Fatih, seorang ustadz.. yang hampir 10 merindukan kekasihnya Wulan seorang gadis bercadar sejak dia pesantren dulu.
tak kunjung bertemu, surat terakhirnya pun tak kunjung ada balasan.
Namun, alih-alih menemukan sosok wulan, dia malah terjebak dan terpaksa menikah dengan seorang gadis pelarian bernama Bella, yang kontradiksi dengan kehidupannya sebagai ustadz.. gadis itu datang dengan pakaian yang tidak pantas. namun hatinya tetap mencintai wulan..bagaimana kisahnya...
drama religi ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Ikatan Batin yang Terjaga
Entah ini sebuah kebetulan yang diatur oleh takdir atau sekat gaib yang sengaja dibuka sekilas; tepat ketika langkah kaki Wulan dan Hasna keluar melewati pintu geser otomatis lobi rumah sakit, di dalam kamar perawatan, jemari tangan Fatih bergerak perlahan.
Monitor jantung di samping ranjang berbunyi sedikit lebih cepat. Kelopak mata Fatih bergetar, sebelum akhirnya ia membuka matanya sepenuhnya. Pandangannya kabur menatap langit-langit kamar yang putih, sebelum kesadarannya pulih secara bertahap.
"Man... Lukman..." panggil Fatih, suaranya sangat serak dan lemah.
Lukman yang mendengar suara dari dalam kamar segera mendorong pintu dan berlari masuk ke samping ranjang. "Tih! Alhamdulillah, kamu sudah siuman! Jangan banyak bergerak dulu, kepalamu baru saja diperban."
Fatih tidak mempedulikan rasa sakit yang berdenyut di kepalanya. Ia mencengkeram lengan baju Lukman dengan sisa tenaga yang ia miliki. Matanya menatap Lukman dengan binar keyakinan yang aneh.
"Man... man... aku melihat Bella di sini. Aku bisa merasakannya, Man! Aroma tubuhnya, kehadirannya... seperti dekat sekali denganku beberapa menit lalu. Dia ada di ruangan ini, Man!" kata Fatih dengan napas yang memburu, mencoba bangkit dari bantalnya.
Lukman menghela napas panjang, menatap sahabatnya dengan rasa iba yang mendalam. "Bella? Gak ada Bella di sini, Tih. Dari tadi ruangan ini sepi, cuma ada aku, Zahra yang sedang menebus obat di bawah, dan barusan Bu Hasna mampir sebentar untuk menjengukmu."
"Benar, Man! Aku tidak bohong! Rasanya seperti dekat sekali, seolah-olah dia baru saja berdiri di sampingku dan menangis," kekeh Fatih, air matanya menetes di sudut mata karena rasa frustrasi.
"Kamu cuma mimpi kali, Tih. Pengaruh obat bius dan benturan di kepalamu membuatmu berhalusinasi," ucap Lukman, mencoba menenangkan meski hatinya sendiri mulai merasa tidak tenang. Fatih terdiam, perlahan melepaskan cengkeramannya pada baju Lukman. Ia menatap nanar ke arah sudut ruangan yang kosong. Mungkin benar, pikirnya, itu semua hanya bunga tidur yang lahir dari rasa bersalahnya yang teramat besar. Kehadiran Bella di mimpinya terasa begitu nyata hingga ia bisa merasakan kehangatan pelukannya.
Lukman berjalan menjauh dari ranjang, menatap ke arah jendela luar yang menampilkan pemandangan jalanan kota yang sibuk. Pikirannya kembali melayang pada sosok gadis bercadar putih yang bersama Hasna tadi. Nama "Wulan" terus berdengung di dalam kepalanya seperti lebah yang mengganggu.
Lukman membalikkan badannya, menatap Fatih yang kembali memejamkan mata menahan sakit. Rasa bersalah karena menyimpan surat sepuluh tahun lalu kini bercampur dengan firasat baru yang mendesak di dadanya.
"Tih..." panggil Lukman dengan nada suara yang berubah menjadi sangat serius dan berat.
Fatih membuka matanya sedikit, menoleh ke arah sahabatnya. "Kenapa, Man?"
"Tadi... saat kamu masih pingsan, Bu Hasna datang menjengukmu. Dia tidak sendirian, Tih. Dia datang bersama seorang anggota baru dari komunitasnya," Lukman menarik napas dalam-dalam, memantapkan hatinya untuk mulai membuka tabir rahasia yang ia simpan. "Gadis bercadar putih yang menemaninya itu... namanya Wulan, Tih."
Fatih tersentak kecil, menatap Lukman dengan dahi berkerut.
"Jangan-jangan... itu Wulan yang selama sepuluh tahun ini kamu cari, Tih," lanjut Lukman, suaranya bergetar menahan beban rahasia yang hampir meledak. "Aku harus memberi tahu kamu sesuatu yang besar tentang surat itu... tapi nanti, setelah kondisimu benar-benar sembuh total dari gegar otak ini. Aku tidak mau kamu kolaps lagi."
Mendengar nama "Wulan" disebut, jantung Fatih kembali berdegup kencang di balik dada bidangnya. Di luar sana, mobil yang membawa Wulan dan janin di rahimnya perlahan bergerak membelah kemacetan jalan raya, menjauh dari rumah sakit, meninggalkan Fatih yang kini menatap langit-langit kamar dengan sejuta pertanyaan baru yang mulai merayap di dalam benaknya. Benang takdir mereka telah saling menyentuh, dan kini hanya menunggu waktu sampai seluruh simpul kesalahpahaman itu terurai atau justru terputus selamanya.
------------------------------------------------
Bau antiseptik yang tajam menusuk indra penciuman Fatih saat ia perlahan membuka matanya. Langit-langit putih RSUD tempatnya dirawat tampak berputar sejenak sebelum akhirnya fokus kembali. Hal pertama yang ia rasakan adalah denyut konstan di belakang kepalanya, seolah-olah ada martil yang menghantam saraf-sarafnya tanpa henti.
"Alhamdulillah... Tih, kamu sudah sadar?"
Suara Lukman terdengar serak di samping ranjang. Wajah sahabatnya itu tampak kusam dengan kantung mata yang menghitam, pertanda ia tidak tidur selama menjaga Fatih pasca operasi kecil akibat gegar otak ringan itu.
Tak lama kemudian, seorang dokter paruh baya masuk bersama perawat. Setelah memeriksa respons pupil dan denyut nadi Fatih, dokter itu tersenyum tipis.
"Ustadz Fatih, kondisi Anda sudah stabil. Masa kritis akibat benturan itu sudah lewat. Insya Allah, dua atau tiga hari lagi Anda sudah boleh pulang ke rumah," jelas dokter sambil mencatat di papan klip. Namun, nadanya berubah serius. "Tapi saya peringatkan, jangan ada gerakan berlebih. Jangan memaksakan diri untuk berpikir terlalu keras atau melakukan aktivitas fisik berat. Otak Anda butuh waktu untuk benar-benar pulih dari trauma benturan itu."
Fatih hanya mengangguk lemah. Ia ingin bertanya tentang Bella, namun tenggorokannya terasa sangat kering.
Lukman segera mengambil ponselnya. Dengan tangan sedikit gemetar karena lega, ia menghubungi kediaman Abi Ahmad Bashir. "Assalamu’alaikum, Umi... Alhamdulillah, Fatih sudah siuman. Dokter bilang dua hari lagi bisa pulang... Iya, Umi. Mohon doanya."
### **Prahara Hati Sang Ibu**
Di seberang telepon, di ruang tengah rumahnya, Umi terdiam. Ponselnya masih menempel di telinga meski sambungan sudah terputus. Air mata perlahan jatuh membasahi pipinya yang mulai berkeriput.
Ada rasa berdosa yang begitu besar menghimpit dadanya setiap kali ia memikirkan Fatih. Ingatannya kembali ke malam "insiden" itu. Malam di mana nama baik keluarga dipertaruhkan hanya karena sebuah ketidaksengajaan yang tragis.
Umi ingat betul bagaimana Bella—yang saat itu tampil dengan pakaian yang sangat tidak pantas dan penuh luka—tiba-tiba merangkak masuk ke dalam mobil Fatih yang terparkir di pelataran masjid. Saat itu Fatih sedang memberikan ceramah di dalam. Bella sedang melarikan diri dari kejaran anak buah Barja, sang mucikari kejam yang ingin menjualnya.
Keluarga Abi Ahmad Bashir menemukannya dalam keadaan yang bisa menimbulkan fitnah besar jika tidak segera diselamatkan. Atas dasar kehormatan dan rasa iba yang dipaksakan oleh keadaan, Umi dan Abi mendesak Fatih untuk menikahi wanita asing itu. Fatih, yang saat itu hatinya masih terkunci untuk Wulan (masa lalunya), hanya bisa pasrah demi ketaatan pada orang tua.
"Aku telah memaksanya menikahi wanita yang tidak dia kenal," batin Umi perih. "Lalu saat Bella hilang, aku justru menekannya, menyalahkannya, dan menyuruhnya mencari tanpa peduli bahwa putraku sendiri sedang hancur raganya."
Umi merasa sangat egois. Ia begitu menyayangi Bella karena melihat perubahan besar pada diri wanita itu setelah menjadi istri Fatih, namun ia lupa bahwa Fatih juga punya batas ketahanan. Laporan terbaru dari kepolisian pun semakin suram; tidak ada jejak, tidak ada tanda kehidupan. Probabilitas Bella masih hidup sangat kecil. Polisi mulai mengisyaratkan bahwa Bella mungkin sudah tiada.
### **Rencana Baru demi Kesembuhan**
Umi mengusap air matanya. Ia tidak ingin melihat Fatih layu dalam kesedihan yang tak berujung. Baginya, jika cinta adalah obat bagi luka Fatih, maka ia harus mencarikan "obat" baru sebelum putranya benar-benar kehilangan akal sehatnya.
"Fatih butuh pegangan. Dia butuh seseorang yang bisa membimbingnya keluar dari bayang-bayang Bella," gumam Umi.
Pikirannya melayang pada satu nama: **Hasna**.
Umi mengenal Hasna sebagai wanita yang tegar. Meskipun Hasna adalah seorang janda, namun transformasinya menjadi wanita sholehah dan pemimpin yayasan perlindungan wanita di kota sebelah sangat memukau. Hasna memiliki ketenangan yang dibutuhkan Fatih. Selain itu, Hasna juga mengenal lingkungan mereka dengan baik.
"Hasna... dia sudah matang secara mental. Dia tidak akan membebani Fatih dengan drama masa muda. Dia bisa menjadi pelabuhan terakhir bagi putraku," pikir Umi dengan penuh keyakinan.
Umi beranggapan bahwa dengan menjodohkan Fatih dengan Hasna, Fatih akan perlahan-lahan melupakan rasa bersalahnya pada Bella. Umi tidak tahu bahwa Hasna justru sedang menyembunyikan "Bella" yang asli di markasnya. Umi tidak tahu bahwa rencana perjodohan ini justru akan menjadi bom waktu yang siap menghancurkan hati banyak orang.
### **Dilema di Ranjang Pasien**
Kembali ke rumah sakit, Fatih menatap keluar jendela. Cahaya matahari sore itu tampak redup di matanya.
"Man..." panggil Fatih lirih.
"Iya, Tih?"
"Kenapa rasanya duniaku begitu kosong? Padahal aku masih bernapas."
Lukman terdiam. Ia ingin menceritakan soal surat Wulan tujuh tahun lalu untuk menghibur Fatih, tapi ia tidak berani. Ia juga ingin bilang bahwa polisi hampir menyerah mencari Bella, tapi itu akan membunuh semangat Fatih.
"Sembuh dulu, Tih. Soal yang lain, biar takdir yang bicara," jawab Lukman sambil merapikan selimut Fatih.
Fatih memejamkan mata. Di balik kelopak matanya, bayangan wajah Bella yang menangis di malam pengusiran itu terus muncul. Ia merasa ada yang salah, ada sesuatu yang hilang yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
Ia tidak tahu bahwa saat ia berjuang untuk pulih, ibunya sedang merajut rencana untuk mengganti posisi Bella dengan wanita lain. Dan ia juga tidak tahu, bahwa di sebuah tempat yang tidak jauh dari sana, Bella—yang kini dipanggil Wulan oleh Hasna—sedang menangisi nasib yang sama, sambil membelai perutnya yang mulai membuncit.
### **Penutup Bab: Persimpangan Takdir**
Umi mengambil mukenanya, ia bersujud panjang di atas sajadah. Ia memohon ampun atas segala paksaannya di masa lalu, namun di sisi lain, ia sedang mempersiapkan paksaan baru demi apa yang ia sebut sebagai "kebahagiaan Fatih".
Dua hari lagi Fatih pulang. Dua hari lagi, rencana Umi untuk mempertemukan Fatih dengan Hasna akan dimulai. Tanpa ada yang menyadari, bahwa takdir sedang menggiring mereka semua menuju sebuah pertemuan besar di taman kota—pertemuan yang akan melibatkan Ridwan, Deni, dan rahasia besar yang tersembunyi di balik cadar hitam.
Melankolis pagi itu terasa begitu nyata. Fatih yang kehilangan arah, Umi yang dihantui rasa berdosa, dan Lukman yang memegang kunci rahasia masa lalu. Mereka semua bergerak dalam ketidaktahuan, menuju badai yang akan menguji seberapa kuat iman dan cinta mereka sebenarnya.