NovelToon NovelToon
Setelah Putri Kandung Itu Kembali.

Setelah Putri Kandung Itu Kembali.

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Sci-Fi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cumi kecil

Selama bertahun-tahun, Bee Catleen hidup sebagai putri kesayangan keluarga Luwis. Meskipun berstatus anak angkat, Bee selalu menerima cinta dan kasih sayang yang membuatnya merasa tidak pernah berbeda dari anggota keluarga lainnya.

Namun semuanya berubah ketika Jelita, putri kandung keluarga Luwis yang hilang selama lima belas tahun, akhirnya kembali.

Perlahan, perhatian yang dulu menjadi miliknya mulai beralih. Bee hanya bisa tersenyum dan berpura-pura bahagia demi melihat keluarganya kembali utuh. Di balik tawa ceria dan sifat humorisnya, Bee menyimpan luka yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.

Hari demi hari, Bee hidup dengan topeng kebahagiaan, hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang mampu melihat kesedihan yang ia sembunyikan rapat-rapat.

Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang memilihnya tanpa ragu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 PESTA MAKAN MALAM.

Di perusahaan Luwis. Jam makan siang dimanfaatkan Prans Luwis dan putra sulungnya, Darius, untuk makan bersama di ruang kerja sang direktur.

Di atas meja tersaji beberapa hidangan, namun pembicaraan mereka jauh lebih menarik daripada makanan yang ada di hadapan mereka.

Papah Prans menyesap kopi hitamnya pelan. "Darius."

"Iya, Pah."

"Menurutmu bagaimana tentang Juna?"

Darius mengangkat wajahnya. "Maksud Papah?"

"Kemungkinan Juna menerima Jelita."

Darius terdiam sejenak sebelum menjawab. "Kalau soal perasaan, aku tidak bisa memastikan."

"Juna itu orangnya dingin. Sulit ditebak, Tapi..."

Darius mengangguk pelan. "Dia laki-laki yang baik."

"Punya karier yang bagus dan juga Mapan."

"Kalau memang nanti Juna berjodoh dengan Jelita, masa depan Jelita pasti terjamin."

Papah Prans tersenyum puas mendengar jawaban putranya. "Itu juga yang Papah pikirkan, Selama lima belas tahun Jelita hidup dalam kekurangan, Kita tidak pernah ada di sisinya." Ucapnya "Papah ingin menebus semuanya."

Darius menganggukkan kepala.

Papah Prans kembali melanjutkan. "Keluarga Kyler sebentar lagi kembali ke kota. Kalau mereka sudah pulang... Papah berniat menemui mereka."

Darius menatap ayahnya. "Papah ingin melamar Juna untuk Jelita?"

Papah Prans mengangguk mantap."Iya. Papah ingin meminta Juna menjadi pendamping hidup Jelita."

"Papah ingin Jelita benar-benar bahagia. Selama ini dia sudah terlalu banyak menderita, Sekarang sudah saatnya kita membahagiakannya."

Darius menghela napas pelan. Ia memahami perasaan ayahnya, Namun... Entah mengapa sebuah nama tiba-tiba terlintas di benaknya. "Kalau Bee bagaimana, Pah?"

Papah Prans menghentikan gerakan sendoknya.

Darius melanjutkan dengan suara pelan. "Bee juga bagian dari keluarga ini."

"Dia..." Darius menggantungkan ucapannya.

Dalam lubuk hatinya, Bee tetap adik yang sangat ia sayangi, Hanya saja... Sejak Jelita kembali, ia merasa Bee berubah menjadi lebih pendiam dan menurutnya bersikap kekanak-kanakan.

Papah Prans meletakkan sendoknya. "Kita sudah memberikan yang terbaik untuk Bee. Kita membesarkannya, Menyekolahkannya dan Memberikan kasih sayang."

" yang paling utama... Apa pun yang Bee inginkan, selama kita mampu, selalu kita penuhi." Papah Prans menarik napas panjang. "Sekarang... Sudah saatnya Bee belajar mengalah, Dan sudah saatnya Bee mengerti di mana posisinya."

Ucapan itu membuat Darius terdiam.

Papah Prans kembali berbicara. "Yang paling penting sekarang adalah kebahagiaan Jelita." Kata papah prans "Soal Bee... Kita pikirkan nanti."

Darius tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk pelan "Baik, Pah." Namun setelah percakapan itu berakhir, hati Darius justru terasa tidak tenang.

Tanpa ia sadari, beberapa hari terakhir Bee tidak pernah lagi tertawa lepas di rumah. Bee selalu tersenyum... Tetapi senyum itu terasa berbeda, Senyum yang seolah dipaksakan. Meski begitu, Darius memilih mengabaikan firasat kecil di dalam hatinya.

Sore hari akhirnya tiba.

Jam kerja resmi berakhir. Seluruh karyawan mulai merapikan meja kerja masing-masing, Tak lama kemudian, seorang staf HRD berdiri di tengah ruangan.

"Perhatian semuanya. Seperti yang sudah diumumkan tadi siang, malam ini perusahaan mengadakan acara makan malam sederhana untuk menyambut para peserta magang."

"Tolong langsung berkumpul di lobi. Kendaraan sudah disiapkan." lanjutnya.

Mendengar itu, Bee tersenyum lebar, Ia menoleh ke arah Kriss.

"Wah... ternyata benar-benar jadi."

Kriss ikut tersenyum. "Perusahaan ini baik banget. Lembur enggak, makan siang gratis, Sekarang makan malam juga gratis."

Bee tertawa kecil. "Anak kos dan mahasiswa magang seperti kita sangat terbantu."

Kriss mengangguk semangat. "Betul."

"Makan gratis itu rezeki."

Bee menahan tawanya. "Kamu ini..."

Sementara itu... Di sudut ruangan lain.

Jelita hanya mendengus pelan. "Kampungan..." gumamnya lirih. "Cuma makan malam saja sampai senang begitu." Menurutnya, acara seperti ini bukan sesuatu yang istimewa.

Sebelum berangkat, Bee mengeluarkan ponselnya. Ia membuka ruang obrolan dengan Mamah Lana.

Bee: Mah, malam ini Bee pulang agak telat ya. Kantor ada acara makan malam buat anak magang.

Bee menunggu beberapa saat.

Tak ada balasan.

Bee kembali menatap layar ponselnya. Status pesannya hanya terbaca terkirim, Bee tersenyum tipis. "Mungkin Mamah lagi sibuk." Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.

Beberapa mobil perusahaan membawa seluruh karyawan menuju sebuah restoran bintang lima.

Restoran itu telah menyiapkan satu ruangan VIP lengkap dengan fasilitas karaoke. Begitu masuk, suasana langsung terasa hangat.

Beberapa karyawan sibuk mengambil makanan. Sebagian lagi sudah mulai bercanda.

Bee yang awalnya pendiam saat bekerja, kini kembali menjadi dirinya yang ceria, Ia mengobrol dengan rekan-rekan barunya.

Sesekali terdengar tawanya memenuhi ruangan.

"Ternyata Bee aslinya cerewet juga ya." godaan salah satu karyawan membuat Bee terkekeh malu.

"Kalau sudah kenal memang begini, Kak."

Rina ikut tertawa. "Pantas suasananya jadi hidup."

Kriss mengangguk setuju. "Bee memang begitu." ucap Kriss "Kalau diam, berarti dia lagi capek."

Semua orang ikut tertawa.

Tak lama kemudian... Pintu ruangan kembali terbuka.

Semua spontan berdiri.

"Selamat malam, Pak."

Xian masuk lebih dulu. Di belakangnya berjalan kak Juna dengan wajah datar seperti biasa.

Bee yang melihat mereka langsung berdiri.

"Selamat malam, Pak Xian."

"Selamat malam, Dok... eh, maksud saya Kak Juna." Bee langsung mengoreksi ucapannya sendiri.

Kak Juna menganggukkan kepala pelan. "Malam."

Xian justru tersenyum geli. "Bagus. Di kantor memang harus profesional."

Bee mengangguk sopan. "Iya, Pak."

Melihat itu, beberapa karyawan mengangguk kagum.

Meski mengenal atasan di luar kantor, Bee tetap menjaga sikapnya sebagai karyawan magang.

Di sisi lain. Kedua mata Jelita langsung berbinar melihat Juna datang, Ia segera mengambil segelas minuman. Dengan senyum manis, Jelita menghampiri.

"Kak Juna. Boleh kita bersulang?"

Kak Juna melirik gelas di tangan Jelita, Lalu menggeleng pelan. "Maaf. Aku tidak terbiasa bersulang dengan orang baru ." Nada bicaranya tetap sopan, tetapi terdengar tegas.

"Oh..." Senyum Jelita sedikit memudar. "Baik, Kak." Ia kembali ke tempat duduknya dengan perasaan kecewa.

Beberapa karyawan yang melihat kejadian itu mulai saling berbisik. "Dia kelihatan sok akrab ya."

"Padahal Pak Juna kelihatannya biasa saja."

"Kasihan juga..." Namun bisikan itu segera mereda ketika Xian mulai berbicara dengan beberapa manajer.

Kak Juna memilih duduk di samping Xian.

Pandangannya tanpa sadar tertuju pada Bee yang sedang tertawa bersama rekan-rekan kerjanya.

Melihat Bee kembali ceria, sudut bibir Juna sedikit terangkat.

Xian yang duduk di sebelahnya menyenggol pelan lengan sahabatnya. "Bee cantik ya."

kak Juna tetap menatap ke depan. "Hm."

Xian tersenyum usil. "Setahuku dia masih sendiri. Kalau kamu nggak tertarik... biar aku saja yang mendekatinya."

Baru selesai mengucapkan kalimat itu...

Buk!

Kak Juna meninju pelan lengan Xian.

"Astaga..." Xian langsung mengusap lengannya. "Pelan dikit kenapa?"

Kak Juna menatap sahabatnya tajam. Dengan suara pelan agar tidak didengar orang lain, ia berkata, "Jangan sentuh orangku."

Xian terdiam beberapa detik. Lalu... Senyumnya melebar penuh arti. "Ooh... Jadi akhirnya ngaku juga."

Kak Juna tidak menjawab. Ia hanya kembali mengalihkan pandangannya ke arah Bee yang sedang tertawa lepas bersama rekan-rekan kerjanya.

Melihat senyum itu, untuk pertama kalinya hari itu, wajah dingin Juna tampak sedikit lebih hangat.

1
Daniel Kang
💪semangat bee
Lin-khay💞
Halo kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!