NovelToon NovelToon
Quality Love

Quality Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:604.6k
Nilai: 4.8
Nama Author: Fathonah larakesi

Novel ini mengisahkan tentang seorang wanita hebat yang bernama salwa janatun adwiyah, yang sejak kecil ia sering diperlakukan tidak adil oleh sang ayah hanya karena sebuah alasan salwa tidak seperti saudari kembarnya yang cerdas, penurut dan mampu membanggakan orang tua.

seiring berputarnya roda kehidupan, sayangnya takdir berkata lain, di usianya yang masih belia sang saudari kembar mengalami tragedi kecelakaan bus hingga terbaring koma selama bertahun-tahun di rumah sakit, hingga perlahan pundi-pundi ekonomi merekapun mulai terpuruk, sejak itulah salwa memaksakan diri untuk bekerja demi menopang ke dua orang tua yang mulai kewalahan dalam memenuhi tagihan rumah sakit.

semua yang sudah dilakukan tentu saja belum bisa menutupi utang-utang mereka pada pihak rumah sakit yang semakin hari semakin melejit, hingga akhirnya atas keputusan sang ayah, salwapun terpaksa harus menggadaikan masa depannya dengan menikahi seorang pria yang berasal dari keluarga konglomerat.

suatu ketika semesta mengizinkan pertemuan pertamanya dengan lelaki itu, yang juga diketahuinya berprofesi sebagai pilot, namun tak ada yang bisa menyangka, pertemuan itu cukup merekah senyuman lebar dibibir salwa, bagaimana tidak pria bersinar itu adalah satu-satunya pria yang selama ini ia kagumi bahkan sejak duduk di bangku SMP, menyadari hal itu, salwa juga tidak bisa memungkiri bahwa pria itu sama sekali tidak mencintainya bahkan yang lebih mengerikan lagi, pria itu tengah menjalin hubungan asmara dengan wanita lain.

pernikahan itu terjadi begitu saja, hanya sebatas tinta yang terbubuhi diatas dua buah surat nikah, baru seminggu melantunkan ijab kabul kini pria itu berani melafadzkan kata cerai dihadapan salwa.

semakin hari semakin rumit saja kehidupan rumah tangganya, mereka hidup serumpun namun layaknya seprti orang asing yang tak saling kenal, sebelumnya hal ini sudah bisa dibayangkan oleh salwa, karena jatuh cinta sepihak itu memang menyakitkan, hingga akhirnya salwa memutuskan untuk membuat kesepakatan perceraian dengan lima syarat, agar keduanya bisa hidup dengan tidak terbebani satu sama lain, sungguh gigih perjuangan salwa untuk tetap kokoh mempertahankan makna dari sebuah cinta,hingga satu demi satu dari orang-orang terdekatnya mulai mengerti betapa besar kualitas cinta yang ia hadirkan di tengah-tengah mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fathonah larakesi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

*Manusia Penikmat Hina

Siang ini kak Sheila berkesempatan untuk menyambangi rumah kami, atas kejadian yang sudah-sudah, sejujurnya aku sedikit tak nyaman jika harus bertatap muka lagi dengannya, namun sebagai isteri dari sang adik kesayangannya itu aku harus tetap melayani dan menghormatinya layaknya kakak sendiri.

“Mana Qiyas?” Matanya menatap sinis ke arahku, sial badanku mendadak gemetar menghadapi wanita ini.

“Lagi keluar kak” jawabku ragu-ragu.

“Keluar kemana?”

“Emm, kurang tau, soalnya mas Qiyas gak bilang juga mau kemana”

“Owh…”

"Kak Sheila mau minum apa? biar saya buatkan" ujarku sungkan seraya meraih simpati dari kak Sheila yang selama ini selalu sinis padaku.

"Gak perlu, saya kalo mau apa-apa, saya tinggal ke dapur aja, inikan rumah adik saya" jawaban julid itu cukup menyentil lapisan jantungku didalam sana, ia lalu berlenggak dengan melipat tangan ke dada seraya melihat-lihat isi ruang tamu.

"Enak kan, nikah sama anak orang kaya? duduk dirumah tinggal mangku kaki, butuh apa-apa tinggal nyuruh asisten" ia terus menggemuruhkan suara, sambil memerhatikan beberapa foto pernikahanku dengan mas Qiyas yang sengaja ku pajang disitu, tak lama ia mulai melepaskan tawa sinis seperti tengah mengejek.

"Atau kamu emang gak punya malu? bersekongkol dengan orang tua sampai rela harus jual diri demi kesenangan semata!” ia menodongku lagi dengan kata-kata yang sangat tajam, aku bahkan hampir tak kuat menahan perihnya bola mata yang sebentar lagi mungkin akan mengeluarkan cairan bening dari panelnya.

"Hwuaah!" tak ada kata-kata yang bisa ku lontarkan hanya terdengar suara hembusan nafas yang tidak disadari oleh kak Sheila, serasa kalimatnya itu mengandung badai yang terus saja mengusir oksigen dari ruangan ini hingga menyulitkanku untuk bernafas.

Dari arah depan tiba-tiba mas Qiyas muncul, ia berhenti sejenak disisi pintu untuk melepas sepatu juga kaos kaki, kompak aku dan kak Sheila melempar tatapan ke arahnya, seketika itu juga kak Sheila berlari kecil menghampiri mas Qiyas, sementara aku masih berdiri ditempat ini dengan rasa sungkan yang tak bisa kucegah.

"Nuge? dari mana aja kamu?" tanya kak Sheila.

"Dari rumah temen"

"Oh yah? Pergi kok gak pamit sih sama dia?" Timpalnya dengan sengaja ingin memprovokasi keadaan.

“Sama siapa?”

“Ya sama isteri kamu lah, sama siapa lagi” Kak Sheila menyahut sambil melebarkan bola mata, sementara mas Qiyas sejenak menatap ke arahku dengan dingin, setelah itu ia kembali fokus dengan kak Sheila.

“Ngapain aku harus pamit sama dia? Gak penting!” Ketusnya.

Ya ampun hatiku benar benar ditendang sana-sini kayak bola kaki, rasa sakitnya memantul kemana-mana, ke dada, ke kepala, ke pinggang bahkan kembali ke bola mata, beberapa kali kucoba menenangkan diri dengan menarik dan menghembuskan nafas secara perlahan, meski hal itu sedikit bekerja akan tetapi mereka tak berhenti sampai disitu.

“Kamu tau kan? Apa tujuan papah nikahin kamu sama dia?” Mendengar pertanyaan kak Sheila yang menurutnya tak benar sontak mas Qiyas langsung buru-buru mengoreksi.

“No, gak gitu, yang bener adalah apa tujuan abinya dia nikahin dia sama aku, dan disetujui sama papah” Lagi-lagi pihak keluargaku yang terus disudutkan olehnya, mungkin kita harus bertukar kepala biar dia juga tau kalo yang ada diisi kepalaku malah sebaliknya, aku benar benar emosi, bahkan tanpa sadar aku mulai mengepal kencang telapak tangan hingga membentuk pelungku dengan sempurna.

“Iya kalo itu aku paham, soal uang kan?” Tambah kak Sheila, namun saat kak Sheila ingin melanjutkan ucapannya, tiba-tiba ia berhenti ketika ponsel mas Qiyas mulai berdering pertanda ada panggilan masuk dari seseorang yang saat itu juga langsung di jawab oleh mas Qiyas.

“Halo sayang?” Setelah membuka obrolan, mas Qiyas lalu bergegas keluar ke arah teras, ia berdiri disana sambil melanjutkan perbincangan itu dengan orang yang ada dibalik telpon yang sudah bisa ku tebak dengan pasti orang itu ialah suster Kiran, cukup lama ia berbincang diluar sana, menjauhi kami demi menyembunyikan isi obrolannya, hingga sesaat kemudian obrolan itu selesai dan mas Qiyas akhirnya kembali masuk.

“Siapa yang barusan nelpon?”

“Kiran…” Mendengar sahutan Qiyas yang cukup terang-terangan, sontak membuat Sheila sedikit kaget, hingga ia kembali bertanya dengan suara yang agak berbisik.

“Hah? Dia tau itu pacar kamu?”

“Dia tau…”

"Ouw yah?" Reaksi kejutnya terlihat disengaja, agar aku semakin tersudutkan di tengah-tengan mereka, sejak obrolan mereka dimulai, aku dibuat seolah-olah hanyalah manusia yang pantas menikmati hinaan mereka, rasanya ingin ku sulap hati ini berubah menjadi batu agar mata dan telingaku tak lagi sensitif dalam menanggapi aura negatif dari ucapan mereka.

"Gak usah kaget, dia tahu kok aku gak suka sama dia" tutur Qiyas sangat sinis yang langsung di sambut suara tawa dari kak Sheila, aku yang sudah terlalu kesal atas olok-olokan mereka, dengan segera ku langkahkan kaki menuju kamar, kedua kakak adik itu hanya mengernyitkan alis saat melihatku beranjak darisitu.

Apakah bumi benar-benar berbentuk bulat, tapi kenapa bagiku bumi seperti bergerigi, aku hidup di permukaan bumi layaknya berjalan tanpa alas kaki dengan menapaki duri-duri yang ada diatasnya, menangis percuma apatah lagi berteriak, karena nyatanya akulah penduduk tunggal dari bumi yang bergerigi itu.

*****

"Allahu akbar! Allahu akbar!" Kumandang adzan subuh mulai menggema, seketika menyeret tubuhku untuk bangkit dari tempat tidur dan bersegera keluar dari kamar menuju kamar mandi yang ada dibelakang untuk mengambil wudhu, namun saat melewati kamar mas Qiyas, aku melirik sedikit kearah pintu yang tengah tertutup itu, namun tak lama aku kembali melanjutkan langkah.

Usai berwudhu, aku mulai menuntun langkah kembali menuju kamar, sambil memperbaiki lengan baju yang tadi sempat ku gulung ke atas, namun sekali lagi saat tubuhku melintas didepan kamar mas Qiyas, aku kembali menegap disitu sambil memastikan keadaan, apakah penunggu kamar didalam sana sudah terbangun atau masih saja terlena dialam mimpi? Sepertinya dugaanku yang terakhir ada benarnya, tak pakai hompipah aku langsung mengetuk pintu kamarnya beberapa kali.

"Assalamu'alaikum!”

“Bangun, bangun, sholat subuh udah adzan tuh" terciptanya keributan diluar sini, langsung memaksa tubuhnya untuk terbangun dengan muka yang cukup emosi sambil berdesis jengkel atas kelakuanku itu.

"Sialan!" Dengan langkah lebar ia berjalan membuka pintu cukup kasar lalu berbicara tegas sambil menujuk wajahku.

"Hei, hei, hei, punya otak gak sih?” Ya ampun siapa diluar sana yang baru saja mengirim santet ke tubuhku? Kenapa dadaku mendadak terasa seperti ditusuk-tusuk paku? Lalu dicabut lagi, lalu ditusuk lagi? Saat otakku kembali berfikir jernih, aku sadar ternyata yang barusan menancap didada bukanlah paku santet melainkan kata-katanya, haruskah sesakit ini?

“Kamu gak ke masjid lagi? Udah adzan loh daritadi” Ku coba skip rasa sakit yang mulai meradang didada lalu berusaha tampil kuat dihadapannya, bukan apa-apa aku hanya berusaha mengingatkan apa yang perlu dan apa yang tak perlu, toh ini juga untuk kebaikannya.

“Heh, aku mau ke masjid atau gak itu bukan urusan kamu ya?”

“Ngapain sih sibuk ngurusin urusan aku?”

“Kamu memang gak pernah ngerti ya kalau di kasih tau, apa perlu aku bayarin guru les untuk ngajarin kamu ini dan itu? Biar kepala kamu ada isinya? atau kamu emang sengaja mau buat aku marah?" Tambahnya lagi.

"Punya otak gak sih?" kalimat ini yang terus saja terngiang di ingatan, yang membuat seluruh tubuhku lumpuh dihadapan mas Qiyas, saat ini aku tak mampu mengeluarkan sepatah kata selain hanya menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.

"Halaah, nangis lagi, nangis"

Braak…! mas Qiyas kembali menutup pintu kamar dengan anarkis, tak peduli dengan aku yang masih berdiri didepan sini sambil berderai air mata, ia sama sekali tak berniat untuk membujuk atau hanya sekedar menanyakan kenapa aku menangis, ya sudahlah ini mungkin juga teguran untukku, agar aku tak terlalu percaya diri untuk dianggap penting dalam hidupnya, buktinya aku memang bukan siapa-siapa dan tak pernah dianggap apa-apa baginya.

Dengan langkah gontai, aku bergegas menuju kamar, dan bersegera untuk melaksanakan sholat subuh, setelah selesai, tanpa melepas mukenah lagi, aku mulai berbaring diatas tempat tidur dengan tubuh yang tak berdaya, sambil menutup mata membayangkan bagaimana nasib rumah tanggaku besok dan seterusnya, namun tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara berisik yang berasal dari nada dering ponselku, mendapati nomor penelpon yang tak tertera nama, akupun menjawab panggilan itu dengan ragu-ragu sambil mendengarkan dengan teliti suara yang berbicara diujung telpon.

“Assalamu’alaikum nak, ini umi…” terdengar suara umi, seketika air mataku menitih lagi, ya ampun hatiku makin tercabik-cabik saja saat mendengar suara umi.

“Iya umi, hiiks…” aku berhenti sejenak saat tak bisa mengontrol suara nafas, mengambil jedah beberapa detik, setelah cukup aku kembali melanjutkan.

"Umi gimana kabarnya? Hiiks!" Aku kembali terdiam, sepertinya aku tak kuat harus berbicara dengan umi saat ini, suara sesenggukan itu semakin menjadi-jadi mengendalikan fungsi utama dari pita suara, hingga tak lama senyapku itu mulai memancing rasa penasaran dibenak umi.

"Salwa kenapa? umi, umi alhamdulillah sehat nak”

“Salwa? Salwa baik-baik aja kan?" aku segera menjauhkan handhpone agar umi tak mendengar suara tangisanku saat ini, lalu kembali mengatur suara dan pola nafas senormal mungkin, namun nyatanya aku tetap tak bisa mengontrolnya, sampai umi kembali bertanya.

"Salwa?"

"Halo? Salwa kenapa nak?" terdengar suara umi yang mencemaskan ku, aku yang sudah tak tahan langsung blak-blakan menangis diujung telpon.

"Salwa kangen umi, hiikss...hiiiks..”

“Salwa mau pulang umi, salwa pengen pulang..hiiks...hiiks"

"Lah, salwa kan sekarang udah jadi isteri orang, gak boleh sedih-sedih ya nak, umi juga dulu seperti itu kok, nanti lama-lama juga mulai terbiasa" sepertinya umi tak memahami makna kesedihanku saat ini, ia hanya menganggapnya sebagai tangis rindu.

"Umi, salwa..hiiikss..hiiikss"

"Salwa kenapa? Ada masalah lain nak? Coba cerita ke umi" rasanya ingin ku ceritakan semuanya pada umi, tentang tekanan batin yang sedang menghimpitku akhir-akhir ini, namun umi pasti akan semakin cemas saat tau keadaanku yang sebenarnya.

"Salwa? Salwa kenapa?"

"Gak ada apa-apa kok umi, hiiks….hiiks…”

“Salwa cuma kangen sama umi, kangen banget, hiiks”

"Umi juga kangen banget sama Salwa, nanti kalo ada waktu umi jalan-jalan kesitu ya?”

“Iya umi, hiikss…”

“Ini juga umi udah punya Hp, jadi kalo Salwa kangen sama umi, atau umi yang kangen sama Salwa, kita tinggal telponan aja, oke? Disimpan ya nak, ini nomor umi”

"Umi baru beli Hp ya?"

“Gak, umi gak punya uang buat beli Hp baru nak, ini dikasih sama nak Qiyas waktu kalian pamitan hari itu, Jangan sedih sedih lagi ya…" Setelah obrolanku dengan umi selesai, tiba-tiba dari luar mas Qiyas mulai membuka pintu lalu buru-buru menghampiriku disini.

"Ngomong sama siapa kamu?" terlihat mimik wajahnya yang mulai panik.

"Bisa gak sih, masuk kamar aku ketok dulu"

"Ini rumah aku, suka-suka aku” bentaknya dengan mata yang melotot, ya, wedding game, seorang pemain adalah pembuat aturannya, dan aku hanya dadunya, yang dengan bebasnya dia lempar kesana kemari tak berperasaan, bahkan dia lupa kalau dadu yang tinggal dalam rumah ini bukanlah benda mati.

“Ow iya lupa, tuan rumah ya?” Sahutku cukup kesal, yang hanya bisa ku ekspresikan dengan senyuman sambil menepuk jidat.

"Huuuftt, kamu ngomong sama siapa tadi? umi atau abi?"

"Umi, kenapa? kamu mau buat aturan juga kalau aku gak boleh telponan sama orang tua aku dirumah ini?"

"Kamu ngomong apa sama umi?" terus saja ia mengabaikan pertanyaanku, rasanya terlalu egois jika aku saja yang terus menanggapi pertanyaannya.

"Aku bilang aku rindu sama umi, puas?"

"Kalau sampe kamu ngomong macem-macem sama umi atau abi, liat aja…." terang saja ia mengancam ku dengan tatapan kebenciannya, aku sekarang tak habis fikir mas Qiyas yang dulu pernah hidup dalam anganku seakan berbanding terbalik dengan mas Qiyas yang telah nyata hidup disampingku saat ini.

Eeeiiiittts..🙋Udah Vote belum? udah? jangan lupa coment yah🤗

1
Siti Aisah
akhirnya setelah sekian purnama update😍😍
Jumi🍉
Baru aja mau muji bu Lela langsung terhepas lagi kedasar jurang, tarik lagi rasa harumu Salwa buat mertuamu itu wkwkwk, cepat banget mertuamu itu kena ainnya ckckck😫
Darti Purwanto
tetap saya tunggu updatenya ya kak
ωα⏤͟͟͞R∂αн🦐
ini Bu Lela sama Sheila suka banget ngerendahin orang
PrettyDuck: Halo pembaca setia Noveltoon 🤗
Aku baru merilis cerita berjudul : "In Between" ✨️
Kalau berkenan silahkan berkunjung dan nikmati ceritanya 💕

Mila tidak pernah menyangka kalau 'penghancur' masa remajanya akan kembali lagi jadi bosnya di kantor. Ini bukan cuma soal benci, tapi soal luka yang dipaksa sembuh saat pelakunya ada di depan mata.
total 1 replies
ωα⏤͟͟͞R∂αн🦐
cemburu mu menguras hati qias
ωα⏤͟͟͞R∂αн🦐
dimna kamu Thor ,, apakah tak rindu
Siti Aisah: ka kamu ok kan?
total 3 replies
Ambo Nai
seorang ibu dan mertua zhalim.karma mu otw buk.semoga suamimu di embat pelakor.
Siti Aisah
semngat terus ya kak
purwanto nugroho: aq masih setia menunggu kelanjutan ceritanya lho kakak author,, jangan lama ²😍😍
total 1 replies
ωα⏤͟͟͞R∂αн🦐
boleh g sih tuker tambah Bu Lela ,,thor🤭
Fathonah Larakesi: Waduh pake apa itu🤣
total 1 replies
ωα⏤͟͟͞R∂αн🦐
lagian g tau diri banget si elda itu udah tau qiyas punya bini masih aja mau caper
Fathonah Larakesi
Maaf bgt ya readersku bener2 telat ngupdatenya, stelah lebarn benerw bnyak kegiatn😌 jdi skrg baru bisa fokus nulis naskah lagi ya, autor upayakn bakalan ngupdate lbih dari 1 episode
Ramadhan Fhatir
kapan up lg thor, ko lama banget.....
ωα⏤͟͟͞R∂αн🦐
dimana kamu ,, apakah kau rindu sungguh susah buat lupa ,,hati tak bisa berdusta
anisa
ayo semangat up Thor...aku menunggu mas qiyas
ωα⏤͟͟͞R∂αн🦐
ke pom bensin Dong ya ,,dimulai dari nol ya 😂
ωα⏤͟͟͞R∂αн🦐: kapan up ka fat
total 5 replies
Dafa Jalalludin
jangan lama2 ya KK othor ngegamtung ceritanya 🙏🙏
ωα⏤͟͟͞R∂αн🦐
up lagi dong ka
Fathonah Larakesi: Diusahakan yaa☺️
total 1 replies
ωα⏤͟͟͞R∂αн🦐
akhirnya tau cerita yg sebenarnya,
Ramadhan Fhatir
kapan up lg ka????
ωα⏤͟͟͞R∂αн🦐
menanti up ka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!