Karin mengira semuanya telah berakhir saat tubuhnya terjatuh ke dasar jurang. Namun ketika membuka mata, ia justru kembali menjadi gadis berusia dua puluh tahun dan mendapati kedua orang tuanya masih hidup.
Kesempatan kedua itu membuatnya bersumpah mengubah takdir. Ia harus menyelamatkan keluarganya dan menghindari pernikahan dengan Giorgino, pria yang kelak menghancurkan hidupnya.
Demi menggagalkan rencana perjodohan, Karin nekat mengaku telah memiliki kekasih. Masalahnya, pria itu tidak pernah ada.
Dalam kepanikannya, hanya satu nama yang terlintas di benaknya—Kai, mahasiswa berandal yang dingin, cuek, dan terkenal sebagai badboy kampus.
Namun semakin dekat dengannya, Karin menyadari bahwa kehidupan keduanya ternyata menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada sekadar kesempatan hidup kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian Yang Datang Tiba-Tiba
Bab 21
Pagi itu, udara kampus terasa lebih hangat dibanding beberapa hari terakhir. Langit biru membentang tanpa awan, sementara pepohonan di sepanjang jalan menuju gedung fakultas bergoyang pelan diterpa angin.
Karin berjalan santai sambil membawa beberapa buku di dadanya. Semalam ia tidur lebih nyenyak.
Meski begitu, ia tahu ketenangan ini tidak akan berlangsung selamanya. Karena Gio bukan tipe orang yang mudah menyerah.
"Selamat pagi."
Suara Kai membuat Karin menoleh.
Pria itu sudah berdiri di bawah pohon besar dekat gedung fakultas, mengenakan kemeja putih sederhana dengan ransel hitam yang selalu dibawanya.
"Pagi."
"Kamu datang cepat."
"Iya."
Kai mengangkat sebuah kantong kecil.
"Aku mampir beli roti."
Karin tersenyum.
"Kamu mulai sering traktir aku."
"Bukan traktir."
"Lalu?"
"Aku beli dua."
"Kalau nggak dimakan juga mubazir."
Karin tertawa pelan.
"Kamu selalu punya alasan."
Kai hanya tersenyum tipis.
Mereka berjalan berdampingan menuju ruang kelas.
Beberapa mahasiswa yang berpapasan mulai terbiasa melihat mereka bersama. Tidak banyak lagi bisik-bisik seperti sebelumnya.
Hubungan mereka memang belum memiliki status yang jelas. Namun hampir semua orang menganggap mereka adalah pasangan.
Dan anehnya, tak satu pun dari mereka berusaha meluruskan anggapan itu.
-
-
-
Jam kuliah berlangsung hingga siang.
Begitu dosen keluar dari kelas, Kai merapikan bukunya seperti biasa.
"Aku ke perpustakaan sebentar."
"Kebetulan." Karin ikut berdiri. "Aku juga mau pinjam buku."
Mereka berjalan bersama menuju perpustakaan.
Di lorong depan perpustakaan, seseorang berdiri sambil memegang beberapa buku tebal.
Maureen.
Begitu melihat Kai, senyum tipis langsung menghiasi wajahnya.
"Hai."
Kai mengangguk sopan.
"Halo."
"Aku Maureen."
Maureen tiba-tiba mengulurkan tangannya untuk di jabat.
"Kai."
Kai membalasnya singkat.
" Aku sudah tahu." Jawaban itu membuat Kai sedikit heran. "Kita satu kampus." Maureen tersenyum ramah. "Aku sering lihat kamu."
Karin yang berdiri di samping Kai memperhatikan percakapan itu tanpa berkata apa-apa.
Maureen lalu mengangkat salah satu buku.
"Aku dengar kamu jago mata kuliah Mekanika."
Kai menggeleng pelan.
"Biasa saja."
"Boleh minta bantuan kalau aku kesulitan?"
Kai tampak berpikir beberapa detik.
"Kalau aku bisa."
"Terima kasih."
Maureen tersenyum lebih lebar sebelum masuk ke perpustakaan.
Begitu gadis itu pergi, Karin baru bersuara.
"Kamu terkenal juga ya."
Kai terlihat bingung.
"Aneh."
"Apa?"
"Aku nggak kenal dia."
Karin tersenyum kecil.
"Mungkin dia memang cuma mau tanya soal kuliah."
Kai mengangguk tanpa berpikir lebih jauh. Namun entah mengapa, ada perasaan kecil yang mengganjal di hati Karin.
-
-
-
Sore harinya...
Kai berangkat bekerja ke bengkel seperti biasa. Sementara Karin membantu ibunya menyiapkan makan malam.
Di sisi lain kota...
Maureen duduk di sebuah kafe sambil memainkan sendok di dalam gelas kopinya. Tak lama kemudian seseorang duduk di hadapannya.
Gio.
"Gimana?" tanyanya tenang.
Maureen menghela napas.
"Aku sudah mulai mendekatinya."
"Bagus."
"Tapi..."
Gio mengangkat alis.
"Kenapa?"
"Dia berbeda."
"Maksudmu?"
"Dia bukan tipe laki-laki yang mudah akrab."
Gio tersenyum tipis.
"Itu justru membuatmu tertantang, bukan?"
Maureen tidak langsung menjawab.
Ia hanya mengingat kembali wajah Kai yang begitu tenang saat berbicara dengannya.
Tidak ada sikap sok keren. Tidak juga berusaha menarik perhatian. Justru sikap sederhana itulah yang membuatnya penasaran.
"Aku akan coba lagi."
"Bagus."
Gio menyandarkan tubuhnya.
"Ingat. Aku tidak menyuruhmu menyakitinya. Aku hanya ingin membuat Karin percaya bahwa Kai bisa berpaling kapan saja."
Maureen mengangguk pelan.
Namun untuk pertama kalinya, ia mulai bertanya-tanya dalam hati.
Benarkah laki-laki seperti Kai mudah berpaling?
Kalau tidak bisa memisahkan mereka dengan paksaan...buat saja Karin sendiri yang mulai ragu.
Gio tersenyum tipis.
Aku tidak akan kalah hanya karena seorang mahasiswa sederhana.
-
-
-
Malam yang kian larut. Bulan tidak bersinar terang karena di tutupi awan kelabu. Hanya angin yang berhembus pelan dan menyejukkan udara yang sebelumnya terasa hangat.
Sementara di kamar, Karin membuka ponselnya. Ada satu pesan baru dari Kai.
Besok jangan lupa tugas statistik dikumpulkan.
Karin tersenyum kecil.
Balasannya singkat.
Siap. Makasih sudah ingetin.
Tak lama kemudian muncul balasan.
Tidur jangan terlalu malam.
Senyum Karin semakin lebar.
Entah sejak kapan, perhatian kecil seperti itu mampu membuat hatinya terasa hangat.
Di tempat lain, Kai memandang layar ponselnya dan tersenyum tipis beberapa saat sebelum meletakkannya di atas meja.
-
-
-
Bersambung...