Felicia Winarko bukan gadis biasa.
Di kehidupan sebelumnya, dia adalah komandan pangkalan militer di dunia pasca-apokalips. Dingin, kalkulatif, dan tidak kenal takut.
Sekarang? Dia terbangun di dunia komik Mary Sue sebagai yatim piatu yang dibully di sekolah elit paling bergengsi.
Misinya: Buat empat pewaris konglomerat jatuh cinta padanya — cinta sejati, bukan sekadar tertarik.
Nathan Salim, sang ketua OSIS yang sempurna di luar tapi rapuh di dalam.
Calvin Tanuwijaya, pelukis jenius yang memanggilnya "Ci" dengan tatapan berbahaya.
Jayden Hartono, pewaris temperamental dengan tindik bibir dan hati selembut anak anjing.
Sebastian Widjaja, si jenius germaphobe yang sentuhan Felicia bisa menyembuhkan.
Empat pria. Empat bintang yang harus dinyalakan. Satu perempuan yang menolak memilih.
"Kenapa harus pilih satu? Mereka semua milikku."
Tapi di balik permainan cinta yang dia kendalikan dengan sempurna, dunia ini menyimpan rahasia yang bisa membunuh mereka semua...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 22 - Rumah Murah Itu
"Bagus. Biar masa lalu belajar mengetuk sebelum masuk."
Felicia mengatakannya dengan tenang.
Namun tubuh ini tidak sepenuhnya patuh.
Jari kanannya terasa dingin di sekitar jarum infus. Rusuk yang memar seperti menegang sendiri. Di bagian terdalam ingatan tubuh lama, suara sandal menyeret di lantai semen muncul sebelum pintu benar-benar terbuka.
Pak Tono selalu berjalan seperti itu.
Berat, kasar, tidak peduli apakah orang di depannya sedang tidur atau menangis.
Pintu ruang observasi dibuka oleh petugas rumah sakit. Dua orang masuk dengan canggung ke dalam ruangan yang terlalu putih dan terlalu mahal untuk mereka.
Pak Tono memakai kemeja batik kusut yang kancing perutnya tertarik. Bau rokok menempel padanya bahkan dari jarak beberapa meter. Matanya bergerak cepat dari Hendrick, Mama Wenny, F4, lalu berhenti pada Felicia di ranjang. Begitu melihat infus dan penyangga bahu, mulutnya melengkung.
Di belakangnya, Bu Gina berdiri dengan tas kain lusuh di depan perut. Wajahnya lebih tua daripada data usia yang pernah Sis tampilkan. Matanya bertemu dengan Felicia sebentar, lalu langsung jatuh ke lantai.
Om Charles tersenyum seperti tuan rumah yang berhasil membawa saksi utama. "Pak Tono, Bu Gina. Terima kasih sudah datang. Kami hanya ingin mendengar sedikit cerita tentang Felicia."
"Cerita apa lagi?" Pak Tono tertawa kasar. "Anak itu memang dari kecil susah diatur."
Jayden mengangkat kepala.
Nathan berkata pelan, "Hati-hati dengan ucapan Anda."
Pak Tono melihat pakaian Nathan, lalu jamnya, lalu cara semua orang muda di ruangan itu berdiri di sekitar Felicia. Rasa takut muncul cepat, tetapi keserakahan datang lebih cepat.
"Saya ini bapaknya."
"Bapak asuh," koreksi Sebastian.
"Sama saja. Saya yang kasih makan."
Felicia menatapnya. "Nasi dingin semalam dan tamparan tidak dihitung paket lengkap."
Bu Gina tersentak.
Pak Tono melotot. "Mulutmu masih sama, ya. Sudah masuk rumah sakit masih kurang ajar."
Hendrick melangkah maju, tetapi Felicia mengangkat tangan. Ia tidak ingin lelaki itu menjadi tameng. Tidak sekarang.
"Om Charles mengundangmu untuk membuktikan aku tidak pantas masuk keluarga Tanuwijaya," kata Felicia. "Silakan. Mulai."
Pak Tono jelas senang diberi panggung. "Lihat sendiri, kan? Nada bicaranya begitu. Dari SMP sudah begitu. Kalau disuruh kerja di rumah, melawan. Kalau ditegur, kabur. Kami miskin, tapi kami sudah sabar membesarkan dia."
Clarissa menyilangkan tangan. Wajahnya menikmati setiap kata.
Tante Lina berkata, "Ini yang kami khawatirkan. Riwayat pembentukan karakter tidak bisa dihapus dengan tes DNA."
Felicia tersenyum. "Karakterku terbentuk karena aku belajar lebih cepat daripada orang yang memukulku."
Ruangan mendadak beku.
Mama Wenny menutup mulut.
Hendrick memandang Pak Tono seperti ingin menghancurkan sesuatu, tetapi tubuhnya terlalu terlambat untuk terlihat berhak marah.
Pak Tono menunjuk Felicia. "Fitnah! Saya pukul karena mendidik. Anak perempuan kalau terlalu liar harus dikasih tahu tempatnya."
Jayden bergerak.
Kali ini Nathan tidak menahan. Calvin lebih cepat. Ia memegang lengan Jayden dengan satu tangan, matanya tetap pada Pak Tono.
"Jangan di sini," bisik Calvin.
"Gue tahu," jawab Jayden, tetapi urat di lehernya menegang.
Sebastian menatap Bu Gina. "Apakah benar tidak ada kekerasan berulang?"
Bu Gina membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Pak Tono menoleh tajam. "Gina."
Satu kata itu membuat bahu Bu Gina mengecil.
Felicia memandang gerakan itu. Tubuh lama di dalam dirinya mengenali adegan tersebut. Dulu, setiap kali Pak Tono menyebut nama Bu Gina dengan nada seperti itu, dapur menjadi sunyi, pintu kamar terkunci, dan tidak ada orang dewasa yang datang ketika anak kecil itu menangis.
"Jawab," kata Felicia.
Bu Gina menggenggam tas kainnya. "Saya..."
"Gina!" bentak Pak Tono.
Monitor Felicia berbunyi lebih cepat.
Nathan langsung menekan tombol panggil perawat. Bukan panik. Prosedural. Bukti suara, saksi, keamanan.
Felicia berkata datar, "Di rumah ini tidak ada dapur untuk kamu pakai membentak perempuan."
Pak Tono menatapnya dengan wajah menggelap. "Kamu pikir karena sekarang ada orang kaya di belakangmu, kamu bisa bicara seperti itu?"
"Aku bisa bicara seperti ini bahkan tanpa mereka."
"Dulu kamu tidak berani."
"Dulu tubuh ini masih kecil."
Kata "tubuh ini" lewat begitu saja di telinga orang lain sebagai metafora. Hanya Sis yang terdiam di kepala Felicia.
Pak Tono maju satu langkah. "Kalau kamu masih tinggal di rumah saya, sudah saya ajari lagi."
"Coba."
Tantangan itu keluar pelan.
Semua orang melihatnya.
Pak Tono, pria yang selama bertahun-tahun terbiasa membuat satu rumah diam dengan suara keras, tidak tahan. Ia mengulurkan tangan ke arah Felicia, bukan untuk membantu, bukan untuk menyentuh dengan lembut, melainkan untuk menjambak atau menampar. Gerakannya terlalu dikenal oleh tubuh lama.
Sebelum Jayden melompat, tangan kanan Felicia sudah bergerak.
Ia menangkap pergelangan Pak Tono.
Jarum infus menarik kulitnya. Rasa perih memancar sampai siku. Bahu kiri menjerit karena tubuhnya ikut berputar sedikit. Namun genggamannya tidak lepas.
Pak Tono terkejut. "Lepas!"
Felicia memiringkan pergelangan tangannya sepersekian putaran.
Bukan pukulan.
Bukan serangan.
Hanya penguncian yang sangat sederhana, cukup untuk membuat sendi Pak Tono memilih antara menekuk atau sakit.
Pria itu terpaksa menurunkan tubuhnya sampai satu lutut hampir menyentuh lantai.
Jayden berhenti di tengah langkah, matanya menyala.
Calvin menarik napas pendek. "Ci..."
Nathan sudah berada di sisi ranjang, satu tangan siap menopang infus agar tidak tertarik lebih jauh. Sebastian menekan bel perawat lagi dan berkata, "Petugas keamanan diperlukan. Ada upaya menyerang pasien."
Pak Tono meringis. "Anak durhaka!"
"Salah," kata Felicia. "Aku pasien yang diserang."
Ia melepaskan tangan itu.
Pak Tono mundur terhuyung. Wajahnya merah karena malu. Om Charles tidak lagi tersenyum. Senjata yang ia bawa ternyata menodong balik ke arahnya di depan terlalu banyak saksi.
Bu Gina tiba-tiba menangis.
Tangisnya tidak keras. Hanya pecah kecil di tenggorokan, seperti gelas retak yang selama ini dipaksa tetap dipakai.
"Cukup, Tono," katanya.
Pak Tono menoleh tidak percaya. "Apa?"
Bu Gina mengangkat wajah. Matanya basah, tetapi kali ini tidak jatuh ke lantai. "Cukup. Anak itu memang sering kamu pukul."
Clarissa spontan mundur setengah langkah.
Tante Lina berkata cepat, "Bu Gina, hati-hati. Anda sedang di bawah tekanan."
"Saya memang selalu di bawah tekanan," jawab Bu Gina pelan. "Tapi bukan dari dia."
Ruangan sunyi.
Felicia menatap wanita itu.
Bu Gina menelan ludah. "Saya salah. Saya diam terlalu lama. Waktu dia kecil, saya sering pura-pura tidak dengar. Saya takut kalau membela dia, saya juga dipukul. Itu bukan alasan. Saya tahu."
Pak Tono mengangkat tangan lagi. "Gina!"
Jayden maju kali ini.
Tidak menyentuh Pak Tono. Hanya berdiri di depannya dengan tubuh tinggi, bahu lebar, dan mata yang membuat ancaman Pak Tono mati sebelum lahir.
"Coba bentak lagi," kata Jayden.
Pak Tono menutup mulut.
Petugas keamanan masuk bersama perawat. Nathan langsung menjelaskan singkat, rapi, tanpa emosi berlebihan. "Pria ini mencoba menyentuh pasien secara agresif. Ada saksi. Tolong keluarkan dari ruang observasi dan catat insidennya."
Pak Tono panik. "Saya walinya!"
Pengacara keluarga akhirnya berbicara. "Status wali sedang diproses ulang karena bukti hubungan biologis dan dugaan kekerasan. Untuk saat ini, rumah sakit berhak membatasi akses Anda."
Wajah Pak Tono berubah dari marah menjadi takut.
Perawat memeriksa tangan Felicia dan langsung mengerutkan kening. Jarum infusnya tertarik sedikit, meninggalkan titik darah kecil di kulit.
"Harus diganti posisi," kata perawat. "Pasien tidak boleh banyak bergerak."
"Catat penyebabnya," kata Nathan.
Perawat melirik orang-orang di ruangan, lalu mengangguk. "Dicatat sebagai insiden keluarga pengunjung."
Sebastian mendekat setengah langkah, melihat tangan Felicia tanpa menyentuh. "Tidak ada robekan besar, tapi sebaiknya diganti setelah keamanan keluar. Tekanan darahnya juga perlu dicek ulang."
"Saya baik," kata Felicia.
"Kamu pasien gegar ringan dengan bahu kiri pascareposisi dan rusuk memar," jawab Sebastian datar. "Definisi baikmu tidak valid untuk dokumentasi medis."
Jayden menggeram pelan. "Gue harusnya patahin tangannya."
"Tidak," kata Felicia. "Tangan itu masih berguna."
"Buat apa?"
Felicia menatap Pak Tono. "Untuk tanda tangan laporan."
Wajah Pak Tono makin pucat.
Om Charles berkata dingin, "Tunggu. Kita belum selesai."
Felicia menatapnya. "Kamu yang belum selesai mempermalukan diri."
Kali ini Calvin tertawa pelan. Suaranya tidak ceria, tetapi cukup tajam untuk membuat Clarissa menggigit bibir.
Petugas keamanan membawa Pak Tono keluar. Ia masih mengumpat, tetapi suaranya semakin jauh di koridor.
Bu Gina tetap berdiri di tempat.
"Saya boleh bicara dengan Felicia?" tanyanya.
Hendrick hendak menjawab.
Felicia mendahului, "Tidak sendiri."
Bu Gina mengangguk cepat. "Iya. Tidak sendiri juga tidak apa-apa."
Ia meremas tas kainnya. Dari dalam, terdengar bunyi plastik tua dan sesuatu seperti kotak kecil.
"Ada yang harus kamu tahu tentang hari kamu dibawa ke rumah kami," katanya. "Selama ini saya tidak berani mengatakannya karena Tono menyimpan barang itu."
Om Charles menegang.
Felicia melihatnya.
Menarik.
Bu Gina membuka tas kain sedikit.
Di dalamnya ada kotak perhiasan bayi berwarna merah tua, kusam, tetapi jelas bukan barang dari rumah murah Pak Tono.
Hendrick menatap kotak itu.
Kali ini, wajahnya bukan sekadar pucat. Ia seperti melihat pintu lama yang selama bertahun-tahun ia paku sendiri dari luar.
Mama Wenny mengenali reaksinya lebih dulu. "Hendrick, kamu pernah melihat kotak itu?"
Hendrick tidak menjawab.
"Barang ini," bisik Bu Gina, "bukan milik kami."