NovelToon NovelToon
Singgasana Berdarah Sang Terpidana

Singgasana Berdarah Sang Terpidana

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Psikopat / Balas Dendam
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

Di dunia lama, dia adalah narapidana paling ditakuti, seorang maestro strategi yang menghancurkan satu negara dari balik jeruji besi. Dia dieksekusi dengan kursi listrik tepat saat sistem melakukan sinkronisasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 22

Sir Gareth menelan ludah dengan sangat susah payah, tangannya yang menggenggam pedang kini gemetar tak terkendali melihat kerusuhan mendadak ini. Jika ia benar-benar menembak Valerius di depan ratusan saksi mata yang sedang mengamuk, ia pasti akan dihukum gantung oleh Dewan Bangsawan untuk meredam kerusuhan.

Valerius menatap ksatria pengecut di atas sana dengan mata kelamnya yang menyipit memancarkan kepuasan gelap tanpa batas. Permainan psikologis massal ini jauh lebih menyenangkan dan mematikan dibandingkan menebas leher musuh menggunakan pedang.

Ia telah berhasil menyandera seluruh reputasi militer penjaga gerbang hanya dengan berbekal kata-kata dan luka palsu di tubuhnya. Keputusasaan kini mulai merayap pelan mencekik kewarasan Sir Gareth, menyadarkannya bahwa ia telah kalah telak sebelum pertarungan fisik dimulai.

"T-Tahan tembakan kalian!" teriak Sir Gareth dengan suara parau yang menyedihkan, menurunkan pedangnya dengan rasa malu yang luar biasa mendalam. "Buka gerbang utama ini secara perlahan, biarkan sang pangeran masuk, namun lucuti seluruh senjata pengawalnya!"

Valerius segera menurunkan kedua tangannya, mengubah kembali raut wajah arogan itu menjadi ekspresi pangeran lemah yang sangat bersyukur. Ia membungkuk sedikit ke arah kerumunan rakyat jelata, memberikan apresiasi palsu yang membuat massa semakin mengelu-elukannya bagai dewa penyelamat.

"Kalian sungguh rakyat yang diberkati oleh cahaya kemuliaan, aku tidak akan pernah melupakan kebaikan kalian hari ini," ucap Valerius memelas dengan air mata buaya yang sangat meyakinkan.

Suara dentuman mekanis yang luar biasa keras terdengar saat rantai-rantai raksasa mulai menarik gerbang pualam seberat puluhan ton itu terbuka. Lorong gelap nan panjang yang menuju langsung ke jantung ibu kota Aethelgard kini telah terbentang mulus di depan mata Valerius.

Valerius kembali berjalan masuk ke dalam kereta hitamnya, mengibaskan sisa debu dari jubah sutranya dengan gerakan jijik yang tersembunyi. "Baron Kaelos, pastikan prajurit kita menyerahkan pedang usang mereka tanpa perlawanan sama sekali di gerbang," perintahnya pelan dari dalam kabin.

Kaelos membelalakkan matanya tak percaya, menoleh ke belakang dengan leher gemetar. "T-Tapi Tuan Muda, jika kita masuk ke sana tanpa senjata, kita akan menjadi sasaran empuk untuk dibantai oleh pasukan Tuan Aldrich!"

Senyum asimetris kembali terukir di wajah Valerius saat ia menatap sang Baron melalui celah jendela kayu kereta yang terbuka. "Seorang predator sejati tidak pernah membutuhkan pedang tumpul dari baja fana untuk mencabik-cabik leher mangsanya dari dalam."

Kereta kuda hitam itu mulai bergerak maju secara perlahan, melintasi bayangan gelap dari lengkungan gerbang pualam yang megah. Prajurit perbatasan membuang pedang mereka ke tanah secara serempak saat melewati ksatria emas penjaga, namun tatapan membunuh di mata mereka tak sedikit pun meredup.

Sir Gareth yang turun dari atas tembok menatap tajam ke arah kereta Valerius yang melintas tepat di depannya dengan gigi gemeretak beradu. Ia merasa seolah dirinya baru saja membukakan pintu rumahnya sendiri untuk mengundang sesosok iblis yang akan memakan keluarganya hidup-hidup.

Saat roda kereta itu akhirnya menyentuh aspal mulus jalanan ibu kota, cahaya matahari menyinari kemewahan kota yang sungguh tak tertandingi. Bangunan-bangunan tinggi berarsitektur klasik dengan atap berlapis perak berderet rapi di sepanjang jalan raya yang sangat lebar dan bersih.

Valerius menatap kemegahan duniawi tersebut dengan pandangan yang benar-benar kosong, tak ada secuil pun rasa kagum di dalam hatinya yang gelap. Ia telah menghancurkan negara-negara di kehidupan masa lalunya yang jauh lebih maju dan megah daripada tumpukan batu perak ini.

Di matanya, ibu kota Aethelgard hanyalah sebuah kandang berlapis emas yang dipenuhi oleh babi-babi rakus yang sangat menunggu untuk disembelih. Di balik keindahan taman-taman bunga dan air mancur kristal ini, tercium aroma korupsi dan kebusukan moral yang sangat pekat menyengat.

Layar holografik merah seketika menyala terang di dalam pandangannya, diiringi oleh rentetan suara mekanis yang terdengar sangat memuaskan otaknya.

[Misi Terselubung 'Manipulasi Opini Publik' Berhasil Selesai Secara Sempurna. Keputusasaan Target (Sir Gareth) Tercapai.]

[Hadiah Penyelesaian: +1200 Poin Dosa. Tingkat Kharisma Gelap meningkat secara masif ke Level 3.]

[Sistem Arc 2 'Penyesalan Abadi' memulai kalkulasi target utama. Misi Berantai baru telah tersedia di dalam log perjalanan Host.]

Valerius menutup jendela kayunya perlahan, mengunci diri dalam kesendirian kabin saat keretanya membelah keramaian jalanan ibu kota. Ia memerintahkan sistem untuk membuka detail Misi Berantai baru yang baru saja dipicu oleh kedatangannya di wilayah musuh ini.

Layar merah itu menampilkan teks yang ditulis seolah menggunakan goresan darah segar yang terus menetes ke bawah.

[Misi Berantai 1: 'Racun di Dalam Gelas Emas'. Susupi pesta penyambutan Keluarga Draken dan hancurkan reputasi Aldrich di depan para Dewan Bangsawan.]

[Kondisi Tambahan: Dilarang keras melakukan pembunuhan fisik secara langsung pada target selama pesta berlangsung. Hukuman Kegagalan: Penghapusan 50% Poin Dosa saat ini.]

Valerius tertawa pelan membaca syarat pembatasan membunuh yang sengaja diberikan oleh sistem penyulut kiamatnya ini. Sistem ini sepertinya sangat mengerti bahwa membunuh Aldrich secara langsung terlalu cepat adalah sebuah tindakan belas kasihan yang tak bisa dimaafkan.

Kehancuran sejati bukanlah saat jantung seseorang berhenti berdetak, melainkan saat segala hal yang mereka cintai dan banggakan hancur lebur di depan matanya sendiri. Ia akan membuat kakak kandungnya itu mengemis untuk dibunuh setelah seluruh harga diri dan martabatnya dirobek habis oleh Valerius.

Kereta itu melaju semakin dalam menuju Distrik Berlian, kawasan eksklusif tempat di mana para bangsawan tingkat tinggi mendirikan istana pribadi mereka. Semakin dekat mereka ke pusat kekuasaan, udara di sekitar mereka terasa semakin berat dan dipenuhi oleh kewaspadaan tingkat tinggi.

Nyonya Karat yang sedari tadi menyamar menjadi kusir kereta berdeham pelan, menyela lamunan gelap sang majikan iblisnya. "Tuan Valerius, mata-mata bayangan kita melaporkan bahwa Tuan Muda Aldrich telah menyiapkan pesta perjamuan besar di aula utama istana malam ini."

"Sebuah pesta perjamuan untuk merayakan kematianku yang tak pernah terjadi, sungguh sebuah tragedi komedi yang sangat murahan," sahut Valerius dari dalam. "Terus lajukan kereta ini menembus gerbang istana utama, biarkan kakakku yang manis menyambut kedatangan hantu dari perbatasan secara langsung."

Nyonya Karat mengangguk patuh di balik topeng besi berkaratnya, mencambuk pelan punggung kuda hitam yang menarik kereta tersebut. Rasa takut dan kepatuhan fanatik kepada Valerius telah sepenuhnya mengakar di dalam otak pembunuh bayaran wanita yang dulunya sangat arogan itu.

Di penghujung jalan batu pualam yang sangat luas, gerbang besi hitam raksasa milik kediaman utama Duke Draken akhirnya menjulang di depan mereka. Gerbang itu dijaga oleh puluhan ksatria elit keluarga yang mengenakan jubah sutra emas, mereka memandang rombongan kotor Valerius dengan mata terbelalak ngeri.

Mereka sama sekali tidak percaya bahwa pangeran yang telah dikutuk untuk mati di Lembah Tengkorak kini benar-benar kembali dengan selamat. Kepanikan segera menyebar liar di antara para penjaga gerbang, beberapa dari mereka berlari terbirit-birit ke dalam istana untuk melaporkan mimpi buruk ini pada tuannya.

Valerius menyandarkan kepalanya ke belakang, meraba gagang Belati Penyedot Jiwa yang berdenyut pelan di balik jubah sutranya. Malam ini, ia tidak akan meneteskan setitik pun darah di lantai pualam istana yang megah tersebut.

Namun, ia berjanji akan memastikan bahwa air mata keputusasaan yang akan menggenangi aula perjamuan itu jauh lebih pekat rasanya daripada darah manusia. Pintu masuk ke neraka Penyesalan Abadi telah ia buka secara resmi, dan ia siap menjadi algojo paling sempurna bagi keluarganya sendiri.

1
Turki Salman
seru banget
jamanku
cerita baru yang mantap thor
Sofia
seru banget ceritanya
Op L
💪💪
Yuu Li
go napi
Roaffi Jj
menarik dan seru
Lamia Dante
👍👍👍
Lamia Dante
seru nih ceritanya
Irzad
mohon dukungannya terimakasih
Jake King
bantai semua tor
ikyar
💪
ikyar
👍👍
ikyar
bagus seru baantai
ikyar
🤭
ikyar
lanjut thor
zehn hart
Mantap/Scream/ Jangan lupa mampir ya/Smirk/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!