"Aku membiarkan diriku ditangkap oleh hukum, hanya agar aku bisa tetap berada di dalam duniamu."
....
Herry adalah kapten tim elit kepolisian Seoul yang dingin, kaku, dan menganggap dunia hanya sebatas hitam dan putih. Baginya, Marysa ratu mafia termuda yang kejam hanyalah target besar yang harus dia seret ke balik jeruji besi.
Namun, di balik borgol dan dinding penjara yang dingin, sebuah rahasia berdarah lima tahun lalu di Pelabuhan Incheon terkunci rapat. Marysa mengingat semuanya termasuk bagaimana dia mengorbankan segalanya demi menyelamatkan nyawa Herry. Sementara Herry? Amnesia pascatrauma menghapus seluruh eksistensi Marysa dari kepalanya, menyisakan tatapan asing yang penuh kebencian.
Di saat Marysa rela menerima semua siksaan penjara asalkan bisa berada di bawah langit yang sama dengan Herry, sebuah kabar menghantamnya tanpa ampun, Herry akan bertunangan dengan wanita lain.
...
apa yang difikirkan Marysa? Kabur? atau memilih dieksekusi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Nongki di Pos?
....
Langkah kaki mereka berdua memecah kesunyian gang-gang sempit di pinggiran Jakarta Utara. Jalanan makadam yang becek oleh sisa air buangan warga memantulkan cahaya temaram dari lampu-lampu teras rumah kontrakan yang berderet rapat. Di atas kepala, jalinan kabel listrik yang semrawut tampak seperti jaring laba-laba raksasa yang memayungi malam yang gerah.
Rangga berjalan di sebelah kiri Tania, sengaja mengambil posisi yang lebih dekat dengan sisi jalan raya yang sesekali masih dilewati motor dengan knalpot bising. Ada yang berbeda dengan pria jangkung itu malam ini. Bibirnya terus-menerus mengatup rapat, menahan seulas senyum yang seolah enggan luntur dari wajah rupawannya. Ingatan tentang bagaimana kaku dan dinginnya Tania saat mengaku sebagai kekasihnya di depan Sisca tadi benar-benar menari-nari di dalam kepalanya, memberikan sensasi hangat yang belum pernah dia rasakan dari wanita mana pun.
Tania yang berjalan dengan postur tegak lurus kebiasaan formal yang sulit dia hilangkan sesekali melirik Rangga dari balik sudut matanya. Sepasang alisnya yang tipis menyengkit heran, menciptakan lipatan kecil di antara kedua matanya yang sipit.
"Kenapa kamu dari tadi diam?" Tania akhirnya bersuara, menghentikan langkahnya sejenak di bawah bayangan pohon mangga tua. "Dan kenapa mukamu terlihat seperti sedang menahan sesuatu yang menggelikan? Jika ada yang lucu, katakan."
Rangga tersentak, ikut menghentikan langkahnya. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat seraya memamerkan deretan giginya yang rapi. "Ah, nggak... nggak apa-apa kok, Neng Tania. Cuma kepikiran martabak manis tadi aja. Oh iya, tak pikir-pikir... malam ini kamu kelihatan cantik bener bener, loh. Serius, gak bohong."
Pujian itu keluar begitu saja dari mulut Rangga, terdengar lebih tulus dan tanpa intonasi gombalan receh yang biasa dia gunakan. Tania hanya menatapnya datar, sepasang mata kelamnya tidak menunjukkan binar tersipu sedikit pun. Di dunia bawah tanah Seoul, kecantikannya adalah senjata, sebuah pelapis dari kekejaman klan berdarah dingin. Dipuji cantik oleh seorang pria yang bekerja sebagai penyapu jalanan dengan logat medok yang kental terasa seperti berada di dimensi lain yang ganjil.
"Terima kasih," jawab Tania pendek, kaku, lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Baru saja mereka berbelok di ujung gang menuju deretan kontrakan petak milik Tania, sesosok pria bertubuh gempal dengan kaos kutang hitam dan celana pendek jin muncul dari arah kegelapan warung kelontong. Pria itu memegang sebatang rokok yang menyala di jemarinya yang gatal.
"Walah, Rangga! Baru balik dari mana kamu, Ngga?" sapa pria itu dengan suara serak yang berat.
Namun, sebelum Rangga sempat menjawab, pandangan mata pria itu mendadak terkunci pada sosok Tania yang berdiri di belakang tubuh jangkung Rangga. Matanya yang agak buram akibat kantuk langsung melebar, menyisir penampilan Tania dari ujung rambut cokelat pendeknya, turun ke kaos oblong putihnya, hingga ke ujung sandal jepitnya. Ada tatapan menilai yang terlalu intim, jenis tatapan jalanan yang biasanya membuat naluri membunuh Marysa langsung bangkit dalam hitungan detik.
Deg.
Entah mengapa, melihat cara temannya menatap Tania, ada rasa tidak nyaman yang mendadak mencengkeram dada Rangga. Rasa protektif yang asing bagi seorang playboy sepertinya muncul seketika. Tanpa sadar, Rangga menggeser tubuh tegapnya ke kanan, sengaja menggunakan punggung lebarnya untuk menghalangi pandangan temannya dari wajah Tania.
"Biasa, Jon. Habis dari pasar malam depan," jawab Rangga, suaranya terdengar agak ketat, tidak selonggar biasanya. "Kenalin, ini Tania. Rekan kerja baruku di pos sapu jalanan sektor luar."
Pria bernama Jono itu tersedak asap rokoknya sendiri. Dia terbatuk-batuk kecil sebelum akhirnya menatap Rangga dengan ekspresi syok yang murni. "Hah?! Kamu jangan ngelawak, Ngga! Orang 3S , anu-secantik, seputih, dan sepesona ini... tukang sapu jalanan? Yang bener aja kamu! Kalo yang begini mah pantesnya duduk di ruang AC jadi kasir bank, bukan megang sapu lidi di bawah terik matahari!"
Rangga hanya tersenyum kecut, tidak menanggapi lebih jauh pujian temannya yang terasa mengganggu baginya.
Jono kemudian membuang puntung rokoknya ke selokan, lalu menepuk bahu Rangga akrab. "Eh, kebetulan banget kamu lewat sini. Itu di pos ronda belakang lagi pada kumpul. Si Doni bawa beberapa botol ciu eceran. Nongkrong bareng lah kita, udah lama kamu gak gabung."
Jono lalu melirik sedikit ke arah Tania yang berada di balik punggung Rangga. "Neng Tania mau ikut sekalian gak? Biar makin rame nongkrongnya."
Rangga dengan cepat menggelengkan kepala, tangannya bergerak memberi isyarat menolak. "Jangan, Jon. Tania ini perempuan, malam-malam begini gak bagus ikut nongkrong di pos ronda. Apalagi kalau anak-anak pada minum alkohol gitu. Takutnya nanti suasananya makin ngawur, terus Tania malah kena sasaran omongan atau keisengan bocah-bocah yang mabuk. Mending dia pulang istirahat."
Rangga tahu betul bagaimana liarnya malam di kawasan kumuh jika ciu sudah mulai mengalir ke kepala para pemuda setempat. Dia tidak ingin kesucian atau ketenangan rekan kerjanya ini terusik oleh bahaya jalanan.
Namun, sebelum Jono sempat mengiyakan ucapan Rangga, suara dingin dan datar dari balik punggung Rangga memecah perdebatan.
"Tidak apa-apa. Saya ikut," kata Tania.
Rangga membalikkan tubuhnya dengan cepat, menatap Tania dengan mata terbelalak bingung. "Loh, Neng? Kamu denger sendiri kan tadi si Jono bilang apa? Di sana ada yang mau minum-minum. Gak aman buat perempuan."
Tania menatap Rangga lurus-urus dengan sepasang mata kelamnya yang pekat oleh kehampaan. "Saya bosan di rumah. Saya ingin melihat bagaimana cara kalian... nongkrong."
Kenyataannya, Tania tidak pernah takut dengan alkohol, mabuk, atau keributan jalanan. Di Seoul, dia biasa mengelola kelab malam terbesar tempat ratusan liter alkohol mahal dikonsumsi setiap malam, lengkap dengan potensi tawuran antar-geng kriminal. Keberaniannya bukan karena dia naif, melainkan karena dia tahu bahwa dari jarak beberapa puluh meter di kegelapan gang, sisa-sisa anak buah setianya dari Klan Baekje selalu mengawasi dengan senjata tersembunyi di balik jaket mereka. Jika ada satu saja pria mabuk yang berani menyentuh seujung rambutnya, tempat itu akan berubah menjadi pembantaian dalam senyap.
Rangga menghela napas panjang, pundaknya merosot lemas melihat kegigihan di mata Tania yang tak terbantahkan. "Ya sudah... terserah kamu, Neng. Aku gak bisa melarang kalau kamu emang mau ikut. Tapi nanti duduknya harus terus di sebelahku, ya? Jangan jauh-jauh."
...
Musim dingin di Seoul seolah runtuh menimpa pundak Kapten Herry.
Pukul tiga dini hari waktu Korea Selatan. Ruang kerja Herry di Markas Besar Kepolisian tampak temaram, hanya diterangi oleh pendaran cahaya dari layar monitor komputer mejanya yang menampilkan data logistik pelabuhan internasional.
Herry duduk dengan posisi bersandar, namun jemarinya mencengkeram tepi meja hingga memutih. Napasnya memburu pelan di dalam keheningan ruangan yang mencekam.
Beberapa menit yang lalu, sebuah notifikasi sistem internal kepolisian berbunyi, membawa sebuah laporan rahasia yang dikirimkan oleh unit intelijen maritim di kawasan pelabuhan tikus Gyeonggi. Laporan itu berisi pernyataan dari seorang saksi mata seorang nelayan tuayang mengaku melihat seorang wanita dengan ciri-ciri fisik yang sangat persis dengan Marysa sedang menaiki sebuah kapal kargo kayu tanpa penanda pada malam hari, tepat beberapa minggu yang lalu.
Dan yang membuat dada Herry terasa sesak hingga mendenyutkan rasa sakit yang hebat di pelipisnya, tanggal dan jam kesaksian nelayan itu sangat cocok dengan waktu hilangnya Marysa dari Lembaga Pemasyarakatan Cheongju.
"Dia... benar-benar kabur lewat jalur laut," desis Herry, suaranya terdengar sangat rendah, bergetar menahan luapan emosi yang bercampur aduk di dalam dadanya.
Rasa resah yang pekat kini sepenuhnya menguasai jiwa Herry. Selama ini, seluruh tim elitnya dan kepolisian Seoul memfokuskan pencarian di jalur darat dan bandara internasional, mengira sang ratu mafia masih bersembunyi di dalam negeri untuk mengumpulkan sisa kekuatannya. Pengabaian terhadap jalur laut tikus ini adalah sebuah tamparan keras bagi harga diri profesionalnya.
Herry mengambil selembar foto Marysa yang terletak di samping komputernya. Matanya yang sedingin es menatap lurus ke arah manik mata wanita di dalam foto itu, mencari jawaban atas labirin misteri yang kian hari kian membingungkan otaknya yang stres.
Dengan informasi baru ini, arah investigasinya harus berubah total. Jalur kargo kayu malam hari dari perairan Gyeonggi biasanya hanya memiliki beberapa titik tujuan internasional di kawasan Asia Tenggara. Herry mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya berbunyi. Dia tahu, tidak peduli seberapa jauh Marysa melompat menyeberangi samudra, lencana emasnya dan rasa penasaran gelap di dalam jiwanya akan memaksanya untuk terus mengejar wanita itu hingga ke ujung dunia.
...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like nya 😇