NovelToon NovelToon
Destiny Seeker

Destiny Seeker

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Petualangan / Anak Genius / Pendekar / Xianxia / Barat
Popularitas:20.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aryady

Aku terlahir terpisah dari kedua orang tua ku.

Hidup sendirian dalam keterbatasan padahal usiaku masih terlalu muda.

Orang-orang selalu saja memandangku dengan pemikiran yang buruk.

Pertanyaan demi pertanyaan selalu berputar di kepala ku, hati ku sakit.

Namun cahaya dari arah yang tak terduga datang untuk menolongku.

Meskipun dia adalah pembawa kebencian, bagiku dia tetaplah harapan yang tak tergantikan.

Dan kini aku telah bangkit. Bersama apa yang telah ia berikan, aku memutuskan untuk menjelajahi dunia demi mendapatkan jawaban yang aku cari.

Kalian penasaran dengan apa yang akan terjadi? Oleh karena itu bacalah Novel ini untuk mengetahui kelanjutan dari kisah Viole!

–––––––

Sedikit info, Ilustrasi yang aku tampilkan di Novel ini kebanyakan aku ambil dari Pinterest. Jadi di setiap akhir Chapter yang ada Ilustnya bakal aku kasih kredit, kalau masih ingat dan semoga selalu ku ingat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aryady, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21 – Conversation's

Pada sebuah padang rumput terdengar suara gemuruh, begitu pula pada area pegunungan dan hutan-hutan, belasan sampai puluhan ribu orang bergerak menuju satu arah disaat yang bersamaan.

Sebagian dari mereka menunggangi kuda, ada yang terbang juga berlari. Dengan satu tujuan yang sama, mereka semua melewati segala halangan, hingga tiba disuatu tempat yang indah nan luas.

Orang-orang itu masuk secara berkelompok dengan bergiliran, menyepakati untuk menemui Tuan mereka dalam keadaan yang sebaik mungkin.

Akibatnya banyak warga Kota merasa tertarik sekaligus kagum melihat pemandangan tersebut. Diantaranya adalah Viole dan Neila yang sedang bermain Sihir di Taman Kota.

“Nei, sepertinya Ayah mu dan Tuan Balft sedikit terlalu berlebihan.” Mereka berdua bersama warga yang lainya memperhatikan gerombolan tersebut dari jarak yang lumayan jauh.

Tidak satupun diantara mereka yang berpikir kalau orang-orang itu hanyalah rombongan biasa, bahkan Neila sampai menganggap Pasukan itu mirip seperti semut yang sedang berbaris mencari makanan.

“Wha... Ayahanda dan teman-temannya hebat sekali mampu mengumpulkan mereka semua. Apa itu untuk melawan Naga jahat?”

“Sudah pasti, tapi uh... Kuperingati, jangan menyebutnya jahat jika kamu masih mau tidur dengan nyenyak.”

<----<>---->

Cahaya sore pada waktu itu menyinari mereka semua dengan seadanya, kondisi awan yang sedang mendung membuat matahari kesulitan untuk turun menyentuh tanah.

Seorang Pemimpin Tim Petualangan bintang sembilan berdiri pada barisan paling depan, berkat kemampuan serta wibawanya, pria itu dipilih sebagai perwakilan untuk berbicara.

Ketika semua orang sudah berlutut penuh hormat, satu-satunya yang masih berdiri hanyalah dia sebelum ikut melakukan hal yang sama, kemudian mulai berbicara.

Awalnya dia menyapa menyanjung Lakius, menyebutkan siapa saja yang hadir dan baru menyuarakan keinginan Pasukan itu berdasarkan pengamatannya.

“Panduka, kami telah memasuki Kota ini, yang berarti kami sudah siap untuk menjalankan misi yang telah anda berikan. Mengabaikan risiko apapun yang akan kami hadapi, kami semua tidak akan merendahkan tanggung jawab dan harga diri kami.

Misi ini harus diselesaikan dengan sebaik mungkin, berdasarkan apa yang telah anda tunjukkan, kami akan berdiri di barisan terdepan.” Pria ini mengakhiri ucapannya dengan sedikit mundur kebelakang.

Untuk sesaat semua orang hanya bisa diam, menunggu jawaban dari Lakius yang tiba-tiba menciptakan sebuah cincin besar di belakang Balaikota menggunakan Sihir Api.

Perlahan cincin tersebut menerangi mereka yang berada di dekatnya, juga memberikan kehangatan ketika hari sudah mulai dingin.

“Dengan kedatangan kalian di sini, sesuai ucapan perwakilan, kalian sudah siap akan semua risiko yang harus kalian hadapi. Oleh karena itu buktikanlah kemurnian hati kalian kepada kami.

Bagi siapa yang masih tersisa noda di dalam hatinya, silahkan tinggalkan tempat ini bersama keburukan kalian. Tugas ini terlalu mulia untuk hanya mengambil keuntungan yang tidak perlu.

Menjaga ketentraman hidup orang lain adalah apa yang akan kalian lakukan di tempat ini. Setidaknya dengan melaksanakannya, kalian bisa menjadi pahlawan bagi diri kalian sendiri.

Sulit untuk menerima kenyataannya, tapi seperti itulah caranya untuk menjadi sosok yang dianggap 'baik' bagi masing-masing diantara kalian.

Huf... Angkat tangan kalian! Berdiri! Tunjukkanlah perjuangan dalam jalan yang telah kalian yakini! Jadikanlah kesempatan kali ini sebagai hal yang berharga! Atas nama jiwa dan raga kebanggaan kita bersama!

Tunjukkanlah kepada Dunia bahwa kita mampu! Masalah kecil seperti ini bukanlah tembok penghalang bagi kita! Bangkitkan lah api di dalam diri kalian!”

“““YEEEAAAAH!!!”””

Orang-orang itu kembali berdiri, mereka mengangkat tangan sambil bersorak gembira hingga menyebabkan suara gemuruh yang memenuhi Kota.

Pidato singkat dari Lakius sepertinya telah membuat semangat mereka menjadi membara, sampai membuat warga yang tidak terlibat sekalipun ikut berteriak bahagia.

Warga Kota menyambut hangat kehadiran sosok para Pahlawan.

Lakius tersenyum tipis melihat pemandangan tersebut, dia kemudian membalikkan badan, lantas menjentikkan jarinya untuk mengubah lingkaran cincin dibelakang Balaikota menjadi kembang api yang sangat indah.

Itulah acara penyambutan bagi mereka yang terpanggil. Kebahagiaan yang sederhana, sempurna.

Namun diantara semua kemeriahan tersebut ada beberapa yang bersikap berbeda, salah dua diantaranya adalah Viole dan Pemimpin Tim Petualang bintang 9.

Mereka berdua terlihat menyipitkan mata dalam keramaian, namun dengan perasaan dan isi pikiran yang tidak sama. Nampak dengan sangat jelas sekali bahwa mereka berdua sedikit merasa terganggu.

“Tuan Lakius...”

“Dia...”

““Mengucapkannya dengan sangat baik.””

<----<>---->

Karena operasi pemberhentian ini akan dimulai besok pagi, semua orang benar-benar terlihat sibuk ketika malam sudah tiba.

Mereka yang terlibat sibuk mempersiapkan diri dengan beberapa peralatan, sedangkan warga Kota mengemasi barang-barang mereka supaya bisa langsung berangkat ketika evakuasi.

Pada malam itu tidak ada yang bisa tidur dengan nyenyak, tidak satupun termasuk Viole yang merasakan keanehan.

Viole menggerakkan tangannya, dia meraba tubuhnya sambil melihat ke sekitar, dari situlah dahinya mengerut ketika mendapati dirinya berada di sebuah ruangan bercahaya redup.

“Apa? Bukankah aku sedang berusaha untuk tidur sebelumnya? Tempat macam apa ini?” Viole memperhatikan sekelilingnya, berusaha untuk mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu.

Tapi yang berhasil dia temukan hanyalah Neila yang menggigit bahunya padahal sudah tertidur, sangat tidak berkesinambungan. “Uh...”

Karena kebingungan harus melakukan apa, Viole akhirnya memutuskan untuk berkeliling. Dengan tubuh yang terasa sangat kaku seperti baru digerakkan setelah ribuan tahun, Viole berjalan secara perlahan.

Setelah melangkah beberapa lama barulah Viole menemukan sesuatu, suara seorang pria yang terdengar kurang senang. “Kau adalah yang 'dibebaskan' bukan? Untuk apa kau berada di sini setalah mengacaukan keseimbangan yang dibentuk oleh utusan ku?”

Lawan bicara dari pria itu hanya terkekeh, dia cukup lama seperti itu sebelum mengeluarkan jawaban yang membuat Viole terkejut bukan main.

“Tentu saja untuk menghadapi Bos terakhirnya, aku sudah sangat berpengalaman dalam membunuh orang seperti dirimu dan aku sengaja menyimpan mu di bagian paling akhir untuk bersenang-senang.

Kau tau? Jika aku berhasil mengalahkan mu maka Kakak ku akan terbebas, lalu kau tau apa yang istimewa dari peristiwa itu? Hahah! Benar! Semuanya akan kacau! Huahahahaha!”

Hahahahaha!

Hahahaha!

Hahaha.

Hahahahahahahahaha...

Suara tawa itu terus terdengar, berulang-ulang kali memenuhi isi kepala Viole, hingga pemuda itu terduduk lemas dan tak sanggup lagi untuk memikirkan hal lain.

[‘Ha? Kau pikir jiwaku terikat dengan tubuh lama itu? Konyol sekali.’]

“Siapa lagi-?!” Nafas Viole terputus-putus, dadanya terasa sesak dan mengalir darah pada area matanya, kepalanya yang terasa begitu sakit semakin memperparah kondisinya.

Sedikit demi sedikit pandangannya mulai menjadi gelap, bertahap sampai dia tidak bisa melihat apapun kecuali kegelapan.

“Suara itu... Diriku? Ha- Huh? HAH?!”

Dia, hampir menjadi gila.

Pukh.

Sebuah tangan kecil mungil yang muncul entah dari mana, menampar wajah Viole. Perlahan dia membuka matanya, menemukan seorang gadis jelita tengah tertidur di depan dirinya.

“Nei...” Viole memijit pelipisnya yang terasa sangat sakit, kemudian mencoba untuk duduk. “Ugh... Mimpi semacam itu lagi? Sialan... Semoga saja ini menjadi yang terakhir.”

Viole menghela nafas, berusaha untuk menenangkan dirinya, sampai kapanpun dia tidak akan pernah terbiasa akan sensasi yang terlalu mengerikan itu.

Ketika sedang merilekskan tubuhnya Viole tidak sengaja memandang keluar jendela, melihat Balft yang sedang duduk di atas atap Penginapan.

“Kesulitan untuk tidur?” Balft menyadari keberadaan Viole di dekatnya, kemudian bertanya.

Viole pun duduk di sebelah Balft.“Ya, hanya sedikit bermimpi buruk, anda sendiri?”

“Ehm... Tidur sudah bukan lagi kebutuhan bagi ku, jadi memandangi langit terasa jauh lebih menyenangkan.”

“Langit ya... Dulu aku juga sering memandangnya, walaupun pada akhirnya aku juga akan tetap tertidur.” Viole tertawa pelan, mimpi barusan seolah menghilang begitu saja saat dia mengobrol dengan Balft.

Pembicaraan kecil itupun terus berlanjut, mereka berdua membahas berbagai macam hal, mulai dari apa yang mereka sukai dan masih banyak lagi.

Sosok Guru dan Murid itu terlihat seperti sungai yang mengalir dengan tenang, keduanya bisa tertawa juga merasa sedih bersama, sangat sulit untuk dipisahkan.

Ditemani oleh indahnya malam, mereka berdua terus mengobrol, sampai masuk ke bagian di mana Viole berusaha untuk membungkam mulutnya, dia merasa tidak pantas untuk berbicara lebih jauh lagi, tapi dia tetap harus mengatakannya.

Pikirkan itu selalu dirinya pendam semenjak menemui Lakius secara personal, mungkin sekarang adalah saat yang tepat untuk mengungkapkannya, mungkin.

“Guru... Anu--apa murid sudah terlalu banyak menyusahkan, Guru? Sejak awal murid selalu bergantung kepada Guru, rasanya... Murid hanyalah beban yang kurang berguna.”

Menundukkan kepalanya, Viole tidak berani menatap wajah Balft, dia mengungkapkan isi hatinya terlalu mendadak, takut akan ke salah pahaman yang bisa saja terjadi.

Namun Balft, dia masih bersikap santai. Pria itu menyandarkan punggungnya sambil memandangi bintang-bintang, sebelum menjawab pertanyaan Viole dengan senyuman.

Baginya, Viole hanya sedang mengalami masalah anak muda yang belum bisa memandang Dunia.

“Begini, kau tau? Belasan tahun yang lalu aku pernah memukul wajah Guru kedua ku karena alasan yang sama, dia selalu menutupi kesalahan ku, tidak pernah mengatakannya.

Jika pada waktu itu aku benar, maka sekarang aku salah... Kematian kedua orang tua ku, aku yang dianggap sebagai Iblis Kecil pada 44 tahun yang lalu, ditangkap dan dititipkan di Panti Asuhan, dibawa oleh Guylos Kingdom untuk dijadikan sebagai Pasukan Militer, mengkhianati saudara ku sendiri di Black Knight, kematian Ibumu dan Kakekmu...

Itu tadi hanyalah sebagian kecil dari kisah hidupku, jika kau menganggap dirimu sudah berbuat terlalu banyak kesalahan, lalu aku ini apa?”

Seketika tubuh Viole terasa seperti disambar oleh petir, dia terdiam lemas tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun, dia kebingungan. Terus seperti itu hingga Balft menjawabnya sendiri.

“Tentu saja adalah sampah, aku ini sampah. Mana mungkin sampah seperti ku bisa hidup tenang jika masih terdapat terlalu banyak kotoran di dalam diriku?

Oleh karena itu, membantu orang-orang yang berharga di hidupku adalah sebuah tugas bagiku. Justru sepantasnya aku mengucapkan terimakasih kepada mu.”

Selesai menghina dirinya sendiri, Balft mengangkat tangan kanannya ke arah langit seperti akan menggapainya. Ekspresinya sedikit berubah pada saat itu, terlihat tak rela namun juga bahagia.

Balft telah membuat keputusan yang sulit.

“Hah... Meskipun begitu, waktu ku juga terbatas, aku memiliki terlalu banyak tanggung jawab. Karenanya, aku sudah cukup lama memikirkan ini... Mulai hari ini, aku akan melepas mu...”

“................ H-hah?”

Will Continue In Chapter 22>>>

1
Altern
mereka = merasa
Ariel
ditunggu kunjung baliknya bang
blouses and houses
Keren bingit ceritanya! Lanjut! Pantang mundur!
Windy Miller
Ealah tanggung jawab thor! Aku jadi lupa waktu gini grgr baca ceritanya
margoandme
Thor, i love you!! Aku mau bilang itu karena cerita ini moodbosterku banget!
CutieBun
ditiunggu kelanjutannya thor
꧁༒☬Sa̶d̶B∆Y☬༒꧂
Aku galau karenamu Thor! Mana lanjutannya Thor huhuhu
SugarplumChum
aku enggak suka digantung thor!
ShySnicker
sukses selalu authorr 、歴洟 aku selalu mendukung mu
SnuggleKitty
Ceritanya makin seruuuu! Semangat Thor!
BeautyBabe
next lanjut pliss up up
angels_basket
Sumpahhh rasanya kaya gak mau ngedip bacanya wkwkw, seseru itu tahu gak sih!!
Zizi Suartini
thooorr.he authorrr up lge dong thorr. yg bnyakk昨沽 smangattt thorrr
sunshinegyspy
wah kelamaan up nya. mendingan enggak usah up aja Thor daripada kami kelmaaan nunggu. jadi lupa alur cerita nyaa. jadi kesel
Savath: Gua masih sekolah, tugas numpuk. Susah cari waktu nya. Sabar kalo udah selesai semua nanti juga aku rajin up
total 1 replies
M Haitami
hmm menarik
SoftMambo
Seharian ini mumet dan ternyata author kesayangan aku update :) Aku tak jadi mengeluh
Savath: Haha, senang bisa membantu. Besok aku mungkin bisa membantu mu lagi
total 1 replies
GREED {KERAKUSAN}
lanjutoi
Savath: iya, pelan-pelan bro. Kalo buru-buru nanti hasilnya jelek
total 1 replies
GREED {KERAKUSAN}
lanjut
Savath: oghey, besok
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!