Di saat orang tua terlalu campur tangan dalam kehidupan rumah tangga anak-anaknya, maka kehancuran menunggu di ujung jalan.
______
Tidak ada pelakor di sini. Fokus cerita hanya tentang konflik sederhana yang sangat berpengaruh dalam keharmonisan sebuah rumah tangga.
Selamat membaca🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi Artikasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GDB 22
Hari berlalu, setelah menunaikan ibadah puasa sebulan penuh, kini tibalah saatnya hari raya.
Bersamaan dengan momen itu, kandunganku pun sekarang genap tiga puluh enam minggu. Memasuki masa-masa menegangkan bagi ibu hamil, apalagi ini baru pertama kalinya bagiku merasakan seperti apa sensasi menghadapi hari kelahiran. Dan itu ... sangat menegangkan. Tidak hanya bagiku, tapi hal serupa juga menimpa sang suami. Dia menjadi semakin posesif dan tak membiarkanku melakukan apa pun sendirian. Contohnya, seperti sekarang ini.
"Sayang, biar aku saja, kamu istirahat ya, kasian calon anak kita." Ia langsung mengambil alih nampan yang tadinya aku timang.
Nampan berisi enam gelas jus jeruk yang akan kubawa ke ruang tamu. Ada beberapa tetangga yang bersilaturrahmi ke kediaman mertua.
Aku yang tak bisa lagi membantah, lantas mengikuti langkahnya.
"Kamu mau kemana?" tanyanya seraya memutar leher ke arahku.
"Ikut ke ruang tamu." Aku menjawab seraya menatapnya.
"Sayang istirahat aja di kamar!" titahnya lagi, setelah sebelumnya sudah mengatakan pernyataan serupa.
"Tapi, ini kan lebaran, Sayang. Masa' iya aku cuma di kamar doang." Aku protes dengan bibir mengerucut.
"Sebentar lagi kita akan silaturrahmi juga ke rumah-rumah tetangga, pastinya kamu harus menyiapkan tenaga untuk itu. Jadi, sebaiknya sekarang kamu istirahat dulu," tuturnya lumayan panjang yang membuatku tak bisa lagi membantah.
Kuputar tumit ke arah kamar, lalu membiarkan Mas Labiq sendiri yang membawakan minuman untuk para tamu. Padahal, tadinya aku tak ingin dianggap bermalas-malasan lagi oleh ibu mertua. Setidaknya aku sudah melakukan sebisanya. Sisanya biarkan Mas Labiq yang memberikan jawaban.
Tiga puluh menit kemudian, suamiku itu tampak memasuki kamar saat aku sedang duduk bersandar di tempat tidur sambil membaca Buku KIA. Buku berwarna merah muda yang diberikan oleh Dokter Jovita, ketika pertama kali kami melakukan pemeriksaan atas janin yang aku kandung.
Sejak saat itu, aku sering mengulang-ngulang bacaan, sekadar untuk mengingat ilmunya. Walaupun, sebagian isinya sudah di luar kepala, namun tetap saja, aku suka membacanya.
"Tamunya udah pulang?"
"Iya, mereka nanyain kamu tadi."
"Nah, kamu sih ngelarang aku keluar."
Bibirku kembali mengerucut. Jika tidak salah menerka, pasti ibu mertua kembali mengutarakan kalimat yang sama seperti yang sering diucapkannya acapkali aku berdiam diri di kamar.
Bagaimana aku bisa mengetahuinya? Jawabannya adalah karena aku sudah beberapa kali mendengarnya tanpa sengaja.
"Aku udah bilang kalau kamu perlu istirahat sebelum lebaran keliling nanti," respon Mas Labiq. Suamiku ini, selalu saja bisa mencairkan suasana. Padahal, beberapa detik yang lalu aku sempat kesal dibuatnya.
Entah, mungkin karena bawaan hamil, akhir-akhir ini aku mudah kesal pada suami hanya karena masalah-masalah kecil. Contohnya; aku paling tidak suka jika melihatnya bermain ponsel. Padahal, aku sendiri juga kadang bermain ponsel. Namun, jika aku melihat Mas Labiq yang melakukannya, itu benar-benar membuatku marah. Aneh, bukan? Ya, memang begitu kenyataannya. Aku juga tidak mengerti.
"Terus?" Dahiku berkerut ketika dia menjatuhkan tubuhnya di sampingku.
"Terus apa?" Dia menyodorkan segelas jus jeruk. Aku menerimanya dengan terus mengerutkan dahi. "Minum dulu, bentar lagi Mas Dodik ke sini, katanya mau lebaran bareng." Mas Labiq ikut menyandarkan punggung pada kepala ranjang.
Aku lantas meneguk minuman segar itu sedikit demi sedikit.
"Sayang yakin mau ikut ke rumahnya bulek?" tanyanya dengan tatapan sangsi.
Aku kembali berkerut dahi. "Kamu gak mau ngajak aku?" Seraya menatap horor ke arahnya, aku mulai baper.
"Ya, gak gitu maksudnya." Dia langsung duduk bersila menghadapku. "Aku cuma takut kamu kecape'an nanti," ucapnya seraya mengelus lembut perut buncitku.
Tatapan hororku mulai meredup. Sentuhannya benar-benar sukses membuat perasaanku menghangat.
"Aku kuat kok," jawabku.
"Oke!" Dia memutar tubuh, lalu bangkit dari peraduan. "Ayo, keluar. Kayaknya itu suara mobilnya Mas Dodik." Tangannya terulur untuk membantuku bangkit.
---------
Sesampainya di rumah bulek, aku menyerahkan paper bag berisi bingkisan lebaran yang sudah kami siapkan sebelumnya. Ada juga rantang makanan titipan dari ibu mertua yang lantas diterima dengan suka cita oleh bulek.
Bulek Erna, dia adalah adik kandung dari ayah mertua. Sudah menjadi kebiasaan--katanya--jika bulek dan anak-anaknya sudah mengunjungi ayah mertua, maka Mas Labiq akan mengunjunginya.
"Duduk, Nduk."
Wanita yang berperawakan cukup gemuk itu, menarik lenganku dan mendudukkanku di atas sofa, tepat di sampingnya.
"Gimana kabarmu? Bulek tadi ke sana, tapi gak ketemu kamu." Dia tersenyum manis. Aku pun membalas senyumannya.
Mas Labiq, Pak Lek Wiyono, dan Mas Dodik sedang mengobrol di sofa ruang tamu. Mas Dodik itu kakak sepupunya suamiku. Dia pernah menikah, namun tak bisa mempertahankan pernikahannya. Alhasil, saat ini dia harus menyandang status paling viral sebagai Duda Keren yang kaya raya. Sudah keren, kaya raya, tidak punya anak lagi. Entah, kenapa dia tidak juga menikah lagi, hanya dia yang mempunyai jawabannya.
Aku dan bulek duduk di sofa ruang tengah yang menghubungkan ruang tamu dan dapur. Ada Raka, Riski, Zufar, dan juga Yusuf di sana. Mereka cucu-cucunya bulek. Sementara menantu dan putri-putri bulek sedang berkutat di dapur.
"Ibumu masih suka ngomong gak jelas, Nduk?"
Apa aku tidak salah mendengar? Kenapa bulek bertanya seperti itu?
Mengerjap untuk memudarkan kekakuan, aku pun menanggapi, "Maksud Bulek?" Aku benar-benar tidak mengerti maksudnya. Walaupun aku belum lama menjadi anggota dalam keluarga besar suamiku, namun aku cukup tahu bahwa hubungan ibu mertua dan adik iparnya ini tidak baik-baik saja.
"Iya ... suka ceplas-ceplos. Ngomong gak pake mikir, asal keluar aja tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain," jelas beliau sambil menatapku intens.
Jawaban bulek sukses membuatku menelan saliva. Bagaimana bulek bisa mengatakan hal sefrontal itu padaku? Apa ia tidak takut jika aku akan menyampaikannya pada ibu mertua? Walaupun pada kenyataannya, aku tidak akan melakukan hal demikian.
Adu domba adalah sifat tercela yang keburukannya pasti akan kembali pada diriku sendiri. Jadi, aku tidak mau melakukannya. Terlepas aku sendiri menyetujui semua yang sudah dipaparkan oleh bulek, namun aku harus tetap bersikap bijak dalam hal ini.
"Gak kok, Bulek. Ibu sangat perhatian, apalagi sejak saya mengandung." Aku tak sepenuhnya berbohong, ibu mertua memang lebih perhatian sejak aku hamil. Meskipun jawabanku melenceng dari topik pembicaraan, tapi setidaknya membelokkan sub topiknya akan terdengar lebih baik.
"Iya, karena kamu hamil cucunya, Nduk," celetuk bulek dengan senyuman mengejek.
Sepertinya bulek dan ibu mertua adalah spesies yang sama. Jika benar begitu kenyataannya, maka aku tak mau lagi terlibat perbincangan dengan tema yang sama pula.
-------
"Bulek ngomong apa?"
Kami sedang di dalam perjalanan pulang ketika Mas Labiq bertanya demikian.
Mas Dodik mengendarai mobilnya sendiri, jadi kami hanya berdua saat ini.
"Emmm ...." Aku ingin menjawab jujur, tetapi ragu.
"Bahas ibu?" Mas Labiq tersenyum tipis dengan lirikan mata yang kentara.
Aku hanya tersenyum kaku. "Apa mereka berdua pernah ada masalah?" Bukannya menjawab, aku malah balik bertanya.
kembalikan dulu Labiq
Emang nenek-nenek cuma satu di dunia??
Rasanya gue paham
pantes aja sering ditindas
Otak anak juga butuh nutrisi, Mak. Apa perlu Penulis Keparat yang jadi pengamat gizi biar ibu mertua bisa mingkem
jagoannya dataaaaang 🤣
benar-benar meragukan pembaca 🤣