NovelToon NovelToon
Tak Lagi Mencintaimu

Tak Lagi Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mandul / Pelakor jahat
Popularitas:14.9k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

‎Badai datang pelan namun mematikan, menggoyahkan komitmen lima tahun yang Risa yakini abadi. Di bawah langit malam yang sunyi, dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri suaminya, Raga, sedang bermesraan dengan wanita lain di dalam mobil mereka.

‎Setelah bertahun-tahun membangun rumah tangga dengan penuh pengorbanan, meninggalkan karir impian untuk mendukung karir suaminya, Risa harus menghadapi kenyataan pahit bahwa cinta yang dia anggap tulus telah dipermainkan.

‎Pengkhianatan itu menjadi pukulan terberat bagi hatinya.

‎"Selama ini aku menutupi kekuranganmu demi menjaga harga dirimu, tapi balasanmu adalah pengkhianatan. Mulai hari ini, aku tidak mau lagi menjadi orang yang selalu mengalah." ~ Risa Anindita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22

‎Mobil Regan memasuki halaman kediamannya yang luas dan asri. Ia memarkirkan kendaraan di tempatnya, lalu melangkah masuk melewati teras menuju ruang tengah.

‎‎"Regan, kamu sudah pulang." sapa Oma Berlin begitu melihat cucu kesayangannya pulang.

‎‎Regan tersenyum tipis, melangkah mendekat menghampiri Oma dan ibunya yang sedang duduk santai di sofa.

‎‎"Selamat malam, Oma, Ibu. Maaf agak terlambat, ada sedikit urusan di jalan," ucapnya lembut, lalu duduk disamping Omanya.

‎‎"Tidak apa-apa, yang penting kamu sudah sampai dengan selamat," jawab Oma Berlin sambil mengamati wajah cucunya yang tampak sedikit lebih rileks dari biasanya. "Kelihatannya hari ini kamu tidak terlalu lelah seperti hari-hari sebelumnya?"

‎‎Bu Sintia ikut tersenyum, menyerahkan secangkir teh hangat ke hadapan Regan. "Benar kata Oma. Biasanya kalau pulang, wajahmu terlihat serius dan tegang sekali. Hari ini ada kabar baik ya?"

‎‎Regan menerima cangkir itu, menyesap sedikit isinya, lalu mengangguk santai. "Tidak ada kabar besar, Bu. Hanya hari ini berjalan cukup lancar, dan ada hal-hal kecil yang membuatku berpikir bahwa tidak semuanya harus dipandang terlalu berat."

‎‎Oma Berlin menatapnya dengan pandangan yang tajam namun penuh kasih sayang, seolah bisa membaca apa yang tersembunyi di balik kata-kata cucunya.

‎‎"Hal kecil? Atau ada seseorang yang membuat hari ini terasa berbeda?" tanyanya tiba-tiba, membuat Regan sedikit terkejut dan wajahnya sedikit memerah tanpa sadar.

‎‎"Oma… apa maksudnya?" tanya Regan berusaha bersikap biasa saja.

‎‎Oma Berlin memegang tangan Regan dengan lembut, jari-jarinya yang keriput namun tetap hangat menggenggam erat. Tatapannya menatap tepat ke mata cucunya, seolah ingin menyampaikan sesuatu yang paling mendasar di hatinya.

‎‎"Regan, dengarkan Oma baik-baik," ucapnya perlahan namun tegas. "Oma sudah berusia lanjut. Tidak tahu berapa lama lagi Tuhan memberi kesempatan bagi Oma untuk bernapas dan melihatmu tumbuh. Satu hal yang paling Oma inginkan sebelum Oma pergi nanti… adalah melihatmu hidup bahagia, memiliki pendamping lagi dan membangun keluarga yang lengkap."

‎‎Regan menunduk mendengarnya, merasakan sesak di dadanya. Ia tahu betul apa yang ada di pikiran neneknya.

‎‎"Sudah tiga tahun berlalu sejak Alina pergi meninggalkan kita semua," lanjut Oma Berlin, suaranya sedikit bergetar mengingat masa lalu. "Saat itu kamu hancur, dan Oma mengerti sekali rasa sakitmu. Kamu menutup hatimu rapat-rapat, membuang seluruh perhatianmu hanya pada pekerjaan dan perusahaan seolah ingin melupakan segalanya. Tapi, Nak… bekerja terus tidak akan bisa mengisi kekosongan di hatimu selamanya."

‎‎Bu Sintia ikut berbicara, "Ibu juga mengkhawatirkan hal yang sama, Regan. Alina memang wanita yang sangat baik, dan kepergiannya adalah kehilangan yang besar. Tapi hidup harus terus berjalan. Kamu masih muda, masih punya banyak kesempatan untuk merasakan kebahagiaan lagi. Menutup diri seperti ini hanya akan membuatmu kesepian."

‎‎Regan menghela napas panjang, matanya berkaca-kaca menahan perasaan yang terpendam selama ini. Ia masih ingat jelas hari-hari sulit saat istrinya terbaring lemah, hingga napas terakhirnya. Sejak saat itu, ia merasa tidak ada lagi ruang di hatinya untuk orang lain.

‎‎"Aku mengerti kekhawatiran Oma dan Ibu," jawabnya perlahan, ia mengangkat wajah, menatap kedua wanita yang dicintainya itu. ‎‎"Oma tidak perlu khawatir. Aku tidak akan menutup diri selamanya. Kalau suatu saat ada wanita yang bisa mengerti, melengkapi, dan membuatku merasa hidup lagi… aku tidak akan menolak."

‎‎Mendengar jawaban itu, Oma Berlin tersenyum lega dan mengusap lengan Regan.

‎‎"Bagus, cucuku. Begitu yang Oma harapkan. Alina pasti juga tidak ingin melihatmu terus terpuruk dan kesepian. Kenangan tetaplah kenangan, tapi kebahagiaan baru tetap bisa datang menghampiri. Oma percaya, jika hati sudah terbuka, takdir akan mempertemukan dengan orang yang tepat pada waktunya."

‎‎Bu Sintia mengangguk setuju, matanya menatap lega.

‎‎"Kami tidak memaksamu terburu-buru, tapi jangan menunda terlalu lama juga. Kebahagiaan itu butuh kesempatan dan keberanian untuk menjalaninya."

‎‎‎Regan mengangguk perlahan, tersenyum tipis, "Aku merasa sudah cukup lelah hari ini, jadi aku pamit masuk ke kamar dulu untuk beristirahat lebih awal."

‎‎"Baiklah, Nak. Istirahatlah yang cukup," jawab Bu Sintia. "Jangan begadang terlalu malam lagi."

‎‎"Ya, cucuku, tidurlah yang nyenyak," tambah Oma Berlin dengan senyum hangat.

‎‎Regan melangkah meninggalkan ruang tengah, menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua. Begitu pintu kamarnya tertutup rapat, suasana hening menyelimutinya.

‎‎Ia berjalan mendekati jendela besar yang menghadap ke taman belakang, membuka sedikit tirai untuk memandang langit malam yang bertabur bintang. Pikirannya perlahan melayang kembali, selama tiga tahun ini ia menganggap kesendirian sebagai bentuk penghormatan terakhir untuk kenangan bersama Alina, istrinya.

‎‎Ia menghela napas panjang, seolah melepaskan beban yang selama ini membelenggu hatinya.

‎‎"Mungkin Oma dan Ibu benar… sudah waktunya aku membuka hati lagi," bisiknya pelan pada diri sendiri.

-

-

-

Raga duduk bersandar di headboard sambil menunggu pesan balasan dari Risa, sementara Amelia masih terlelap memejamkan mata di sampingnya, memeluk lengannya dengan erat.

‎‎Tak lama kemudian ponselnya bergetar, matanya langsung tertuju pada notifikasi pesan masuk dari Risa. Dengan alis berkerut, ia segera membukanya.

‎‎Semakin ia membaca setiap kalimat balasan itu, raut wajahnya perlahan berubah, dari santai menjadi kesal, lalu berubah menjadi frustasi. Jemarinya mengepal erat hingga buku jarinya memutih.

‎‎[ Tidak perlu bertemu lagi... diselesaikan lewat hukum saja… dan jangan hubungi aku lagi. ]

‎‎Raga menghela napas kasar, lalu membanting ponselnya ke atas kasur, cukup keras hingga membuat Amelia terkejut dan terbangun.

‎‎"Kenapa, Mas? Ada apa?" tanya Amelia dengan suara serak, matanya masih setengah terbuka, melihat wajah Raga yang memerah menahan amarah.

‎‎Raga mengusap wajahnya dengan kasar, napasnya terasa memburu. "Risa… dia semakin keras kepala. Sudah kukirimi pesan minta bicara, tapi dia malah menjawab seenaknya, menyuruh semuanya lewat jalur hukum saja. Dia benar-benar ingin memutuskan hubungan ini sepenuhnya, tidak mau mendengarkan penjelasanku sedikitpun."

‎‎Amelia bangun, lalu mendekatkan tubuhnya pada Raga sambil mengusap punggungnya dengan lembut, berusaha menenangkan sekaligus membakar emosi pria itu lebih halus.

‎‎"Sudahlah, Mas... dia memang wanita tidak tahu diri. Mandul saja belagu. Lihat saja... jika dia benar-benar meminta cerai darimu, tidak ada lagi laki-laki yang mau dengan wanita tidak sempurna seperti dia." ucapnya dengan nada lembut namun menusuk.

‎‎Raga menoleh, matanya masih terlihat gelisah. Ingatannya tiba-tiba terlempar pada kejadian malam dimana Risa mengetahui segalanya dan memutuskan untuk pergi.

‎‎"Malam itu Risa menunjukkan video saat kita sedang bermesraan di kamar hotel. Katakan padaku, Mel. Bagaimana Risa bisa mendapatkan video itu... bukan kamu kan yang mengirimkan padanya?"

-

-

-

Bersambung...

1
vj'z tri
ahayyyy jreng jreng jreng
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ icik bos dah salting berat ini
🔥Violetta🔥: Udah cenat-cenut dia 😂😂😂
total 1 replies
W I 2 K
kamu nanya.. kamu bertanya-tanya....,

secara g langsung km udah siap ni ditinggalin raga.. km kan nyuruh cek, terus tau kenyataan pahit asam manisnya kyk apa.... ya jelas nanti raga bakalan ngejar balik lg risa.. ya nerima apa adanya kan cm dia.... siap² deh mimpi terindah menikah dengan raga hanya tinggal khayalan belaka... 🤣🤣🤭
〈⎳ FT. Zira
coba cekk. di lihat..diraba.. di...🤭🤭
〈⎳ FT. Zira
kesempatan noh Re .. ambilll🤣🤣
〈⎳ FT. Zira
jodoh ka Re🤭
〈⎳ FT. Zira
kamulah orangnya🤭
〈⎳ FT. Zira
cieeee cieee🤭🤭🤣🤣
〈⎳ FT. Zira
deg deg ser gak ris🤭
〈⎳ FT. Zira
jodoh emag gak kemana yaa🤭
Rizky Manik
lanjut thor🤗
Rizky Manik
ayo periksa lagi kalo berani🤭
Anonim
awokawok mending baca seishun buta yarou Bunny girl senpai wo yume wo minai
MamDeyh
Nah nah nah kan.... Eng ing eng
Kusii Yaati
kamu terlalu memandang rendah orang mel,di bandingkan dengan kamu Risa lebih baik dari segi manapun, sedang kamu apa perlu di banggakan selain pandai merebut suami orang alias pelakor... punya cermin nggak 😒
Anonim
JONTOL
vj'z tri
bagaimana caraaaa nya untukk kau bisa mengerti bahwa aku iriiii 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
jika Oma sama ibu tahu siapa yang lagi di Pepet icik bos pasti girang 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
vj'z tri
eeeeeeeaaaaaaa ee ee eaaaaaa eeeeeaaaaa 🤣🤣🤣🤣
🔥Violetta🔥: Astaga 🤣🤣🤣
total 1 replies
vj'z tri
gak say biar icik bos yang langsung turun tangan 🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!