Alya Renatha tak pernah menyangka akan diceraikan oleh Leonhart Varellion, CEO dingin dari Leonhart Corporation yang menikahinya tanpa cinta. Saat ia pergi dari hidup pria itu, Alya tidak tahu bahwa dirinya sedang mengandung anak kembar tiga.
Bertahun-tahun berlalu. Alya kembali ke kota itu bersama ketiga putranya. Tanpa sengaja, mereka bertemu dengan Leon di sebuah lobi hotel.
“Om, mau nggak jadi Papa kami?” tanya ketiga bocah itu serempak—membuat Leonhart Varellion terpaku dengan tatapan datar, karena wajah mereka mirip dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julian_06, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keinginan Apa?
Acara makan-makan pun dimulai, di Alya mengajak si kembar ke kamar mandi untuk membasuh wajah mereka.
Mereka sangat bandel sekali sampai bermain perang-perangan kue.
"Setelah basuh langsung bilang Mama!
Mama akan lap pakai tisu basah," ucap Alya.
"Siap, Mah."
Alya menunggu di depan kamar mandi sambil memainkan ponselnya, Leon pun datang dan tersenyum melihat kekasihnya hari ini.
"Ini kamar mandi perempuan," ucap Alya.
"Ya, aku tahu. Aku tidak sabar menikah denganmu," jawab Leon.
Saat bersamaan mereka mendengar suara guyuran air, mereka membuka pintu kamar mandi dan melihat ketiga anak-anaknya basah kuyub.
Mereka pun terkejut padahal tidak ada pakaian ganti, Alya lupa jika mereka masih bicah usia 5 tahun yang sedang jahil-jahilnya.
"Ya ampun!" ucap Alya dengan mode galaknya.
"Mah, Fared dulu yang nakal, dia nyiramn aku pakai air duluan," jelas Farad kesal.
"Farid, Mah, yang mulai dulu," jelas Fared.
"Yeee.... fitnah, Farad yang mulai dulu
kok," jawab Fared.
Alya menjewer telinga mereka sampai mereka meminta ampun, Leon tertawa kecil dengan aksi kenakalan mereka.
Dia lekas meminta Alya melepaskan jeweran itu kemudian mengajak anak-anaknya untuk mengeringkan pakaian.
"Sudah! Sudah! Ikut Papa keringkan baju kalian dulu," ucap Leon sambil menggandeng mereka.
Alya memandang punggung mereka, ia tersenyum karena pada akhirnya Leon mau berubah demi mereka.
Setelah itu ia berjalan menuju ke aula dan menikmati hidangan yang ada, para pegawai hari ini sedang menikmati pesta yang jarang dilakukan.
Riana mendekati Alya, wanita itu belum sepenuhnya menerima Alya menjadi menantunya.
"Mama?" ucap Alya.
"Kamu bisa saja menikah dengan putraku, tapi aku belum menerimamu," kata Riana.
"Aku paham, Mah. Aku tahu jika Mama maunya mendapatkan menantu yang kaya serta berkelas sedangkan aku hanya wanita miskin serta pekerjaan juga sebatas pelayan."
"Untunglah sadar diri! Aku tidak sudi menerimamu apalagi anak-anak bandel mu itu tidak ada sopan santun," jelas Riana membuat Alya sakit hati jika menyangkut tentang anaknya.
Riana menjauhinya dan bergabung dengan wanita-wanita lain, sedangkan Alya terdiam sambil memegang piring yang masih kosong.
Saat bersamaan Leon dan anak- anaknya datang, pria itu langsung tahu jika Alya sedang bersedih.
"Alya? Kenapa?"
"Eh.... sudah ganti pakaian? "tanya Alya melihat ketiga anak kembarnya.
"Sudah, kenapa kamu kelihatan sedih? Apa ada yang menyakitimu?"
"Gak ada kok, mungkin aku hanya capek saja," ucap Alya.
"Apa Mamaku mengatakan hal aneh-aneh kepadamu?"
"Tidak, aku baik-baik saja. Kepalaku agak pusing, bolehkah aku masuk ruangan mu?"
Leon mengangguk lalu menyuruh salah satu asisten perempuannya mengantar Alya masuk ke kantor. Dia tahu jika sang mama mengatakan yang tidak-tidak pada Alya.
Leon lantas menghampiri sang mama yang sedang mengobrol dengan temannya.
"Mah, bisa kita bicara?" tanya Leon.
Mereka lalu berbicara berdua menjauhi semua orang.
"Apa?"
"Apa yang Mama katakan kepada Alya?" tanya Leon.
"Hah... apalagi? Mama tidak berkata apa-apa"
"Wajah Alya nampak murung setelah aku tinggal sebentar tadi."
"Kenapa Mama yang disalahkan?"
"Karena Mama yang masih menentang hubunganku dengan Alya. Tolong jangan buat Alya berubah pikiran dan tidak jadi mau menikah denganku! Sebentar lagi kami akan menikah dan Mama tak perlu ikut campur untuk urusan kami," jelas Leon.
Leon meninggalkan beliau dan menghampiri Alya di kantornya, ia melihat Alya melamun tidak jelas sambil meremas ujung dress nya.
"Sayang?"
"Pestanya masih lama, ya?" tanya Alya.
"Setelah makan-makan sudah selesai kok. Kamu kenapa?"
Alya menggelengkan kepalanya.
"Tidak usah pikirkan apa yang Mama katakan! Ini urusan kita apalagi kita akan rujuk lagi, jadi sekarang fokus pada pernikahan kita saja!"
"Benar kata Mamamu, kamu harusnya lebih pantas bersanding dengan wanita yang sama sepertimu, sedangkan aku hanya pelayan yatim piatu. "
Walau pun diantara kita sudah ada ketiga anak, tapi tetap saja tidak mengubah fakta jika aku adalah seorang pelayan," jelas Alya dengan air mata yang sudah mengalir.
Leon mengusap air mata itu. "Aku tidak peduli siapa kamu, kamu adalah ibu dari anak-anakku."
Tentu saja Alya sangat minder, dia sebatas lulusan SMA yang pernah bekerja di Resort Mewah Indraloka sebagai pelayan dan ia juga pernah menjadi pelayan di sebuah hotel.
Leon adalah seorang CEO pemegang beberapa grup perusahaan dan dia seorang yang paling sukses untuk saat ini.
"Sayang, lihat mataku! Kamu bisa lihat seberapa yakinnya aku untuk rujuk
denganmu."
Mata mereka saling berpandangan, tetap saja Alya belum yakin sepenuhnya.
"Alya, ayolah! Tidak usah pedulikan ucapan mereka yang sok mengurusi urusan kita. Kita rujuk juga demi si kembar bukan orang lain," ucap Leon.
Alya mengusap air matanya dan tersenyum mengangguk, Leon lekas memeluknya dengan erat sembari mengecup keningnya dengan lembut.
Kecupan itu turun dari kening menuju ke hidung kemudian bibir, mereka berciuman dengan mesra dan lidah yang saling terjulur.
Ciuman itu begitu dalam dirasakan, Alya juga sangat menikmatinya.
Semua ini tak tertahankan, tangan Leon membelai punggung Alya, tentu saja selama ini ia haus akan sentuhan.
Alya yang menyadari jika ini berlebihan langsung melepaskan ciumannya.
"Anak-anak di mana? Nanti mereka membuat ulah," ucap Alya.
"Mereka disana dengan kakeknya, kamu tak perlu khawatir" jawab Leon yang sudah merasakan bawahannya mengeras.
"Aku harus menyusul, aku takut mereka berbuat onar lagi," ucap Alya sambil berdiri tapi tangannya dicekal oleh Leon.
"Alya, bolehkah aku meminta sekarang?" tanya Leon.
Wajah Alya berubah kesal dan Leon menyadari hal itu.
"Baiklah, maaf jika aku lancang. Aku akan bersabar sampai kita sudah rujuk lagi, hufft... . Burungku sudah benar-benar berdiri," ucap Leon.
Alya tersenyum dan mengelus bagian itu. "Bersabarlah! Jika sudah waktunya aku akan memberikannya padamu."
Pria itu mengangguk, Alya berlari keluar dan khawatir dengan anak-anaknya.
Leon tersenyum sendiri, ia merasa senang karena kekasihnya itu sangat menggemaskan.
Sesampainya di aula, Alya merasa lega karena si kembar duduk manis memakan es krim bersama kakeknya.
Sepertinya hanya Rafael yang bisa menjadi pawang bocah-bocah genius itu.
"Alya, Leon mana?" tanya Rafael.
"Dia ada di kantor, Pak Rafael," jawab Alya.
"Kemarilah dan duduk! Ada yang harus aku katakan." Jantung Alya berdebar karena takut jika beliau mengatakan yang tidak-tidak dan berubah pikiran untuk tidak merestui hubungan mereka.
"Leon sudah membicarakan mahar untukmu?" tanya Rafael.
"Belum," jawab Alya masih heran.
"Kamu mau apa?"
"Maksudnya?"
"Kamu mau mahar apa dari kami? Kamu akan jadi istrinya Leon selamanya dan pihak kami harus memberikan mahar yang terbaik. Kamu mau apa? Emas, mobil, apartemen atau apa?" tanya Rafael.
"Pak Rafael, ini berlebihan. Kami akan rujuk secara sederhana saja dan aku tidak meminta yang aneh-aneh."
Rafael menghela nafas panjang. "Mana bisa begitu? Kamu sudah memberikan kami tiga anak kembar ini dan bahkan mereka sebenarnya tidak bisa ditukar dengan apapun.
Maka dari itu kami ingin memberikan yang terbaik untukmu. Kamu minta apa?"
knp Fared kesetanan liat badut itu 😡😡😡