Tiga tahun Davira bertahan dalam pernikahan perjodohan yang dingin dengan Arka. Baginya, Arka adalah satu-satunya tempat bersandar setelah ayahnya meninggal karena bangkrut dan adik laki-lakinya hilang tanpa kabar di luar negeri. Davira terus bertahan, berharap kehadiran seorang anak kelak bisa melunakkan hati suaminya.
Namun, takdir justru merenggut segalanya dalam semalam. Di saat dokter memvonisnya menderita kanker rahim stadium 3 dan harus mengangkat rahimnya.
Bukannya mendapat perlindungan, Davira malah dihujat mandul oleh ibu mertua dan adik iparnya. Arka yang tega bahkan memberinya ultimatum: menerima Sheila sebagai istri kedua, atau pergi dari rumah tanpa membawa sepeser pun uang.
Di titik terendah hidupnya, hati Davira mati. Dia memilih pergi membawa luka dan penyakitnya. Davira bersumpah akan sembuh, bangkit, dan kembali untuk membuat Arka beserta keluarganya membayar mahal setiap tetes air mata dan penghianatan keji ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almesha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Jerat yang Kian Mengetat
Siang itu, matahari seolah enggan bersahabat dengan Arka Narendra. Di dalam ruang kerja barunya, sebuah ruangan kecil di lantai dasar bagian administrasi yang berbau apek kertas lembab, Arka duduk dengan kepala yang disangga kedua tangannya. Tidak ada lagi kursi kulit premium berlogo khusus, tidak ada lagi meja mahoni luas, dan tidak ada lagi sekretaris yang datang mengantarkan kopi espresso hangat setiap jam sembilan pagi.
Di atas meja kerjanya yang berdarah kayu murah, ponselnya bergetar tanpa henti. Layar digitalnya menampilkan belasan panggilan tak terjawab dari nomor yang berbeda, namun semuanya memiliki muatan yang sama, Debt Collector dan pihak legal dari tiga bank swasta terbesar di Jakarta.
"Halo, Tuan Arka," suara di seberang telepon terdengar sangat dingin dan menuntut begitu Arka terpaksa mengangkat salah satu panggilan demi menghentikan kebisingan. "Kami dari divisi manajemen risiko Bank Mega Pratama. Kami ingin mengingatkan bahwa sisa cicilan utang pribadi Anda untuk investasi lahan di Bogor sebesar lima belas miliar rupiah telah melewati masa tenggang dua minggu. Jika dalam waktu empat puluh delapan jam ke depan tidak ada dana masuk, kami akan menerbitkan Surat Peringatan Ketiga dan melimpahkan kasus ini ke jalur hukum penarikan aset."
"Tolong berikan saya waktu satu minggu lagi," ucap Arka, suaranya serak, terdengar sangat menyedihkan bahkan bagi telinganya sendiri. "Saya sedang mengurus restrukturisasi dana di perusahaan."
"Maaf, Tuan Arka. Rekam jejak keuangan Anda menunjukkan bahwa Anda telah dinonaktifkan dari jabatan CEO Narendra Group sejak kemarin siang, dan hak subsidi finansial Anda dari korporasi telah dibekukan oleh pemilik saham mayoritas. Kami tidak bisa mengambil risiko lebih jauh. Selamat siang."
Tut... Tut... Tut...
Panggilan diputus sepihak. Arka melempar ponselnya ke atas meja dengan frustrasi yang memuncak. Tubuhnya gemetar hebat.
Selama tiga tahun ini, dia hidup dalam delusi kemewahan yang luar biasa. Dia membeli tanah, mengoleksi jam tangan mewah, dan membiayai gaya hidup sosialita Siska serta Sheila menggunakan skema cash-flow Narendra Group yang dijamin oleh aset melimpah peninggalan mendiang ibu Davira. Dia berpikir kekayaan itu tidak akan pernah habis.
Namun kini, ketika Vira Mahendra datang dan membekukan seluruh aliran dana haram tersebut, topeng emas keluarga Narendra runtuh dalam sekejap. Tanpa gaji ratusan juta per bulan sebagai CEO dan tanpa subsidi korporasi, utang-utang pribadi yang dia tumpuk untuk memuaskan ego keluarganya kini berubah menjadi monster yang siap menelan mereka hidup-hidup.
Di saat yang sama, pintu ruangan administrasi itu didobrak kasar dari luar. Siska masuk dengan wajah yang pucat pasi, napasnya tersengal-sengal seolah-olah baru saja dikejar setan.
"Arka, Arka, kita harus pulang sekarang!" jerit Siska, dia langsung mencengkeram kerah kemeja kerja Arka yang sudah kusut sejak pagi.
Arka mendongak dengan pandangan layu. "Ada apa lagi, Ma? Aku sedang pusing memikirkan utang bank lima belas miliar yang jatuh tempo besok."
"Sheila, Arka! Sheila." Siska menangis histeris, air matanya merusak riasan wajah tebalnya yang kini tampak mengerikan. "Tadi dia nekat pergi ke gedung V-Tech untuk melabrak Davira tanpa memberi tahu kita. Dan sepuluh menit yang lalu, dia menelepon Ibu dari pinggir jalan raya dalam kondisi histeris. Dia bilang... dia bilang dia diancam akan dijebloskan ke penjara bawah tanah oleh Adrian Atmadja sendiri jika berani mendekati Davira lagi."
Arka seketika berdiri dari kursinya, matanya membelalak sempurna. Rasa dingin yang teramat sangat menjalar dari ujung kakinya hingga ke ubun-ubun. "Apa?! Sheila mendatangi V-Tech?!"
"Bukan cuma itu, Arka." Siska memukul dada putranya dengan frustrasi yang mendalam. "Pihak pengelola kawasan SCBD baru saja mengirimkan surat larangan resmi hitam di atas putih ke rumah kita. Mulai hari ini, seluruh anggota keluarga Narendra dilarang keras menginjakkan kaki di seluruh area SCBD. Jika kita melanggar, tim keamanan mereka memiliki hak penuh untuk menangkap kita atas tuduhan gangguan keamanan nasional. Adrian Atmadja benar-benar turun tangan untuk melindungi pelacur itu."
"Cukup, Ma. Jangan sebut dia pelacur lagi." bentak Arka, suaranya menggelegar di dalam ruangan sempit itu hingga membuat Siska tertegun kaget.
Arka mencengkeram rambutnya sendiri, menjambaknya dengan rasa penyesalan yang teramat akut. "Kita yang bodoh. Kita yang iblis, Ma. Tiga tahun lalu kita menjarah warisan melimpah orang tuanya, kita membunuh anak pertama kami di dalam rahimnya dengan racun sup itu, lalu kita membuangnya untuk mati demi uang asuransi sepuluh miliar. Sekarang... sekarang dia kembali bukan sebagai Davira yang lemah. Dia kembali sebagai Vira Mahendra, penguasa V-Tech, dan dia punya kaisar bisnis tertinggi di Asia di belakangnya. Kita tidak akan pernah bisa menang."
Siska mundur satu langkah, wajah tuanya tampak bergetar hebat mendengar ucapan putranya. Ego tingginya sebagai nyonya besar keluarga Narendra menolak untuk menerima kenyataan bahwa mereka kini berada di ambang kehancuran total akibat dosa masa lalu mereka sendiri.
---
Sementara itu, di lantai atas gedung V-Tech, suasana kontras yang teramat hangat dan damai tercipta di dalam ruang kerja Vira.
Kotak bekal susun berwarna biru cerah milik Elvano telah terbuka di atas meja kopi. Vira duduk di atas sofa dengan anggun, perlahan menyuapkan potongan nasi goreng berbentuk kepala beruang dengan hiasan rumput laut ke dalam mulutnya. Rasa gurih dan hangat dari makanan itu seolah mengalir langsung ke dalam hatinya, menghapus seluruh sisa-sisa sesak akibat trauma masa lalunya.
Adrian Atmadja duduk di sofa tunggal di hadapannya, melipat satu kakinya dengan gaya yang teramat maskulin, memperhatikan setiap kunyahan Vira dengan binar mata yang begitu lembut.
"Bagaimana? Apakah rasa masakan koki rumahku sesuai dengan seleramu?" tanya Adrian, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang menawan.
Vira menelan makanannya perlahan, lalu menyeka bibirnya dengan tisu sutra sebelum menjawab. "Ini sangat enak, Tuan Adrian. Tolong sampaikan terima kasih saya pada Elvano. Bentuk beruang ini pasti idenya."
"Dia menghabiskan waktu tiga puluh menit di dapur pagi ini hanya untuk memastikan koki meletakkan hiasan mata beruang itu dengan pas," Adrian terkekeh rendah, suara baritonnya terdengar begitu menenangkan di dalam ruangan yang sunyi itu.
Adrian kemudian mengubah posisi duduknya, menumpukan kedua lengannya di atas lutut, menatap Vira dengan pandangan yang kembali intens dan serius. "Yuda baru saja melaporkan bahwa bank-bank swasta mulai bergerak menekan utang pribadi Arka. Sesuai dengan skenario yang kamu inginkan, dalam waktu empat puluh delapan jam, mereka akan mulai membekukan aset-aset rumah tangga mereka."
Vira meletakkan sendok plastiknya ke dalam kotak bekal. Tatapan matanya kembali berubah menjadi sedingin es yang tajam. "Biarkan mereka merasakan kepanikan itu terlebih dahulu, Tuan Adrian. Aku ingin melihat seberapa besar cinta Arka pada Sheila ketika mereka berdua harus berhadapan dengan kenyataan bahwa piring yang mereka gunakan untuk makan besok pagi mungkin akan disita oleh juru sita pengadilan."
Vira mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata elang Adrian. "Dan setelah semua utang itu menumpuk hingga ke leher mereka... aku sendiri yang akan datang membawa dokumen pengalihan sisa seluruh warisan ibuku yang sempat mereka balik nama secara ilegal. Aku akan mengambil kembali setiap sen harta Mahendra, hingga mereka benar-benar tidak punya apa-apa lagi selain pakaian yang melekat di tubuh mereka."
Adrian menatap wanita di hadapannya dengan rasa kagum yang kian mendalam. Keberanian dan ketajaman taktik Vira membuat gairah proteksinya sebagai seorang pria pelindung bangkit sepenuhnya.
Adrian mengulurkan tangannya di atas meja, menyelipkan telapak tangannya untuk menggenggam jemari lembut Vira yang bebas dari sendok. Genggaman yang erat, hangat, dan sarat akan janji setia yang tak tertulis.
"Lakukan apa pun yang ingin kamu lakukan, Ratu-ku," bisik Adrian dengan suara rendah yang menggetarkan dada Vira. "Gunakan seluruh kekuatan Atmadja Group sebagai pedangmu. Aku dan Elvano akan selalu berdiri di belakangmu, memastikan bahwa tidak akan ada satu badai pun yang bisa menyentuhmu lagi."
Vira tertegun, menatap jemarinya yang tenggelam di dalam genggaman tangan kokoh Adrian. Di dalam hatinya, rasa hangat yang murni perlahan mulai tumbuh subur, menggantikan abu hitam dari dendam masa lalu yang kini siap dia terbangkan bersama angin kehancuran keluarga Narendra.