Rafasya tak mengira jika kelebihannya membuatnya harus kehilangan orang-orang yang di cintainya.
Rafa dan Raka akan berjuang demi cinta mereka, meski harus menghadapi semua tantangan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meidina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
gadis bodoh itu.
Rafa sedang duduk sambil menikmati matahari pagi, sedang Raka sudah siap berangkat.
"kamu mau kemana?" tanya Rafa melihat kembarannya itu.
"aku harus mengajar kelas seni bro, kebetulan aku di terima di sekolah tempatmu," jawab Raka.
"bagus kalau begitu, bekerjalah yang giat, mungkin aku akan busa masuk besok hari," kata Rafa tertawa.
"ya, karena murid-murid cewek mu sudah meneror ku, baiklah aku pergi," pamit Raka.
Raka pun sudah pergi dengan mengunakan mobil, pasalnya dia juga harus membawa beberapa peralatan.
saat sampai di sekolah, para siswa menyambut Raka dengan hangat.
"pagi mas," sapa semuanya.
"pagi, boleh minta tolong, bantu saya membawa ini ke laboratorium seni ya," kata Raka.
"siap mas, oh ya nanti kita mau belajar buat apa?" tanya Rian tak sabar.
"seharusnya melukis, tapi kalian pasti tidak membawa bahannya, jadi nanti kita mungkin belajar membuat sketsa dulu," jawab Raka.
"kalau bikin lagu, aku semangat ini," saut Andre.
"boleh kok, asal kamu bisa baca note balok," jawab Raka tertawa.
"itu mas yang susah," jawab mereka.
"sudah-sudah, sekarang masuk kelas dulu karena pelajaran pertama akan mulai," kata Raka.
para siswa pun pergi dari ruangan itu, sedang Raka melanjutkan beberapa lukisan yang belum selesai.
itu adalah lukisan yang penuh arti, bahkan membuatnya sketsanya membuat Raka lelah.
tak lama rombongan anak kelas XI IPS masuk kedalam ruangan sambil membawa peralatan lukis mereka.
"selamat pagi kak," sapa semua murid yang duduk di kursi masing-masing.
"pagi, kali ini kita akan menggambar suasana pedesaan, atau kalian boleh melukis apapun yang ada di otak kalian, hari ini tidak ada batasan, lukisan harus sesuai keinginan kalian, sekarang kita mulai," kata Raka.
Raka menghampiri satu persatu muridnya, lukisan itu terlihat abstrak.
Raka hanya tertawa dan membantu mereka menemukan konsep, tapi saat di murid terakhir.
Raka malah terkejut melihat gadis itu melukis Rafa, "kamu menyukainya?" tanya Raka langsung.
"ah ... tidak, saya hanya kagum padanya, karena Aira yang dia miliki," jawab gadis itu.
"siapa namamu?".
"Loly," jawab gadis itu.
"Loly," kata Raka mengulang perkataan gadis itu.
"eh bodoh, ambilkan air dong aku butuh untuk mencuci kuas nih," kata Ratna.
"baiklah," jawab Loly.
"hentikan, kamu Ratna ambil sendiri jangan menyuruh murid lain, saya tak suka itu," kata Raka.
"baiklah kak," jawab Ratna.
"Loly lanjutkan lukisannya," perintah Raka.
saat semua murid melukis, Raka memainkan gitar dengan lembut dan bisa membius para pendengarnya.
para siswa pun merasa begitu tenang dan dapat melukis dengan baik, sedang Loly malah sangat membenci irama itu.
mereka pun tak sadar hingga jam pelajaran habis,"kalian bisa melanjutkan lukisan itu di rumah, dan setelah itu kumpulkan di saya,", kata Raka.
"baik pak," jawab semua muridnya.
kini giliran anak kelas X IPA, mereka sudah datang dengan gitar di tangan mereka.
sedang di rumah Rafa melihat Lulu yang memperhatikan dirinya, tapi gadis itu tak berani mendekat.
ternyata Adri baru pulang setelah menjemput Rania pulang dari TK, Rania langsung menghampiri Rafa.
"siang kakak Rafa."
"siang cabtik, bagaimana sekolahmu?" tanya Rafa.
"semuanya berjalan baik, tapi tadi ayah tak sengaja menabrak Bu guru di kelasku," kata Rania.
"itu kecelakaan, habis murid-murid kalau keluar dorong-dorongan, beruntung guru tadi tak jatuh," jawab Adri
"jadi apa dia guru yang cantik, hingga om malu begitu?" goda Rafa.
"sudahlah, ayo nak kita ganti baju terus ikut ayah ke pengilingan, karena hari ini ada muatan banyak yang harus di kirim ke luar Jawa," kata Adri.
"siap ayah," jawab Rania.