Zia Clarissa Humaira, seorang santriwati cerdas dan cantik, setia pada janji perjodohan yang diatur oleh sang kiai dengan seorang santri senior kepercayaan pesantren. Zia percaya perjodohan ini akan berakhir indah. Namun, janji itu runtuh saat ia mendapati sang lelaki diam-diam mencintai wanita lain yang ternyata sahabat dekatnya sendiri. Tanpa pernah ada kata selesai, Zia dibuang dalam keheningan dan digantung tanpa kepastian.
Saat ia mengira dunianya telah usai, takdir menuntunnya pada sosok yang tak pernah ia perhitungkan sebelumnya. Seorang lelaki yang selama ini memendam rasa dalam senyap, kini maju memasang badan untuk membalut luka Zia.
Akankah kehadiran lelaki misterius ini mampu meruntuhkan trauma masa lalu Zia dan mengembalikan senyumnya yang sempat hilang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Alhabsyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DZ~21
Setelah drama panjang di kamarnya, Zizan kini sudah duduk dengan tenang menghadapi beberapa kitab yang terbuka di atas meja. Lembar demi lembar ia balik dan pelajari sambil menunggu kedatangan Zia.
Sesuai rencana, mereka ingin belajar lebih awal agar bisa menguasai banyak materi tanpa harus begadang hingga larut malam. Zia berjanji akan datang tepat pukul delapan lebih lima belas menit.
Namun, ketika jam digital Zizan sudah menunjukkan pukul delapan lebih empat puluh lima menit, tanda-tanda kedatangan Zia belum juga terlihat.
Zizan terus memandangi jam digitalnya sembari membalik halaman kitab dengan perasaan cemas yang mulai menjalar. "Ya Allah, Zia ke mana, ya? Sudah mau jam sembilan," gumam Zizan lirih.
"Apa dia masih syok setelah kejadian kemarin? Semoga masalahnya cepat selesai supaya persiapan lomba kita nggak terhambat," lanjut Zizan dalam hati, mencoba fokus kembali pada bacaannya.
Tepat pukul sembilan malam, pintu akhirnya terbuka. Zia datang dengan wajah yang tampak lelah namun berusaha tetap teduh.
"Assalamu'alaikum, Zan. Maaf ya membuatmu menunggu lama. Tadi ada urusan sebentar yang tidak bisa ditinggal," ujar Zia sembari duduk dan meletakkan tumpukan buku serta kitabnya di atas meja.
"Wa'alaikumussalam. Oh, nggak apa-apa, Zi. Aku juga belum lama kok," dusta Zizan, sengaja berbohong agar Zia tidak merasa bersalah.
"Aku tahu kamu sedang tidak baik-baik saja, Zi. Aku tidak mau membebani pikiranmu lagi dengan rasa bersalah karena sudah membuatku menunggu hampir satu jam," batin Zizan.
"Ayo kita mulai, Zan," ajak Zia, mencoba tersenyum seolah semuanya baik-baik saja, padahal hatinya sedang berkecamuk hebat.
"Semangat, Zia. Kamu harus kuat, tidak boleh lemah, bisik Zia pada dirinya sendiri, mencoba mengumpulkan sisa-sisa energi.
Zizan menangkap nada lemas dari ajakan itu. Karena merasa aneh ia mencoba sedikit melirik wajah Zia, ia bisa melihat dengan jelas betapa layunya gadis itu kantung matanya menghitam dan bengkak seperti habis menangis hebat.
"Zi, tolong jangan pura-pura kuat di depanku," batin Zizan merasa iba.
Keduanya pun mulai membuka kitab dan membahas materi yang harus mereka kuasai.
Namun, diskusi yang biasanya hidup, penuh canda tawa, dan mengalir hangat kini terasa sangat berbeda. Tak ada satu pun materi yang bisa meresap ke dalam pikiran mereka.
Suasana di dalam aula mendadak terasa dingin dan kaku. Zia yang biasanya menggebu-gebu dan sangat bersemangat kini kehilangan separuh jiwanya, dan tanpa perlu bertanya, Zizan sudah memahami penyebabnya.
Satu jam berlalu dalam kecanggungan. Setelah menyelesaikan satu kitab, Zia yang masih berusaha agar tidak terlihat lemas mencoba meraih kitab lainnya untuk melanjutkan belajar.
Zizan yang sudah tidak tahan melihat situasi tersebut akhirnya memutuskan untuk angkat bicara. Ia mengeluarkan perhatian tulus yang belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun sebelumnya.
"Zi, kalau kamu capek, istirahat saja dulu. Enggak usah dipaksain, kita masih punya banyak waktu kok," kata Zizan dengan suara rendah, matanya tertunduk menatap meja.
Zia tertegun sejenak. Ia tidak menyangka Zizan yang biasanya cuek bisa berbicara selembut dan seperhatian itu.
"Aku nggak apa-apa, Zan. Beneran, aku aman kok. Ayo kita lanjut."
"Sudahlah, Zi," potong Zizan cepat.
"Aku tahu kamu sedang ada masalah. Meskipun aku nggak tahu persis apa masalahnya. Tapi aku bisa menangkap dari sikap kamu hari ini yang berbeda dari sebelumnya. Berhentilah bersikap sok kuat di depan aku. Kamu punya hak untuk marah, kamu juga punya hak untuk menangis. Itu manusiawi,Zi. Tapi tolong, kali ini aja, jangan menyiksa dirimu sendiri hanya demi terlihat tegar, hanya demi terlihat kamu kuat, kamu baik-baik saja. Jangan, Zi. Semua orang punya lukanya masing-masing. Dan untuk saat ini, dihadapan aku, aku nggak mau lihat kamu memaksakan keadaan hanya karena kamu takut terlihat lemah. Aku tahu kamu orang kuat, tapi aku juga tahu, kalau saat ini ada luka yang tidak bisa kamu sembunyikan dari aku. Dan aku pingin kamu tetap menjadi kamu dihadapan aku jangan pura-pura kuat." Nada bicara Zizan terdengar sangat lembut, penuh penekanan yang menenangkan.
Zia tersentak. Kata-kata itu terasa begitu hangat, datang dari seorang lelaki yang biasanya selalu menjaga image dingin dan sangat cuek terhadap wanita.
Di tengah rasa terkejutnya, pertahanan Zia runtuh. Air matanya menetes tanpa bisa ditahan. "Ya Allah, kenapa aku merasa sangat dipedulikan? Perhatian yang bahkan tidak pernah aku dapatkan dari seorang lelaki yang sangat aku cintai," tangis Zia dalam hati.
Ia buru-buru menyeka air mata yang mulai membasahi pipinya.
Melihat ujung jilbab Zia yang mulai basah oleh air mata, dada Zizan mendadak berdenyut nyeri. Padahal, ia sendiri belum tahu pasti apa masalah sebenarnya yang sedang dihadapi Zia, ia hanya mendengar kabar simpang siur yang belum jelas ujungnya. Zizan memilih untuk bungkam, takut jika salah berucap justru akan membuat tangis Zia semakin pecah.
"Ya Allah, hamba bahkan bukan siapa-siapa bagi Zia. Kami tidak dekat. Tapi kenapa melihatnya sehancur ini, hatiku rasanya ikut terkoyak?" Batin Zizan perih. Tanpa disadari, setitik air mata ikut jatuh di atas baju kokonya. Zizan dengan cepat menghapusnya, takut jika Zia sempat melihatnya.
Zizan membiarkan keheningan menyelimuti mereka, memberi ruang bagi Zia untuk meluapkan seluruh emosinya. "Tumpahkan saja semuanya, Zi. Sampai dadamu terasa lega," harap Zizan cemas.
Zia menyandarkan punggungnya ke tembok aula. Ia menatap langit-langit ruangan dengan pandangan kabur, membiarkan air matanya mengalir deras hingga napasnya terasa sesak dan tenggorokannya tercekat.
Setelah beberapa menit mencoba menenangkan detak jantungnya yang berantakan, Zia akhirnya mulai membuka suara dengan nada bersalah yang dipaksakan ceria. "Maaf ya, Zan. Aku nggak tahu kenapa air mataku malah ikut campur dalam diskusi kita malam ini. Maaf ya," gurau Zia sambil menyeka sisa-sisa air mata di pipinya.
Zizan terkekeh kecil, mencoba mencairkan suasana. "Iya, Zi, santai saja. Tenang, aku janji nggak akan bilang ke siapa-siapa kalau baru saja terjadi banjir bandang di dalam ruangan ini, nanti bisa-bisa semua orang kesini bawa ember lagi, buat nguras air mata kamu yang udah memenuhi satu ruangan ini, kan nggak lucu." goda Zizan dengan senyum tulus yang menenangkan.
Meski pandangan mereka tidak saling bertemu, ada rasa lega dan kebahagiaan kecil yang menyeruak di antara sisa-sisa kesedihan di ruangan itu.
Zia akhirnya tertawa kecil mendengar gurauan Zizan. "Apaan sih, Zan. Janji, ya, jangan cerita ke siapa pun."
"Iya, aman, Zi. Rahasiamu aman bersamaku." Zizan dengan nada puitis sambil menyelipkan senyum tipis diwajahnya.
"Kalau begitu... belajarnya boleh sampai disini dulu nggak? Mata aku mendadak nggak bisa dikompromi nih, mau merem aja, kayaknya udah agak ngantuk deh," pinta Zia ragu.
Zizan kembali tersenyum simpul. "Mata udah sebengkak itu masih saja beralasan mengantuk. Bilang saja kalau capek, aku juga pasti paham. Dasar Zia," batin Zizan sambil menggelengkan kepala herannya.
"Enggak apa-apa. Kita lanjutin besok saja kalau perasaan kamu udah jauh lebih tenang," jawab Zizan lembut.
"Iya, Zan. Terima kasih banyak, ya. Aku pulang duluan." Zia bangkit dari tempat duduknya dan mulai melangkah.
Namun, langkah kaki Zia mendadak terhenti ketika suara Zizan kembali terdengar dari belakang. "Eh, Zi. Aku cuma mau bilang, apa pun masalah yang sedang kamu hadapi, semoga tidak menggoyahkan perjuangan kita, ya. Kalau kamu lelah, kamu boleh istirahat, tapi tolong jangan pernah berhenti. Aku tahu kamu gadis yang kuat. Semangat, Zia!"
Mendengar kalimat penyemangat yang sangat tidak biasa keluar dari mulut Zizan, Zia terpaku. Jantungnya mendadak berdegup dua kali lebih cepat. "Tenang, Zia, tenang. Jangan berlebihan," bisik Zia mencoba meredakan gejolak di dadanya.
"Iya, Zan. Terima kasih. Assalamu'alaikum," pamit Zia, lalu bergegas melangkah lebar menuju kamarnya.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Zizan lirih. Zizan menatap punggung Zia yang perlahan menghilang di kegelapan malam dengan senyum sumringah. Perasaannya mendadak campur aduk sebuah rasa asing yang belum pernah ia alami seumur hidupnya.
Hingga beberapa detik kemudian, kesadarannya kembali pulih. "Astaghfirullah, apa yang baru saja kamu katakan, Zizan? Duh, kacau! Kenapa harus diucapin, sih? Kenapa nggak ditahan saja di dalam hati!" sesal Zizan sambil mengacak-acak rambutnya sendiri karena malu setengah mati.
Ini buku pertama author Emma Alhabsy yng aq baca