Kehidupan remaja yang penuh warna nyatanya tak selamanya selalu indah. Kadang ada masa bertemu dengan masalah yang pelik yang justeru datang dari lingkungan keluarga dan teman.
Sama sebagaimana yang dialami Cita, menjadi remaja justeru membuatnya hampir frustasi.
Untunglah ia memiliki Damar dan Adi dalam hidupnya. Meskipun pada akhirnya Cita harus kehilangan salah satu di antara keduanya.
So' seperti apa kisah yang real kehidupan remaja pada umumnya? Yuk ndongeng bersama Cilamici 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Kabar Dari Bi Lastri
"Kalo ada apa-apa telfon aku ya Ta."
Kata Adi saat akhirnya mengantar Cita sampai rumah.
Pak Sholeh yang kebetulan sedang merokok di depan rumah sambil ngopi begitu melihat anak majikannya datang langsung menyambut.
Laki-laki paruh baya itu tergopoh-gopoh berjalan ke arah pintu pagar rumah dan membukakannya.
"Aku ngga bisa mampir, capek banget, aku musti istirahat biar besok bisa tampil dengan maksimal."
Kata Adi lagi.
Cita mengangguk.
"Ya Di, baiklah. Hati-hati di jalan. Salam buat Ibu."
Kata Cita.
Adi mengangguk.
Ia kemudian menyalakan mesin motornya dan pergi meninggalkan Cita.
Cita malas berbalik menuju rumah.
Setelah beberapa hari tak pulang, akhirnya Cita kembali.
"Sore Non."
Sapa Pak Sholeh.
Cita mengangguk saja.
Cita kemudian membawa langkahnya masuk menuju rumah.
Di dalam terlihat sepi.
Cita melangkah dengan masih malas-malasan, saat kemudian Bi Lastri muncul dari arah dapur membawa sepiring potongan buah mangga.
"Non Cita."
Bi Lastri tersenyum lebar.
Cita hanya membalasnya sekilas saja.
"Non Manda... Non Mandaa... Kak Cita pulang."
Bi Lastri memanggil Manda adik Cita.
"Haiish... Bi Lastri, kenapa manggil Manda, malas aku nanti ada Bibi Irma."
Kesal Cita.
"Non Cita belum tahu ya, Bibi Irma pulang, tidak di sini lagi."
Kata Bi Lastri.
Mendengar itu Cita tampak membulatkan matanya.
"Sungguh Bi?"
Tanya Cita.
Bi Lastri mengangguk.
Bi Lastri baru akan bicara lagi, saat kemudian terdengar Manda memanggil nama Cita.
Cita menoleh ke arah datangnya panggilan, tampak Manda adiknya kini berlari ke arahnya.
"Kak Citaaaa."
Manda melompat ke arah Cita dan memeluk kakaknya.
"Kak Cita dari mana? Manda takut sendirian."
Kata Manda merengek.
Cita memeluk Manda.
"Maafkan Kak Cita."
Lirih Cita.
"Jangan pergi dari rumah lagi Kak."
Pinta Manda pada Cita.
Cita hanya mengangguk pelan.
Bi Lastri menghela nafas.
Ah akhirnya ia bisa kembali pulang ke rumah dan istirahat begitu malam hari.
Sejak Irma adik majikannya itu pulang ke rumah orangtua, memang Bi Lastri lah yang diminta Ayah Cita menemani Manda di rumah karena Ayah Cita pulang selalu larut malam.
"Non Cita mau makan apa?"
Tanya Bi Lastri.
Cita menggeleng.
"Ngga Bi, tadi sudah makan sama Adi dan teman-teman lain sepulang sekolah."
"Oooh Non Cita masuk sekolah hari ini?"
Tanya Bi Lastri.
Cita mengangguk.
"Ya Cita sekolah tadi."
Jawab Cita.
"Ah yah syukurlah."
Ujar Bi Lastri.
Cita kemudian mengajak Manda ke kamar Cita.
"Oh ini Non Manda, buah mangga nya, tadi katanya ingin makan buah mangga."
Manda menatap piring berisi potongan buah mangga di tangan Bi Lastri.
"Masih mau makan mangga?"
Tanya Cita.
Manda mengangguk.
Cita meraih piring potongan mangga tersebut.
"Baiklah, Bi Lastri jadi bisa bebenah dapur yah."
"Ya Bi."
Sahut Cita.
"Iya, soalnya kata Tuan, hari ini akan ada yang datang untuk masak makan malam."
Ujar Bi Lastri.
Cita mengerutkan kening.
"Ayah mau memperkerjakan orang lagi?"
Tanya Cita.
Bi Lastri menggeleng.
"Entah Non, Bi Lastri juga tidak tahu, tadi pagi Ayah Non Cita hanya mengatakan itu saja. Suruh membersihkan dapur karena akan ada yang masak malam ini katanya."
Cita terdiam, lalu menatap Manda yang sudah berjalan lebih dulu menuju kamar Cita.
"Siapa memangnya."
Gumam Cita bingung.
Bi Lastri kemudian permisi kembali ke dapur untuk melakukan tugasnya.
Tentu ia tak mau nantinya sang majikan merasa Bi Lastri kerja malas-malasan saja. Memakan gaji buta karena tak melakukan tugas dengan baik.
Cita menghela nafas.
Ia pun akhirnya berjalan menyusul Manda sang adik menuju kamar.
Namun, Cita entah kenapa jadi ingat kejadian di cafe tadi.
Tiga gadis cantik yang naik mobil Ayahnya.
Siapa mereka? Kenapa mereka memakai mobil Ayah?
Cita perasaannya entah kenapa jadi tidak enak.
Begitu sampai kamar, Cita meletakkan tas nya di atas meja, melepas sepatu dan kaos kakinya sembarangan, lalu naik ke atas tempat tidur untuk rebahan.
Manda sendiri sudah duduk di karpet bulu di kamar Cita, sambil makan potongan buah mangga, Manda tampak mengambil tablet milik Cita dan kemudian bermain game.
Cita menatap langit-langit, ia sungguh penasaran dengan tiga gadis tersebut.
Apa karena ini juga, Ayah jadi tak mau lagi pakai supir setiap berangkat kerja?
Karena supaya mobilnya bisa dipakai para gadis muda itu?
Ah apakah Ayah jadi senorak itu? Bergaul dengan gadis yang seusia Bibi Irma?
Ayah sebetulnya kenapa? Dan siapa yang nanti akan datang?
Cita duduk dari posisinya.
Tidak!
Jangan katakan salah satu dari gadis-gadis muda itulah yang akan datang ke rumah malam ini?
Tidak!
Cita tiba-tiba saja gelisah.
Baru saja ia lega mendengar Bi Irma dipulangkan, kenapa pula harus ada kabar kedatangan orang baru lagi?
Cita menghela nafas.
**----------**