Judul lama : Diagnosis: Falling For You
dr. Narendra Adiwijaya, Sp.B adalah putra tunggal dari keluarga konglomerat, Narendra dipersiapkan sejak kecil untuk menjadi penerus Adiwijaya Healthcare Group. Tuntutan tinggi tersebut membentuk Narendra menjadi pria kaku, dominan, dingin.
dr. Nayla Kartikasari, Sp.A adalah anak pertama dari pasangan Arga Dewantara dan Citra Kirana, memiliki seorang adik bernama Bintang. Nayla memiliki sifat yang hangat, ekspresif, namun bermental baja menjadikannya dokter yang disukai oleh anak anak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naila fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelukan Hangat
Setelah makan malam yang diwarnai canda tawa itu selesai, mereka bersama-sama membereskan piring dan merapikan area dapur bersih. Keheningan yang menenangkan perlahan merayap di dalam penthouse, menggantikan kepenatan dan hiruk-pikuk suasana rumah sakit yang biasanya tak pernah tidur.
Narendra melepaskan apron abu-abunya, menyampirkannya di kursi bar, lalu menuntun Nayla menuju sofa panjang bernuansa abu-abu gelap di ruang tengah. Lampu utama ruangan telah dimatikan, menyisakan pendar temaram dari lampu sudut dan gemerlap pemandangan megah gedung-gedung di balik jendela kaca besar setinggi langit-langit.
Nayla mendudukkan dirinya di sofa, meluruskan kakinya yang terasa pegal setelah berdiri cukup lama di dapur. Sebelum ia sempat menghela napas, Narendra ikut duduk di sampingnya. Pria bedah itu menggeser duduknya rapat, mengikis seluruh jarak di antara mereka.
Tanpa sepatah kata pun, Narendra mengulurkan lengan kokohnya, merangkul bahu Nayla dan menarik tubuh ramping tunangannya itu secara lembut ke dalam dekapannya. Nayla menyandarkan kepalanya dengan sangat alami di dada bidang Narendra, menghirup aroma woody bercampur sabun yang khas dan begitu menenangkan dari sweater polos hitam yang dikenakan pria itu.
Detak jantung Narendra terdengar konstan dan stabil di telinga Nayla—sebuah irama hangat yang selalu berhasil melenyapkan seluruh beban pikirannya.
"Pegal?" tanya Narendra lirih, suara baritonnya bergema halus di dalam dadanya yang menempel pada pipi Nayla.
Nayla mengangguk pelan dalam dekapan itu. "Sedikit. Tadi siang ada tiga prosedur tindakan kecil di bangsal anak, sambung masak pasta sama kamu malam ini."
Tangan kekar Narendra yang bebas bergerak turun. Jemari panjangnya yang biasa mengoperasikan instrumen bedah dengan presisi dingin, kini dengan penuh kehati-hatian mengusap betis dan pergelangan kaki Nayla yang tertutup celana, memberikan pijatan-pijatan lembut yang sangat nyaman. Sentuhan itu tidak tergesa-gesa, melainkan sarat akan rasa menghargai dan kepedulian yang mendalam.
Nayla memejamkan matanya, mengembuskan napas panjang, menikmati perhatian yang diberikan tunangannya. "Naren... enak banget. Kamu belajar memijat dari mana?"
"Anatomi otot manusia adalah makanan sehari-hari aku, Sayang," gumam Narendra rendah, ada nada gurauan tipis dalam suaranya.
Narendra menghentikan pijatannya pada kaki Nayla, lalu memutar tubuhnya sedikit. Tangan besarnya berpindah, menangkup perlahan sisi wajah cantik Nayla. Ibu jarinya mengusap lembut tulang pipi perempuan itu yang merona hangat di bawah pendar lampu temaram.
Nayla membuka matanya lambat-lambat, mendongak untuk menatap sepasang mata elang Narendra. Di dalam manik hitam pria itu, tidak ada lagi jejak kebekuan atau sikap berjarak. Yang ada hanyalah ketulusan, rasa memiliki yang penuh, dan kehangatan yang begitu pekat.
Narendra menundukkan kepalanya secara perlahan, memberikan waktu bagi Nayla untuk bernapas. Napas mereka menyatu saat jarak di antara wajah mereka memendek. Dengan kelembutan yang sangat mendalam, Narendra menyapukan bibirnya di kening Nayla, membiarkan kecupan itu bertahan lama di sana.
Hati Nayla berdesir hebat, jemari tangannya refleks meremas kain sweater di bagian pinggang Narendra, merapatkan tubuh mereka tanpa ragu.
Narendra menjauhkan wajahnya beberapa sentimeter, menatap lekat bibir dan mata Nayla dengan tatapan yang mengunci. "Terima kasih sudah mau hadir di hidup aku, Nayla," bisik Narendra di depan bibir tunangannya, suaranya berat, serak, dan penuh dengan kepastian komitmen. "Setiap kali melihat kamu ada di rumah aku seperti ini... aku makin sadar kalau aku tidak akan pernah bisa melepas kamu lagi."
Nayla tersenyum manis dengan mata yang memancarkan Binar kebahagiaan utuh. Ia mendongak sedikit, memangkas sisa jarak yang tersisa, lalu mendaratkan sebuah kecupan lembut dan hangat di pipi tegas Narendra, sebelum akhirnya menyembunyikan wajahnya yang merona sempurna di ceruk leher hangat pria itu.
"Aku juga gak akan ke mana-mana, Naren," bisik Nayla pelan namun mantap di dekat telinga Narendra.
Narendra melingkarkan kedua lengannya yang kokoh di sekeliling tubuh Nayla, mendekap perempuan itu erat-erat ke dalam pelukannya. Mereka bertahan dalam posisi itu untuk waktu yang lama, menikmati keheningan malam dan keintiman yang terjalin manis di antara dua insan yang kini telah menemukan pelabuhan hatinya secara utuh.
Hai hai Friendsss aku double up nihh, jangan lupa tinggalkan jejak yaaa, Happy reading friendss!!