Berawal dari menolong seorang laki-laki yang habis-habisan di hajar oleh ketiga preman. Maila juga harus bertemu kembali dengan laki-laki itu di sekolah barunya. Yang ternyata laki-laki itu adalah kakak kelasnya sendiri, yang merupakan laki-laki populer di sekolah. Yang ternyata namanya adalah Larbi.
Bukan hanya itu. Larbi juga terus mengusik dirinya. Sehingga, membuat Maila sebal pada Larbi sendiri. Namun, tanpa mereka sadari. Pertemuan mereka ada hubungannya dengan masa lalu mereka sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jujur.
"Gue ke toilet sebentar ya! Gue pengen buang air besar dulu." Ucapku kepada mereka sambil bergegas ke toilet. Aku bergegas ke toilet tamu untuk menemui Larbi. Niatku ke toilet bukan karena ingin buang air besar, tapi untuk mengalihkan Larbi. Aku tidak mau Lita dan Rini melihat Larbi disini. Akhirnya aku menemui Larbi juga yang habis keluar dari toilet tamu tersebut.
Ku lihat teras di jendela. Nampaknya ayah tidak ada. Dan kemungkinan ayah dan ibu sudah pergi ke rumah nenek. Syukurlah!
Aku menghalangi jalan Larbi yang hendak kembali ke ruang tamu. Ia nampak bingung karena aku menghalangi jalannya.
"Lo ngapain sih, menghalangi jalan gue?" tanyanya nampak begitu sebal padaku.
"Lo mau kemana?" tanyaku, untuk mengalihkannya.
"Ya, ke ruang tamu lah," jawabnya.
"Eummm... Gue, gue... Eumm... Gue.. " ucapku untuk berpikir agar aku bisa mengalihkannya. Ia nampak bingung padaku, dan ia pun hendak pergi ke ruang tamu dan langsung saja ku tahan.
"Eitsss... Lo mau kemana sih?!" ucapku sambil mencegahnya.
"Dengerin gue dulu," ucapku, akhirnya ia terdiam dan terus menatapku dengan keheranan.
"Eummm... Gue, gue pe-pengen ngomong sama lo," ucapku sedikit terbata-bata.
"Kalo mau ngomong, ngomong aja langsung," ucapnya. Aku sedikit terdiam, dan aku ingat minggu kemarin kan baju dan celana dia aku pinjam, dan sampai sekarang belum di kembalikan. Jadi itu salah satu cara untuk mengalihkan dia.
"Eh, baju lo ada di gue yang waktu minggu kemarin gue pinjem. Lo bisa tunggu disini nggak? Sama bibi Ina dulu," ucapku.
"Tadi katanya mau ngomong?" tanyanya.
"Udahlah, ayo ikut gue." Aku mengajak dia ke ruang Tv. Lalu menyuruh dia untuk duduk di sofa.
"Lo disini dulu. Awas kalo lo kabur!" tegasku dengan nada pelan, agar Lita dan Rini tidak mendengarnya. Aku beranjak bergegas ke kamar untuk mengambil bajunya yang ku pinjam saat minggu kemarin. Setelah mengambilnya, aku langsung bergegas ke bawah untuk menemuinya di ruang Tv. Nampaknya ia menuruti perkataanku, ia masih duduk di sofa.
"Ini baju lo," ucapku sambil memberikan bajunya yang sudah ku wadahi dengan tas khusus belanjaan. Ia menerimanya dan beranjak berdiri sambil hendak pergi ke ruang tamu. Tapi aku langsung menghalanginya, dan nampaknya ia sangat begitu bingung padaku.
"Ngapain sih menghalangi gue mulu?" tanyanya padaku.
"Siapa yang menghalangi lo, gue nggak menghalangi lo," ucapku.
"Minggir! Gue mau ngambil ponsel gue yang tergeletak di meja ruang tamu," ucapnya sambil beranjak ke ruang tamu, tapi aku langsung mencegahnya.
Gawat! Ponselnya tergeletak di meja, Lita dan Rini pasti sudah tahu. Tapi ada kemungkinan mereka pasti belum menyadarinya, jadi aku harus bergegas mengambil ponsel tersebut.
"Gue aja yang ambil," ucapku.
"Bukannya lo sakit? Kenapa lo sekarang jadi begini? Atau jangan-jangan?" ucapnya dengan menatap curiga padaku. Aku sedikit panik, aku takut jika ia tahu kebohonganku.
"Uhuk.. Uhuk.. Uhuk.. Gue sakit kok," ucapku dengan pura-pura batuk.
"Bersin?" tanyanya.
"Huuuacciiimmm.... " Aku pura-pura bersin sekarang.
"Batuk dan bersinnya mulai mendadak?" tanyanya dengan tatapan curiga padaku. Sementara aku hanya terdiam untuk mencari alasan lain.
"Eummm... Maksudnya? Mendadak gimana?" tanyaku dengan ragu. Ia malah mendekatkan wajahnya ke arahku, dan langsung menatap kedua mataku dengan lekat.
Deg!
Aku merasa jantungku berdebar dengan kencang. Aku menelan salivaku, entah apa yang ingin di lakukannya. Ia terus menatap kedua mataku tanpa berkedip sekali pun. Salah satu tangannya mulai mendekatkan ke wajahku. Ia memegang pipiku dan meraba ke arah mataku.
"Bulu mata lo rontok," ucapnya padaku, dengan memperlihatkan bulu mata tersebut.
"Ih apaan sih?!" ucapku dengan sebal sambil mendorongnya ke belakang, akhirnya ia terjatuh ke belakang dengan terlentang di atas sofa. Aku juga ikut terjatuh karena tarikan dari tangannya yang menarik lengan baju panjangku. Dan akhirnya kami terjatuh berdua, tapi aku langsung menahan diriku dengan memegang pinggir sofa. Ia terus menatapku dari bawah, begitu pun aku yang menatapnya dari atas.
"Mai--" ucap seseorang memanggilku. Kami berdua langsung melirik ke arah tersebut. Nampak Lita dan di susul Rini dari belakang. Mereka nampak terkejut melihat kami berdua dengan cengo.
"Ka-kalian sedang apa?" tanya Lita polos.
Aku langsung berdiri dengan keadaan panik. "Ini nggak sesuai yang kalian pikirkan, ini salah paham. Tadi gue nggak sengaja nyenggol dia, terus dia terjatuh dan akhirnya gue juga terjatuh karena tiba-tiba kepeleset," ucapku dengan alasan yang memang tidak sebenarnya.
"Iya, tadi dia menyenggol gue," timpal Larbi, akhirnya ia mengikuti ucapanku.
"Bukannya lo tadi ke toilet buat buang air besar?" tanya Lita padaku, dan Larbi nampak menatapku bingung. Dan aku hanya terdiam tidak tahu harus menjawab apa.
"Eummm. Tadi nggak jadi buang air besar," jawabku dengan tercengesan.
"Kak Larbi juga ada disini?" tanya Rini.
"Lar-bi itu kakaknya Aleta," jawabku yang kini mulai jujur, dan membuat mereka sedikit terkejut.
"Kakaknya Aleta?" ulang mereka berdua bersamaan dan aku mengangguk untuk mengiyakan.
"Pantas saat di lihat-lihat mirip orang yang kita kenal Rin, ternyata Aleta itu adiknya kak Larbi," ucap Lita pada Rini, dan Rini hanya mengangguk setuju.
"Kalo begitu kita ke ruang tamu saja," ajakku pada mereka. Kami berempat beranjak kembali ke ruang tamu, terlihat Aleta sendiri duduk di sofa dengan cemilan yang mungkin sudah di bawakan oleh bi Ina.
"May ini buat lo bunga, ini juga buah-buahan dari kami berdua," ucap Lita sambil menyerahkan bunga, dan buah yang berada di kantong plastik. Aku pun langsung menerimanya.
"Makasih, tapi seharusnya nggak usah repot-repot," ucapku.
"Bunga? Bukannya kak Maila sedang sakit flu? Kalau menghirup bunga, nanti flu nya tambah parah," ucap Aleta.
"Sakit flu? Bukannya lo bilang di grup wa kita, kalo lo lagi sakit perut?" tanya Lita dengan bingung ke arahku. Begitu juga dengan Rini yang menatap bingung ke arahku.
"Eummm..." aku bingung entah apa yang harus aku jawab.
Apa yang harus aku jawab? Sekarang aku berada di dalam masalah!
Mereka nampak memperhatikanku, dan sepertinya sedang menunggu jawabanku.
"Eummm... "
Lebih baik aku harus berkata jujur, dan aku harus bisa menjelaskannya. Karena jujur adalah hal yang terbaik untuk keluar dari masalah kebohongan ini.
"Maafin gue!" ucapku, dan nampaknya mereka semua heran padaku.
"Gue bisa jelasin semuanya. Tapi gue mohon dengerin dulu penjelasan gue, dan gue mohon jangan ada yang emosi dulu," ucapku dengan merasa bersalah.
"Jadi begini..." Aku menjelaskan dari awal kebohongaku pada mereka, dari raut wajah mereka semua mereka mengerti masalahku dan apa yang aku rasakan. Jujur aku merasa bersalah pada mereka semua karena aku telah membohongi mereka, padahal mereka baik padaku. Setelah aku selesai menjelaskan. Aku terdiam, enggan untuk berucap. Karena aku memang salah, pantas jika mereka marah padaku. Dan aku tidak apa-apa jika mereka marah atau membenciku, yang penting aku sudah meminta maaf dan juga berkata jujur.
"Tidak apa-apa kok kak, Aleta mengerti. Kakak butuh liburan di hari minggu. Aleta juga merasa bersalah karena harus menganggu waktu libur kakak," ucap Aleta yang nampak nya merasa bersalah juga.
"Iya nggak papa kok May. Gue tahu, seharusnya gue nggak ngasih saran bodoh gue untuk berbohong. Maafin gue," ucap Lita yang nampaknya merasa bersalah juga, dan Rini mengangguk setuju dengan ucapan Lita.
"Tapi kenapa lo harus menutupi kak Larbi dari kami? Apa lo kira kami bakal beranggapan kalo lo ada apa-apanya dengan kak Larbi?" tanya Rini yang membuatku bingung harus menjawab apa.
"Itu karena... " aku menjeda ucapanku.
"Karena Maila diam-diam suka sama gue," Sambung Larbi, yang membuatku terkejut. Aku menatap tajam ke arahnya, sementara ia hanya terkekeh melihatku.
"Wah ternyata kak Maila suka sama kakakku sendiri?" tanya Aleta dengan terkekeh padaku.
"Dan ternyata lo merahasiakan ini dari kami berdua?" tanya Lita padaku.
"Seharusnya kita berdua tidak mengganggu mereka berdua saat di ruang tv tadi," bisik Rini ke Lita yang terdengar olehku.
"Apaan sih? Bukan begitu! Siapa yang suka sama tawon yang menyebalkan seperti dia!" Ucapku dengan kesal. Sementara mereka semua hanya terkekeh ke arahku.
Hari minggu seharusnya adalah hari liburan yang menyenangkan bagiku. Tapi dua minggu ini aku merasa otakku ingin meledak. Bukan karena tugas dari sekolah, tapi karena aku terus bertemu dengan tawon menyebalkan seperti Larbi ini.
Jangan lupa like, komen, vote, dan rate
Oh, jadi gitu. Syukurlah, ingatan kamu balik Larbi. Semoga, kalian bisa semakin dekat lagi, ya!🥰🥰
Benar! Cinta pasti akan ada coba dan uji. Tidak mungkin akan selalu mulus² saja. 👍🏻❤️
Tetap semangat ya Dek! Semoga, Allah selalu menjaga dan melindungi kamu serta membimbing kamu di mana dan kapanpun itu. Sehat terus! Aamiin!!
Sukses terus buat kamu, Dek!🥰👍🏻❤️
like😍
tetap semangat thor
ditunggu karya barunya💪
Kita tidak bisa menentang takdir yang sudah di tetapkan! 🤧🤧