"Hentikan, Jose!"
"Kau akan menyesal!" ucap Eva merintih kesakitan.
Jose tak menggubrisnya sama sekali. Bahkan ia dengan tega meminta pengawalnya untuk memukul Eva lebih keras.
"Jangan bersandiwara, Eva. Kau telah menyakiti Luna."
Mata Eva membelalak, Eva tak menyangka disaat seperti ini suaminya masih membela gadis yang telah memfitnahnya.
"Kau salah, Jose. Aku tak pernah menyentuh Luna. Apa lagi menyakitinya," balas Eva.
"Cukup, Eva! Berhenti berpura-pura. Luna adalah korban. Jangan mencoba menyangkalnya," ucap Jose dingin.
"Baiklah, Jose. Aku menerima apapun. Tak aku tidak akan pernah memaafkan mu jika sesuatu terjadi padaku dan..."
"Pukul dia lebih keras!" potong Jose, seakan tak ingin lagi mendengar sepatah kata pun dari Eva.
Plak Plak Plak
"Hentikan...Aku mohon padamu," rintih Eva lagi, namun kini suaranya lirih dan sudah kehabisan tenaga.
Bulir bening mengalir begitu saja dari pipinya. Eva memegang erat perutnya merasakan sakit di dalam sana. Hingga ia menatap bawa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irh Djuanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di gudang tua
Satu minggu berlalu...
Di sebuah gudang tua yang berada di pinggiran kota, suasana terasa mencekam. Dinding-dinding beton yang mulai retak dipenuhi noda lembap. Lampu-lampu gantung berkedip redup, sementara suara rantai yang bergesekan terdengar memantul di setiap sudut ruangan.
DUUK!
AAARGH...!
Seorang pria menjerit kesakitan setelah pukulan keras Jose kembali menghantam wajahnya.
Tubuh pria itu sudah dipenuhi luka lebam. Bibirnya pecah, hidungnya berdarah, dan kedua tangannya terikat kuat pada kursi besi. Jose berdiri di hadapannya dengan napas berat. Sorot matanya dingin. Tak ada lagi sedikit pun belas kasihan.
"Berani sekali kau ingin melenyapkan istriku."
"Kau... ingin membunuh istriku."
BUGH! BUGH!
"Katakan... Luna yang menyuruh mu!"
"Berapa banyak dia membayar mu."
"Katakan!!!"
Suara keras menggema di ruangan bersama dengan sebuah pukulan yang siapa pun tak akan sanggup menahan nya.
BUGH!
Pukulan berikutnya menghantam tulang pipi pria itu hingga kursi besi yang mengikatnya bergeser beberapa sentimeter.
"AAAKH...!"
Darah menetes dari sudut bibirnya. Jose mencengkeram kerah bajunya dengan kasar.
"Katakan!"
"Luna yang menyuruhmu, bukan?"
"Berapa banyak dia membayar mu?"
Pria itu tersenyum tipis meski wajahnya telah dipenuhi darah. Tatapan Jose berubah semakin tajam.
"Kau kira... aku tidak mengetahui layar belakang mu begitu?"
Jose melangkah ke meja, ia mengambil sebuah amplop coklat dan menatap amplop itu dengan senyum getir.
Jose berbalik menatap pria itu.
"Kau tahu apa ini?"
Jose kembali mendekati pria itu. Sambil membuka isi amplop itu. Tubuh pria itu yang sejak tadi berusaha terlihat tenang, akhirnya menegang.
Pupil matanya membesar saat melihat lembaran-lembaran data di tangan Jose.
Jose membaca isi berkas itu dengan suara datar.
"Maria Antonio. Lahir 21 April 2009. Siswi kelas dua SMP. Tinggal bersama neneknya sejak ibunya meninggal."
Pria itu langsung meronta.
"Jangan...!"
Jose mengangkat pandangannya perlahan.
"Jadi... akhirnya kau mulai bereaksi."
Pria itu menggertakkan gigi "Jangan libatkan putriku!"
Jose menutup map itu perlahan, "Aku tahu. Sebab dia tidak bersalah."
Pria itu mengembuskan napas lega. Namun kelegaan itu hanya bertahan sesaat.Jose kembali berkata dengan nada dingin.
"Tapi kau harus sadar. Setiap tindakanmu juga memiliki akibat."
Ia melemparkan beberapa lembar foto ke lantai.
BRUK!
Foto-foto itu memperlihatkan Maria sedang pulang sekolah, membeli makanan di warung, dan berjalan bersama neneknya. Wajah pria itu langsung pucat.
"Kau..."
Jose menatapnya tanpa berkedip.
"Aku bisa menemukan putrimu. Aku juga bisa melindunginya. Atau..."
Jose berhenti sejenak.
"...membiarkannya menjadi sasaran orang-orang yang ingin menutup mulutmu."
Pria itu menelan ludah.
"Kau pikir setelah tugas ini gagal, orang yang menyewa mu akan membiarkanmu hidup?"
Kalimat itu membuat napas pria itu memburu.
Jose melanjutkan,
"Orang yang menyuruhmu adalah tipe yang menghabisi semua saksi. Begitu kau tak lagi berguna... kau dan keluargamu akan menjadi beban yang harus disingkirkan."
Pria itu mulai gemetar, "Tidak..."
"Iya."
Jose menyelipkan kembali map itu ke dalam amplop.
"Aku tidak perlu menyentuh putrimu. Orang yang membayar mu lah yang akan melakukannya."
Ruangan mendadak sunyi.
Keringat dingin membasahi pelipis pria itu. Jose kemudian menarik sebuah kursi dan duduk tepat di hadapannya. Nada bicaranya berubah jauh lebih tenang.
"Dengarkan aku. Aku sudah kehilangan anakku. Dan aku tidak ingin seorang anak perempuan kehilangan ayahnya karena kesalahan yang masih bisa diperbaiki."
Pria itu menatap Jose dengan bingung.
"Kalau kau bekerja sama... aku akan memastikan Maria dan neneknya mendapat perlindungan. Aku juga akan memastikan mereka tidak menjadi sasaran balas dendam."
Pria itu terdiam cukup lama. Dadanya naik turun.
Air mata perlahan menggenang di pelupuk matanya.
"Aku..." Suaranya bergetar.
"...aku hanya butuh uang."
Jose tidak berkata apa-apa.
"Ibuku sakit. Maria harus sekolah. Aku terlilit utang. Aku tidak pernah berniat membunuh wanita itu..."
Ia menangis.
"Tapi... Nona Luna..."
Jose menatapnya tajam.
"Katakan!"
Pria tersebut memejamkan mata. Beberapa detik berlalu. Akhirnya ia mengangkat kepalanya.
"Wanita itu terus mendesak ku. Aku tidak punya pilihan lain karena... Nona Luna sudah banyak membantuku."
Jose mengepalkan tangannya.
"Aku hanya..."
"Sudah cukup!"
Jose menatap Erick. Erick langsung menundukkan kepala seperti sebuah isyarat bahwa semua pengakuan pria itu sudah terekam. Erick mengangkat ponsel yang sejak tadi merekam seluruh percakapan.
"Laporan lengkap sudah tersimpan, Tuan."
Jose mengangguk pelan. Tatapannya masih tertuju pada pria yang kini tertunduk lemas di kursi besi.
"Siapa namamu?"
Pria itu menarik napas panjang.
"Rafael..."
"Nama lengkap."
"Rafael Antonio."
Jose memejamkan mata sesaat.
"Mulai hari ini, semua pengakuanmu akan menjadi barang bukti."
Rafael mengangguk pelan, "Aku mengerti."
Jose melangkah mendekat, "Aku hanya ingin satu hal lagi."
Rafael mengangkat kepalanya.
"Jangan terlibat dengan orang-orang seperti Luna."
Rafael terdiam beberapa saat.
"Kali ini... aku akan memaafkan mu. Kau bisa kembali ke keluargamu.
Rafael membeku. Ia menatap Jose dengan wajah penuh ketidakpercayaan.
"Apa... apa yang Tuan katakan?"
Jose berdiri tegak. Wajahnya masih dingin, tetapi sorot matanya tak lagi dipenuhi amarah seperti sebelumnya.
"Kau tidak salah dengar. Aku membebaskan mu."
Rafael menggeleng berulang kali.
"Kenapa...? Aku hampir membunuh istri Tuan. Aku pantas mati."
Jose mengembuskan napas panjang.
"Aku pernah membuat kesalahan yang jauh lebih besar."
Kalimat itu membuat seluruh ruangan menjadi sunyi.
"Aku kehilangan anakku karena kebodohanku sendiri. Aku hampir kehilangan istriku karena aku mempercayai orang yang salah."
Ia menatap Rafael lurus.
"Lalu... siapa aku sampai merasa berhak menghakimi seseorang yang masih ingin memperbaiki hidupnya?"
Air mata Rafael kembali mengalir, "Tuan..."
Jose memberi isyarat kepada Erick.
"Lepaskan ikatannya."
Erick sempat ragu, "Tapi, Tuan..."
"Itu perintah."
"Baik."
Erick segera membuka rantai yang mengikat kedua tangan Rafael.
KLEK...
Begitu kedua tangannya bebas, Rafael tidak berusaha melarikan diri.
Sebaliknya...
BRUK!
Ia justru berlutut di hadapan Jose.
"Maafkan aku... Aku bersumpah tidak akan pernah mengulangi semua ini."
Jose menatapnya beberapa saat.
"Lupakan permintaan maafmu kepadaku. Pergilah meminta maaf kepada ibu dan putrimu."
Rafael menangis semakin keras.
"Aku akan bekerja apa saja. Asal Maria bisa sekolah."
Jose mengambil sebuah kartu nama dari saku jasnya.
"Datangi alamat ini."
Rafael menerimanya dengan tangan gemetar.
"Itu perusahaan logistik milikku. Mulai minggu depan, kau bekerja di sana."
Rafael membelalak.
"Tuan..."
"Jangan sia-siakan kesempatan kedua yang kuberikan. Kalau sekali saja kau kembali ke dunia itu..."
Sorot mata Jose kembali berubah dingin.
"...aku sendiri yang akan menangkap mu."
Rafael mengangguk berkali-kali.
"Aku mengerti. Aku berjanji."
Jose kemudian berbalik hendak meninggalkan gudang. Namun sebelum melangkah keluar, ia berhenti.
"Erick."
"Iya, Tuan. Antarkan dia pulang. Pastikan ibunya mendapat perawatan. Dan..."
Jose memejamkan mata sejenak.
"...bayarkan seluruh biaya sekolah Maria sampai dia lulus."
Erick tersenyum tipis.
"Baik, Tuan."
Rafael langsung menundukkan kepalanya hingga dahinya menyentuh lantai.
"Terima kasih... Terima kasih..."
Tangis syukur memenuhi gudang tua itu.
Jose tidak menoleh lagi. Ia melangkah keluar dengan wajah yang tetap muram.
Baginya, menyelamatkan satu keluarga tidak akan pernah mampu menghapus dosa yang telah ia lakukan kepada Eva dan anak mereka.
Saat Jose masuk ke dalam mobilnya, Erick berlari kecil menghampiri sambil membawa sebuah map merah.
"Tuan."
Jose menerima map itu.
"Apa ini?"
"Tim kita baru saja mengirimkan hasil penyelidikan terbaru."
Jose membuka map tersebut.
Di halaman pertama terdapat beberapa foto.
Foto-foto itu memperlihatkan Luna sedang bertemu diam-diam dengan seorang pria berjas hitam di sebuah restoran beberapa hari sebelum percobaan pembunuhan terhadap Eva.
Jose menyipitkan matanya.
"Perbesar foto ini."
Erick mengeluarkan tablet dan memperbesar wajah pria tersebut.
DEG!
Tatapan Jose langsung berubah tajam.
"Aku mengenalnya..."
Erick menoleh.
"Siapa dia, Tuan?"
Jose mengepalkan tangannya.
"Black Serpent"
". Selama ini... Luna ternyata tidak bergerak sendirian."
belajar sono dari Ragna yg punya bapak setengah sinting setengah waras sana.
jadi anak mafia kok bulol plus obses payah sih🤣
pak Escobar juga terlalu manjain sih. didik tuh anakmu dgn benar. bukan dukung jadi pelakor.
atau ada yg sengaja buat wajahnya semirip mungkin?
tapi, kau nggak tau, selingkuhan mu itu dekat dengan musuhmu
semangat.
jangan lupa mampir di karya aku..
udah nyiksa malah ngatain cinta.
dulu kemana, Jose?
mau ketemu sama tokoh aku nggak?
btw, Eva. kalau kau sudah dengar pengakuan Jose, jgn ampuni dia, ya.
padahal udah jadi mafia selama beberapa tahun loh.
pasti pengalamannya banyak dan udah bertemu banyak orang.
mudah banget dikibulin
nggak kayak bosmu