Pernikahan yang terlihat harmonis, ternyata penuh penghianatan. Celsi memilih pergi saat mengetahui suaminya berselingkuh dengan sepupunya sendiri.
"Aku pergi, Mas!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29
"Koh! Jangan..." seru Celsi panik. Ia langsung menarik lengan Aska dengan kuat, berusaha menghentikan kalimat yang belum selesai itu. Wajahnya memerah padam, campur aduk antara malu dan takut.
"Celsi!" tegur Pak Rahman dengan suara berat. "Sopan santun di mana? Apa yang kamu lakukan? Orang sedang bicara sama orang tua, kamu malah menarik-narik begitu!"
Celsi terperanjat, tangannya lepas dari lengan Aska. Ia menunduk tak berani menatap wajah ayahnya. "Maaf, Yah..."
Aska tersenyum kecil menahan geli melihat tingkah Celsi yang panik luar biasa. Ia kembali duduk dengan rapi di sofa, menatap keluarga itu dengan tatapan serius yang bikin Celsi makin ketar ketir.
"Maafkan Celsi, Pak, Bu. Dia mungkin kaget," ucap Aska lembut.
"Tadi kamu bilang... mau bertanggung jawab?" tanya Pak Rahman lagi, alisnya masih terangkat bingung. "Dan kamu bilang kalian sudah... sudah apa?"
Suasana menjadi hening seketika. Celsi gemetar di tempatnya, matanya mengirim kode berkali-kali pada Aska agar jangan bicara hal aneh-aneh. Aska yang melihat wanita itu begitu ketakutan akhirnya merasa tak tega. Ia tidak mau membuat Celsi semakin stres atau dipikirkan hal yang bukan-bukan.
"Sebenarnya..." Aska menarik napas panjang, lalu menatap Pak Rahman dan Bu Dewi satu per satu. "Maksud saya, hubungan kami sudah sangat dekat. Bukan hanya sekadar teman biasa atau pemilik ruko dan penyewa. Saya sudah menganggap Celsi lebih dari itu. Dan karena itu, saya ingin bertanggung jawab dengan cara yang halal. Saya ingin menikahi Celsi."
Glek!
Celsi menelan ludah kasar. Jantungnya rasanya mau copot.
Pak Rahman terdiam. Ia menatap anak perempuannya lama. Begitu juga Bu Dewi yang langsung menggenggam tangan Celsi erat. Wajah mereka tidak menunjukkan kemarahan, melainkan lebih ke arah keterkejutan yang mendalam.
"Kamu serius, Nak?" tanya Pak Rahman pelan.
"Serius sekali, Pak," jawab Aska tegas.
Pak Rahman menghela napas panjang. Ia tahu betul sejarah hidup anaknya. Tiga tahun menikah dengan Rangga, berusaha keras membahagiakan suami, tapi hasilnya apa? Dikhianati, diselingkuhi, dan yang paling menyakitkan, Celsi selalu disalahkan karena tak kunjung bisa memberikan keturunan. Luka itu masih sangat basah di hati orang tua mereka.
"Kamu tahu kan sejarah hidup Celsi?" tanya Pak Rahman langsung pada intinya.
"Tahu, Pak. Celsi sudah cerita semuanya sama saya."
"Terus kamu tahu juga kan... kenapa pernikahan yang dulu gagal?" Mata Pak Rahman menyorot tajam. "Karena Celsi belum bisa memberikan anak. Dokter bilang kemungkinannya sangat kecil. Bahkan bisa dibilang... sulit baginya untuk hamil."
Celsi menunduk dalam, air matanya hampir tumpah mendengar kalimat itu diucapkan dengan gamblang begitu.
"Jadi saya tanya sama kamu," lanjut Pak Rahman. "Kamu mau nikahin dia, tapi siap tidak siap kalau sampai tua nanti kalian tidak punya anak? Siap tidak siap kalau nanti kamu merasa kurang, atau merasa butuh keturunan seperti laki-laki lain? Karena kalau kamu cuma main-main atau nanti nyakitin dia lagi karena alasan itu... saya sebagai ayah tidak akan tinggal diam."
Aska tidak terlihat terkejut sedikitpun. Justru di saat itulah semua teka-teki terjawab. Ia paham sekarang. Mengapa Celsi selalu menjaga jarak. Mengapa wanita itu selalu menutup hati. Semua karena ketakutan akan hal ini.
"Pak..." Aska bicara pelan namun mantap. "Bagi saya, menikah itu bukan cuma soal mau dapat anak atau bukan. Saya mencintai Celsi karena dia Celsi. Karena dia wanita yang kuat, mandiri, baik hati, dan sabar. Soal anak... itu urusan belakangan. Itu hak Tuhan. Kalau dikasih, alhamdulillah. Kalau tidak dikasih, tidak masalah. Saya tetap ingin bersamanya. Saya tidak akan pernah menyakiti Celsi, apalagi karena masalah itu. Saya siap menerima dia apa adanya."
Mendengar jawaban itu, ketegangan di wajah Pak Rahman perlahan luntur. Ia menoleh ke arah Celsi.
"Kamu dengar itu, Si? Keputusan ada di tangan kamu. Ayah tidak akan memaksa. Tapi kalau kamu memilih dia, Ayah percaya dia orang baik."
"Tapi Ka..." Pak Rahman kembali bicara. "Pernikahan itu bukan cuma soal kamu dan dia. Ini soal dua keluarga. Kamu setuju, tapi bagaimana dengan orang tua kamu? Bagaimana dengan Ibu kamu? Apakah mereka juga siap menerima Celsi dengan segala kekurangannya? Apakah mereka tidak akan menuntut cucu?"
Pertanyaan itu membuat Aska terdiam sebentar. "Benar juga apa kata Bapak. Baiklah, saya akan bicarakan hal ini secara detail dengan keluarga saya malam ini juga. Saya pastikan semuanya jelas sebelum melangkah lebih jauh."
"Syukurlah. Kalau begitu, kamu pulang dulu ya. Bicarakan baik-baik," ucap Pak Rahman.
Aska mengangguk. Ia berdiri dan berpamitan. Sebelum melangkah keluar pintu, ia berhenti sejenak dan menatap Celsi lama sekali. Tatapan itu berkata banyak. Aku serius, Cel. Tunggu aku. Celsi hanya bisa mengangguk kecil dengan wajah masih memerah.
Setelah kepergian Aska, suasana di ruang tamu menjadi hening. Pak Rahman mendekat ke arah putrinya.
"Yah..." panggil Celsi pelan.
"Maafkan Ayah ya, Nak..." ucap Pak Rahman lembut. "Ayah terpaksa bilang begitu di depan dia. Ayah harus pastikan dia benar-benar tulus dan siap. Ayah tidak mau kamu terluka lagi seperti dulu."
Celsi mengusap air mata yang jatuh. "Celsi ngerti kok, Yah. Celsi juga tahu kondisi diri Celsi gimana. Makanya selama ini Celsi tolak semua orang. Tapi Koh Aska ini... dia beda. Dia nekat sampai ke rumah."
Bu Dewi mengelus punggung anaknya. "Sudah jangan dipikirin dulu. Kalau memang jodoh, mau bagaimana pun caranya akan tetap disatukan. Kamu sholat Istikharah saja ya Nak. Minta petunjuk sama Allah. Kalau dia baik dan jodohmu, pasti akan dimudahkan jalannya."
Di tempat lain, Aska baru saja melangkah masuk ke rumahnya. Wajahnya terlihat serius namun penuh semangat.
"Lho? Kok baru pulang? Dari mana aja?" tanya Bu Ayu yang sedang duduk di ruang tengah.
"Dari rumah orang tua Celsi, Ma," jawab Aska jujur sambil duduk di hadapan ibunya.
"Hah?! Kenapa nggak ajak Mama?! Mama kan mau ikut!" protes Bu Ayu langsung. "Mama kan pengen banget ketemu lagi sama Celsi."
"Sabar dong Ma. Tadi aku mau ngomong serius dulu sama orang tuanya. Sekarang aku mau ngomong serius juga sama Mama."
Melihat wajah anaknya yang berubah serius, Bu Ayu pun ikut duduk lebih rapi. "Ngomong apa?"
"Gini Ma... Aku serius mau nikah sama Celsi. Aku sayang banget sama dia. Tapi..." Aska berhenti sejenak, menyiapkan kalimatnya. "Tapi ada satu hal yang harus Mama tahu. Celsi itu... kemungkinannya kecil untuk bisa punya anak. Dokter bilang begitu. Jadi kalau kita nikah, mungkin kita nggak akan punya anak atau cucu buat Mama."
Aska menunggu reaksi ibunya. Ia takut ibunya akan kecewa atau menolak. Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Bu Ayu justru mendengus kesal. "Itu doang yang kamu takutin?"
"Hah? Bukan masalah besar kah Ma?"
"Bukan dong!" tegas Bu Ayu. "Mama tanya sama kamu. Kamu nikah itu tujuannya apa? Biar ada orang yang nemenin kamu sampai tua, atau cuma mau cari ibu buat anak-anak kamu?"
Aska terdiam. "Tujuannya supaya aku bahagia Ma. Aku sayang Celsi. Aku mau jagain dia. Dia kelihatan kuat padahal rapuh banget."
"Nah itu dia!" Bu Ayu menepuk tangan pelan. "Kalau tujuannya begitu, buat apa pusingin soal anak? Nanti kalau kamu sudah tua, yang nemenin kamu itu istri kamu, bukan anak-anak kamu. Anak-anak nanti juga punya kehidupan sendiri. Mama mah seneng banget lho kalau kamu dapat istri sholehah kayak Celsi. Soal anak, itu rezeki. Kalau ada syukur, nggak ada ya syukur juga. Yang penting kamu bahagia."
Aska tersenyum lebar, beban di dadanya seakan hilang terbawa angin. "Makasih ya Ma. Makasih udah ngerti."
"Yaudah kalau gitu! Kenapa lama-lama lagi?!" Bu Ayu langsung berdiri semangat. "Besok atau lusa kita langsung lamar! Mama mau siap-siap beli cincin, beli kue, beli baju! Seru nih!"
"Ya ampun Ma... Celsi aja belum pasti mau apa enggak lho," Aska tertawa melihat antusiasme ibunya.
"Pasti mau lah! Mama yakin! Dia itu cuma trauma doang sama masa lalunya. Kamu yang harus buktiin kalau kamu beda sama yang dulu. Ayo Ka! Kita ke sana sekarang juga kalau bisa!" seru Bu Ayu tidak sabar, matanya berbinar-binar membayangkan acara lamaran putranya.