⚠️⚠️
Bukan Cinta Yang Memiliki.
Tapi Obsesi Yang Menjerat.
⚠️⚠️
~•~
Aku bukan milikmu
tapi kamu tidak pernah melepaskanku.
- Disty -
Kamu milikku, dan tidak ada
yang berhak memilikimu selain aku.
- Javeno -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.Lintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Sudah 3 hari sejak kejadian Disty yang memutuskan persahabatan nya dengan Zayna. Hubungan persahabatan yang terlalu singkat.
Kini, kelas IPS 5 kembali tenang untuk Disty. Karena tidak ada lagi keributan dari Zaffar.
Disty memejamkan mata dan bersandar di dinding, telinganya tersumpal headset setelah guru selesai mengajar.
"3 hari gue ngerasa tenang tanpa gangguan Zaffar. Tanpa hukuman Javeno. Tapi_ 3 hari juga gue ngerasa kosong, kayak ada yang hilang. Nggak ada suara Zayna yang selama setahun ini memang berisik gangguin gue, tapi gue juga kecewa sama dia walaupun bener dia ngelakuin itu karena terpaksa," batin Disty.
Sedangkan dari sisi Zayna. Gadis itu juga memperhatikan Disty, sengaja tidak keluar dari kelas saat jam istirahat karena memang ingin memperhatikan Disty. Sejak 3 hari ia lakukan itu.
Memperhatikan tanpa mendekat seperti dulu ia lakukan karena ia sadar, kalau dia juga salah.
"Maafin gue Dis, lo pasti kecewa banget sama gue, 'kan? Tapi gue masih berharap pertemanan kita nggak putus, masih bisa di perbaiki lagi walaupun itu juga nggak mungkin," batin Zayna sebelum ia berdiri saat melihat Javeno yang masuk.
Tatapan Javeno sangat menusuk pada Zayna yang menunduk lalu segera keluar saat Javeno mendekat pada Disty.
Disty membuka matanya, duduk tegap dan melepas headset dari telinganya.
"Makan," kata Javeno dingin.
"Aku nggak lap...."
Disty tidak jadi melanjutkan kalimatnya, sekarang yang bisa ia lakukan hanya pasrah dan menurut.
"Mana?" tanya Disty pelan.
"Nggak ada," jawab Javeno bersandar di kursi. Memejamkan mata.
"Sebentar lagi bel masuk, Jav," ujar Disty mengingatkan.
"Hm," dehem Javeno dingin.
"Kamu nggak keluar? Nggak masuk ke kelas kamu? Nggak...."
"Kamu coba ngatur aku?" Javeno kembali membuka matanya dan Disty menggeleng pelan.
"Bukan, tapi...."
"Ayo pulang!" Javeno berdiri dan menggenggam pergelangan tangan Disty. Gadis itu mendongak.
"Tapi ini masih jam sekolah, masih ada pelajaran...."
Disty mengatupkan bibirnya rapat-rapat saat tatapan tajam Javeno berikan.
Mengambil tas dan berdiri, mengikuti kaki panjang Javeno yang melangkah cepat, membawanya keluar dari kelas. Benar-benar pulang dari sekolah ke rumah.
Semua murid melihat itu, tapi tidak ada yang berbisik-bisik. Namun mereka semakin menyimpulkan kalau Javeno dan Disty memang memiliki hubungan lebih. Tidak mungkin kalau hanya sekedar sahabat atau teman biasa, karena keposesifan Javeno selama ini juga sudah membuktikan kalau Disty adalah miliknya.
Javeno mengemudikan mobil dengan laju yang membuat Disty merasakan takut. Ia meremat kuat rok nya lalu memberanikan diri menyentuh lengan Javeno.
"Aku ada buat kesalahan hari ini?" tanya Disty pelan berhati-hati.
Javeno sedikit menurunkan kecepatan mobil, melirik kepada Disty sebentar. Menepikan mobil.
"Apa tanggapan mu kalau semisal aku dijodohkan, Dis?"
Pertanyaan Javeno itu menimbulkan kernyitan di dahi Disty. "Dijodohkan?" ulangnya.
"Hm," dehem Javeno.
Javeno menatap sepenuhnya pada Disty yang mulai melepaskan tangan dari lengannya.
"Ya tergantung kamu nggak sih? Kenapa kamu malah tanya aku?" Disty bertanya pelan, takut salah menjawab.
"Jadi selama ini yang berpikir kalau kamu milik aku hanya aku sendiri?" tanya Javeno dingin.
Disty menggeleng. "Aku sadar aku milik kamu, pelacur nya kamu," jawabnya cepat menatap Javeno lagi.
"Dan aku?" Javeno menaikkan sebelah alisnya.
"Kamu?" Disty mengulang ragu sebelum memberi jawaban. "Bukannya kamu milik diri kamu sendiri? Kamu nggak pernah bilang kalau kamu milik siapa pun selain diri kamu sendiri."
Jawaban itu mampu membuat Devano diam.