"Nyatanya, semua tak seindah kelihatannya"
Binar Latisha Orzia
"Kamu rapuh, aku tahu itu. Aku akan menjadi perekat hidupmu"
Awan Buana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juanda Afipasari Silaen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nadir ~ Bukder Pakder
Melihatmu dari kejauhan saja sudah membuatku bahagia.
Binar mengehela nafas panjang, kupingnya sangat panas sekarang. Entah sudah berapa lama dia mendengar ocehan dari orang yang ada di sebelahnya ini.
"Narrrr lo dengan gue gak sih." tegas Juni karena sejak tadi Binar selalu mengusap ngusap kupingnya.
"Denger,"
"Terus kenapa?"
"Apanya? "
Juni menyentil kening Binar geram, sahabatnya ini benar benar sangat menyebalkan terkadang.
"Kenapa lo gak angkat telfon gue semalam, gak bales chat gue, gue jadi lupakan bawak baju olahraga." sembur Juni pada Binar.
Binar menatap Juni yang sedang melipat kedua tangannya dan menatap dirinya seperti ingin menerkamnya.
"Kan udah gue bilang, semalam gue ketiduran, capek."
"Gak mungkin, emang lo capek ngapain? beresin rumah lo yang gede itu sendiri?" ketus Juni.
"Udah ahk berisik. Jadi gimana baju olahraga lo? entar lo dimarahi sama pak Ripko baru tau."
"Auh ahk, lo nyebelin, gara gara lo ni," ngambek Juni, Binar menarik rambut Juni.
"Ehh Paijem, ngomong apa tadi? " sinis Binar, Juni menyengir.
"Yaudah gimana? kita pinjem ke kelas lain, pasti ada yang olahraga hari ini." ajak Binar.
"Lo yang minjem yah,"
Binar menghela nafasnya, temannya ini sangat menyusahkan saja, siapa yang punya butuh siapa yang disuruh.
"Serah lo dah, buruan!" Binar menarik Juni keluar kelas, menanyakan kesetiap kelas apakah mereka ada pelajaran olahraga hari ini.
Binar dan Juni sudah memasuki tiga kelas dan sekarang mereka masuk ke kelas XI IPA 1, kelas Arkan.
Binar berdiri di ambang pintu dengan Juni, Arkan yang sedang duduk dikursinya mengajari beberapa orang disebelahnya, Arkan melihat kearah Binar, Arkan tersenyum kepada mereka.
"Tunggu bentar," ucap Arkan pada teman temannya, Arkan berjalan kearah mereka berdua sambil tersenyum.
"Ada apa Nar? " tanya Arkan, Binar menoleh kearah Juni memberi kode.
"Udah lo yang bilang, yayayaya." bisik Juni, Binar mendesis.
"Hmm Ar, kelas kalian ada jam olahraga gak?" tanya Binar.
"Ada, kenapa?"
"Les pertama kedua gak? " tanya Binar lagi
"Enggak, nanti les empat lima, kenapa? "
Binar tersenyum kecil lalu melihat kearah Juni, "Pas banget," bisik Binar pada Juni, Juni hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Hmm gue boleh minjem gak?"
"Jun-" Juni memijak kaki Binar supaya tidak membawa namanya.
"Eh gue, gak bawak baju olahraga. Boleh minjemkan? " tanya Binar.
Arkan tersenyum, "Oh, oke gue ambil," semangat Arkan, Arkan berjalan kearah mejanya mengambil baju olahraga dan menyerahakan kearah Binar.
"Nih," ucap Arkan menyerahkan bajunya.
"Makasih, nanti gue pulangi."
"Gak, gak usah, besok aja. Nanti gue keluar sekolah, ada panggilan buat olimpiade nanti," jawab Arkan cepat.
Binar mangut mangut sedang Juni yang dibelakang terlihat sangat senang sekali.
"Ooh oke makasih yah,"
"Iya sama sama." Arkan masih setia tersenyum kepada Binar.
"Yaudah, gue kekelas dulu yah Ar, dah. " Binar beranjak pergi dari sana bersama Juni. Arkan melambaikan tangannya dan di balas dengan Juni yang asik menyengir.
*****
Jam olahraga les pertama dimulai, semua siswa dan siswi mengganti pakai mereka dan langsung berbaris dilapangan cepat. Karena seperti biasanya, barang siapa yang terlambat berbaris di lapangan akan mendapat hukuman dari pak Ripko.
Pak Ripko adalah salah satu barisan guru kiler yang sangat disiplin dengan waktu.
Sekarang Pak Ripto sedang berdiri di lapangan basket dengan peluit kecil yang dikalungkan di lehernya.
Pak Ripto khas dengan suara bising pluitnya, dia sangat suka meniup pluitnya keras dari pada mengomel ngomel yang akan menghabiskan suaranya.
Pritttttttt
Peluit bunyi, tanda bahwa Pak Ripto menyuruh mereka segera cepat berbaris. Siswa sisiwi kelas XI IPA 4 langsung berhamburan berlari kelapangan, mereka langsung membentu barisan rapi.
"Auranya mber, panas banget." bisik Agam pada Rian dan Awan.
"Sstt, diam." desis Rian geram karena Agam sangat berisik, Rian tidak mau karena Agam dirinya diseret kedepan dan dihukum sama pak Ripko.
"Sebelum olahraga, kita pemanasan dulu, semuanya lari 5 kali putaran!" suruh pak Ripto.
Terdengar suara para bagian cewek yang tidak terima karena mereka harus lari lima kali putaran.
"Yah pak masa lima kali, sama kayak cowoknya, dua kali aja yah pak buat ceweknya," celetuk Rere salah satu siswi XI IPA 4.
"Iya pak masa ceweknya lima kali, "
"Jangan samaain sama cowok dong pak,"
Keadaan jadi riuh, para cewek banyak yang tidak terima, sedangkan cowoknya malah kesenangan.
"Biarin aja pak, gak papa, biar kami puas." celetuk Arif.
"Puas apa? " tanya Rere.
"Puas liat yang mantul mantul." ucap Arif membuat para cowoknya tertawa termasuk pak Ripko.
Para kaum cewek melihat sinis kearah Arif dan orang orang yang tertawa, termasuk pak Ripko.
Pak Ripko yang mendapat tatapan panas langsung meredahkan tawanya.
"Ehkm ehkm, baiklah, ceweknya lari dua kali aja," ngalah pak Ripko.
Para cewek bersorak senang sedangkan bagian cowok bersorak tak terima, keadaan kembali riuh karena perdebatan antara kaum betina dan jantan, pak Ripto yang mendengar keriuhan itu merasa sangat pusing.
Prittttt
Peluit pak Ripto berbunyi keras membuat orang orang yang ada disana langsung terdiam dan menutup kupingnya.
"Udah ributnya? " ujar pak Ripto.
"Udah pak. " jawab mereka serempak.
"Lari sekarang!" suruh pak Ripto.
Mereka pun berlari mengelilingi lapangan basket. Matahari yang mulai menampakan dirinya membuat para cewek mengelu panas.
"Gila panas banget Buder," seru Rere mengibas ngibaskan tangannya di depan wajahnya.
"Iya, liat ni baju gue basah." ucap Acha.
Agam yang tadinya berlari tiba tiba berhenti membuat Rian yang berlari di belakangnya menabrak punggungnya.
Bukk
"Kutil anoa, ngerem gak bilang bilang lo," cerocos Rian.
Agam masih diam, matanya melihat kearah para cewek cewek, Rian yang melihat Agam terdiam mengikuti arah matanya.
"Kenapa lo? " tanya Rian.
"Noh, " Agam menunjuk kearah punggung Acha, Rian melihatnya. "Ngejeplak pakder," ujar Agam.
Rian ikut melihatinya, mata mereka melekat disana.
Rere yang melihat Agam dan Rian melihat kearah punggung Acha melempar mereka dengan sepatu.
"Dasar mesum," teriak Rere membuat para cewek cewek yang ada disana melihat kearah mereka berdua.
Agam dan Rian langsung bergedik ngerih karena mendapat tatapan api amarah bukan asmara dari para cewek cewek ganas itu.
"Mati kita," lirih Agam berjalan mundur.
"Lo sih, bikin gue terlibat aja." ketus Rian sambil mengikuti Agam yang berjalan mundur.
"Gue hitung sampai tiga, kita lari sama sama," bisik Agam, Rian mengangguk.
"Tiga."
Agam langsung berlari meninggalkan Rian, "Woi tungguin gue." teriak Rian ketika para cewek cewek itu tengah berlari kearahnya.
Sekarang mereka sedang kejar kejaran di lapangan basket, amarah para kaum cewek sedang meledak ledak sekarang.
Entah sudah berapa kali putaran mereka berlari disana.
Pak Ripto yang melihatnya dari bawah pohon lumayan jauh dari lapangan basket tersenyum bangga.
"Ternyata mereka sangat semangat larinya, mungkin lain kali saya harus ngasih putaran yang lebih banyak lagi." ucap Pak Ripto.
Agam dan Rian sekarang bagaikan burunon para cewek, rasa lelah yang di rasakan para cewek tadi menjadi hilang karena kelakuan Agam dan Rian.
"Woi mata keranjang belanjaan emak gue, sini lo. " teriak Rere.
"Astaga, emak emak pemburu diskonan masih ngejar kita, bisa mati kita." ujar Agam masih berlari.
"Udah jangan ngomong aja, buruan lari cepat." Rian tambah mempercepat larinya.
Cowok cowok yang melihat mereka malah tertawa tak ada yang bantu, bahkan Awan sahabatnya sama sekali tak melihat kearah mereka yang sejak tadi meminta bantuannya, pandangannya sekarang jatuh pada cewek yang sedang tertawa dipinggir lapangan sana, Binar.
Binar tak ikut mengejar Agam dan Rian, dia memilih untuk melihat saja bersama cewek cewek yang lain yang berpikiran seperti Binar.
Tawa Binar makin pecah ketika Juni menghadang Agam dan Rian dari depan langsung dan membuat mereka jatuh saling tabrakan.
Awan yang melihat Binar tertawa melengkungkan sudut bibirnya, tersenyum.
"Mau kemana kalian lagi ha, dasar cowok mata kaki," ketus Juni sambil menarik baju mereka berdua, Rere membantu Juni menarik Agam dan Rian.
Rere dan Juni sekarang menyeret Agam dan Rian kepinggir lapangan lalu menarik narik rambut mereka berdua hingga membuat Agam dan Rian meringis sakit, malangnya nasib mereka berdua.
Salam dari author police lgi hate you🤭
Nextnya ditunggu di karyaku sudah UP,
- Psychopath And Me
- Not Until
#salam dari police l hate you kk🙏