"I am cursed with an undying soul... forced to return, again and again. And in every life, in every death, it is always you my heart remembers."
"Aku dikutuk dengan jiwa yang tak bisa mati... dipaksa untuk kembali, lagi dan lagi. Dan di setiap kehidupan, di setiap kematian, hanya kamu yang selalu diingat hatiku."
"I cannot follow you beyond death, I cannot chase you through eternity... so I will stay here, loving you with an undying heart in every lifetime I'm given-until time finally takes me away from you."
"Aku tak bisa mengikutimu melewati kematian, tak bisa mengejarmu dalam keabadian... jadi aku akan tetap di sini, mencintaimu dengan hati yang tak pernah mati di setiap kehidupan yang diberikan padaku-sampai waktu akhirnya merenggutku darimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yersya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
3 jam sebelumnya.
Ketika kepanikan menguasaiku karena masih belum menemukan solusi dari permasalahan ini, aku akhirnya memberanikan diri untuk menemui sosok yang selama ini selalu kucoba abaikan.
“Akhirnya kita bisa bertemu.”
Suara itu... suara yang selama ini hanya berbisik kaku di dalam kepalaku. Dulu, aku selalu menganggapnya sebagai manifestasi ketakutan atau sekadar bisikan batin, lalu mengabaikannya begitu saja. Tapi sekarang, aku tidak bisa melakukannya lagi.
Di tempat yang sangat gelap ini—sebuah ruang hampa dengan genangan air tipis di bawah tapak kaki—aku berdiri. Di tengah kegelapan yang tak bertepi, anehnya aku masih bisa melihat tubuhku dengan sangat jelas, begitu pula sosok yang sedang duduk di depanku sembari melukis senyuman misterius.
“Siapa kau sebenarnya?!” desakku. Rasa penasaran bercampur ngeri bergejolak hebat saat menatap sosok di depanku. Dia memiliki garis wajah, bentuk tubuh, hingga artikulasi suara yang sama persis denganku.
Sosok itu tersenyum getir, menatapku malas. “Yang lebih penting... kau datang kemari untuk meminta bantuanku, kan?”
Aku terdiam sejenak, mengepalkan jemariku. “Apa kau benar-benar akan membantuku? Kenapa? Padahal selama ini kau selalu berusaha menghancurkanku dari dalam.”
Aku benar-benar tidak mengerti dengan keberadaan yang satu ini. Memang benar, aku sendiri yang memaksakan diri menyelam ke dalam sini untuk mencari jalan keluar, tapi mengingat bagaimana ia selalu menghasut dan meremukkan mentalku di setiap garis waktu... apa tujuannya yang sebenarnya?
“Jangan menatapku seperti itu. Ini adalah mental realm milikmu sendiri, dan aku hanyalah penumpang yang kebetulan menumpang tinggal di sini,” kekehnya, seperti sedang menertawakan raut wajahku yang tegang. “Anggap saja bantuan ini sebagai bayaran sewa.”
Sosok itu bangkit dari duduknya, melangkah perlahan mendekatiku. Setiap tumpuan kakinya menimbulkan riak-riak air tipis di atas lantai hampa kami.
Meskipun rasa curiga masih mencengkeram dadaku, aku tahu aku sedang berada di situasi darurat di mana aku tidak punya kemewahan untuk memilih. Akan kuikuti rencananya, apa pun taruhannya.
...****************...
“Meskipun cara matinya sedikit berbeda dari perhitungan, tapi semuanya berjalan sesuai dengan rencana. Kau... tidak akan menyesali hal ini, kan?”
Suara sosok itu kembali berbisik di pelipisku. Nadanya sarat akan ejekan dingin, bukan kekhawatiran.
“Tentu saja tidak.”
Aku membuka mataku. Suara riuh gemuruh yang memekakkan telinga seketika memenuhi ruangan berarsitektur megah ini. Aku berdiri tegak dengan kedua pergelangan tangan terikat erat oleh besi borgol yang dingin.
“Aluna Sena… apakah kamu mengakui kejahatanmu bahwa kamu telah sengaja menghilangkan nyawa seseorang?”
“Ya, Yang Mulia!” jawabku lantang tanpa ada keraguan sedikit pun.
Aku bahkan tidak mencoba membuat pembelaan diri seperti fakta bahwa Ayah Rania telah menculikku, menyiksaku, atau jejak kekerasan dan lebam yang tercetak jelas di sekujur tubuhku...
“Atas pengakuan langsung dari pelaku, maka pelaku dinyatakan bersalah dan diadili. Pelaku dijatuhi hukuman 15 tahun penjara!”
TOK. TOK. TOK.
Suara palu hakim diketuk mantap sebanyak tiga kali. Keputusan hukum telah dikunci.
Detik itu juga, Rania yang sedari tadi menahan histeris di kursi penonton, mendadak lepas kendali. Ia menerobos barisan pengaman, berlari masuk ke area terdakwa dan menerjang tubuhku dengan seluruh bobot badannya.
BRUAK!
Punggungku menghantam keras lantai kayu ruang sidang hingga napasku tersengal. Rania menindihku, dan tanpa membuang detik, kepalan tangannya melayang, memukul wajahku bertubi-tubi secara histeris.
“Bajingan! Dasar monster! PEMBUNUH!” jeritnya melengking, suaranya pecah oleh duka yang teramat dalam. “Padahal aku selama ini menganggapmu sebagai sahabat terbaikku... tapi kau tega... KAU TEGA MEMBUNUH AYAHKU!”
Suara amarahnya menggelegar, memantul di dinding-dinding ruang sidang. Air matanya mengalir deras, membasahi pipinya yang memerah akibat kombinasi rasa kehilangan ayah tercinta dan rasa pengkhianatan teramat pekat dari sahabatnya sendiri.
“Kembalikan! KEMBALIKAN AYAHKU!” Rania terus memukuliku tanpa ampun.
Namun aku hanya diam, menerima setiap hantaman itu tanpa ekspresi, menatapnya dengan pandangan kosong.
Para petugas kepolisian, Ibu Rania yang menangis terisak, dan bahkan Siti buru-buru berlari mendekat. Mereka memegangi tubuh Rania, mencoba menenangnkannya sembari menarik gadis itu menjauh dari tubuhku yang terkapar di lantai.
Aku menatap langit-langit ruang sidang ini sejenak, lalu perlahan melirik ke arah mereka. Siti, Ibu Rania, dan orang-orang di sana menatapku dengan sorot mata yang penuh kebiasaan jijik, benci, dan amarah murni. Pandanganku beralih ke sudut kursi yang seharusnya diduduki oleh kedua orang tuaku... tapi area itu kosong. Mereka tidak hadir.
Aku tidak menyalahkan mereka sama sekali. Karena memang akulah yang memilih untuk menjadi penjahat di mata dunia ini.
Dua orang petugas menghampiriku, memegang bahuku dan menuntunku berjalan keluar. Sorot lampu kilat dari puluhan kamera wartawan memenuhi ruangan, menyilaukan mata. Aku hanya bisa terdiam, menundukkan kepala dalam-dalam, dan membiarkan kakiku melangkah perlahan menuju sel tahanan.
Sepertinya aku tahu tujuanmu yang sebenarnya sekarang. Kau ingin aku membusuk di dalam penjara, kan? bisikku pada sosok di dalam mental realm-ku.
“Kukuku… padahal jika kau melakukan pembelaan diri sedikit saja tentang penculikan itu, kau bisa dengan mudah dinyatakan bebas bersyarat atas dasar perlindungan diri,” jawab suara itu tertawa geli.
...Jika aku melakukan hal itu, maka Rania-lah yang harus menanggung akibatnya nanti. Rahasia kelam tentang niat gila ayahnya akan terbongkar ke publik, dan dia akan hancur—baik secara mental maupun secara sosial. Lebih baik aku yang dibenci sebagai pembunuh, daripada dia harus tahu bahwa ayah yang dicintainya adalah sesosok monster.
“Kau ini memang terlalu baik hati... atau mungkin terlalu bodoh,” dengkus suara itu.
Dengan begitu, pada hari Selasa, 5 Mei 2021, aku, Aluna Sena, resmi dijebloskan ke dalam sel penjara—menukar kebebasanku demi menjaga senyuman dan sisa kenangan manis milik sahabatku.