NovelToon NovelToon
Oh My Ex-Husband

Oh My Ex-Husband

Status: tamat
Genre:Nikahkontrak / Perjodohan / Militer / Tamat
Popularitas:447.1k
Nilai: 4.8
Nama Author: Fara Dela Sandi

WARNING : CERITA INI MENGURAS EMOSI SAMPAI TUTUP PANCI AKAN IKUT MELAYANG! BERMENTAL LEMAH HARAP JANGAN BACA. TAKUT DARAH TINGGI NAIK MENDADAK😈


Bercerai? Itulah satu permintaan Kaiden. Selama tiga tahun, mereka tidak bersinggungan. Tiba-tiba Kaiden suami kontraknya itu lontarkan. Devina Deborah, merasa tidak bisa melepaskan Kaiden Louis. Perempuan cantik itu memiliki perasan pada sang suami.

Ia memberikan persyaratan. Dalam kurun waktu 3 bulan. Jika Devina tidak mampu menggoyahkan hati Kaiden untuknya. Maka ia bersedia menandatangani surat cerai tanpa perlawanan. Mampukah Devina menaklukkan hati Kaiden. CEO angkuh yang malah jatuh cinta pada Dokter berdarah Rusia-Indonesia itu? atau malah harus terpaksa menandatangani surat perceraian. Dan pergi dengan mengibarkan bendera, pertanda menyerah.

Simak terus kisahnya di sini. Jangan lupa simpan di perpustakaan untuk mendapatkan update tiap harinya. Dan jangan follow akun Ig author di "Dhanvi Hrieya"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fara Dela Sandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23. DATANG KE BALI

Suasana mungkin terlihat romantis dibeberapa orang. Apa lagi yang melihat Devina dan Kaiden. Devina mungkin terlihat beberapa kali tersenyum kecil. Dibalik hatinya yang kembali terluka. Kaiden bilang ada acara di luar dengan Zeno. Tapi malah berada di restoran mahal. Dengan buket bunga mawar di atas meja.

Makan malam romantis. Hah, rasanya Devina ingin tertawa keras karenanya. Tapi mengingat ada dua orang teman kuliahnya yang berada di meja lain. Yang terlihat mengamati ia dan pemuda ini. Devina menelan mentah-mentah rasa pahit.

"Kenapa nggak jujur aja kalau kamu mau makan malam bersama dia?" tanya Devina dengan nada kecewa.

Berbanding terbalik dengan ekspresi yang tengah ia perlihatkan. Devina tersenyum manis pada Kaiden. Kaiden paham. Karena posisi Devina sekarang, ada beberapa temannya yang tengah memperhatikannya.

"Aku tidak ingin kamu kepikiran." Kaiden menjawab dengan santai.

"Hah?"

"Bukankah kau hanya meminta waktuku. Untuk membuat aku jatuh cinta padamu. Bukan meminta aku untuk tidak bertemu dengannya," tukas Kaiden tenang.

"Lalu? Kalau aku meminta kamu untuk tidak menemui dia. Apakah kamu akan mau mengabulkannya?" sahut Devina.

Kaiden menyorot Devina dengan pandangan tak terbaca. Tidak bertemu dengan Arumi? Mengapa harus? Bukankah kesepakatan yang mereka punya hanya sekedar sampai sana saja. Tidak kurang dan tidak lebih.

"Jangan berlebihan, Devina!" tegur Kaiden pelan.

Devina membuang muka. Tidak tahu harus menjawab apa. Berlebih. Itulah yang Kaiden pikirkan.

"Kalau aku yang seperti itu apakah boleh?" tanya balik Devina.

Kerutan di pangkal hidung mancung Kaiden langsung terlihat. Apa maksud dari perkataan Devina?

"Apa yang kau maksud?"

"Jika aku menemui pria lain. Makan malam dengan pria lain apakah boleh?"

"Kau mau begitu?"

"Bukankah sama saja? Kamu bilang jangan berlebihan. Meminta agar aku tidak melarangmu untuk bertemu dengan wanita itu. Lalu kalau aku bertemu dengan pria lain tidak boleh?"

"Kau mau mencoreng nama keluargamu?"

"Nama keluarga?"

"Ya, keluarga. Jika aku bertemu wanita lain di luar. Mungkin orang akan menduga. Kolega bisnis. Sedangkan kamu? Mereka akan membicarakan kamu di luar sana. Hukum wanita dan pria itu berbeda. Mungkin secara tidak tertulis. Begitulah faktanya. Kaum kalian sendiri yang akan membicarakan sesama kalian. Contohnya, walaupun aku yang salah. Tetap saja orang-orang akan menyalahkan kamu bukan? Isterinya yang tidak becus jaga suami. Sedangkan saat kamu yang selingkuh. Kaummu akan bergosip. Kasihan sekali suaminya. Apa yang kurang darinya?" papar Kaiden dengan nada mengejek.

Devina menunduk. Apa yang dikatakan oleh Kaiden tidaklah salah. Itu adalah sebuah fakta dan realita. Terkadang sesama perempuanlah yang suka menjatuhkan.

Bibir Devina tidak bisa dibuka. Gadis itu hanya mampu diam. Kaiden mendesah kecil karena pusing dengan gadis ini.

"Kita pulang saja," ucapnya.

Kaiden bangkit terlebih dahulu. Devina menengadah. Demi menjaga nama baik masing-masing. Devina meraih buket bunga yang ada di atas meja.

"Pamit dulu pada teman-temanku!" pinta Devina lirih.

Manik mata Kaiden langsung beralih pada tiga wanita yang kini sedang asik dengan makan yang baru saja sampai di atas meja. Sibuk mengambil gambar hanya untuk dipajang di sosial media masing-masing.

"Hem!" sahut Kaiden.

Keduanya terlihat saling bergadengan tangan. Melangkah menuju meja teman-teman Devina berada. Sesuai perjanjian lama. Mereka harus terlihat harmonis di depan orang luar.

...***...

Mobil Avanza hitam itu terlihat membelah jalanan yang ramai lancar. Devina memilih memejamkan kedua kelopak matanya. Ada baiknya ia tidur saja dahulu. Perjalanan dari Jakarta ke Bali cukup lama menurut Devina yang bukan hobi traveling.

Sedangkan Kaiden. Pemuda itu meski berlibur. Tetap saja tidak bisa meninggalkan pekerjaan begitu aja. Ada laptop di pangkuan Kaiden. CEO satu ini harus meninjau beberapa laporan proposal yang dikirimkan oleh bawahnyanya. Merasa sudah tidak begitu menyenangkan untuk ditinjau kembali. Kaiden langsung menutup file pdf itu.

Manik mata Kaiden langsung melirik Devina. Yang terlelap di sampingnya. Mereka cukup tahan dengan saling tidak berbicara. Beberapa hari. Karena kemarahan Devina. Ternyata gadis ini juga bisa merajuk.

Sayangnya, jadwal mereka untuk honeymoon yang kedua tidak bisa ditunda. Di sinilah mwreh berada saat ini. Di Bali, pariwisata yang menjadi destinasi pertama. Bagi para turis mancanegara. Bahkan Eropa pun menjadikan pulau Dewata Bali. Sebagai tujuan utama dalam memadu kasih.

Deru mesin mobil berhenti perlahan. Pertanda mobil yang ditumpangi telah sampai ditujuan. Kaiden menarik pandangan matanya dari wajah Devina ke arah laptop. Pria itu mulai berkemas.

KLIK!

Pintu mobil telah di buka. Devina tersentak mendengar bunyi pintu mobil terbuka di sisi Kaiden. Pria berkulit sawo matang itu tersenyum ke arah kedua tamu mereka. Devina menggeliat kecil

merenggangkan persediaan tubuh.

Gadis cantik itu turun dari mobil. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah dekorasi yang benar-benar kental dengan patung-patung.

"Silahkan lewat sini, Tuan Kaiden dan Nyonya Devina. Kamu sudah memilihkan villa yang paling nyaman dan viewnya paling bagus."

Pria itu kembali berucap. Devina mengangguk antusias. Ia baru pertama kali ke Bali. Bukan lantaran tidak punya uang dan waktu. Devina termasuk kaum rebahan. Yang lebih suka menghabiskan waktu dengan menggambar desain baju. Dan berada di rumah seharian.

"Koper milik Tuan dan Nyonya sudah di bawa menuju villanya," ucap pria itu lagi.

Saat mendapati Devina celingak-celinguk mencari kopernya.

"Ayo langsung ke villa," titah Kaiden.

Ia sudah tidak betah di luar yang panas. Apa lagi tubuhnya tera agak lengket. Devina hanya mengangguk antusias. Sepertinya gadis ini lupa jika tengah marahan dengan Kaiden.

Ditengah jalan pemandu mereka menjelaskan beberapa tempat wisata yang bagus untuk dikunjungi. Serta rumah makan yang masakannya terkenal. Devina tidak mendengar penjelasan sang pria berusia tiga puluhan lebih itu. Gadis itu terlihat asik dengan pandangan yang sangat memanjakan mata.

Sabar-sabar ia mendengar deburan ombak. Aroma anyir dari air laut langsung tercium jelas oleh Devina.

Beberapa jalan dengan pandangan bagus mereka lewati. Sampai masuk ke dalam villa. Yang ukurannya sangat besar. Devina bak anak kecil yang melihat suasana baru. Gadis cantik itu langsung ngacir ke arah kolam berenang di belakang villa.

"Wah! Bagus banget. Benar kata orang-orang. Tempat honeymoon paling bagus emang di Bali!" gumam Devina dengan ekspresi takjub.

Lautan di bawah sana terlihat terbentang luas. Dengan air berwarna biru langit. Pasir yang putih menambah pesona. Pohon-pohon kelapa yang terlihat menjulang di pesisir pantai. Ah, harusnya kemarin-kemarin ia memutuskan untuk honeymoon ke Bali saja. Kalau tahu Bali lebih indah dari pada ekspresi Devina.

Ya, tentu saja sebenarnya yang membuat makin indah adalah tempat yang mereka tempati. Villa yang dengan harga permalam adalah tiga puluh juta permalam. Merogoh kocek yang tidak sedikit untuk view dan rumah yang bagus.

"Istirahatlah, jangan berniat untuk berenang!" seru Kaiden yang langsung tahu apa yang ada di otak Devina.

Devina mendengus kecil. Mendengar perintah dari si tuan muda Louis ini.

"Ya! Ya! Ya!" sahut Devina kesal.

Ia menghentakkan kedua kakinya seperti anak kecil sebelum kembali masuk ke dalam Villa melewati Kaiden begitu saja.

Bersambung...

1
Sala Wati
rasain kaiden mkanya jgn egois 🤭
Sala Wati
aduh saya juga mau
Woro Wardani
Luar biasa
Laurentia Delimarta
dlu dia yg mau cpt2 cerai, skrng mala ga mau
Laurentia Delimarta
jgn bucin Dev nanti susah sendiri, hea tegae d dpn Kaiden
Laurentia Delimarta
jahat banget, yg 1 pelakor
KarmilaFatiyah Hudong II
aaku suka kok sma kaiden...mudhan dia mncintai jane
nuning 29
ini serius, sekelas CEO yang punya gedung tinggi, naik mobil sekelas Avanza?
hehe ...
Mom Dee 🥰 IG : devinton_01
cerita yg luar biasa
v_cupid
yg cerita lain ada kah yg bukan mafia
v_cupid
mw yg lain..
v_cupid
mw cerita yg lainnya.. yg sama bagusnya dgn ini thor...
v_cupid
baguslah bs bangkit dan membuat kaiden sangat sakit.. begitulah.. br menyesal saat sudah tidak memiliki
v_cupid
kaiden kok ga curiga ya knp bs semua mnm obat tidur.. siapa yg membantu Devina kabur.. secara tdk mgkn melakukan semua itu sendiri
v_cupid
gmn mw hamil.. org masih perawan sebelum ke bali
v_cupid
kalo dulu pasti akan bahagia sekali
v_cupid
..
Ida Susmi Rahayu Bilaadi
bagus
v_cupid
just happy with devina kaiden.. don't get disturb with arumi
v_cupid
..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!