Pernikahan yang berlandaskan rasa bersalah juga karena ingin bertanggung jawab membuat Icha terjebak dalam situasi rumah tangga yang sangat menyedihkan. Kehadirannya tak dianggap ada oleh suami yang dia cintai. Namun, dia masih bisa tetap bertahan.
"Bukan aku yang menginginkan pernikahan ini, kak Adit. Tapi kenapa kamu malah membuat aku semakin lama semakin tersiksa? Apakah aku harus tetap bertahan, atau malah pergi jauh meninggalkan kehidupan yang menyedihkan ini?" Marisa Aurelia.
"Beri aku waktu untuk belajar mencintai kamu, Icha. Jika aku sudah siap nanti, maka rumah tangga kita pasti akan baik-baik saja." Aditya Hutomo.
Namun, bukannya malah membaik. Rumah tangga yang sudah dasarnya rusak itu malah semakin rusak dengan munculnya orang ketiga. Akankah Icha masih tetap bertahan dengan Aditya yang semakin dingin padanya? Atau ... Icha malah memilih pergi meninggalkan kehidupan pahit yang selama ini menyiksa hati juga pikirannya.
Ikuti kisahnya di sini. Di Sebatas menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
*Bab 23
Aditya terpaku tanpa bisa berucap satu katapun. Untuk sesaat, dia merasa seperti sedang kehilangan separuh nyawanya yang membuat dia tidak bisa bernapas selama beberapa detik. Hingga pada akhirnya dia sadar dan tahu betul apa yang harus dia lakukan sekarang.
Aditya bergegas meninggalkan ruangannya. Tidak dia hiraukan teriakan Serry yang memanggil namanya ketika mereka bertemu di depan pintu masuk. Dia sibuk dengan pikiran yang menggerakkan langkah kakinya buat meninggalkan rumah sakit tersebut secepat yang dia bisa.
Sementara itu, Dwi yang sedang berada di ruang istirahat tersentak kaget ketika mendengarkan pembicaraan dari dua orang rekannya yang juga sedang beristirahat di sana.
"Tidak mungkin!" Dwi berteriak dengan suara tinggi sambil bangun dari duduknya.
"Suster Dwi. Apanya yang tidak mungkin?" tanya salah satu dari dua orang tersebut dengan nada kaget.
"Katakan padaku apa yang kalian bicarakan barusan itu tidak mungkin! Icha tidak mungkin menghilangkan?"
"Icha?"
Keduanya saling pandang. Hingga akhirnya mereka mengerti apa yang Dwi maksudkan. Maklum, akibat kaget, mereka berdua jadi linglung sesaat.
"Maksud suster Dwi, suster Icha ya?"
"Iya. Siapa lagi? Kalian barusan bicara soal dia. Katakan padaku kalau apa yang kalina bicarakan itu tidak benar. Cepat katakan!"
Dwi memaksa dengan wajah yang sedih tentunya. Dia tahu kalau semua yang dibicarakan oleh rekannya itu tidak mungkin bohong. Namun, untuk menguatkan hati juga menghilangkan rasa bersalah, maka dia melakukan hal tersebut.
"Suster Dwi tidak melihat berita? Beritanya sedang viral sekarang. Ada banyak dugaan yang sedang publik bicarakan. Soalnya, tempat kejadian itu tidak pernah terjadi kecelakaan. Maka dari itu, banyak spekulasi soal kejadian ini."
"Iya, Sus. Berita ini sedang sangat viral sekarang. Kejadiannya jam sepuluh tadi pagi. Tapi, sampai sekarang, tidak ada tanda-tanda keberadaan korban. Seluruh aliran sungai, sudah pun di periksa. Tapi katanya, masih tidak terlihat sedikitpun tanda keberadaan korban."
Kata-kata itu membuat persendian Dwi melemah seketika. Sampai-sampai, kakinya
yang berdiri tidak kuat untuk menopang tubuhnya lagi. Seketika, Dwi terjatuh ke lantai sambil menutup mulutnya. Air mata sudah tidak tertahankan lagi sekarang. Jatuh berderai dengan sangat deras.
"Suster Dwi!" Keduanya berucap serentak sambil menghampiri Dwi dengan cepat.
"Suster Dwi. Apa kamu baik-baik saja?"
"Tidak! Aku tidak percaya kalau hal ini terjadi pada Icha. Dia tidak boleh mengalami nasib buruk ini. Karena selama ini, dia sudah sangat menderita dengan semua yang menimpa hidupnya."
"Tenangkan dirimu, suster. Doakan saja yang terbaik buat suster Icha. Semoga dia baik-baik saja. Semoga tidak ada hal buruk yang menimpa dirinya."
"Iya, Sus. Ini baru beberapa jam sejak kejadian. Berdoalah yang banyak agar suster Icha tidak kenapa-napa."
"Huhuhu ... ini salah aku. Aku yang salah. Aku yang terlalu egois sampai kejadian ini menimpa Icha. Aku bukan sahabatnya. Sahabat tidak akan membiarkan dia kenapa-napa, bukan?"
"Jangan menyalahkan diri sendiri, Sus. Kejadian yang menimpa suster Icha ini sudah tertulis di suratan takdir. Jadi ... jangan berpikir yang tidak-tidak."
"Bagaimana aku tidak berpikir yang tidak-tidak? Kalian tahu? Jika aku berbaikan dan menolong dia tadi pagi, maka dia tidak akan mengalami nasib buruk seperti saat ini. Ini semua salah aku. Icha, maafkan aku."
Keduanya masih berusaha menenangkan Dwi selama hampir sepuluh menit. Hingga akhirnya, Dwi memilih pergi buat ikut melihat tempat kejadian itu.
Mereka mencari. Terus mencari hingga tengah malam tiba. Tapi sayangnya, tubuh Icha masih juga tidak di temukan.
Aditya bak orang gila. Memaksa tim penyelamat buat mencari terus menerus tanpa berhenti.
"Maafkan kami, Mas. Kita harus menangguhkan pencarian ini. Karena ini sudah tengah malam, maka kita harus berhenti. Kita akan melanjutkan pencarian besok pagi."
"Tidak bisa! Kalian tidak boleh berhenti mencari Icha. Dia harus di selamatkan. Kalian tidak boleh menangguhkan pencarian ini. Karena dia harus di temukan dalam keadaan baik-baik saja."
"Mas. Kami tahu bagaimana perasaan anda sekarang. Tapi anda juga harus memikirkan tim kami yang sedang kelelahan. Mohon pengertiannya, Mas."
"Tidak aku bilang! Kalian harus tetap mencari sampai dia ditemukan."
"Dit, tolong pengertiannya. Kasihan mereka," ucap papanya yang sedari tadi ikut menemani.
"Tidak bisa, Pa. Tidak bisa! Mereka harus tetap melanjutkan pencarian agar Icha bisa diselamatkan."
"Aditya!"
Teriakan keras dengan suara cempreng yang cukup Aditya kenal. Siapa lagi pemiliknya kalau bukan Dwi. Dia berjalan cepat menuju ke arah Aditya.
Sejak kedatangannya, dia tidak menemukan Aditya karena terlalu banyak orang yang antusias ikut dalam pencarian itu. Tapi setelah tengah malam, orang-orang pada memilih pulang. Hanya tinggal sebagian kecil saja yang masih ada di sana. Itupun orang-orang dari bagian tim penyelamat hampir semuanya.
Saat melihat Aditya, rasa kesal dan amarah yang Dwi pendam, muncul memuncak secara tiba-tiba. Hal itu langsung membuat dia kalap dan ... plak! Sebuah tamparan dia layangkan ke pipi Aditya dengan keras.
"Apa-apaan ini?" tanya papa Aditya bingung.
"Anak om tidak tahu diri. Tamparan barusan aku berikan buat menyadarkan dia dari tidur panjangnya yang mungkin masih berada dalam dunia mimpi saat ini."
"Bicara yang jelas kamu! Jangan berbelit-belit."
"Om, anak om telah menyebabkan sahabatku hilang. Sekarang, dia harus tanggung jawab atas semua yang telah dia lakukan."
"Aku tidak pernah menginginkan ini terjadi padanya, Dwi. Jangan bicara sembarangan," ucap Aditya dengan suara lemah. Sangat lemah seperti bukan Aditya yang Dwi kenal sebelumnya.
"Jika kamu tidak menginginkan, maka semua ini tidak akan terjadi, Aditya yang terhormat! Kau yang membuat dia pergi dengan sikap juga kata-kata perih yang kau ucapkan. Sekarang, dia sudah pergi. Apa kau puas, hah?"
"Dwi ... tolong tenanglah, Nak. Jangan pekeruh suasana yang sudah keruh, sayang. Tidak ada yang menginginkan hal ini terjadi, tolong jaga kata-kata kamu ya."
Papa Dwi yang tidak ingin anaknya semakin memperburuk keadaan, langsung menjadi penengah. Dia yang sibuk mengurus orang bayarannya buat mencari Icha, langsung mencari Dwi saat sadar kalau anaknya sudah tidak lagi berada di dekatnya.
Orang tua itu menemukan anaknya sedang marah-marah. Maka dia langsung menghampiri anaknya untuk meredakan amarah tersebut.
"Pa. Papa tidak tahu apa yang terjadi. Jika bukan karena dia tadi pagi, maka semuanya tidak akan seperti ini. Icha pasti akan baik-baik saja sekarang."
"Dwi ... tolonglah, Nak. Papa tahu kamu sedang cemas. Tapi tidak seperti ini caranya. Jika kamu terus berdebat, maka semuanya akan semakin memburuk. Ayo masuk ke tenda dulu. Kamu harus istirahat karena hari sudah sangat larut malam."
Dwi mendengus kasar. Ingin membantah apa yang papanya katakan, tapi sayangnya tidak bisa. Karena apa yang papanya katakan itu semuanya benar. Maka dari itu, dia memilih pasrah dan mengikuti apa yang papanya katakan.