Naima jatuh cinta kepada Vino, mereka tidak mengetahui bahwa mereka memiliki ayah yang sama. Naima lahir karna kekhilafan seorang tuan besar 19 tahun silam. sejak lahir Naima hanya tau bahwa ayahnya sudah meninggal.
Naima memiliki 2 sahabat bernama Ana dan Alan, namun sayangnya Ana harus pindah ke belanda mengikuti orang tuanya yang di pindah tugaskan. Alan menjadi satu-satunya sahabat yang selalu ada buat Naima.
peristiwa 19 tahun itu terungkap ketika Vino dan Naima mempertemukan kedua orang tua mereka.
Untuk memisahkan Vino dengan Naima, Lastri menikahkan Naima dengan Alan. Akankah Alan mampu mempertahankan pernikahannya yang tercipta tanpa cinta?
bagaimana kisahnya?
let's chek it out..! jangan lupa tinggalkan like and vote untuk karya pertamaku.. kritik dan saran dari kalian sangat penting untuk selalu memperbaiki karya ini.
selamat membaca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yati ayung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 23 Sesakit Ini Mencintaimu
Tanpa sepengetahuan Naima, ternyata Vino menemui Alan di rumahnya. Vino tau selama ini Naima tidak masuk kuliah karena tinggal sementara di rumah ibunya.
Dengan perasaan ragu Vino mengetuk pintu rumah Alan. Mama Alan membuka pintu dengan ramah
"Maaf dengan siapa ya?" mama Alan menyapa
"Permisi tante, saya Vino temennya Alan. Saya ingin bertemu dengan Alan bisa?" Vino menjawab dengan ramah.
"Oh silahkan masuk! sebentar tante panggilkan ya. Kamu duduk dulu aja" Mama Alan masuk ke dalam memanggil Alan. Tiba-tiba Sheyla datang entah dari mana dia habis pergi
"Hay.. siapa ya? temen Alan?" Sheyla sok akrab menyapa Vino.
"Aku Vino temannya Alan" Vino menjawab seperlunya.
"Oh, Vino yang waktu itu ulang tahun kan, aku ingat. Kenalkan aku Sheyla, sepupu Alan" Sheyla mengulurkan tangannya dengan antusias. Vino membalas uluran tangannya. Tiba-tba Alan keluar dari kamarnya.
"Ada apa Vin? Kenapa datang kesini?" Alan duduk di bangku dekat Vino
"Lan, aku..." Vino menggantungkan kalimatnya, melirik keep Arah Sheyla yang sedan memperhatikannya. Ternyata Alan mengerti perasaan Vino.
"Shey, sana masuk! mau tau aja urusan laki-laki" Alan mengedipkan matanya menatap Sheyla.
"ih Alan nyebelin banget! Yaudah aku masuk dulu ya" Sheyla masuk dengan muka di tekuk.
Setelah beberapa saat saling diam. Alan kembali membuka percakapan.
"Apa yang membawamu datang kemari Vin?" Alan menyandarkan tubuhnya, mengangkat satu kaki dan di tumpukkan ke kaki yang satunya.
"Kamu pasti sudah Tau apa yang terjadi antara aku dan Naima Lan. Jujur aku masih berharap aku bisa menikah dengan Naima. aku dan Naima saling mencintai dan kau pasti tahu itu Lan?" Vino mengungkapkan perasaannya.
"Soal itu? aku tidak mau ikut campur urusan pribadi kalian Vin! " Alan sebenarnya sudah menebak maksud kedatangan Vino ke rumahnya.
"Lan, aku mohon tolong kamu bicara pada ibunya Naima. Buat dia mengerti bahwa aku dan Naima saling mencintai" Vino mengepalkan kedua tangannya.
"Kamu mau kan melihat Naima bahagia?" Vino menambahi. Alan di buat dilema dengan permintaan Vino. Pikirnya Naima memang hanya akan lebih bahagia jika dia menikah dengan Vino.
"Aku mohon Lan" Vino mengangkat kedua tangannya memohon
"Vin, aku akan coba menemui ibu nya Naima. Tapi aku enggak janji akan berhasil atau tidak" Alan akhirnya tidak punya pilihan lain selain mengabulkan permintaan Vino.
"Baik Lan, aku sangat berterimakasih sama kamu. Naima benar, kau memang sahabat terbaiknya." Vino menggenggam tangan Alan.
"Sudah lah Vin, ini ku lakukan untuk kebahagiaan Naima"
Akhirnya Vino berpamitan pulang meninggalkan Alan dengan segala kekacauan di pikirannya. Alan tidak tahu harus berbuat apa, di benaknya sekarang dia harus menemui ibu Naima untuk meminta penjelasan tentang permintaannya tempo hari.
***
Vino sudah tidak tahan menahan gejolak rindunya kepada Naima. Dia memutuskan untuk menunggu Naima selesai kerja dan menemuinya. Vino merahasiakan rencana nya dari orang tuanya, Vino takut mereka akan melarang Vino menemui Naima lagi. Setelah beberapa lama Vino menunggu di parkiran, akhirnya Naima keluar untuk pulang. Tiba-tiba Vino menarik tubuh Naima memeluknya dengan erat.
"Naima, aku merindukanmu Nai, aku tidak tahan dengan kondisi ini"
Vino makin mengeratkan pelukannya, air matanya tak mampu ia bendung lagi. Dia tidak tahan terpisah dari orang yang di cintainya. begitupun Naima mengeratkan pelukannya, melepaskan rindu sedalam-dalamnya.
"Vino, aku juga rindu Vin. Aku sakit saat harus berpisah sama kamu Vin, hari-hariku kacau" Naima menangis di pelukan Vino.
Kemudian Vino menarik Naima ke mobil dan mengantarkannya pulang.
Setelah sampai di kost Naima, mereka berdua masuk kemudian kembali berpelukan.
"Aku tidak ingin berpisah sama kamu Nai, lebih baik aku mati daripada harus berpisah denganmu"
Vino dan Naima terbawa nafsu, hingga mereka merebahkan tubuhnya di ranjang, gejolak rindu yang selama ini tertahan malam ini mereka curahkan. Vino hendak mencium Naima hingga tiba-tiba Alan masuk tanpa mereka berdua sadari.
"Naima...!" Alan berteriak, membuat keduanya terperanjat dan seketika bangun
"Alan.. kapan kau.." Naima
"Kenapa kalian harus nekad seperti ini? kemari Naima!" Alan menarik tangan Naima.
"Alan aku dan Naima tidak.." kalimat Vino terpotong
"Tidak apa? Kalian berdua sama saja. Kalian mengikuti hawa nafsu kalian dengan berdalih saling mencintai" Alan menunjuk-nunjuk Vino
"Vino sebaiknya kau pulang!" Alan mengusir Vino dari tempat kost Naima
"Baik Lan, aku akan pulang. Tapi percaya padaku aku tidak seperti yang kamu kira" Vino akhirnya pulang dengan hati yang penuh amarah.
Setelah Vino pulang, kini Giliran Naima yang kena omelan Alan.
"Nai, aku tau kamu dan Vino saling mencintai, tapi jangan begini. Tindakan kalian ini tidak bisa di benarkan Nai. Aku bertanggung jawab atas keadaan kamu. Ibumu sudah memberiku amanat itu. Tolong kamu sabar, mengerti sedikit tentang keadaan kalian. Aku akan berusaha bicara sama ibumu" Alan marah
"Lan aku, Aku tidak sengaja Lan, kami terbawa suasana" Naima menjawab dengan terbata-bata
"Mulai sekarang aku yang akan mengantar dan menjemputmu kemanapun kamu pergi" perkataan Alan sontak membuat Naima terkejut. Ia marah sekaligus merasa terkekang dengan sikap Alan.
"Apa urusanmu? kalau pun aku melakukannya itu benar-benar bukan urusanmu!" Naima berbalik memarahi Alan.
"Nai, kau terlalu polos" mereka beradu argumen dengan suara yang sangat keras
"kamu enggak akan mengerti Lan. Karna kamu enggak pernah jatuh cinta" Alan mengangkat wajahnya, ucapan Naima menyakiti hatinya. Alan tidak bisa berkata apa-apa lagi untuk melawan argumen Naima. Lidahnya kelu, badannya terasa kaku
"Justru karna aku mencintaimu Nai, aku ingin melindungimu. Meskipun harus mengorbankan kebahagiaanku" Alan berbicara dalam hati. Tak terasa air mata nya menetes. Namun kembali di kejutkan oleh suara keras Naima
"Sekarang kamu pergi dari sini. Kamu dan ibu sama saja. Aku benci pada kalian semua. enggak ada yang bisa mengerti aku"
Naima berteriak histeris dengan beruarai air mata. Naima mendorong Alan keluar dan bergegas menutup pintu kemudian mengunci nya.
Naima dan Alan sama-sama luruh ke lantai bersandar ke pintu yang sama. Alan di luar dan Naima di dalam.
"kenapa semuanya enggak ada yang ngertiin aku huu huuu" Naima bergumam di tengah tangisnya
"kenapa mencintaimu harus sesakit ini Nai? aku tidak kuasa melihatmu menangis Nai." Alan bergumam dalam hatinya. Alan menundukan wajahnya, sesekali melirik ke belakang memastikan apakah Naima baik-baik saja di dalam.
Hingga beberapa saat kemudian Alan memilih pulang, sementara Naima terus menangis hingga ketiduran.
***
Vino baru sampai di rumahnya dalam keadaan mabuk
"Vino dari mana kamu jam segini baru pulang" tanya Arya
"Tadi Vino mampir ke rumah temen pa" tanya Vino dengan sedikit sempoyongan
"Kamu mabuk? apa kamu menemui gadis itu lagi" Arya kembali bertanya
"Hahahhaah iya pa. Vino sangat merindukannya pa, Naima juga merindukan Vino.. hahahha" Vino mulai ngelantur efek alkohol yang di teguknya
"Kurang ajar!" Arya mengangkat tangannya hendak menampar muka Vino namun di cegah oleh Sinta.
"Pa! jangan sakiti Vino, biar mama bawa ke kamarnya"
Akhirnya Sinta membawa anaknya ke kamar. Sinta merebahkan Vino di kasurnya, melonggarkan dasi yang di pakainya, melepaskan sepatu yang di kenakannya. Sinta duduk di samping Vino. Menatap wajah anak nya dengan rasa iba yang mendalam
"Mama enggak sanggup melihat keadaan kamu seperti ini Vin. Kamu satu-satunya harapan mama" Vino tak mendengar ucapan mama nya, Vino tertidur karna kepalanya sangat berat dan matanya mengantuk.
"Andai dulu mama tidak mengabaikan papamu, mungkin papamu enggak akan melakukan kesalahan itu Vin" Sinta menangis melihat apa yang terjadi pada anaknya. Setelah itu Sinta menyelimuti Vino, mencium keningnya kemudian meninggalkannya.
"Anak itu keterlaluan ma" Arya kesal
"Sudahlah pa, kita sabar aja. Vino sedang kalut, kita tidak bisa menyalahkannya begitu saja"
"ma.."
"Pa.. Mama mohon jangan kasar ke Vino. Kasihan dia pa" Sinta mengusap punggung suaminya untuk memberinya ketenangan.