Berjuang mendapat hati sang suami, meski terluka fisik dan batin. Dia tetap bertahan ... dalam kesakitan yang di rasakan dalam pernikahannya. Dia selalu yakin dengan rencana besar Allah yang di berikan padanya suatu hari kelak.
Ketabahan dan kesabarannya tidak usah di ragukan lagi dari sosok Famira Az-zahra wanita shalihah yang sangat tegar dalam menghadapi ujian demi ujian yang di berikan Allah kepadanya dalam pernikahannya.
Bagaimana akhir pernikahan yang tidak didasari cinta?
SELAMAT MEMBACA!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _Ecyy_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
━━━━━━━⊰✿✿⊱•━━━━━━━
“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kalian kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya …”
(Q.S At-Tahrim: 8).
━━━━━━━⊰✿✿⊱•━━━━━━━
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar ....
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar ....
Asyhadu allaa illaaha illaaha ....
Asyhadu allaa illaaha illaaha ....
Adzan ashar berkumandang di Mushola dekat rumah Bara. Famira yang tertidur dengan posisi di peluk oleh Bara, menggeliatkan badannya. Dan mencoba untuk segera bangkit. Tetapi nihil, Bara memeluknya dengan erat sekali.
"Mas ...," ucap Famira membangunkan Bara lalu menepuk pipinya lembut.
Famira menyungging senyum tipis, melihat Bara sedang tidur, menurutnya lucu melihat wajah saat ini. Ia menatap setiap inci wajah pria di hadapannya dengan intens.
"Mas." Famira coba membangunkan Bara lagi.
Mendengar suara lembut itu, Bara membuka kedua bola matanya.
"Hmm, ada apa sayang?" tanya Bara dengan suara khas orang bangun tidur. Ia kembali mengeratkan pelukannya.
"Sudah azan, Famira mau shalat. Dan mas shalat juga ya." pinta Famira.
Bara mendekatkan wajahnya pada Famira, lalu mengecup kening Famira cukup lama.
"Aku mencintaimu," bisik Bara di telinga Famira.
Deg!
Jantung Famira berdegup dua kali lebih kencang. Pipinya bersemu merah karena gugup.
"Lepasin pelukannya mas, Famira mau mandi dan shalat."
"Sebentar saja, mas sangat suka dengan aroma tubuhmu."
"Ish, mesumnya mulai deh." Famira memukul dada bidang Bara.
"Biarin, istri sendiri juga. Daripada sama orang lain." keukeh Bara sambil mengacak-acak gemas rambut panjang Famira.
Merasa pelukan Bara sudah mulai longgar, kesempatan untuk Famira untuk kabur. Famira segera bangkit, refleks Ia mengecup singkat bibir Bara.
"Famira lebih mencintai mas." sahutnya malu, lalu berlari terbirit-birit ke kamar mandi.
Kecupan singkat dari Famira, membuat sesuatu di bawah sana terbangun.
"Ck, sialan. Baru gitu sudah bangun." umpat Bara pada dirinya sendiri.
Beberapa menit kemudian, Famira sudah selesai dengan ritual mandinya. Ia segera mengambil mukena dan sajadah di almarinya.
Bara duduk di tepi ranjang, menatap kagum pada wanita yang sedang menggunakan mukena di hadapannya sekarang.
"Kenapa, mas lihat Famira segitunya? ada yang salah?" tanya Famira risih dengan tatapan mata Bara.
"Tidak apa-apa, mas cuman bangga bisa memiliki istri seperti dirimu."
Famira tersenyum manis. "Gombal terus kerjaan mas."
"Biarin. Kenapa belum shalat?" tanya Bara menaiki sebelah alisnya.
"Famira tungguin mas." jawab Famira antusias.
"Mas nggak bisa Ra, kamu shalat sendiri saja." Bara memalingkan wajahnya dari hadapan Famira, ia dapat melihat raut kekecewaan di wajah Famira. Bara malu dengan dirinya sendiri, ia sudah lama tidak bersujud pada-Nya. Dosanya terlalu banyak, Bara malu dengan-Nya.
"Allah penerima taubat dari hambanya, Famira tahu mas merasa tidak pantas kan untuk kembali dan bersujud pada-Nya?" kata Famira, ia dapat membaca pikiran Bara saat ini.
"Ra, mas adalah hamba yang tidak tahu diri. Sudah lama, mas tidak melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim. Mas kecewa dengan diri mas sendiri. Karena belum bisa menjalankan perintah-Nya. Dosa mas terlalu banyak Ra. Mas tidak pantas untuk bersujud kembali pada-Nya." kata Bara merenungkan kesalahannya selama ini. Yang selalu melanggar perintah-Nya.
"Selama matahari belum terbit dari arah barat, Allah masih menerima taubat dari umatnya. Sekalipun dosanya seluas lautan mas. Sesungguhnya Allah masih menerima taubat seorang hamba selama nyawanya belum sampai di kerongkongan. Tidak ada kata terlambat mas. Selama kita mau kembali ke jalan-Nya," ucap Famira meyakinkan suaminya.
Jangan menunda taubat, karena semakin lama perjalanan yang ditempuh, kembalinya juga menjadi semakin sulit.
Bara diam, mencerna setiap kata-kata yang di ucapkan oleh Famira. Hati terenyuh dengan ucapan Famira.
"Mas, mulai dari mana untuk memperbaiki diri ini Ra?" tanya Bara, Ia sudah siap untuk hijrah ke jalan yang lebih baik.
Famira tersenyum senang. "Dari shalat mas. Apabila kita memperbaiki shalat kita. Maka Allah perbaiki hidup kita. Dengan shalat, kita terhindar dari perbuatan keji dan mungkar."
Bara tersenyum dan segera beranjak untuk mengambil wudhu untuk melaksanakan shalat.
Alhamdulillah ...
Famira menatap kagum pria yang baru selesai wudhu di hadapannya. Dengan rambut Bara yang sedikit basah karena terkena air wudhu, Bara terlihat sangat tampan di mata Famira sekarang.
"Suamimu memang tampan." bangga Bara, dan segera menggelar sajadah di depan Famira.
Famira memalingkan wajahnya malu, karena tertangkap basah oleh Bara.
Allaahu Akbar ...
Suara Bara saat takbiratul ihram.
Lantunan surah Al-fatihah dengan murrotal yang pas di telinga. MasyaaAllah, begitu indah sampai Ia tak mampu melepaskan pendengarannya dari tiap-tiap ayat yang di lantunkan oleh Bara. Memang suara Bara tak begitu merdu. Namun tajwid Al-qur'an yang di lantunkan tepat dan benar. Ternyata Bara tak seburuk yang terlintas di pikiran Famira selama ini.
Assalamu'alaikum ...
Suara Bara mengakhiri shalat dengan salam
Shalat mereka pun berakhir dengan khusyuk, Bara segera membalikkan badannya. Dan segera Famira mencium punggung tangan Bara.
Bara menengadah kedua tangannya, memohon ampunan kepada Sang Pencipta atas kesalahannya selama ini. Tak terasa bulir air mata jatuh di pipinya.
Famira yang berada di belakang, mendengar isak tangis dari seorang Bara Sadewa.
Bara menenggelamkan wajahnya dengan kedua telapak tangannya, menutup do'a dan tangisannya. Bara merasakan tangan lembut Famira, mengusap sisa air mata di pipinya. Kemudian memberikan senyum tipis kepadanya.
Bara meraih tubuh Famira, dan memeluk dengan erat.
"Tolong, bimbing mas menjadi suami yang lebih baik."
Famira mengusap punggung Bara.
"InsyaaAllah mas, kita sama-sama berjuang meraih Jannah-Nya."
"Terimakasih Ra, mas sangat beruntung bisa memilikimu." katanya lalu mengecup kening Famira.
"Nggih mas, semoga mas bisa istiqomah di jalan ini."
"Aamiin." Bara mengamini ucapan Famira.
Jika di dalam hati seseorang, terdapat keikhlasan dan kasih sayang. Nasihat dan ucapannya akan meninggalkan kesan dalam hati pendengarnya. Hati akan hidup ketika mendengar ucapan, dan nasihat yang di sampaikan dengan kasih sayang.
Tak peduli seburuk apapun masa lalumu, masa depanmu masih tetap suci dan masih bisa selamat akhirat & dunia. Yuk bertaubat dan berhijrah.