fatimah azzahra yang kerap di panggil fafa atau patimah oleh teman dekat maupun orang lain. fatimah sudah 3 tahun nikah bersama Hengki Affandi.dari pernikahan itu belum juga mendapatkan seorang pun anak sampai ia di usir oleh suaminya.
beberapa tahun hengki dan fatimah berpisah dan gak pernah ketemu,di suatu hari hengki bertemu dengan fatimah dan kedua anak kembar fatimah dari pernikahan mereka.
apa kelanjutannya baca ajah yah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ridwan jujun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teman Yang Jahat
Sudah hampir 6 bulan Raikal dan Rayyan menuntut ilmu di sekolah baru mereka. Tak ada yang lebih baik selain di sekolah lama mereka. Itulah yang dirasakan ke-dua bocah laki-laki itu. Mereka tidak menyukai situasi yang menyinggung tentang Abi mereka.
Mereka sedih, sedih tak pernah merasakan kasih sayang seorang Ayah. Semua teman-teman mereka pernah diantar ke sekolah oleh ayahnya. Sedangkan mereka? Jangankan untuk diantar, bentuk rupa ayahnya pun mereka tidak tau. Kenapa dunia tidak adil untuk mereka? Kenapa terasa sangat kejam. Apa ayah mereka tidak menginginkan mereka sampai mereka harus ditinggalkan? Tapi kenapa?
Pikiran ke-dua kakak beradik itu terus berkecamuk memikirkan kenapa ayah mereka tidak pernah menemui mereka. apakah mereka tidak diinginkan ayah mereka? Seharusnya anak seusia mereka tidak berfikiran dewasa diusia mereka yang masih kecil.
Ingin bertanya kepada Ummi mereka tapi mereka takut Fatimah akan sedih saat mereka menanyakan dimana keberadaan ayah mereka.
"Heyy kalian berdua!" panggil seorang anak laki-laki menghampiri mereka dengan wajah mengejek.
"Ada apa!" ketus Raikal.
"Kalian itu tidak pantas sekolah disini! Sudah tidak punya ayah tapi tetap sok-sokan sekolah di tempat ini!" ujarnya tajam.
"Kenapa kami tidak berhak sekolah disini? Bukankah sekolah ini milik umum?" tanya Rayyan sedikit emosi. Apa salah mereka jika mereka sekolah disini. Bukankah semua orang berhak sekolah di tempat ini walau dalam berbagai kalangan. Itu hak mereka bukan?
"Ya kalian tidak berhak sekolah disini! Disini hanya orang-orang yang punya ayah berhak sekolah!" jawabnya dengan menekan kata ayah.
Sedih? Tentu saja. Siapa yang tidak sedih jika disangkut pautkan dengan seseorang yang selama ini tak pernah mereka temui.
"Tidak ada peraturan di sekolah jika tidak punya ayah maka tidak boleh sekolah disini!" sinis Raikal dengan sorot mata tajam.
"Hahahaha, memang tidak ada peraturannya. Tapi apa kalian tidak malu? Jelas-jelas kalian itu tidak punya ayah!" hinanya lagi-lagi menekan kata ayah.
"Jaga mulut kamu! Kami juga punya ayah!" bentak Rayyan emosi.
"Mana? Di mana ayah kalian? Kenapa selama ini tidak pernah diantar ke sekolah jika kalian memang memiliki ayah?" tanya anak laki-laki itu dengan nada sok berkuasanya.
Raikal dan Rayyan hanya diam. Mau membalas tapi tidak tau apa yang harus diucapkan. Mereka tidak tau di mana keberadaan ayah mereka. Sakit? Itulah yang dirasakan kedua anak laki-laki itu. Mereka dihina, tapi tak ada seorangpun yang menolong mereka. Seakan-akan mereka memang tidak diinginkan kehadirannya.
"Tidak bisa menjawab 'kan? Kalian itu harus sadar kalau kalian itu tidak punya ayah yang bisa kalian banggakan!" ejeknya berlalu dari hadapan Rayyan dan Raikal.
Raikal dan Rayyan hanya berpelukan menyalurkan rasa semangat untuk diri mereka masing-masing. Mereka ingin cepat pulang, mereka ingin melepaskan rasa sesak yang ada di dada mereka kepada orang yang sangat berjasa dalam hidup mereka. Mereka ingin mencurahkan semuanya kepada wanita yang melahirkan mereka ke dunia.
Rasanya sangat sakit, kenapa mereka mendapatkan perlakuan tidak baik ini disini? Padahal selama mereka sekolah di Bandung, tidak pernah teman-teman mereka menghina mereka kecuali menanyakan tentang ayah mereka saja. Tapi kenapa sekarang semuanya seakan tak baik-baik saja. Seakan mereka hanya orang asing yang tak berhak menuntut ilmu di sekolah ini.
"Ab-abang, Iy-iyan hiks, sakit Bang?" lirihnya memegang dadanya dengan sebelah tangan.
"Ssst, kita harus sabar ya Dek, nanti kita ngomong sama Umi di rumah," ujarnya menghibur kembarannya sambil menghapus air mata yang mengalir mulus dipipi cabi bocah laki-laki itu.
Rayyan memang sedikit cengeng ketimbang Raikal. Raikan merupakan sosok kakak yang memberikan kekuatan bagi adik kembarannya sesuai artinya nama yang di kasih Fatimah. Ia tidak boleh sedih di depan adiknya apalagi ini di sekolah. Tapi jika bersama Fatimah jangan ditanya Raikal juga amat cengeng meski ada Rayyan. Ia hanya memperlihatkan wajah biasa-biasa saja di depan orang lain.
Setelah bel masuk berbunyi, mereka berdua menuju meja mereka masing-masing. Tatapan mata anak laki-laki yang menghina mereka tadi menyiratkan raut mengejek.
Kevin Affandi, anak yang diadopsi Jihan dan Hengki menjadi sosok anak yang angkuh dan sombong. Suka merendahkan orang yang menurutnya patut direndahkan. Seperti halnya Rayyan dan Raikal. Anak itu seperti mendapatkan didikan yang salah dari ke-dua orang tuanya.
Anak seusianya seharusnya tidak memiliki sifat seperti itu, tapi apa? Ia bahkan sok menjadi seorang bos di sekolah itu. Seakan-akan dialah pemilik sekolahnya. Sifat sombong dan angkuhnya tidak pernah hilang sedikitpun. Ia selalu membanggakan dirinya kepada orang lain, jika dialah yang lebih baik dari yang lain.
Bersambung...
walaupun singkat tapi mantap sekali 👍👍
teruslah berkarya dan sehat selalu 😘😘
makasih banyak kak thor 😘❤️