Enam bulan menjadi "burung kenari" konglomerat paling berkuasa di Jakarta, Keira Salim menyelesaikan misinya -- membalas dendam untuk kakaknya yang koma akibat perundungan -- lalu pergi tanpa jejak.
Rayhan Hartono terbangun di apartemen kosong. Cincin berlian merah yang dipesan khusus dari Jerman masih di sakunya. Surat perpisahan Keira hanya berisi satu kalimat: *"Terima kasih. Kita impas."*
Baru saat kehilangan, sang pewaris Hartono Group menyadari -- dia bukan yang menyelamatkan Keira malam itu. Keira-lah yang merancang segalanya sejak awal.
Dan sekarang, pria yang tidak pernah berlutut di hadapan siapa pun... bersedia merangkak ke ujung dunia demi membawanya pulang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 3: Duri di Balik Senyuman
Jam sembilan kurang lima, Aston Martin Rayhan berhenti di depan lobi HEALER.
Keira baru melepas sabuk pengaman ketika Rayhan menahan pintu dari dalam. “Jam berapa pulang?”
“Tergantung rapat.”
“Jawaban yang tidak berguna.”
Keira menoleh. “Kalau aku jawab jam enam, lalu rapat molor, kamu akan datang menjemput dan membuat satu gedung panik.”
Rayhan tersenyum, sama sekali tidak merasa tersindir. “Berarti jawab jam lima.”
“Rayhan.”
“Baik. Aku tunggu kabar.”
Ia berkata begitu, tetapi Keira tahu pria itu akan tetap mengirim orang untuk memeriksa jadwalnya. Ia turun dari mobil tanpa memperdebatkan. Kadang melawan Rayhan terlalu pagi hanya membuang energi yang lebih baik dipakai untuk menghadapi manusia kantor.
Dan benar saja, manusia kantor sudah menunggu.
Begitu Keira masuk ke lantai divisi parfum, bisik-bisik langsung menempel seperti aroma murah yang sulit hilang.
Tari menghampirinya dengan tablet di dada. “Ci Keira, rapat formula jam setengah sepuluh. Tapi...”
“Tapi?”
Tari melirik ke arah pantry kaca.
Di sana, Daniel Tjiang sedang berdiri bersama Sinta. Mereka tidak benar-benar berbisik. Mereka bicara cukup pelan untuk bisa pura-pura tidak sengaja terdengar.
“Jam tangan delapan ratus juta,” kata Sinta sambil melirik pergelangan Keira. “Gaji perfumer memang segede itu?”
Daniel tertawa pendek. “Kalau gajinya dari HEALER, tidak. Kalau dari tempat tidur Bos Besar Hartono, mungkin iya.”
Tari langsung menegang. “Ci, aku tegur?”
“Tidak perlu.”
Keira berjalan ke pantry. Langkahnya tidak cepat, tidak juga ragu. Daniel baru menyadari kehadirannya ketika bayangan Keira jatuh di meja marmer.
“Lanjutkan,” kata Keira.
Sinta tersentak. Daniel lebih cepat memakai senyum sok santai.
“Bu Keira, kami cuma bercanda.”
“Aku dengar. Bercandanya kurang rapi.”
Daniel melipat tangan. “Kalau merasa tersinggung, berarti ada yang kena.”
Tari menarik napas tajam, tetapi Keira justru mengambil gelas kosong dan menuangkan air.
“Daniel, kamu sudah selesai revisi accord jasmine untuk proyek Valentine?”
Wajah Daniel berubah sedikit. “Masih proses.”
“Deadline kemarin.”
“Aku perlu waktu. Tidak semua orang bisa langsung disorot karena punya koneksi.”
Keira meminum airnya seteguk. “Benar. Tidak semua orang bisa. Sebagian orang bahkan diberi waktu pun tetap tidak bisa.”
Sinta menunduk, pura-pura mengecek ponsel.
Daniel memerah. “Maksudnya?”
“Maksudku sederhana. Jam tangan ini hadiah, bukan CV. Kalau kamu ingin membahas karierku, pakai data. Langit Senja menang Golden Pear Award sebelum aku mengenal Rayhan. Formulanya masuk arsip museum parfum P&L sebelum orang kantor tahu aku memakai jam apa.”
Beberapa staf yang pura-pura lewat berhenti. Nama Golden Pear dan P&L membuat udara berubah.
Keira meletakkan gelas. “Jadi kalau kamu ingin menuduhku naik karena tempat tidur, pastikan dulu karya kamu cukup tinggi untuk melihat tanggaku.”
Wajah Daniel mengeras. Tidak ada yang tertawa, tetapi diam mereka lebih memalukan dari tawa.
Tari menunduk supaya senyumnya tidak terlihat.
Keira berbalik. “Rapat lima belas menit lagi. Kalau accord jasmine belum selesai, duduk di belakang dan catat.”
Hari itu lewat dengan rapat yang panjang dan kepala Daniel yang terus menunduk.
Sore menjelang malam, Rayhan benar-benar muncul.
Bukan di lobi, melainkan di depan lift khusus, mengenakan jaket hitam dan sarung tangan balap. Steven bersandar di dinding di belakangnya, wajahnya terlalu cerah untuk membawa kabar baik.
“Sirkuit,” kata Rayhan.
Keira menatap jam. “Aku belum makan malam.”
“Di sana ada makanan.”
Steven menyela, “Dan ada drama. Paket lengkap.”
Keira menatap Steven.
Steven langsung mengangkat tangan. “Aku tidak bilang apa-apa.”
Sirkuit balap privat itu berada di pinggir Jakarta, milik salah satu rekan bisnis Hartono Group. Lampu lintasan menyala putih, memotong langit malam. Deru mesin terdengar sebelum Keira turun dari mobil.
Di area lounge kaca, beberapa sosialita dan anak konglomerat sudah berkumpul. Di antara mereka, Jessica Liem berdiri paling mencolok. Gaun merahnya sederhana tapi mahal, rambutnya disanggul longgar, senyumnya indah dengan cara yang membuat orang lupa bahwa gigi juga bisa menggigit.
“Ray,” sapa Jessica manis. “Lama tidak lihat.”
Rayhan bahkan tidak berhenti. Ia menarik kursi untuk Keira. “Duduk.”
Jessica menatap Keira. “Keira, kan? Aku sering dengar.”
“Aku tidak bisa berkata sama,” jawab Keira.
Senyum Jessica menipis sesaat, lalu kembali sempurna. “Tidak apa-apa. Sebentar lagi kamu akan sering dengar banyak hal. Apalagi kalau seseorang yang sangat dekat dengan Rayhan sudah pulang ke Jakarta.”
Steven, yang sedang mengambil minuman, langsung batuk kecil.
Keira mengangkat mata. “Seseorang?”
Jessica menyentuh anting mutiaranya. “Ah, aku kira kamu tahu. Maaf, mungkin Rayhan belum sempat cerita.”
Rayhan meletakkan segelas air putih di depan Keira. “Jessica.”
Satu kata itu cukup untuk membuat Jessica berhenti, tetapi tidak cukup untuk menghapus duri yang sudah ia tinggalkan.
Tidak lama kemudian, balapan dimulai.
Rayhan masuk ke mobil hitam. Lawannya dua pria dari lingkaran sosial yang terlalu percaya diri. Mesin meraung. Lampu start menyala. Dalam hitungan detik, mobil Rayhan melesat seperti panah yang tidak mengenal ragu.
Keira berdiri di balik kaca. Angin malam menekan ujung rambutnya. Tari tidak ada di sini. Tidak ada aroma laboratorium. Tidak ada formula yang bisa ia kendalikan. Hanya ada pria yang membuat seluruh dunia di sekitarnya bergerak terlalu cepat.
Rayhan menang dengan jarak hampir memalukan.
Ketika ia turun dari mobil, sorak sorai terdengar. Namun ia tidak melihat siapa pun selain Keira. Dengan langkah panjang, ia menghampirinya, melepas sarung tangan, lalu mencium Keira di depan semua orang.
Ciuman itu singkat, tetapi cukup untuk membuat beberapa orang terdiam.
“Hadiah,” katanya.
Keira menatapnya. “Aku tidak menjanjikan hadiah.”
“Aku ambil sendiri.”
Jessica melihat adegan itu dengan senyum yang tidak mencapai mata.
Di sudut lounge, seorang anak laki-laki kecil, aktor cilik yang tadi diminta ikut iklan salah satu brand, berdiri dekat meja dessert. Namanya Rio Santoso. Ia memegang piring kecil, wajahnya canggung ketika Jessica memanggilnya.
“Rio, sini. Ambilkan aku stroberi.”
Rio mendekat dengan patuh. “Kak, stroberinya sudah habis.”
Jessica menatap piring kosong, lalu wajah anak itu. “Kamu tidak cari dengan benar.”
“Aku sudah tanya staf.”
“Anak kecil sekarang berani membantah, ya?”
Keira menoleh.
Jessica mengambil garpu kecil dari meja. Gerakannya cepat, hampir tidak terlihat. Ujung garpu itu menusuk punggung tangan Rio.
Anak itu menjerit.
Piring jatuh pecah. Semua orang membeku. Darah kecil muncul di kulit tangan Rio, tidak banyak, tetapi cukup untuk membuat wajah Keira berubah.
Dalam sepersekian detik, sesuatu yang jauh dan gelap menyambar matanya. Lantai sekolah. Tawa remaja. Tubuh seseorang jatuh dari ketinggian. Jeritan yang tidak selesai.
Keira sudah berada di depan Rio sebelum siapa pun bergerak.
Ia meraih pergelangan Jessica dan memutarnya ke samping. Garpu itu jatuh.
“Minta maaf,” kata Keira.
Jessica terkejut, lalu marah. “Kamu berlebihan? Itu cuma luka kecil.”
Keira menekan pergelangan Jessica lebih kuat. “Minta maaf.”
“Lepaskan aku!”
Rayhan mendekat, wajahnya langsung menggelap. Namun kali ini Keira tidak melihatnya. Matanya tertuju pada tangan Rio yang gemetar.
Anak itu menahan tangis, terlalu takut pada orang dewasa untuk benar-benar menangis.
Dada Keira terasa sempit.
“Steven,” kata Rayhan dingin.
Steven langsung bergerak. “Aku bawa anak ini ke rumah sakit. Sekarang.”
Rayhan menatap pengawal. “Kawal. Pastikan rekam medisnya lengkap.”
Jessica mencoba menarik tangannya dari Keira. “Ray, kamu percaya perempuan ini? Aku cuma bercanda dengan anak itu.”
Keira melepaskannya dengan dorongan kecil. “Bercanda pakai garpu?”
Kalimat itu seperti memantulkan ucapan Rayhan enam bulan lalu, tetapi kali ini wajah Keira jauh lebih dingin.
Rayhan meraih bahu Keira. “Kita ke mobil.”
“Dia menyakiti anak kecil.”
“Aku tahu.”
“Kamu tahu, tapi orang seperti dia tetap berdiri di lingkaranmu.”
Rayhan berhenti.
Di dalam mobil, pintu baru saja tertutup ketika Keira menarik tangannya dari genggaman Rayhan.
“Kamu sama saja dengan mereka, kan?”
Rayhan menatapnya. “Apa?”
“Orang-orang yang menganggap rasa sakit orang lain cuma hiburan. Selama pelakunya cukup cantik, cukup kaya, cukup berguna, semua bisa disebut bercanda.”
Rahang Rayhan menegang. “Aku sudah mengirim anak itu ke rumah sakit.”
“Setelah dia terluka.”
“Keira.”
“Apa?”
Keheningan jatuh di antara mereka, panas dan tajam.
Rayhan mendekat, satu tangan menahan sandaran kursi di sisi kepala Keira. Matanya gelap, tetapi suaranya justru rendah.
“Kalau aku memang sama dengan mereka,” katanya, “aku sudah mengurungmu seumur hidup di kamar tidur.”