NovelToon NovelToon
Seducing My CEO

Seducing My CEO

Status: tamat
Genre:Romantis / CEO / Romansa-Solidifikasi tingkat sosial / Tamat
Popularitas:96.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yuna.L

Berlatar belakang Korea!

Cerita ini sangat berbelit-belit dan bertele-tele. Jadi, yang ga sabaran mohon jangan membaca cerita ini!

Tidak semua novel sesuai dengan kriteriamu. Jadi harap bijak dalam menyikapi! Sebaiknya kalau merasa tidak cocok langsung pindah saja ke novel lain. Jangan membaca kalau hanya ingin menghujat!!

Terima kasih.


Menceritakan kisah Sena yang merayu CEO selama 90 hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuna.L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 23

Juhan beranjak dari kursinya dan melangkah mendekati Sena.

"Kau mau main-main denganku?" Juhan membungkuk dan menempelkan bibirnya ke bibir Sena.

Tindakan Juhan yang tiba-tiba itu sangatlah mengagetkan Sena, sampai-sampai wajah wanita itu berubah menjadi rona kemerahan. Namun itu semua berlangsung sangat singkat. Sebab, Juhan dengan tiba-tiba melepaskan ciumannya dan meninggalkan sensasi gigitan di bibir Sena.

"Akh, kau menggigit bibirku," ucap Sena, seraya menyentuh bibirnya dengan jarinya.

Juhan menatap Sena dingin, tanpa senyuman. "Tawaranmu tidak berlaku untukku. Karena kau telah menghilangkan payungku, jadi kau harus menggantinya."

"Sebenarnya aku tidak menghilangkannya. Payung itu hilang karena dicuri orang," jelasnya lagi.

"Apa pun alasannya, kau harus tetap bertanggung jawab. Dan kali ini tidak ada toleransi untukmu," tegas Juhan, tidak ingin dibantah.

"Baik, aku akan menggantinya. Permisi." Sena berpamitan dengan rasa kesal. Dia berjalan keluar dan kembali menuju ruang kantornya. Ciuman yang dia harap dapat menggoda Juhan, ternyata tidak membuahkan hasil sama sekali.

Sena tahu, Juhan memang tidak mudah didekati. Bahkan kemampuannya dalam membaca sifat Juhan juga masih terbatas, karena pria itu memang sulit dibaca dan dipahami.

"Jika memang tawaranku tidak berlaku terus kenapa dia tadi menciumku? Dasar laki-laki mencari keuntungan. Seharusnya dia mengikhlaskan saja payung itu. Cuma payung kecil juga. Pelit sekali." Sena menggerutu kesal.

Ting !

Sena membuka notifikasi ponselnya.

Hyemi :

Sena, apa kau sedang sibuk? Aku bosan sekali hari ini. Rasanya malas bekerja.

Sena :

Aku tidak sibuk. Sama, hari ini aku juga malas bekerja.

Hyemi :

Aku sudah berpikir, sepertinya kata-katamu tadi pagi benar. Aku tidak boleh menjauhi Doyun. Aku akan berusaha mendapatkan cintanya.

Sena :

Itu bagus. Aku mendukungmu.

Hyemi :

Terima kasih. Kau sendiri bagaimana? Apakah hubunganmu dengan Park Juhan sudah dekat? Apa rencanamu selanjutnya?

Sena :

Ada kemajuan, tetapi kami masih belum begitu dekat. Mau tidak mau aku harus menggodanya sampai dia benar-benar menyukaiku. Karena kalau tidak, kontrak kerjaku bisa-bisa tidak diperpanjang olehnya. Kontrak kerjaku sisa satu bulanan lagi. Aku tidak punya banyak waktu.

Hyemi :

Kau harus segera gerak cepat untuk membuat dia menyukaimu. Tapi aku lihat, Park Juhan sudah mulai menyukaimu. Kau tinggal meyakinkan dia agar dia menjadikanmu kekasihnya.

Sena :

Iya, aku mengerti. Aku akan berusaha.

Sena melihat jam dinding yang saat ini sudah menunjukkan pukul 12.00 siang. Sebelum beranjak pergi makan siang, Sena memasukkan ponselnya ke dalam laci meja yang setiap harinya tidak pernah terkunci, selalu seperti itu.

"Sena, kau tidak pergi makan siang?" tanya Bora.

"Ini aku mau pergi ke kantin," jawabnya, seraya bangkit dari duduknya.

"Ayo bareng sama aku," ajak Bora yang dibalas anggukan oleh Sena.

Sewaktu Sena pergi, Hayoon diam-diam mengendap-endap mendekati meja kerja Sena.

"Aku ingin tahu seperti apa ponsel baru wanita itu," lirih Hayoon, sembari membuka laci meja kerja Sena.

Dia mengulurkan tangan dan mengambil ponsel Sena.

Hayoon tersenyum miring kala mengetahui ponsel Sena dengan mudah dapat dimasuki, tanpa kunci pengaman.

Hayoon dengan liciknya mengotak-atik ponsel Sena, membuka dan membaca pesan-pesan yang ada di dalam ponsel tersebut. Senyum wanita itu mengembang ketika ia berhasil menemukan ide busuk yang tiba-tiba terlintas di benaknya.

"Ohhh.. Jadi ini alasan wanita itu mendekati Juhan. Aku akan menyimpan chat ini sebagai bukti kalau Sena memang punya maksud terselubung kepada Juhan. Aku akan menggunakan bukti percakapan ini sebagai senjata disaat yang tepat." Hayoon memotret semua percakapan chat Sena dengan Hyemi, menggunakan ponsel pribadinya.

Setelah selesai melancarkan aksinya, Hayoon mengembalikan ponsel Sena ke tempat semula dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa.

...***...

Sena memandang jam dinding, memperhatikan jarum kecilnya yang bergerak menit demi menit. Entah kenapa, akhir-akhir ini hari terasa begitu panjang dan melelahkan. Sena membereskan peralatan di meja kerjanya, memasukkan ponselnya ke dalam tas selempang lalu menyampirkannya di pundak.

Sena beranjak berdiri. Tapi sebelum dia sempat berbalik, terdengar suara berat seorang pria.

Sena terkejut dan membalikkan badan. Tatapannya bergerak mencermati seorang pria yang sedang membawa sebuket bunga sambil menatap ke arahnya. Pria itu tersenyum, ekspresinya penuh dengan rasa cinta.

"Aku senang kau kembali dengan selamat. Aku datang kemari ingin menjemputmu dan mengantarmu pulang," ucap laki-laki tersebut, sambil menyerahkan buket bunga yang ia bawa kepada Sena.

"Sijin oppa, terima kasih," balas Sena, seraya menyunggingkan senyuman terima kasih kepada pria itu.

...***...

Di sisi lain, Juhan kini berjalan memasuki sebuah gedung dengan banyak tenaga medis yang berlalu-lalang di koridor yang sedang ia lewati----Sebelum kembali ke penthouse, Juhan menyempatkan waktunya untuk mengunjungi mamanya di rumah sakit.

Juhan berhenti. Hatinya kembali terasa sedih saat ia tiba di depan kamar Misun, mama tercintanya. Juhan membuka pintu kamar itu perlahan. Di sana dia melihat perawat wanita sedang sibuk membersihkan makanan tumpah yang berjatuhan di lantai, tepat di bawah ranjang Misun.

Juhan kembali memusatkan pikirannya dan berjalan mendekati perawat tersebut.

"Bolehkah aku membantu membersihkannya?" sapa Juhan bertanya, membuat perawat itu mendongak menatap ke arahnya.

"Ah, ya. Apakah kau putra dari Nyonya Misun?"

"Iya, benar."

"Nyonya Misun seharian tidak mau makan dan membuang semua makanan yang diberikan rumah sakit. Kami sudah berusaha melakukan banyak cara untuk membujuk dia makan, tetapi tidak berhasil," ujar perawat tersebut.

"Mulai kapan mamaku tidak mau makan?"

"Sebenarnya sudah beberapa hari dia seperti itu, tetapi hari ini dia sama sekali tidak mau makan. Aku berharap kau bisa lebih memperhatikan Nyonya Misun dan bisa membujuk dia makan," saran perawat itu, membuat Juhan mengangguk seolah memahami maksudnya.

Setelah itu, perawat tersebut keluar dari ruangan.

Lalu, Juhan mendudukkan dirinya di sisi tempat tidur Misun. "Mama, aku baru saja pulang dari kantor dan mampir ke sini menjengukmu. Mama, mau makan? Aku ada membawa sedikit makanan," tanya Juhan, seraya membuka kantung plastik yang ia bawa. Namun Misun menggeleng dan menepisnya.

Juhan terdiam dan berpikir sejenak. Kondisi mamanya saat ini lebih buruk dari sebelumnya.

Kini, tatapan Juhan terjatuh pada nenek tua yang ada di ranjang sebelah. Juhan bangkit berdiri dan mendekati nenek tua tersebut.

"Permisi, apakah relawan wanita itu ada datang lagi ke sini?" tanya Juhan kepada nenek tua itu.

Nenek itu mendesah. "Sayang sekali, sejak saat itu dia belum datang lagi ke sini. Padahal aku sendiri juga menanti kedatangannya."

"Kira-kira kapan dia akan datang lagi? Apakah anda tahu?" Juhan bertanya dengan penuh harap.

"Tentu saja aku tidak tahu. Kalau aku tahu pasti sudah memberitahumu dari tadi. Aku tidak tega melihat Mama-mu begini terus." Nenek tua itu menarik napas panjang dan mengembuskannya pelan. "Ah, seandainya relawan wanita itu sekarang ada di sini, pasti Mama-mu sekarang sudah makan."

Juhan mengangguk kecil. Lalu, ia memalingkan wajah ke arah Misun, memandangi wanita itu dalam diam.

Aku harus menemukan wanita relawan itu. Tidak ada cara lain, hanya wanita itulah harapan mamaku bisa sembuh, ucap Juhan dalam hatinya.

...***...

Sijin mengantar Sena sampai depan pintu apartemennya. Keduanya berhadapan dan saling memandang.

"Boleh aku mampir ke apartemenmu sebentar? Ada yang ingin aku katakan kepadamu," ujar Sijin dengan bibir melengkung ke atas. Pria itu bisa dibilang cukup murah senyum.

"Boleh." Sena membalas dengan senyuman ramah kepada Sijin dan kemudian bergegas masuk ke dalam apartemennya. Ruangan masih tampak gelap. Kelihatannya Hyemi masih belum pulang dari kantor.

"Silakan duduk," ucap Sena, menyuruh Sijin untuk duduk.

Mereka berdua duduk di sofa dengan jarak yang berdekatan. Sijin mengangkat kepalanya, meresapi kecantikan Sena yang berada tak jauh darinya. Jujur saja, ini semua tidak bisa dimengerti. Mengapa Sijin begitu terpikat pada Sena, padahal di luar sana ada begitu banyak wanita cantik yang bisa ia pilih.

"Sena, boleh aku minta nomor ponselmu? Selama ini aku ingin bertanya padamu, tetapi aku selalu lupa," pinta Sijin diiringi senyum simpul.

"Oh, boleh." Sena tampak tidak keberatan. Dia memberikan secarik kertas kepada Sijin dengan sebuah nomor telepon yang tertera di sana.

"Terima kasih sudah mau memberikan nomor ponselmu kepadaku," ucap Sijin setelah berhasil mendapatkan nomor itu.

"Iya, sama-sama," balasnya.

Lalu, pria itu lanjut berkata,"Omong-omong, maukah kau makan malam denganku besok? Aku baru saja memulai bisnis kuliner dan restoranku baru saja resmi dibuka hari ini."

"Kalau boleh tahu besok jam berapa?" tanya Sena, membuat Sijin berpikir sejenak.

"Hmmm... besok jam 8 malam. Bagaimana?"

"Tapi aku besok masuk kerja dan pulang sampai rumah jam 7 malam. Sepertinya aku tidak bisa pergi karena waktunya sangat mepet, belum lagi perja..."

"Bentar." Sijin memotong cepat. "Kau tidak perlu naik taksi untuk pergi. Aku akan menyuruh supir pribadiku untuk menjemputmu di sini. Bagaimana?"

"Tapi..." Sena tampak ragu-ragu menjawabnya. Sementara Sijin terus membujuk Sena untuk pergi makan malam dengannya.

"Maukah kau datang? Aku akan sangat senang kalau kau hadir di restoranku besok. Aku janji tidak akan membuatmu lelah." Sijin mengajak untuk kedua kalinya, membuat Sena kesulitan untuk menolak.

"Um, baiklah. Aku akan datang." Sena dengan terpaksa menyetujui ajakan makan malam bersama Sijin meskipun terlihat jelas bahwa wanita itu sebenarnya tidak ingin pergi.

Sijin tersenyum menatap Sena. "Oke, supirku akan datang jam 8 malam besok. Restoranku juga tidak terlalu jauh dari sini, kemungkinan sekitar 15 menit perjalanan sudah sampai."

"Wah, syukurlah kalau tempatnya tidak terlalu jauh. Jadi tidak memakan banyak waktu," balas Sena sedikit lega.

Sijin tersenyum, membenarkan ucapan Sena. "Iya, benar. Memang tidak terlalu jauh dari sini."

Ketika keduanya tengah asyik berbincang, daun pintu terayun terbuka.

"Oh, Sijin-ssi, sudah lama di sini?" sahut Hyemi yang tiba-tiba muncul dari arah pintu utama.

"Aku baru saja datang dan berbincang dengan Sena sebentar. Hyemi-ssi, kau baru pulang?" tanya Sijin, sembari menengok ke arah Hyemi.

"Iya, tadi aku mampir beli makanan dulu jadi pulang agak telat. Ya sudah, silakan dilanjutkan ngobrolnya. Sena, aku mau mandi dulu, ya," tutur Hyemi seraya melintasi ruangan, lalu menghilang ke dalam.

"Kalian berdua kelihatan sangat rukun. Terkadang persahabatan seperti itu membuatku iri," ujar Sijin merasa kagum dengan Sena dan Hyemi.

Sena tersenyum tipis. "Kami sudah dewasa dan berteman sejak lama. Sudah tidak jaman lagi untuk bertengkar," ungkapnya.

Sijin mengangguk-angguk, lalu melirik jam tangannya sekilas. "Sudah malam. Aku mau pamit."

"Mau aku antar sampai ke depan gedung apartemen?"

"Tidak usah. Kau istirahat saja, aku tidak ingin menganggu waktumu."

"Baiklah. Hati-hati di jalan."

Sijin berdiri. "Oke, jangan lupa besok jam 8 malam kita bertemu di restoranku," ucapnya mengingatkan.

"Aku pasti datang," jawab Sena. Mereka berdua beranjak menuju pintu.

"Aku menunggu kedatanganmu besok," ujar Sijin lagi. Lalu, pria itu berjalan menyusuri koridor dan menghilang dari pandangan.

Saat Sena kembali memasuki ruangan, ia mendapati Hyemi sedang menatapinya sembari tersenyum.

"Ciee.. si cantik penggemarnya banyak," ledek Hyemi.

"Jangan berpikir aneh. Aku dan Sijin hanyalah teman. Tidak lebih."

"Jika dia menembakmu minta jadi pacar bagaimana?"

"Ehmm.. sepertinya aku harus menolak."

Hyemi terkikik. "Ya, iyalah. Karena di hati si cantik sudah ada pangeran lain."

"Hyemi, jangan mulai, ya. Pangeran lain apa maksudmu?" Sena mulai menegang.

"Cieee... di hati si cantik sudah ada nama Park Juhan. Benar, kan?" goda Hyemi, membuat wajah Sena memerah.

"Hyemi, awas kau, ya." Sena kesal sekaligus malu. Ia mengejar Hyemi yang berlari, dan kedua wanita itu tertawa cekikikan. Canda tawa mereka membahana di seisi ruangan.

...***...

...Keesokan malam.....

Makan malam dengan Sijin membuat Sena ingin tampil sederhana malam ini. Sena mengenakan dress berwarna putih sebatas lutut dengan motif polkadot warna merah. Dress itu tidak menyolok, tapi cukup sopan untuk acara makan malam biasa. Setelah yakin dandanannya selesai, Sena mengambil tas lalu menyampirkannya di pundak.

Beberapa saat kemudian, Sena sudah masuk ke dalam mobil jemputan yang dikirim oleh Sijin.

Selama perjalanan, Sena terus-menerus menatap layar ponselnya. Sudah 15 menit berlalu, tapi supir itu masih belum juga menghentikan mobilnya. Benar saja, tiga menit kemudian mobil berhenti di depan sebuah restoran besar bergaya eropa.

"Kita sudah sampai, Nona," ujar Supir itu.

"Baik, terima kasih." Sena turun dari mobil, lalu melangkah menuju pintu masuk restoran tersebut.

Sena memutar bola matanya memperhatikan aktivitas sekitar. Sama seperti restoran besar pada umumnya, para pelayan di restoran itu dengan cepat berseliweran memenuhi pesanan para pengunjung. Tapi anehnya, Sena sama sekali tidak melihat Sijin di sana. Seorang kepala pelayan laki-laki berjas hitam, kemungkinan berusia 50 tahunan tiba-tiba datang menghampiri Sena.

"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" Laki-laki itu menyapa Sena yang masih berdiri di pintu masuk restoran.

"Apa benar ini restoran milik Park Sijin? Saya ada janji dengannya malam ini," jawab Sena dengan nada sedikit ragu-ragu.

Laki-laki itu menjawab, "Benar. Tuan Sijin sudah menunggu anda. Mari ikuti saya," ucapnya, seraya menuntun Sena masuk, lalu menaiki anak tangga menuju lantai 2 restoran itu.

Sesampainya di sana, suasana langsung berubah menjadi hening dan sepi. Berbeda dengan lantai 1 yang ramai pengunjung, lantai 2 ini hampir tidak ada pengunjung sama sekali. Lebih tepatnya ini seperti... private room.

"Tuan Sijin ada di meja paling ujung belakang. Silakan anda pergi ke sana," ucap kepala pelayan itu dengan sedikit membungkukkan tubuh.

"Baik." Sena sudah dapat melihat ada beberapa orang di sana, sangat ramai. Sena menemukan Sijin duduk berdampingan dengan dua orang wanita tua yang kemungkinan adalah keluarganya, tapi di sisi depannya tampak 2 orang lainnya yang tidak asing, yaitu Juhan dan Hayoon. Sena tidak menyangka makan malam hari ini begitu ramai. Itu sama sekali tidak Sijin katakan sebelumnya.

Hati Sena berdebar saat ia bertanya-tanya untuk beberapa saat. Acara makan malam apa ini? Apakah Sijin telah mengatur sesuatu hal yang Sena tidak ketahui? Sena mencoba menyingkirkan pikiran itu dari dirinya. Sena menarik napas pendek saat ia melangkah mendekati mereka.

"Wah, ini wanita yang kutunggu-tunggu akhirnya datang. Sena, duduk sini di sebelahku," sambut Sijin, seraya menarik kursi kosong di sampingnya.

"Terima kasih," ucap Sena seraya menduduki kursi tersebut.

Tak lama, beberapa pelayan datang dan meletakkan makanan bawaan mereka di atas meja, dan bunyi peralatan makan berdenting menandakan sebentar lagi hidangan siap untuk dinikmati.

"Mari makan bersama," ucap Sijin, mengajak semua tamunya untuk makan.

Sijin tersenyum kepada Sena. "Maaf, aku sengaja tidak memberitahumu sebelumnya. Untuk merayakan pembukaan restoran baruku ini, aku mengundang banyak orang di sini. Perkenalkan ini mama dan nenekku." Sijin menunjuk kepada 2 wanita yang duduk bersebelahan. Yang satunya berusia tua, dan satunya lagi agak lebih muda.

"Nenekku adalah nenek Juhan juga. Beliau adalah ibu dari ayahku dan juga ayah Juhan," jelasnya lagi, membuat Sena mengerti.

"Kenalkan nama saya Kim Sena," ujar Sena memperkenalkan diri kepada mereka.

Sebelum kedua wanita itu sempat menjawab, Hayoon menyela. "Tante, Sena adalah rekan kerjaku di Lacoza. Sijin oppa berkenalan dengannya di kelab malam."

Mendengar itu, Mama dan Nenek Sijin langsung mengarahkan tatapannya kepada Sena. Hayoon sengaja ingin menjatuhkan harga diri Sena di depan orang banyak, sialan dia.

Sedikit kerentanan berkelebat di wajah Sena seketika.

"Juhan, apa benar wanita ini bekerja di perusahaanmu?" tanya Neneknya.

"Iya," jawab Juhan singkat.

"Apa pekerjaan orangtuamu?" tanya Mama Sijin kepada Sena.

Sena dapat merasakan mata Mama Sijin menelitinya.

Sena menggigit bibir bawahnya. "Orangtuaku adalah petani buah di Cheongdo." jawaban Sena, membuat kedua wanita itu mengerutkan dahi.

"Mama, bagaimana menurutmu? Sena cantik, kan?" sela Sijin, ingin mengetahui pendapat mamanya.

"Cantik, tapi cara berpakaiannya sangat biasa karena memang dia adalah orang kampung. Berbeda dengan Hayoon. Selain cantik dan terhormat, dia juga pandai berpakaian layaknya wanita kalangan atas. Hayoon memang menantu idaman." Mama Sijin beralih menatap Hayoon dengan tersenyum, membanggakan wanita iblis itu.

"Benar. Juhan saja dulu begitu cinta mati dengan Hayoon sampai mengejar-ngejar dia dan melamarnya," timpal Neneknya, membuat dada Sena sesak seketika.

Hayoon tersenyum. "Dulu kami memang tidak dekat, tapi sekarang perlahan-lahan kami mulai dekat. Iya kan, Juhan?"

Hayoon mengambil sepotong daging dengan ujung sumpit dan menyuapkannya pada Juhan. Pria tampan itu tidak keberatan dan menerimanya.

Hayoon tersenyum bahagia, hatinya terasa mendesir saat Juhan menerima suapan makanan darinya. Hayoon mengambil sepotong daging lagi, dan menyuapkannya kepada Juhan untuk kedua kalinya.

"Hayoon, sudah. Aku bisa makan sendiri." Juhan menolak.

"Juhan dan Hayoon serasi sekali," ucap Neneknya, seraya menyesap minuman tehnya.

"Terima kasih, Nenek. Minta doa restunya, ya. Supaya aku dan Juhan bisa segera menikah," kata Hayoon mencari perhatian.

Tiba-tiba, Sijin mengulurkan tangan ke atas meja dan memegang tangan Sena.

"Juhan, jika aku dan Sena pacaran, apakah kau keberatan?" tanya Sijin, seraya mengeratkan genggamannya di tangan Sena.

1
Dyass Stia Clalu
👍👍👍
Sindy Bandari
lanjut🤭🥰🤗
Nurkhakimah
ceritanya bertelele banget sih....sena terlalu bar bar dan ceroboh
WILANA
semoga sena tidak apa² dan bisa bersatu lagi dgn juhan.
WILANA
lanjut thor terima kasih
WILANA
aduh thor buat patah semangat...udah lama di tunggu² kok sedikit kali.please up lagi dong thor.sena bertahanlah juhan kekasihku akan datang menyelamatkan mu.semoga sena tidak apa² y .
WILANA
please thor cepat dong up nya.,.terima kasih
WILANA
hhmm...nunggu lagi.,I miss you..😔
WILANA
please lanjut lah thor,..
WILANA
kok belum up juga thor...berharap juh an dn sena bersatu lagi...pasti so sweet deh membayangkannya.,😍
Diana Ana
ceritanya berbelat belit 😂🤣😂🤣😂
WILANA
lanjut thor...
WILANA
mudah²an juhan gak jadi tunangan..dn dewi keberuntungan berpihak sm sena...sabar sena,jodoh gak kan kemana💕
WILANA
I love sena and juh an .,..💕
WILANA
lanjut thor...semangat,semoga cepat up nya..💪
WILANA
jgn lama² y thor..perpisahan sena dn hujan..baru lagi jadian udh berpisah...💔😭
WILANA
aduh thor...deq² kan membacanya...dan tak sabar membacanya lagi...lanjut thor.,cepat up nya y....😊
RisaRis27670746
juhan kok gsk jelas gitu sih...kan ikut esmosi
WILANA
maaf y thor ...mo nanya,apa udh gak up lagi...
Yuna.L: Up kak tapi slow ya. Karena saya sudah kembali sibuk pindahan keluar negeri. Saya membuat novel ini hanya untuk mengisi waktu kosong saja selama di rumah. Semoga saya bisa menyelesaikan cerita ini dengan lebih cepat ya. Terima kasih sudah mau mampir di novel aku.
total 1 replies
RisaRis27670746
mestinya juhan cerita lah masalahnya biar tdk salah paham lagi dg sena
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!