NovelToon NovelToon
Sepetak Ruang Gelap

Sepetak Ruang Gelap

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Pembunuhan / Kriminal / Sudah Terbit
Popularitas:576.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: Dwi Wahyudi

Dharma adalah seseorang yang rasional dan pemberani. Namun, kali ini dia menghadapi hal-hal di luar akal sehatnya. Peristiwa-peristiwa mengerikan terjadi ketika dia sedang menyiapkan hadiah pernikahan berupa sebuah rumah. Ternyata sejarah kelam yang pernah terjadi di tempat itu berkaitan dengan asal-usul Nirmala, sang calon istri.

Sekelompok orang misterius muncul dan mengancam hidup mereka demi menguasai harta peninggalan zaman penjajahan. Di saat yang bersamaan, kehadiran narasumber novel "Pengakuan Pembunuh" karya Nirmala memaksa Dharma untuk menghadapi dosa masa lalu keluarganya.

Inilah sajian novel thriller dengan racikan horor, sejarah, romantisme, dan misteri yang unik.


~Dwi Wahyudi~
FB/Instagram: dewey.whjudy

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 23 "Malam Pertama"

Siang hari, tak banyak percakapan dalam perjalanan pulang dari rumah sakit. Sehari setelah pemeriksaan dokter itu aku diizinkan pulang dengan kondisi rawat jalan. Tentu saja puluhan obat harus rutin diminum dan segera check up jika ada keluhan.

"Jadi kamu sudah tidak tinggal di indekos itu? Rahasia apa lagi yang kamu sembunyikan dariku, Mas?" desak Nirmala di kursi sebelahku.

Pak Prasetya, calon bapak mertuaku yang sedang menyetir menyahut, "Sudahlah Nirmala, kasihan Dharma masih sakit."

"Tapi, Ayah ...."

"Lebih baik kita mengantarkan Dharma dahulu," nasehat Ibu Siti yang duduk di kursi depan Nirmala.

"Untung Ayah sudah pulang ya, kabarnya virus covid-19 itu sudah menyebar kemana-mana lho. Bisa-bisa setiap daerah di-lockdown seperti di luar negeri," kata Nirmala mengalihkan pembicaraan.

"Iya, tadi pagi di bandara semua orang di cek kesehatan. Sepertinya bakal semakin parah dampak virus ini."

Aku termenung memandang keluar, bersandar pada kaca mobil. Lalu lintas kendaraan tak mampu mengalihkan lamunanku. Dalam perjalanan, kembali resahku basah. Mendung mulai menjatuhkan dirinya. Suara gemericik dari rintik gelisah memantul di atap dan kaca mobil sewaan ini.

Sadjak, Sridiah, Dipo ... mungkin ini saatnya mengungkap jati diri kalian kepada keluarga Nirmala.

Namun, dari mana aku harus memulainya?

***

Sesampai di rumah baruku, kami disambut Bu Aisyah dan beberapa tetanggaku yang lain. Tentu saja Pak Asmudi dan anak buahnya juga masih di sana menyelesaikan pembuatan taman.

Sementara Bapak dan Ibu mertua berbasa-basi, Nirmala menggandengku masuk ke bangunan rumah yang baru itu.

"Mas, benarkah selama ini kau pindah tinggal ke sini? Bukan lagi di kost?"

"Ini seharusnya kejutan untuk besok, tetapi maaf terlalu cepat."

"Maksudmu, kau menyiapkan semua ini untukku? Untuk kejutan?" ucap Nirmala sambil membuka tirai jendela ruang tamu.

"Tentu saja, juga untuk keluarga kita nanti." Aku mendekatinya.

Nirmala tak menengok, pandangannya tertuju pada hamparan sawah yang luas dengan latar hutan jati. Beberapa bukit tampak menambah sejuk pemandangan desa ini.

"Kamu suka?"

"Terima kasih, Mas. Aku tak menyangka kamu tahu benar keinginanku punya tempat tinggal di pedesaan yang asri."

Nirmala membalikkan badannya menghadap padaku. Senyum simpul di bibirnya begitu kontras dengan bulir air mata yang menetes. Ingin aku memeluknya, tetapi ... ah sudahlah, besok baru halal.

***

Sementara Bu Aisyah menjamu keluarga Nirmala, aku memasuki kamar. Cocok dengan desain awal, Pak Asmudi sebagai memang bukan pilihan yang salah. Meski lebih sering bekerja outdoor tetapi pekerjaan indoornya juga bagus. Tinggal melengkapi perabotan-perabotan saja, nanti biar Nirmala yang memilih. Aku kira saldo rekeningku masih cukup. Biarlah habis asal tidak minus, uang bisa dicari lagi tetapi momen pernikahan hanya sekali seumur hidup. Insyaallah.

Kado dari Pak Kawilarang sudah di dalam kamar, tepat di tengah ruangan. Dari berat dan bentuknya, aku menerka di balik kotak papan dan kardus tersegel ini adalah sebuah brankas.

Hmm sejak kapan orang menikah dikado brankas?

Apakah di dalam brankas juga ada isinya?

Besok saja aku buka dengan Nirmala, toh akad pernikahan juga belum terlaksana.

***

"Sah?"

"Sah!"

Alhamdulillah, resmi sudah sekarang aku dan Nirmala menjadi sepasang suami istri. Meski aku sangat gugup dan tak begitu hapal kalimat akad, tetapi nyatanya tak perlu aku ulang pengucapannya. Mantap. Sungguh sebuah momen yang luar biasa. Suasana di gedung ini terasa mulai mencair saat para saksi dan tamu memberi ucapan selamat.

Mungkin aku pengantin pria tersadis yang pernah ada. Menggunakan pakaian adat Jawa tentunya aku harus bertrlanjang dada. Masih dengan balutan perban di tangan kiri meski tak lagi dengan balutan tergantung di leher, semakin sangar dengan jahitan di pelipis mata kanan. Tentu hal ini membuat setiap orang bertanya-tanya. Sementara, berita yang beredar adalah aku telah selamat dari peristiwa perampokan.

Tampaknya ada pihak-pihak tertentu yang tak ingin penemuan emas tersebut dipublikasi saat ini. Aku tak peduli, yang penting pernikahan ini terwujud dan semua prosesi berjalan lancar.

Bagai raja dan ratu sehari, aku dan nirmala duduk di kursi pengantin. Tak ada wali laki-laki dari pihakku. Hanya istri almarhum paman yang mendampingiku, dan beberapa kemenakan dari provinsi sebelah. Aku yang terbiasa merantau dan mandiri tak begitu akrab dengan mereka, hanya dengan bibi saja. Ah, seandainya saja orangtua dan pamanku masih hidup ... pasti semua akan berbeda.

Rupanya teman-teman Nirmala banyak juga, dari bank tempatnya dulu bekerja dan teman author terdekat yang bisa datang. Bahkan dia punya fans yang begitu seru, sibuk sendiri bagai reuni. Aku tak melihat Obi datang, Nirmala juga tak tahu, tetapi yakin telah mengiriminya undangan.

Di sisi meja prasmanan sebelah barat kulihat rekan-rekan kerja, kontraktor, mandor dan pemborong ternyata banyak yang datang. Mereka sedang asyik mengobrol sambil menikmati hidangan. Demikian halnya rombongan dari kantor pusat, termasuk bos perusahaan juga datang. Rupanya kepala produksi telah banyak membantuku menyebarkan undangan kepada mereka.

Setelah acara-acara tradisional tuntas, kini alunan musik dan lagu populer dibawakan beberapa biduan. Pop, kenangan, barat, bahkan dangdut koplo meramaikan acara hiburan ini.

***

Malam pertama ... begitu saja terlewatkan, karena aku sudah kecapekan. Tidak seharusnya kondisiku yang belum pulih ini dipaksakan bertempur.

Kini kondisi tanganku sudah membaik sangat baik. Bekas luka tembak itu tak lagi nyeri kecuali di tekan. Obat-obat dari rumah sakit itu sungguh berkhasiat. Fisikku sepertinya tidak ada masalah, tinggal luka di kepalaku saja yang masih mengkhawatirkan. Tepatnya di otak. Apalagi aku belum sempat tes MRI, hanya CT scan.

Diantarkan oleh kedua mertua, kami kembali ke rumah baru di pedesaan ini. Kru renovasi Pak Asmudi telah menyelesaikan pekerjaan dan pulang setelah menghadiri pesta kemarin.

Bapak dan ibu mertua sepertinya tak sabar ingin menimang cucu. Pantas saja, tak lama mengobrol kemudian mereka pulang. Padahal baru jam delapan malam. Bahkan minuman hangatnya belum dihabiskan.

Oke deh.

Lanjuttt ....

Membuka kado.

***

Jam 21.20 di sini suasananya betul-betul sepi, Bu Aisyah dan Suaminya baru saja pulang setelah kami menyelesaikan hitungan dan pembayaran katering tenaga Pak Asmudi selama renovasi rumah ini. Memang biasanya hari Sabtu aku bayar, tetapi kemarin kebetulan pas acara pernikahan. Aku beri sedikit lebihan karena masakannya tak pernah mengecewakan.

Setelah memastikan pintu belakang, samping dan depan terkunci, aku segera ke kamar. Pasti Nirmala sedang menunggu, sebagai ganti malam pertama yang ketiduran kemarin.

Kulihat istriku berdaster merah tua sedang menyisir rambut panjangnya, berdiri tepat disamping jendela dan memandang keluar. Dia tidak menengok ke arahku.

Ah, mungkin dia malu-malu. Namanya juga pengantin baru. Segera aku matikan lampu kamar hingga hanya ada cahaya rembulan remang-remang dari jendela.

Kudekati dia perlahan. Dengan sedikit menahan sakit di lengan, kugendong dan kurebahkan tubuhnya ke ranjang yang cukup sesak dengan sisa kado-kado pernikahan yang belum sempat kami buka.

Baru saja aku mau naik ke ranjang, tiba-tiba seperti ada tangan dari bawah ranjang menangkap kaki kiriku.

Apa ini?

Mengabaikan pesan masuk, segera aku nyalakan senter HP. Tidak ada tangan ....

Aku berlutut menengok ke bawah ranjang ....

"Astaga! Istriku, sedang apa kamu?"

"Mas, tadi ada perempuan berambut panjang di dekat jendela. Aku takut", jawabnya dengan menggigil ketakutan.

(Bersambung)

1
Aryani M.S
mudah2n aku bisa jadi penulis horor kek kamu thor
Erni SS
Makin seru bikin penasaran
Erni SS
Luar biasa
Erni SS
Lumayan
Niswah
ngeri and seruuuuu
Niswah
Luar biasa
Sinta Dwi lestari
g
Anik New
sumpah serem fotonyas
Anik New
ikut ngoss ngosan aku🤭🤭
IG: _anipri
inikah racauannya?
IG: _anipri
kalau aku takutnya kalau ada katak? hii, takut katak aku. apalagi rumahnya banyak lumut dan masih lembap
FJ
update lagi dong Kak sampai Tamat
deyura
Aku berhari hari maraton dan belum sempet like, huhu. Sukaa! plot twist banget ceritanya. Semangat Thor!
Liani Purnapasary
astaga kagett aq, ga berani lihat tutup mata 😅😅
💎hart👑
👣👣👣
Aqilla
ninggal jejak
tamatin yg versi darma dulu dong
pengejaran darma ga dilanjutkan ini?yahhh padahal lagj seru2 nya..kenapa bab selnjutnya mlh ganti yg versi nirmala
cerita negri sendiri pun jika dikemas dengan baik serta pas akan menjadi menarik..seandainya di filmkan pasti sangat meren karena berbagai genre di sematkan romantis,action,mistis,horor,misteri,petualangan.walaupun nonfiksi(tetapi masih bs ditelaah secra logis dan realistis?tetapi bnyak sekali pembelajarannya.
karya seperti inilah yg disebut karya berkualitas.wajib di apresiasi..
very good and so interesting.
thank you to the writer.
adik damar balas dendam itu.apa mungkin inspektur reyhan?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!