NovelToon NovelToon
Transmigrasi Putri Selir: Lima Kakak Mafia Terobsesi Padaku

Transmigrasi Putri Selir: Lima Kakak Mafia Terobsesi Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Mafia
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: cosmoursun

Alana, seorang gadis pekerja keras yang tewas karena kelelahan, terbangun di tubuh putri bungsu seorang selir di keluarga mafia Garrick yang kejam. Alih-alih hidup mewah, ia justru akan dijual oleh ibu tiri pertamanya kepada mafia tua bangka demi politik.

​Menolak pasrah pada takdir, Alana memutuskan untuk memikat kelima kakak tirinya yang terkenal kejam, dingin, dan saling bermusuhan demi takhta. Dari seorang pion yang terbuang, Alana mengubah dirinya menjadi ratu kecil yang diperebutkan oleh lima penguasa dunia bawah.

​"Siapa pun yang berani menyentuh Alana, artinya menantang maut dari seluruh keluarga Garrick!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cosmoursun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Retakan di Perbatasan

Beberapa bulan kemudian...

Matahari pagi di Monako selalu membawa kehangatan yang mewah, namun di dalam Mansion Utama dinasti Garrick, kehangatan itu kini berwujud sebuah kedamaian domestik yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Alana duduk di paviliun pribadi barunya, menyesap cokelat hangat dengan tenang. Gaun rajut putih yang longgar membungkus tubuhnya yang kian bugar. Di balik meja kerjanya yang baru, topeng dingin sang penguasa tertinggi melunak sepenuhnya saat dia memandang kelima abangnya.

Tujuan hidup Alana telah tercapai: dia memiliki hidup yang aman, uang yang melimpah, dan keluarga yang tulus menyayanginya.

Namun, kedamaian itu justru membuat sifat posesif kelima kakak laki-lakinya meledak melampaui batas kewajaran. Pagi itu, Adrian dengan bangga memamerkan sebuah gelang perak minimalis di pergelangan tangan Alana.

"Ini bukan gelang biasa, Alana," ucap Adrian, matanya berbinar mencari perhatian sang adik. "Aku menanamkan bio-sensor terenkripsi satelit di dalamnya. Gelang ini memantau detak jantung, suhu tubuh, dan kadar oksigenmu setiap detik. Jika detak jantungmu naik sedikit saja karena lelah, sistem di seluruh mansion akan otomatis meredupkan lampu agar kamu bisa beristirahat."

"Bagus, Adrian," potong Xavier yang tiba-tiba masuk sambil melemparkan sebuah dokumen kepemilikan tanah ke atas meja. "Dan untuk memastikan dia beristirahat dengan benar, aku baru saja membeli sebuah pulau pribadi di gugusan Kepulauan Mediterania. Mulai bulan depan, aku akan membangun vila medis khusus di sana. Alana bisa berlibur tanpa perlu melihat satu pun wajah orang asing."

Julian yang sedang membaca laporan di sudut ruangan hanya mendengus pelan, sementara Dominic dan Cedric berdiri tegap di dekat pintu dengan setelan jas hitam mereka, bersedekap dada sambil mengawasi setiap gerak-gerik pelayan yang mengantarkan camilan untuk Alana. Sisi manusiawi Alana membuat ruangan itu dipenuhi tawa kecil yang tulus. Dia merasa sangat disayangi.

Namun, kedamaian yang manis itu mendadak terkoyak ketika sebuah ketukan tegas terdengar di pintu paviliun.

Seorang wanita muda melangkah masuk dengan langkah kaki yang konstan, anggun, dan penuh percaya diri. Dia mengenakan setelan blazer abu-abu gelap yang sangat profesional, rambut hitamnya disanggul rapi, dan sepasang mata hazel-nya memancarkan kecerdasan kelas atas. Di tangannya, dia membawa sebuah tablet militer tebal.

Natasha "Tasha" Sterling. Dia adalah mantan analis data diplomatik tertinggi yang tiga bulan lalu diselamatkan oleh Alana dari kejaran sindikat perdagangan manusia di Eropa Timur. Alana tidak hanya menyelamatkan nyawanya, tetapi juga mengangkat derajatnya menjadi Sekretaris Pribadi sekaligus Tangan Kanan Diplomasi dinasti Garrick. Loyalitas Tasha kepada Alana bersifat murni dan seumur hidup.

Begitu Tasha melangkah masuk, aura di dalam ruangan langsung mendingin. Dominic dan Cedric menatap Tasha dengan pandangan menyelidik yang luar biasa tajam, seolah-olah wanita itu adalah ancaman berjalan. Kelima kakak Alana masih sangat sulit memercayai orang luar di dekat adik mereka.

​Namun, Tasha mengabaikan tatapan membunuh tersebut dengan profesional. Saat matanya bertemu dengan mata jernih Alana, ingatan Tasha otomatis berputar kembali ke kejadian tiga bulan lalu di sebuah gudang bawah tanah yang kotor di pinggiran kota pelabuhan.

​Saat itu, Tasha adalah seorang analis data yang dikhianati oleh atasannya sendiri, disekap, dan siap dijual sebagai komoditas pasar gelap oleh sindikat perdagangan manusia. Dalam kondisi hancur, terikat, dan kehilangan harapan, pintu gudang itu tiba-tiba terbuka. Bukan oleh sepasukan militer yang bising, melainkan oleh seorang gadis remaja yang berjalan dengan keanggunan mutlak, dikawal oleh Cedric yang membawa senapan berlumuran darah.

​Alana, yang saat itu masih dalam misi rahasia internalnya, berhenti di depan Tasha yang gemetar. Alih-alih mengabaikannya atau memperlakukannya seperti sampah seperti yang dilakukan orang lain, Alana berlutut di atas lantai gudang yang kotor. Dengan tangan mungilnya sendiri, Alana melepas ikatan tali di pergelangan tangan Tasha yang terluka.

​"Siapa namamu?" tanya Alana hari itu, suaranya begitu lembut, menjadi satu-satunya sumber kemanusiaan di tempat terkutuk tersebut.

​"Na... Natasha Sterling," jawab Tasha dengan suara parau dan air mata yang berlinang.

​Alana menatap dokumen-dokumen analisis taktis yang sempat dipertahankan Tasha di dalam tasnya, menyadari kejeniusan wanita ini yang disia-siakan dunia. "Kamu terlalu berharga untuk mati di tempat seperti ini, Natasha. Ikutlah bersamaku. Aku akan memberimu kehidupan yang layak, uang yang banyak, dan keamanan yang tidak bisa dibeli oleh siapa pun di dunia ini. Sebagai gantinya, jadilah mataku di dunia luar."

​Hari itu, di bawah tatapan tidak suka dari Cedric yang tidak ingin adiknya mengurus "orang asing," Alana membawa Tasha pulang, mengobatinya, dan menjadikannya sekretaris pribadinya. Sejak detik itu, hidup Tasha sepenuhnya milik Alana.

"Selamat pagi, Lady Alana," ucap Tasha, suaranya terdengar jernih namun sarat akan urgensi. "Saya meminta maaf karena harus mengganggu waktu istirahat Anda. Namun, kita baru saja menerima kiriman paket darurat dari perbatasan Eropa Timur."

Tasha menggeser layar tabletnya, menampilkan sebuah rekaman video pendek. Di dalam video tersebut, sebuah truk logistik utama milik keluarga Garrick terlihat hancur berkeping-keping akibat ledakan bom. Di depan bangkai truk, terpampang sebuah simbol kepala beruang hitam—lambang dari Bratva, sindikat mafia terbesar di Rusia, yang bersekutu dengan faksi Sisilia lama.

Bersama video itu, sebuah pesan teks dikirimkan oleh Ivan Volkov, sang petinggi Bratva:

"Dinasti Garrick telah melemah sejak dipimpin oleh seorang bocah perempuan ingusan. Kami menolak membayar upeti logistik dan memutuskan aliansi sepihak. Monako adalah wilayahmu, tapi perbatasan Eropa adalah milik kami."

BRAKK!

Cedric menendang kursi di dekatnya hingga hancur berkeping-keping. Rahangnya mengeras gila, dan urat-urat di lehernya menegang penuh amarah. "Berani sekali anjing-anjing Rusia itu menyebut adikku dengan sebutan itu!" geram Cedric, matanya memerah menahan haus darah.

"Dominic, siapkan jet militer sekarang!" perintah Xavier, sifat posesif finansial dan harga dirinya meledak. Suaranya terdengar sangat mengerikan. "Aku akan mendanai perang penuh. Aku akan membeli seluruh otoritas hukum di perbatasan dan memastikan tidak ada satu pun anggota Bratva yang tersisa hidup-hidup besok pagi!"

Julian bangkit dari kursinya, senyuman dinginnya yang mematikan terukir di bibir. "Aku akan meretas seluruh sistem perbankan bawah tanah mereka di Swiss. Kita buat mereka mengemis di jalanan sebelum Cedric memenggal kepala mereka."

Melihat kakak-kakaknya yang langsung mengamuk gila dan kehilangan akal sehat hanya karena dirinya dihina oleh orang luar, Alana mengembuskan napas panjang. Sisi manusiawinya menghilang dalam sekejap begitu dia menatap layar tablet Tasha. Sepasang mata jernih Alana seketika berubah menjadi sedingin es yang mematikan.

"Kakak semua, tenanglah," ucap Alana. Suaranya yang rendah namun sarat akan tekanan absolut seketika membungkam kemarahan kelima kakaknya. Ruangan kembali senyap dalam satu detik.

Alana menatap Tasha. "Tasha, berikan aku cetak biru seluruh jalur pasokan logistik alternatif yang dikuasai Bratva di sektor utara."

"Sudah saya siapkan di halaman kedua, Lady Alana," jawab Tasha dengan tangkas, menggeser layar tabletnya menampilkan peta digital yang rumit. Tasha tersenyum tipis di dalam hati, tahu bahwa musuh di luar sana telah salah menilai bos barunya.

Alana mengamati peta tersebut dengan pandangan yang kejam tanpa ampun. Tujuannya memang hanya ingin hidup tenang bersama kakak-kakaknya, tetapi jika ada musuh luar yang berani merusak kedamaian itu dan mengancam keluarganya, Alana tidak akan ragu untuk menjadi monster yang paling mengerikan.

"Mereka mengira aku hanyalah gadis kecil yang bersembunyi di balik punggung kakak-kakakku," desis Alana, sebuah senyuman dingin yang sarat akan kejeniusan taktis terukir di wajah cantiknya.

Alana menatap Dominic dan Julian bergantian. "Kita tidak akan mengirim pasukan besar ke perbatasan, itu terlalu berisiko dan membuang uang Kak Xavier. Kak Julian, gunakan jaringan siber untuk memalsukan manifes pengiriman senjata ilegal atas nama faksi Bratva ke pihak intelijen militer Rusia. Biarkan pemerintah mereka sendiri yang membersihkan separuh dari pasukan mereka."

"Dan Kak Dominic," Alana menjeda kalimatnya, matanya berkilat tajam. "Gunakan pasukan bayanganmu untuk menyabotase pipa gas utama mereka di sektor utara tepat saat intelijen bergerak. Kita hancurkan ekonomi dan kekuatan militer mereka dalam satu malam, tanpa perlu mengotori tangan kita."

Dominic dan keempat kakaknya menatap Alana dengan pandangan takjub sekaligus bangga yang luar biasa gila. Adik kecil mereka yang biasanya manja dan lembut di depan mereka, kini baru saja merancang pemusnahan massal sebuah faksi mafia besar dengan sangat elegan.

"Dipahami, Penguasaku," ucap Dominic dengan kepatuhan mutlak, menundukkan kepalanya dalam-dalam di depan Alana.

Alana kembali bersandar di kursinya, meraih kembali cangkir cokelat hangatnya, dan menatap Tasha dengan pandangan tenang. "Kirimkan pesan balasan kepada Ivan Volkov, Tasha. Katakan padanya... selamat menikmati malam terakhirnya di Eropa Timur."

Buku Kedua telah resmi dimulai. Perang global pertama Alana baru saja dikobarkan dari balik meja kerja mewahnya di Monako.

1
Anne Soraya
lanjut
cosmoursun: Siapp! Ramaikan ya kak🔥
total 1 replies
Nindy bantar
makin seru
cosmoursun: wiii makin suka ga😬
total 1 replies
Nindy bantar
mampir thor ceritanya sprtnya menarik😍
cosmoursun: asikk, duduk sambil bawa popcorn kak🔥
total 1 replies
Rahman Hayati
baru ya
cosmoursun: iya niii, lesgoo dibacaaa🔥
total 1 replies
Lilis Lis
ceritanya bagus dan pemeran wanita yg cerdas dan pemberani..
cosmoursun: xixixi terimakasih kak! terus dukung Alana supaya jadi wanita beraniii🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!