sebaiknya sekarang kamu datang ke kantor. Perempuan itu ada di sini."Kata Adreas terdengar tidak suka di sana."Datang ke sini dan usir dia pergi. Sedari tadi sudah ku usir tetapi tetap saja tidak beranjak dari ruanganmu ini."Ucap Adreas langsung saja menutup telepon.
Shittt.... Perempuan sialan. Mau apa lagi dia datang? Dari dulu dia hanya benalu dan juga perusak. Xiela..
Aku langsung saja melepaskan dengan pelan pelukan Angelina ditubuhku. Aku segera bersiap-siap untuk berangkat.
Setelah itu, aku menciumi seluruh permukaan Angelina lembut dan langsung berjalan keluar kamar. Aku mendapati Susan sedang berada di ruang tamu.
"Susan. Apabila Angelina bangun dan menanyakan dimana saya tolong beritahu kalau saya sudah berangkat kerja."Kataku langsung saja berjalan tergesa menuju mobil. tanpa mendengar jawaban Susan.
Aku melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Sekarang baru pukul 06.00, sialan. Sepagi ini dan perempuan itu sudah bertandang di kantorku. Apa tidak ada yang bisa mengusirnya?. Hanya satu jalang saja semua yang ada di sana tidak becus.
Aku sampai di kantor dan langsung saja berjalan keluar menuju ruanganku. Tempat jalang itu berada. Aku mendapati Adreas berdiri diluar bersama beberapa pengawalku.
"Apa yang kalian kerjakan heh? Hanya mengusir satu makluk hidup seperti Xiela saja kalian tidak bisa."Kataku marah. Aku melihat tajam ke arah Adreas tetapi Adreas hanya melihat datar tanpa takut kepadaku.
Huh.. inilah resikonya bekerja bersama orang yang juga memiliki sikap dan tingkah sepertiku. Yang sama-sama tidak takut dalam hal apapun.
"Jalang itu sungguh sangat tebal urat malunya X. Urus sendiri dia. Sekarang aku harus mengurus pekerjaanku di markasmu lagi."Katanya sambil langsung berjalan pergi meninggalkan beberapa pengawal berjaga di depan sini.
Dasar Adreas...
Aku langsung saja masuk dan mendapati Xiela sedang terduduk dengan pakaian yang bisa dibilang sudah kekecilan di badannya dan memandang menggoda ke arahku.
Menjijikan...
"Good morning honey."Katanya menyambutku. Ingin ku potong lidah dan mulutnya yang berani memanggilku seperti itu.
"Jangan memanggilku seperti itu jalang. Mau apalagi kamu ke sini?."Kataku menahan amarah dan langsung saja berdiri dengan jarak dari antaranya.
"Santai saja Xavie. Aku kesini hanya untuk sedikit berdongeng kepada mu."Katanya sambil tersenyum busuk. Aku mengernyit tidak paham. Aku langsung menduduki kursi kebesaranku tanpa peduli Xiela yang sedang menatapku seakan lapar.
"Cepat pergi dari sini Xiela. Sebelum aku berbuat sesuatu yang kasar terhadap mu."
Xiela terlihat tegang ucapanku tetapi sedetik kemudian dia tersenyum mengejek.
"Ancaman mu sudah seperti lagu merdu di telinga ku Xavie. Aku tidak akan takut lagi."Jawabnya sambil bangkit dan berjalan menuju ke arahku.
Aku memandang datar setiap pergerakannya. Sialan, benar-benar cari mati perempuan ini.
Dia berdiri di depanku lalu memberikanku sebuah amplop. Aku meraihnya lalu mulai membuka.
Aku sama sekali tidak terkejut dengan isi di dalam amplop tersebut.
"Untuk apa kamu memberikan ini kepada ku Xiela? Kamu tahu aku tidak akan pernah takut atas secuil ancaman tidak berguna mu ini."Jawabku.
"Ahh benarkah Xavie? Tetapi kira-kira apa tanggapan calon istri mu itu kalau amplop ini sampai di tangan nya hem?."Ucapnya lagi sambil menopang dagunya dan tersenyum mengejek ku.
Sialan.. Dari mana dia tahu hubungan ku bersama Angelina? Shitt... Bodoh kau Xavie. Xiela perempuan licik tentu saja dia bisa tahu apa saja yang berhubungan dengan mu. Batinku menghina diriku sendiri.
"Tidak usah membawa Angelina dalam masalah yang harusnya sudah selesai Xiela. Pergi dari sini. Aku sudah menyuruh mu pergi untuk kesekian kalinya."Kataku sambil bangun dan mendorong tubuh nya kuat.
Xiela terjatuh tetapi langsung bangun dan berjalan lagi ke arah ku. Benar-benar tidak menyerah perempuan ini.
"Aku peringatkan sekali Xavie. Calon istrimu itu yang merupakan pewaris keluarga Clarzie bisa saja adalah perempuan lemah apalagi sekarang dia hanya bergantung kepadamu. Coba bayangkan ekspresi nya saat aku memberikan sesuatu yang menjadi masa lalu mu ini hem?."Ucapnya lagi.
Aku berpikir sejenak. Benar aku baru sebulan bersama Angelina. Aku memang sudah paham dengan segala tindakannya tetapi untuk yang kali ini berkaitan denganku aku belum bisa memprediksikannya.
"Apa mau mu Xiela?."Jawabku langsung. Xiela melakukan ini semua pasti ada maksud dan tujuannya.
"Nah.. Kalimat itulah yang sedari tadi ku tunggu-tunggu Xavie."Katanya. Aku hanya memandang datar kepadanya."Aku ingin kamu menjadi milik ku Xavie. Dan tinggalkan perempuan itu. Sudah cukup dulu aku mengalah dengan kakak ku. Sekarang aku hanya ingin kamu menjadi milikku."
"Huh funny. Apa kamu gila Xiela? Aku tidak akan pernah menjadi milikmu. Dan jangan lupa sekarang aku sudah memiliki calon istri."Kataku menekan kalimat calon istri kepadanya.
"Aku tidak peduli Xavie."
"Sudahi perbincangan ini Xiela. Dan kalau tujuan mu untuk menghancurkan hubungan ku bersama Angelina, sebaiknya kamu pergi sekarang."
"Tidak. Aku tidak akan pergi. Ahh baiklah kalau kamu tidak setuju dengan permintaan ku, aku ingin meminta sesuatu dari mu."Ucapnya dengan nada menggoda lagi. Ah secepat itukah seorang Xiela mengalah dengan ku?.Aku cukup aneh dengan ucapannya barusan tetapi aku hanya diam. Aku yakin dia sudah menyiapkan segudang cara lagi untuk menghasutku.
Aku hanya memandang kearahnya seakan berkata apa mau mu lagi?.
"Aku akan menunggu mu hingga jam makan sìang. Setelah itu kita akan makan siang bersama. Anggap saja sebagai pertemuan mantan kakak ipar bersama adik iparnya."Katanya lagi.
Aku memijit keningku pelan. Huh. Permintaan perempuan ini kalau tidak di turuti akan semakin menjadi benalu. Aku hanya menganggukan kepala tanda setuju. Ya, Hanya makan siang setelah itu jangan harap kamu bisa berdekatan denganku lagi.
Saat mendekati jam makan siang aku menyudahi pekerjaanku dan bangun untuk pergi makan siang bersama perempuan sialan ini. Xiela duduk dengan manis di ruanganku sedari pagi tadi. Dasar jalang.
"Makan siang bukan? Itu mau mu kan? Ayo."Kataku datar kepadanya.
Dia tersenyum senang sambil langsung mengamit lenganku. Sialan.
"Lepaskan sialan. Tidak usah memegang lenganku."Aku mendorongnya kuat hingga terlepas tetapi lagi dan lagi dia mengamit lenganku.
Aku hanya memghela nafas lalu menbiarkan nya seperti jtu. Kami menaiki lift lalu turun di lantai bawah. Mobilku sudah di siapkan.
Tetapi saat berhenti di depan lobby, tiba-tiba saja Xiela mencium ku cepat. Shitt. Aku mendorong dorong tubuhnya tetapi dia tetap merapatkan dirinya padaku sampai sebuah box berisi makanan mengenai tubuh kami dan uhh sungguh menjijikan. Semua makanan itu tersebar di pakaian ku dan si jalang ini.
Aku berbalik dan betapa terkejutnya aku mendapati Angelina yang ternyata sudah berdiri di belakang kami.
"Hey. Apa anda terkejut Tuan?."Kata Angelina mengejek. Aku yang mendengar ucapannya seketika mendorong jauh tubuh perempuan jalang ini lalu berjalan mendekati Angelina.
"Baby. Itu tidak seperti yang kamu lihat oke?.Aku bisa menjelaskannya hem?."Kataku sambil berusaha memegang tangan nya tetapi langsung saja di tepis oleh Angelina.
"No no Tuan Xavier. Urusi dulu perempuan mu ini. Saya permisi."Kata Angelina sambil berlalu tanpa memperdulikan teriakan ku.
"Dasar jalang. Itu perempuan yang merupakan calon istri mu bukan. Bersikap liar seperti tidak di didik."Aku yang mendengar ucapan Xiela hanya menarik nafas lelah. Aku terus memandangi Angelina dari kejauhan yang menaiki taxi. Langsung saja ku ambil telepon dan ku perintahkan Adreas agar mengawasi Angelina.
"Sudah puas Xiela?."Kataku saat selesai menghubungi Adreas.
"What? Aku hanya tidak tahu ternyata calon istrimu sungguh liar seperti itu Xavie. Tidak cocok sekali denganmu."
"Diam jalang. Pergi dari hadapanku sebelum aku membunuh mu."Kataku sambil langsung mencengkram rahang Xiela keras. Xiela terkejut dengan aksiku dan langsung memukul-mukul tanganku meminta di lepaskan.
"Ini hanya sebagian kecil dari kekerasan yang ku lakukan jalang. Pergi sebelum aku menghancurkan rahangmu dalam sekali remasan."Kataku lagi. Xiela yang menahan sakit langsung saja menangis menitikan air mata.
Aku melepaskan cengkramanku lalu mendorong jauh tubuhnya. Sialan.. Emosi ku tidak terkontrol lagi. Aku langsung berbalik dan menuju mobil. Pikiranku hanya tertuju kepada Angelina.
Oh my Baby. Maafkan aku...