Arka selalu mengira air mata adalah tanda kelemahan—sampai dia menyadari air matanya bisa membuka pintu menuju masa lalu.
Setiap kali kesedihannya mencapai titik paling dalam, dunia di sekelilingnya luntur, dan ketika dia membuka mata lagi, dia sudah berada di hari yang berbeda—hari-hari sebelum ibunya tiada. Bagi Arka, ini adalah keajaiban yang selama ini dia doakan: kesempatan untuk mengubah segalanya, untuk membuat ibunya tetap hidup.
Tapi waktu tidak memberi tanpa mengambil.
Setiap kali Arka mengubah satu detik di masa lalu, satu orang dari masa depannya menghilang—bukan mati, tapi terhapus, seolah tak pernah ada. Sahabat yang selalu ada untuknya. Seseorang yang dia cintai. Bahkan dirinya sendiri, versi demi versi, mulai memudar dari dunia yang dia kenal.
Arka harus memilih: berhenti sekarang dan menerima kehilangan yang sudah terjadi, atau terus melangkah lebih jauh ke masa lalu—mempertaruhkan semua yang tersisa—demi satu pelukan terakhir dari ibunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyouketsu no Namie , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertanyaan yang Tidak Bisa Dijawab
Arka tidak menceritakan mimpi-mimpinya pada Nadia. Bukan karena dia ingin menyembunyikannya, tapi karena dia tidak tahu bagaimana menjelaskan sesuatu yang bahkan dia sendiri belum sepenuhnya pahami.
Hari-hari berikutnya, dia mulai mengamati dirinya sendiri dengan cara yang baru—mencoba mencari "jejak" dari Arka lain, Arka yang mungkin seharusnya menjadi versi "asli" dari dirinya.
Dia memperhatikan kebiasaan-kebiasaannya: cara dia selalu memilih duduk membelakangi pintu di kafe (kebiasaan dari masa kecil yang dia tidak ingat alasannya). Cara dia tidak suka keramaian, lebih nyaman dengan kelompok kecil. Cara dia selalu—bahkan sebelum semua perjalanan waktu ini—merasa seperti "menonton" hidupnya sendiri dari jarak tertentu, seperti penonton yang menyaksikan film tentang orang lain.
Apakah itu karena aku—diri yang sekarang—bukan "yang seharusnya"? Apakah ada bagian dari diriku yang selalu tahu, secara bawah sadar, bahwa aku adalah... salinan? Pengganti?
Dia mencoba membicarakan ini dengan caranya sendiri—tidak secara langsung, tapi melalui pertanyaan-pertanyaan filosofis yang dia ajukan ke Nadia, berpura-pura itu hanya obrolan ringan.
"Nad, menurut kamu, kalau ada dua versi orang yang sama—identik, tapi hidup di dunia yang berbeda—yang mana yang 'asli'?"
Nadia, yang sedang menyiram tanaman di balkon, tertawa kecil. "Pertanyaan berat banget buat sore-sore. Kenapa, sih?"
"Cuma kepikiran aja," kata Arka, mencoba terdengar santai. "Kayak... kalau ada kembaran kamu, yang hidup persis sama kayak kamu, tapi di tempat yang beda—kamu yang mana yang 'beneran kamu'?"
Nadia berpikir sejenak, lalu menjawab dengan nada yang lebih serius dari yang Arka kira. "Menurutku... 'aku' bukan soal tubuh, atau bahkan ingatan. 'Aku' adalah apa yang aku rasain dan lakuin, sekarang, di sini. Kalau ada 'Nadia lain' di tempat lain, mungkin dia juga 'asli'—buat dunianya sendiri. Tapi aku, di sini, juga asli. Buat dunia ini."
Dia menatap Arka, tersenyum. "Kenapa? Kamu kepikiran soal kembaran kamu sendiri?"
Arka tertawa, mencoba menyembunyikan betapa dalam kata-kata Nadia menghantamnya. "Mungkin."
Tapi jauh di dalam dirinya, jawaban Nadia—meski indah, meski sebenarnya bijaksana—tidak benar-benar menjawab ketakutan terdalam Arka.
Karena pertanyaannya bukan "siapa yang lebih asli." Pertanyaannya adalah: apakah keberadaanku sekarang—dunia ini, hidup ini, dengan ibu yang hidup dan Nadia yang dicintainya—datang dengan mengorbankan keberadaan "Arka asli"?
Jika benar ada "Arka asli"—Arka yang hidup di dunia di mana ibunya meninggal pada 14 Maret enam belas tahun yang lalu, yang menjalani hidupnya sendiri tanpa pernah menemukan kekuatan ini—maka "Arka" yang sekarang, yang duduk di balkon ini, yang dicintai Nadia, mungkin tidak seharusnya ada.
Mungkin dia adalah "anomali." Sesuatu yang seharusnya tidak ada, tapi entah bagaimana ada—mencuri tempat dari Arka yang seharusnya.
Pikiran itu membuat Arka merasa seperti pencuri di dalam hidupnya sendiri.
Beberapa minggu kemudian, sesuatu terjadi yang membuat semua pertanyaan itu kembali memuncak.
Ibu Arka mengundang mereka untuk makan malam—perayaan kecil, katanya, untuk merayakan satu tahun sejak operasinya, dan untuk merayakan kabar baik: dokter menyatakan kondisi jantungnya sudah stabil sepenuhnya, dengan prognosis yang sangat baik untuk tahun-tahun mendatang.
Makan malam itu hangat—penuh tawa, cerita-cerita lama, makanan favorit Arka yang dimasak ibunya sendiri. Ayahnya bahkan membuka botol anggur, sesuatu yang jarang dia lakukan.
Di tengah makan malam, ibu Arka berdiri, mengangkat gelasnya.
"Aku mau bikin toast," katanya, suaranya penuh emosi. "Buat... buat hidup. Buat kesempatan kedua yang aku dapet—entah dari mana asalnya, tapi aku bersyukur banget. Dan buat Arka—anakku, yang... yang entah kenapa, dari kecil, selalu punya cara untuk bikin aku ngerasa lebih kuat, lebih dicintai, dari yang aku pernah bayangin."
Dia menatap Arka, matanya berkaca-kaca. "Aku nggak tau gimana jelasinnya. Tapi setiap kali aku liat kamu, Arka, aku selalu ngerasa kayak... kayak aku liat dua orang sekaligus. Anak kecil yang dulu marah-marah ke Mama, dan—" dia berhenti, menyeka matanya, "—dan seseorang yang udah ngalamin banyak hal, yang lebih dari usianya. Aneh, ya? Tapi itu yang Mama rasain. Selalu."
Arka merasakan sesuatu yang dingin merambat ke seluruh tubuhnya.
Dua orang sekaligus.
Apakah ibunya—dengan caranya sendiri, dengan insting seorang ibu yang melampaui logika—merasakan keberadaan "dua Arka"? Arka yang sekarang, dan "jejak" dari Arka asli, yang seharusnya ada?
"Ma," kata Arka, suaranya pelan, "Mama... Mama pernah ngerasa kayak... kayak ada sesuatu yang nggak pas? Tentang aku?"
Ibunya menatap Arka, ekspresinya berubah jadi lembut, penuh kasih sayang. "Nggak pas gimana, sayang?"
"Aku nggak tau," kata Arka, mencoba mencari kata-kata. "Kayak... kayak aku ini nggak seharusnya ada. Atau kayak aku... ngambil tempat orang lain."
Ruangan menjadi sunyi. Nadia menatap Arka dengan khawatir. Ayahnya mengangkat alis, bingung.
Tapi ibu Arka—ibu Arka tersenyum. Senyum yang penuh kesedihan, tapi juga penuh kepastian, seperti seseorang yang sudah lama menunggu pertanyaan ini, meski tidak dalam kata-kata yang sama.
"Arka," katanya, suaranya lembut tapi tegas, "boleh Mama cerita sesuatu? Sesuatu yang Mama belum pernah cerita ke siapa-siapa, bahkan ke Ayah?"
Arka mengangguk, jantungnya berdebar.
"Waktu kamu masih kecil," kata ibunya, "ada satu malam—malam sebelum hari yang Mama bilang tadi, hari yang bikin Mama ngerasa dapet 'tambahan waktu'—Mama bermimpi."
Dia menatap jauh, seperti mengingat sesuatu dari tempat yang sangat dalam.
"Mama bermimpi tentang kamu. Tapi kamu di mimpi itu—kamu udah dewasa. Dan kamu nangis, bilang ke Mama, 'Maaf, Ma. Maaf aku nggak pernah bilang aku sayang Mama.' Dan besoknya—besoknya, kamu, yang masih kecil, ngomong hal yang persis sama. Persis kata-katanya."
Ibu Arka menatap Arka langsung, matanya basah tapi penuh kedamaian.
"Mama nggak pernah ngerti kenapa. Tapi Mama selalu ngerasa—kamu, Arka, adalah... hadiah. Entah dari mana. Dan Mama nggak pernah butuh tahu lebih dari itu. Karena hadiah nggak perlu dipertanyakan asalnya, sayang. Hadiah cuma perlu disyukuri."
Arka tidak bisa menahan air matanya. Dia berdiri, memeluk ibunya, menangis—bukan tangis ketakutan, tapi tangis yang penuh dengan sesuatu yang akhirnya, untuk pertama kalinya, terasa seperti jawaban.
Mungkin pertanyaan "siapa yang asli" tidak punya jawaban yang pasti. Mungkin tidak perlu punya.
Tapi ibunya—dengan cinta seorang ibu yang melampaui logika, melampaui penjelasan—sudah, dengan caranya sendiri, menerima dia. Bukan sebagai "pengganti" atau "anomali." Tapi sebagai anaknya. Titik.
Dan jika ibunya bisa menerima itu, tanpa pertanyaan, tanpa keraguan—
—mungkin Arka juga bisa.